Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 117 – Olahraga


__ADS_3

Kali ini Hambala seakan menampakkan ketidakmengertian dirinya mengenai sosok Boba. Jauh di dalam prasangka memahami kata lain. Bahasa kerennya adalah Boba sedang baper dan tingkah lakunya aneh.


Adapun zaman dulu. Tidak ada istilah baper. Astaga? Zaman dulu itu kalau ada perasaan mengkal, ya langsung tabok—tergantung orangnya sabar atau tidak.


Perasaan Hambala bukan itu, melainkan dia hanya bingung. Sejenak menggaruk kepala.


Sungguh. Ucapan yang tersalah bisa membawa ke arah pemahaman lain. Astaga? Ulangi. Sikap seseorang di zaman dulu itu tergantung dari ditemukannya tata krama atau tidaknya. Dari cara bersikaplah mampu membuat wibawa seseorang ternampak.


Di zaman dulu atau mungkin zaman sekarang ada orang yang sikapnya bagai tidak punya otak. Berperilaku dan berucap tanpa berpikir, sekadar membawa ucapan ke orang lain, sekadar bertindak melampiaskan rasa yang ada di dalam sanubarinya seolah-olah menampakkan telaga ketidakmampuan diri. Berkomunikasi meninggalkan tata krama.


Hambala menatap kuat-kuat, mendehem sebentar. Sekarang Boba telah berubah dari semula marah kini wajahnya tersenyum. Baper dalam keadaan yang tidak pernah dimengerti Hambala.


“Boba, perlu kau tahu aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudara. Satu hal lagi mengenai ucapanku sebelumnya kalau kau ingin pergi, ya pergi saja.” Hambala terus terang mengatakannya. Pastilah tata krama belum ditemukan pada dirinya.


Walaupun beberapa orang tahu, bahkan sebelumnya Hambala telah menyebutkannya sendiri mengenai sopan santun yang entahlah dia sendiri tidak tahu sopan santun. Itulah dirinya yang tidak punya sikap bercermin.


Di dunia ini sikap bercerminlah yang membedakan antara manusia dan binatang.


Bercermin menatap kesalahan yang ada di dalam diri sendiri. Entah itu dalam segi ucapan, perbuatan dan lain sebagainya. Kali ini, Kalboza hendak menegur, tetapi tertegah di kerongkongan. Entah mengapa ada sesuatu yang tidak bisa dia ucapkan. Kalboza terpaksa mengurungkan niatnya.


Perasaan yang kala itu kalau dibahas akan panjang lebar memakan banyak kertas. Begitulah sekiranya mengenai perasaan seseorang yang rumit.


“Hambala, kau berbicara lancang seperti memancing kemarahanku lagi, sebenarnya apa yang kau inginkan. Menegahku atau ingin mengusirku?” Boba mengepal tangan, menampakkan wajah kekesalan.


Jalbia berusaha cepat mencari solusi agar Boba tidak marah. Di lain keadaan Jalbia menatap Aisha, mengerti keadaan sebelumnya.


Jalbia memahami perasaan Aisha. Mana mungkin dia diam saja. Kalau mereka itu dibiarkan begitu saja, jelaslah perkelahian akan terjadi lagi. Dia masih memikirkan Aisha yang semula menegah perkelahian di antara mereka berdua, sekarang mereka memulainya lagi.


“Hambala. Jangan memancing-mancing suasana. Kau itu ingin terus berkelahi atau apa? Hanya karena gegara masalah sepele. masalah sepele kau bahas lagi seakan kau ingin memancing-mancing kesalahan. Ayolah, tidak bisakah kau berdiam saja atau apalah yang tidak menyebabkan keributan terjadi lagi.” Jalbia menerangkan panjang lebar, tetapi di dalam lubuk hatinya berkata lain. “Andai saja Aisha tidak menegah perkelahian mereka sebelumnya, tentulah aku akan mendukung Boba lagi untuk menghajar Hambala, tetapi mengingat Aisha rasanya aku tidak tega bersorak suara menyuruh mereka saling berkelahi.”


