
Kapten Riyuta memelesat, dia melakukan pergerakan cepat. "Kau banyak bicara!" Dia mengeluarkan ocehan, padahal berbanding terbalik—enggan bercermin.
Akma Jaya membalas cepat, keduanya bergerak dengan pergerakan yang luar biasa.
"Ini keren!" Salah seorang wanita disebut pada episode sebelumnya, dia masih berada dalam kerumunan tersenyum indah, dia menatap penuh takjub.
"Pergerakan yang sangat luar biasa, aku belum pernah melihat pertarungan secara langsung seperti ini." Kagum dan kagum. Begitu, mereka tidak punya pilihan lain.
"Gerakan melesat yang dilakukan Kapten Riyuta seperti kilat, ini luar biasa!" Lagi-lagi gumaman terdengar dari salah seorang lelaki berambut jambul yang disebut pada episode sebelumnya. Tepatnya gerakan memelesat.
Akma Jaya tak membiarkan itu mudah, dia menangkis, melakukan pergerakan yang sama cepatnya dengan Kapten Riyuta.
Kapten Riyuta meloncat ke atas udara, kerumunan menatap tanpa berkedip. Dia menerjang melalui udara, Akma Jaya kewalahan dalam mengatasi serangan.
"Gerakan ini begitu susah untuk kuhadapi, bagaimana caranya?" Akma Jaya berpikir keras mencari solusi dalam mengatasi semuanya. Jujur saja, gerakan Akma Jaya terbilang tidak stabil, lemah dan tidak ada harapan untuk memenangkan pertarungan.
Di kala, tebasan pedang mengenai sekujur tubuh, Akma Jaya berlaku lajak pasrah, dia meloncat mundur, menghirup napas.
"Haha, kau memang lemah!" Kapten Riyuta tertawa penuh bangga.
Di puncak menara, Akma Jaya menatap ke arah bawah, di mana Tabra masih bergelayut, mencoba menaiki menara untuk mendekati Akma Jaya, tetapi tenaga yang melemah membuat dia tak kuasa menaikinya, dia berdiam—tak menunjukkan pergerakan.
"Kapten Riyuta, dia memang seorang pahlawan, dua makhluk durjana itu pasti akan mati," ucap salah seorang lainnya.
Di ujung tanduk, Tabra bergelayut, sedangkan Akma Jaya menantang dan menghadang maut. Keduanya berada dalam kesamaan peristiwa yang memberatkan diri mereka untuk menghirup napas.
"Sudahi saja, kau hidup dalam dunia yang kau sebut kejam, kau ingin hidup tentram dan penuh keadilan, maka kembalilah ke dalam tanah." Kapten Riyuta berujar seraya mendekatkan dirinya.
"Tahukah kau mengenai dunia tempat kita berpijak, ini semua hanya sebatas nyawa, ketika kau mati, maka berakhir semua impian, berbagai hal yang memberatkan pikiranmu." Lanjut Kapten Riyuta menyampaikan pendapatnya.
"Pilih saja, kematian sebagai penenang bagi kehidupanmu yang begitu buruk." Pedang terhunus tajam mengarah ke leher Akma Jaya. Dia menatap sekadar berucap.
Akma Jaya tersenyum santai. "Riyuta, kehidupan dalam dunia ini bukan hanya sebatas nyawa, tapi juga perasaan yang melibatkanmu dalam persahabatan, perkumpulan dan persatuan." Akma Jaya menjawab lantang, tidak lembek seperti wanita, itu tegas karena membalas ujaran Kapten Riyuta.
__ADS_1
"Omong kosong!" Kapten Riyuta menyahut cepat. Lantang dia berucap sangar.
Di mana ucapan bak tong kosong melompong—tidak ada faedah, kadang menyesatkan.
"Kau laksana ayam dalam telor, tak melihat keseluruhan dunia ini." Lanjut Kapten Riyuta, tetap sama. Lantang, tak berubah sedikit pun.
Dia tersenyum sinis. "Lupakan saja, semua ini adalah omong kosong, kau berucap tanpa dasar ilmu yang kuat!" Kapten Riyuta tetap bicara tanpa membiarkan Akma Jaya berucap.
Akma Jaya menghela napas berat, lelah sepertinya. "Tak apa, dunia ini punya cerita, tentang kesederhanaan dan kesanggupan atau pun kemampuan seseorang dalam menjalani kehidupan." Akma Jaya mendramatisir, sedikit saja senyuman yang terpampang.
Perbincangan mereka membuat ketidaksabaran suasana meliputi keadaan di bawah menara.
