Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 23 – Obat Penawar


__ADS_3

Kapten Lasha berlari gopoh menuju tempat tabib. Tiba di depan pintu, dia menggedor keras, tanpa tanggung-tanggung. Tak puas, dia menginjaknya. Pintu itu terpental.


Tabib menatap elus dada. Tabra sedikit menoleh, kedatangan Kapten Lasha lain pada biasanya. Saat itu, mereka berdua tengah tertawa. Menatap kedatangan Kapten Lasha, mereka menghentikan tawa.


Di sekitaran, Tabra merasakan hawa dingin, dia menelan ludah. Akan tetapi, sikap Kapten Lasha sangar, hanya berlaku bagi musuhnya.


Kapten Lasha sempat mendengar suara tawa mereka. Dia mengernyit. “Kenapa kalian berdua tertawa? Adakah sesuatu yang lucu?” Dia mengeluarkan nada serius, tak ada senyuman.


“Ka—kami berdua sedang bercanda,” jawab Tabra, tersenyum canggung.


Tabib menepuk pundak Tabra, menatap Kapten Lasha. “Kapten, alasan kami tertawa adalah karena kami tengah senang, kami telah berhasil meracik obat penawar yang bisa menyembuhkan Akma Jaya.” Tabib menatap serius, tak ada ekspresi takut menjelaskan.


“Bagaimana bisa? Bukankah kau telah mengatakannya, tanaman Iris adalah obat yang bisa menyembuhkan Akma Jaya, dengan apa kalian meracik penawarnya?” Kapten Lasha tampak tidak percaya.


“Itu karena kami telah menangkap pelaku dibalik ini semua. Bos penculik, dia adalah pelakunya, kami mendapatkan obat penawar darinya, aku pun meneliti lebih lanjut hingga penelitian ini berhasil. Kita perlu berterima kasih kepada Tabra yang telah menghajarnya.” Tabib menjelaskan apa yang sudah terjadi. Tabra garuk kepala, canggung.


Mendengar penjelasan tabib, Kapten Lasha memuncak marah, teramat marah, dia menghantam dinding, memukul keras. Tabra gemetar, pucat.


“Jadi, ini semua adalah perbuatan dari bos penculik itu!" Kapten Lasha berucap lantang.


Pukulan dinding ditambah ucapan yang terdengar menggelegar, membuat wajah Tabra semakin memucat, mengeluarkan keringat, dia beranjak pergi, menyampaikan alasan ingin membuang air kecil.


Tabib gugup, menelan ludah, lalu menunduk takzim. “Mohon, Kapten Lasha, jangan marah, lebih baik kita kembangkan penawarnya karena penawar ini belum sempurna, racun yang bersemayam di dalam tubuh Akma Jaya adalah racun perpaduan berjenis campuran, aku membutuhkan daun Iris untuk menyempurnakan obat penawar ini.” Tabib masih menundukkan kepala.


Kaptan Lasha mendengarkan, menyimak dengan baik, dia mulai berusaha menenangkan amarah, menghela napas panjang dan berdiam sejenak.


“Angkatlah kepalamu!” Kapten Lasha berseru pelan.


Tabib mengangkat kepala, menunjukkan sikap hormat. “Ka–kapten, kita memerlukan daun Iris untuk menyempurnakan penawar ini.” Dia mengulang perkataan, setelah kepala terangkat. Kapten Lasha tampak melamun, dia tidak mendengarkan ucapan.


Kapten Lasha tengah berusaha menenangkan amarah, tetapi baginya terasa berat. Pikir Kapten Lasha, ini sangat keterlaluan, bagaimana mungkin mereka bisa hidup tenang. Sementara, Akma Jaya terbaring lemah.


“Ka—kapten!” Tabib berseru. Kapten Lasha tersentak lamunan. “Ada apa?” Kapten Lasha menatap seraya mengusap wajah.


“Aku memerlukan daun Iris untuk menyempurnakan obat penawar.” Tabib menjelaskan singkat.