Itulah Jalbia. Dia sekilas memahami keadaan, walaupun sangat ingin menatap mereka berkelahi. Itulah hatinya, tidak dalam seberapa banyak wajah di dirinya. Dua muka, beda depan dan belakang.


Tidak, bukan begitu juga. Sudahlah mengenai sesuatu di dalam diri seseorang. Bagaimanapun dibahas semuanya akan sulit ditengok lebih dalam.


Tabra mulai mendehem. Menghampiri mereka berempat. “Sepertinya kalian berempat ini hobi sekali berdebat, ya?” Sosok lelaki berpakaian biru laut itu mengubah alunan suara, lain dari biasanya.


Glosia mengernyit heran. Kenapa suara Tabra berubah, bahkan terdengar seperti macan ingin memakan mangsa? Entahlah dia tidak dapat menebaknya. Sementara Hambala menatap tidak main-main.


“Apa maksudmu, Tabra?” Hambala berani mempertanyakannya langsung. Boba mengangkat alis, menggumam sedikit tidak bisa didengar oleh yang lainnya.

__ADS_1


Jalbia menyenggol sedikit lengan Boba. “Hei, apa yang tadi kau katakan? Beritahulah itu kepadaku.” Dia berbisik, berpelan suara di dekat telinga Boba.


Boba menggeleng, memelotot sebagai isyarat tidak ingin mengatakannya. Jalbia membenam mulut, tidak lagi berkata memaksa atau lain sebagainya. Dia beranggapan bahwa itu juga tidak penting untuk diketahui. Di lain tempat, Aisha tampak sedikit menjauh dari mereka semua.


Jalbia melihat akan hal itu sekilas memahami perasaan seseorang wanita yang sedang bersedih. Dia memperhatikan lebih jelas ada rasa yang tidak nyaman di dalam pikiran si wanita itu, sekadar dugaan yang bisa salah, juga bisa benar.


Tabra kembali bersekedap menatap mantap tanpa raut wajah tersenyum. “Aku telah memperhatikan kalian berempat sepertinya kalian kurang berolahraga. Ikutlah denganku mengangkat batu besar yang ada di sana itu.” Tabra menunjuk ke arah batu berukuran besar berbentuk panjang, persis bentuk peralatan olahraga.


Boba mengangkat kepala. “Untuk apa? Apa itu penting buatku?” Dia mengutarakan isi kepalanya. Penting atau tidaknya itulah yang menjadi pemikiran Boba.


“Buang-buang waktu saja.” Boba bergumam memperlihatkan raut wajah tidak suka dengan apa yang dikatakan Tabra. Sementara Glosia angkat tangan seperti ada hal yang ingin dia tanyakan.


Tabra menatap senyum. “Ada apa, Glosia? Adakah sesuatu yang ingin engkau pertanyakan?”


Glosia mengangguk. Tabra mempersilakan untuknya bertanya mengenai apa yang ingin dia tanyakan. Tanyakan saja, tidak ada yang akan menghina, hanya karena sebuah pertanyaan. Sesekali tidak ada begitu.


Dia memulai nada bicara pelan. “Tabra, bukankah lebih baik kita mencari kapten yang telah menghilang daripada mengangkat batu yang justeru tidak ada faedahnya sama sekali?” Glosia mengatakan pertanyaan ingkar. Pada hakikatnya sama seperti Boba, mereka semacam satu kelompok dalam ikatan masalah selalu bersahabat.


Kemungkinan itulah mengapa jawaban mereka sama. Apa faedahnya mengangkat batu? Tidak ada, yang ada hanyalah lelah dan otot akan pegal. Itulah yang tebersit di dalam pikiran Glosia.