"Mereka terlalu lama berbincang." Kerumunan di bawah merasa bosan, mungkin saja kekurangan hiburan. Perlunya untuk menemukan hiburan, mudah saja. Contoh sederhana memancing atau memasak. Fiks, laki juga boleh masak.
"Halah, benar. Ini membosankan, mereka itu dari awal hingga saat ini terus berbincang lebih baik aku pergi dari sini." Salah seorang lainnya menjawab.
"Ayo, kita pergi. Dasaaarr!" ucap seorang wanita cantik merangkul temannya.
Otak berharap ini. Eh, ternyata tidak begitu. "Bangsat, kau masih berani berucap." Kapten Riyuta memerah padam ketika mendengar jawaban Akma Jaya.
Di sudut pandangan, cakrawala masih mendung, saat ini tidak ada cahaya matahari, hanya desir angin bersuara.
"Ini semua akan berakhiir!" Kapten Riyuta mengacungkan pedang ke atas cakrawala, posisi lurus, bermaksud menebaskan pedangnya, tetapi dia terlalu banyak ucapan, celah terbuka lebar, terlihat jelas di sela-sela acungan. Akma Jaya bergerak, Kapten Riyuta terperangah. "Apa? Ba—bagaimana mungkin? Uhuuk." Terbatuk darah, memuncrat karena tertusuk pedang, tertancap di bagian perut. Perlahan pandangan mata Kapten Riyuta kian meredup, pedangnya terjatuh dari genggaman tangan.
Darah berguguran, area kolam berubah kemerahan warna darah.
Beberapa orang yang tersisa, berada di bagian bawah menara, mereka semua menatap penuh ekspresi tercengang. "Bagaimana mungkin? Kapten Riyuta kalah?" Tidak bisa dipercaya. Dugaan dan dugaan bertebaran di mana-mana—Ini semua mustahil, tidak bisa dipercaya.
Akma Jaya telah melakukan hal yang di luar dugaan, di mana seorang kapten terpandang, dipercaya orang-orang, dia berakhir mati mengenaskan dalam tusukan orang tak dikenal. Bahkan, seseorang yang baru tiba di Wilayah Nanaina—dipisah dan di tempat.
"Tidak mungkin, ini pasti mimpi!" Salah seorang berseru tidak percaya karena melihat semuanya.
Jasad Kapten Riyuta tergugur dari ketinggian menara, betapa saat itu, kerumunun menatap sedih akan kematian Kapten Riyuta. Seorang penyair pun menyaksikan penuh kejadian tersebut.
__ADS_1
Engkau ada untuk dunia
Dunia berkehendak suka maupun duka
Kematian ada dan nyata
Kuyakin kau tenang di alam sana
Damailah Kapten Riyuta
Bergumam suara syair, terkeluar merdu dari mulut seorang penyair, dia bersuara iba. Di kala itu, tangisan, nada kesedihan menyelimuti mereka.
Akma Jaya melakukan tindakan untuk membalik keadaan, situasi berdiam akan terbunuh, melihat celah langsung membunuh. Keduanya adalah pilihan.
Akma Jaya masih bertengger di puncak menara, dia telah menjadi kambing hitam sebagai seorang pembunuh.
Berdebar suasana, jatuhnya jasad Kapten Riyuta ke dalam kolam, membuat air tersebar ke batas dinding kolam. Beberapa dari orang, tidak banyak jumlahnya, mereka terciprat—terkena air. Duh, ini berat, sangat berat, ketika seseorang kapten mati, baru kali ini mereka membela dan merasa iba. Bahkan, seorang penyair ikut serta dalam kesedihan penuh dekapan.
Terpandang, begitu. Di kala seseorang dipandang, banyak pendukung, diganggu pun binasa, berbuat salah tetap dipuja.
Seketika kerumunan mengamuk marah, tidak terbendung lagi, membeludak. Tabra menelan ludah, memperhatikan wajah-wajah penuh geram, berkerut dahi, jelek, sangat jelek. Kemarahan yang memusat di area wajah penuh memerah, membuat kulit bertambah kusam.
Rasa yang terasa, tidak ada. Mungkin pahit bukan manis, di kala itu, jelas terlihat kerumunan marah luar biasa.
"Bunuh mereka, habisi tanpa ampun!"
"Bunuh."
"Bunuh."
"Nyawa harus ditebus nyawa."
Mereka berteriak-teriak ingin melakukan pembunuhan yang sama, jelas sekali mereka tidak terima melihat kematian Kapten Riyuta yang tertusuk pedang di area perutnya. Akma Jaya bergumam dalam diam, tidak terdengar oleh indra pendengaran.
__ADS_1