__ADS_1


Tak berlama-lama, Kapten Lasha mengeluarkan, memberikan daun Iris. Tabib mengambil, lalu berjalan ke ruangan penelitian. Kapten Lasha menunggu. Di dalam ruangan itu, tabib kembali meracik, juga menyempurnakan obat penawar.


Kapten Lasha mondar-mandir. Dia menggigit jari. Tidak tenang. Kekhawatiran dirinya sebagai seorang ayah menatap anak dan istrinya, betapa sikap yang dulu dingin, sekarang berubah panas. Seekor singa berubah menjadi seekor kucing kelaparan.


Waktu berlalu, tabib selesai meracik obat penawar. Dia cukup ahli di dalam bidangnya.


“Obat penawar ini telah sempurna, kita akan menyuntikkannya ke tubuh Akma Jaya.” Tabib tersenyum bahagia.


Kapten Lasha menyorakkan suara, menepuk pundak tabib. “Ayo, cepatlah! Haima pasti senang mendengarnya.” Kapten Lasha seakan berubah kepribadian yang semula dingin menjadi ramah.


Tabib mengangguk. Mereka memacu langkah, mendatangi tempat Akma Jaya. Tiba di tempat, terlihat Haima dari kejauhan masih memeluk Akma Jaya, tampak berurai air mata.


Dari kejauhan, Kapten Lasha menatap sang istri tengah menderaikan air mata, perlahan menghampiri, mendekati penuh kasih sayang, dia menyentuh bahu, mengelus lembut. “Haima, aku telah menemukan obat penawar untuk Akma Jaya.” Kapten Lasha bersuara bercampur serak, berbeda dari biasanya. Haima menoleh, menatap Kapten Lasha dengan tatapan yang mengisyaratkan kebahagian.


Haima berdiri, memeluk erat Kapten Lasha, sepasang suami—istri itu saling bertatapan.


“Terimaa kasiih,” lirih Haima, air mata berhenti mengalir. Dia seka perlahan.


“Apakah bisa kita memulainya sekarang?” Tabib bertanya, momen indah berlangsung dipecahkan. Dia meminta izin menyuntik Akma Jaya karena waktu itu berharga, tidak sepantasnya dibuang sia-sia, apalagi melihat mereka seperti itu—jomblo nyimak.


Setelah mendapatkan izin, tabib meminta kepada Kapten Lasha dan Haima supaya keluar ruangan dan menunggu proses, pasangan suami istri itu mengangguk.


Di kamar yang tersusun rapi itu, tabib memulai proses penyuntikkan obat penawar ke tubuh Akma Jaya. Beberapa menit berlalu, tabib itu keluar, tersenyum menatap Kapten Lasha dan Haima.


“Berbahagialah. Hari ini, obat penawar telah disuntikkan, dia akan bangun dalam waktu tiga hari, kita hanya perlu menunggu dan Akma Jaya sudah dinyatakan sembuh dari racun.” Tabib bersitatap muka dengan mereka.


Kapten Lasha menepuk bahu tabib, menunjukkan rasa kegembiraannya, Haima juga sama, kebahagian mereka terpancar jelas. Haima menyeka air mata bahagia, dia bergegas menuju ke tempat Akma Jaya, menyaksikan secara langsung. Di dalam ruangan kamar yang tersusun rapi itu, dia mendekap Akma Jaya, seorang ibu yang menyayangi anaknya.


“Akma, syukurlah,” lirih Haima mencium kening Akma Jaya. Kapten Lasha dan tabib melihat dari balik pintu ruangan, lalu beranjak pergi, tertinggal Haima sendirian yang masih mendekap Akma Jaya, tersenyum wajahnya penuh bahagia.


Baru saja, Kapten Lasha melihat keindahan senyuman Haima, dia sangat bergembira, berulang kali merangkul bahu tabib.


“Aku berterima kasih kepadamu karena kau berhasil mengembalikan senyuman Haima.” Kapten Lasha terlampau senang.