Kalboza daritadi mendengarnya hendak tertawa, tentunya menertawakan apa yang sebelumnya disuruh oleh Tabra.


“Mengapa? Glosia kau tidak terima? Kalian juga sama? Sayangnya kalian berempat tetap akan mengangkatnya, walaupun kalian tidak suka. Ayo, ikutlah denganku. Jangan banyak alasan!” Tabra maju, melangkah ke arah batu berukuran besar di sana. Mereka berempat tak bisa banyak berkutik, mangut-mangut ikut berjalan bersamanya.


Sayangnya dugaan Kalboza meleset, dia sekadar menduga yang tentu bisa benar dan bisa salah.


Tiba di dekat batu berukuran besar. Tidak jauh jaraknya. Dia mulai menghirup napas, mengencangkan otot, lalu mengangkatnya lebih dulu dari mereka berempat sebagai mencontohkan dirinya sendiri. Tabra berharap menjadi sosok panutan mereka sekaligus untuk membuat mereka bersemangat meniru mengangkat batu yang sekarang diangkatnya.


“Kalian harus tahu latihan ini dapat membantu pengembangan otot menjadi kuat, tentulah otot kuat diperlukan saat ada pertarungan. Lebih-lebih melawan para bajak laut, kita harus banyak berlatih. Siapa tahu kita bertemu mereka, terlibat pertarungan yang mengharuskan kita berhadapan melawan dengan tenaga.” Tabra menjelaskan lebih rinci, tangannya sudah mengangkat batu berukuran besar.


Tak berselang lama dia melemparnya ke samping. Tepat terkena pohon, syukurlah pohon itu tidak tumbang dan tangan Tabra baik-baik saja, tidak terkilir karena melemparnya.


Empat orang yang tadi ikut bersama Tabra kini mereka menatap takjub. Anak buah yang lainnya berdatangan termasuk Ashraq dan Aswa Daula yang semula tidak ingin berkumpul dengan para anak buah lainnya. Lagi pula tempatnya dekat saja, tidak jauh. Itulah yang menjadi godaan mereka ingin menatap lebih rinci tentang Tabra yang melempar batu sebelumnya.


Suara lemparan yang jelas terdengar bagai bau yang tercium semerbak memenuhi sekitaran tempat mereka. Burung-burung tampak beterbangan kaget, menimbulkan suara khas hutan.


Tabra kembali mengencangkan otot, memperlihatkan gerakan olahraga ringan. Lihatlah otot tangannya mengembang, wajahnya tersenyum sambil mengangkat. Sebelumnya Tabra tidak tahu mengenai gerakan olahraga tersebut.


Dia mengetahuinya semenjak malam hari itu melalui perbincangan di antara dirinya dan Asra Burona, saat di mana syair dan hikayat lama bergema memenuhi suasana. Di situlah dia mendengarkan jelas mengenai gerakan olahraga yang sekarang dia tunjukkan kepada seluruh anak buahnya.

__ADS_1


Tabra kembali mengangkat batu. Tatapannya memandang ke arah anak buah.


Kalboza fokus memperhatikan. “Lumayan, tetapi sepertinya satu batu saja tidak akan cukup untuk bisa menjadi kuat.” Dia sedikit meremehkan di awal ucapannya. Lalu, sedikit memuji selanjutnya.


Kendatipun demikian, sepertinya ada yang tidak suka mendengarnya.


“Kalboza, tutup mulutmu. Baru saja terjadi, sebelumnya kau berlagak sok bijak dan sok pintar, sekarang kau malah berlagak sok kuat di depan kami semua!” Boba lagi-lagi menyahut lantang dengan tatapan serius.


Dialah orangnya tidak suka mendengar ucapan Kalboza yang baginya terdengar seperti berlagak sok kuat. Lengkap sudah rasanya sok bijak, sok pintar dan sok kuat. Tiga sekaligus diucapkan lengkap tanpa dikurangi satu pun.