Kapten Lasha telah dikenali orang, bersikap dingin. Di saat itu, dia berubah drastis, orang-orang menatap heran, bertanya dan bergumam sesama mereka.

__ADS_1


“Kapten Lasha, cukup bergembira. Lihatlah, semua orang menatapmu dan memperhatikanmu.” Tabib berbisik. Mereka tengah berjalan di jalanan ramai.


“Biarkan saja, kegembiraanku ini murni, tidak ada siapa pun yang bisa melarangnya, bahkan jika dia bertarung denganku dan aku mati karenanya.” Kapten Lasha menatap serius.


Tabib menelan ludah, berkeringat, tetapi berusaha menghadapinya dengan tenang. “Kapten, Akma Jaya sudah dinyatakan sembuh, bolehkah aku pulang ke tempat asalku?” Dia meminta izin pamit.


“Kau akan tetap di sini hingga Akma Jaya membuka mata dan menggerakkan seluruh anggotanya.” Kapten Lasha menjawab tegas, menegah dan menunjukkan tatapan serius.


Mendengar tegahan Kapten Lasha, tabib hanya bisa menganggukkan kepala. “Baiklah, aku akan tetap di sini.”


Tak lama berlalu, mereka berdua berpisah. Kapten Lasha memiliki urusan lain, tak bisa dia tinggalkan, sedangkan tabib, dia ingin beristirahat.


Tabib kembali ke tempat yang sudah disediakan Kapten Lasha, sebuah rumah sederhana, berbentuk corong atapnya, dinding terbuat dari susunan kayu.


***


Malam hari.


Dari samudera Albamia, tiupan angin malam disertai kabut pekat. Di salah satu laut Farida, kabut itu berjalan ditiup angin hingga ke benua Maura Hiba.


Di samping kabut, ada hawa dingin mencekam, menusuk jiwa, angin itu seakan-akan membawa kabar dari pergerakan bajak laut ganas, kelompok bernama Mafia Kelas Kakap.


Kabut itu diterbangkan angin hingga ke desa Muara Ujung Alsa, seluruh desa ditutupi kabut pekat, malam itu terasa sangat dingin.


Kapten Lasha mendengus. “Hawa ini, tidak salah lagi! Ini adalah pergerakan kelompok bajak laut Mafia Kelas Kakap.” Kapten Lasha menatap sekitara, dirinya dipenuhi rasa kekhawatiran mendalam. Firasat muncul, malam itu rembulan membulat terang di permukaan cakrawala.


Kelompok ganas. Konon katanya pergerakan mereka ditandai kabut pekat, disertai hawa dingin mencekam, mereka membawa kehancuran di mana pun tempat mereka singgah.


Di luar rumah. Kapten Lasha mendongak, menatap ke langit, tampak bulan purnama bersinar terang tertutup kabut yang seakan memecah cahaya, membuatnya terlihat samar, tak jelas dipandang.


Kapten Lasha gelisah. Malam hari itu, dia mempunyai firasat bahwa kelompok bajak laut yang selama ini terkenal keganasannya itu telah menunjukkan pergerakan, entah kenapa dia mempunyai firasat kelompok itu akan datang ke desa Muara Ujung Alsa. Firasat yang tak dapat membuat tenang.


Di dalam kamar, Kapten Lasha berusaha tidur, tetapi dia tidak dapat memejamkan mata, bolak-balik tak menentu.


Seorang kapten bajak laut tua itu bangkit dari kasurnya, lalu berseru memanggil seluruh anak buah agar berkumpul. Malam hari itu, derap langkah terdengar beruntun, suara riuh menyertai, membuat seluruh penduduk ikut terbangun.

__ADS_1


Ada apakah gerangan, mengapa dan ada apa sebenarnya kapten memanggil seluruh anak buah. Alba pun sama bergegas ikut loncat dari kasur. Tabra mengusap wajah lesu, masih ingin tidur, tetapi suara riuh menjadikannya antusias ingin mengetahui.


__ADS_2