Sementara Tabra masih sibuk mengangkat. Dia mendengar jelas suara lantang si Boba, tetapi berusaha tak menghiraukannya.


Beberapa dari yang lainnya mencoba menenangkan perasaan Boba. Kalpra mengetuk kepala Kalboza. “Sudahlah, kau itu jangan cari ribut lagi. Kalboza, hentikan nada bicaramu yang terdengar arogan itu.” Kalpra memberikan pandangan miliknya. Dia mengatakannya langsung tanpa sedikit pun menunjukkan raut wajah senang.


Kalboza sekilas menatap dengan manik mata sipit. Dia tidak terima dikatakan arogan. “Perlu kau tahu aku tidak arogan. Kau salah menilai diriku. Kalpra, berhati-hatilah dalam berbicara karena sejatinya kau telah mengatakan kepalsuan kepada orang-orang. Jangan menilai seseorang dari luarnya saja, perlu kau tahu aku tidak begitu.”


“Kau berlagak sok bijak lagi! Lantas, apa kalau bukan arogan, haah?” Boba menyergah lantang.


Kalboza mengangkat bahu. “Pikirkan saja sendiri. Boba, nada bicaraku dari dulu memang seperti ini. Aku bukan arogan, melainkan memang itulah nada bicaraku. Kau saja yang tidak mengenaliku. Kau juga sama Kalpra.” Dia membela dirinya, menjelaskan sekilas berusaha ingin menancapkan ucapan tajam ke dalam sanubari mereka.


Sayangnya. Ucapannnya tidak berhasil menancap. Gagal, dikarenakan salah tempat dan kondisi yang tidak mendukung. Semacam batu bertemu batu.


Lihatlah, sekarang raut wajah Boba tampak mengerut. Tak berlangsung lama dia mengumpatkan kekesalan ingin menghantam, tetapi kata sahabatnya harus bersabar. Keindahan dunia akan terasa kala seseorang mampu bersabar.


Jalbia dan Glosia sigap memberikan ketenangan dalam bentuk kata-kata indah yang didengar pun sejuk rasanya karena mereka berdua sebelumnya memandang sendiri, mendengar jelas lantas memahami perasaan Aisha yang telah mengeluarkan suara serak hendak menangis.


Kalpra menghela napas. “Kalboza, maksudku adalah kau bisa menguranginya atau mengubah nada bicaramu menjadi sedikit lebih nyaman kami mendengarnya.” Dia mengatakannya penuh kelembutan.


Tidak lembut dalam artian sama seperti wanita. Bukan itu, melainkan lembut dalam artian mengenai tata krama. Sejenak diam. Kalpra lanjut menepuk pundak Kalboza.


Para anak buah lainnya tampak mendiamkan diri, tidak ingin berdebat lagi karena memang berdebat itu lelah dan justeru membuang waktu dengan perkara yang sejatinya sia-sia belaka.


“Ah. Kau memang benar, Kalpra. Sepertinya aku harus bisa mengubah nada bicaraku.” Kalboza memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Saat itu dia memakai celana panjang dengan motif tengkorak berantai.


Tabra daritadi tampak tak hirau, sekarang memanggil Kalboza dan lainnya untuk ikut berolahraga bersamanya. Mereka semua masing-masing setuju dan terjadilah di tempat itu saling berolahraga. Tabra memberikan pelajaran sedikit mengenai ilmu olahraga yang ada di dalam otaknya.


Aisha hanya memperhatikan dari kejauhan dan berharap sang kapten baik-baik saja. Berharap dengan harapan yang menjulang tinggi mencapai awan.


Seorang wanita semampai berambut pirang itu mendekap tangan, memenuhi sanubarinya dengan bait-bait kecemasan.

__ADS_1


Berbagai macam doa keselamatan bergema teruntuk sang kapten yang entah di mana sekarang keberadaannya.


__ADS_2