
Kabut tebal menutupi pandangan. Udara di desa Muara Ujung Alsa terasa dingin. Kapten Lasha menunggu semua anak buah berkumpul. Mereka berlarian menghadap sang Kapten.
“Ka–kapten, ada apa sebenarnya? Kenapa Anda terlihat gelisah?” tanya salah seorang anak buah. Alba baru datang tergopoh, Tabra mengiringinya di belakang.
Kapten Lasha menatap serius ke sekeliling mereka. “Apakah kalian tidak menyadari, kabut ini, hawa ini, suasana saat ini, ini semua adalah tanda.”
“Tanda dari pergerakan kelompok bajak laut ganas. Bajak laut Mafia Kelas Kakap,” lanjut Kapten Lasha.
Setelah mendengarnya. Mereka semua baru menyadari mengenai kelompok tersebut. Alba berkeringat di pelipis. Tabra menelan ludah, cerita mengenai kelompok yang sebelumnya dia ceritakan kepada Akma Jaya. Kabar itu bagai air dingin tumpah di atas kepala.
Banyak orang bergumam, saling memandang. “Apakah kelompok itu akan ke desa kita?” tanya salah seorang anak buah seraya menelan ludah.
Kapten Lasha sedikit mendongak. “Aku tidak tahu, tapi firasatku mengatakan kelompok itu akan datang ke desa kita.” Bulan purnama menghiasi kabut, angin menggerakkan kabut perlahan.
Kapten Lasha berseru, “Kalian semua, persiapkan senjata dan persiapkan seluruh tenaga, jikalau mereka datang, kita akan langsung menyerang!”
“Ba–baiklah, Kapten!” jawab mereka semua serentak. Alba bergegas menyiapkan senjata, begitu pun yang lainnya.
Angin mendesir di malam itu, semakin mencekam. Seluruh anak buah berjaga di pesisir pantai, di rumah-rumah, sedangkan para penduduk merasa tidak tenang. “Ibu, ada apa di luar, kenapa ribut sekali,” ucap salah seorang anak dari penduduk itu menanyakan kepada ibunya.
“Tidak apa-apa, Nak. Kamu tidur, ya. Besok bisa bermain lagi,” jawab seorang ibu, senyuman terpampang seraya mengelus kepala anaknya. Ibunya berusaha menghibur. Padahal, suasana di luar amat mencekam. Raut wajah dari seluruh anak buah berubah pasi.
Kapten Lasha berkeliling di dekat pantai, melihat dan mengawasi apakah ada kapal yang lewat, salah seorang anak buah menghampirinya. “Kapten, Lapor! Seluruh anak buah sudah berjaga di sekitar pantai dan rumah-rumah,” ucap anak buah itu memberikan informasi mengenai seruan sebelumnya.
Kapten Lasha mengangguk. “Baiklah, kita telah cukup persiapan untuk menyambut kedatangan mereka.”
Sementara, Akma Jaya masih menjalani tahap pemulihan atas racun yang bersemayam di dalam tubuhnya, dia masih belum sadarkan diri. Haima terus-menerus mendekap Akma Jaya sampai saat ini.
“Akma, ibu akan selalu berada di sisimu dan tidak akan meninggalkan kamu lagi, bangunlah ... ibu mohon!” lirih Haima. Setelah itu, dia kembali melantunkan syair-syair berbalut doa, kehimpunan sukma merangkat ke udara, naik ke puncak alam kausalitas, memecah menjadi partikel yang tak kasat mata. Perasaan seorang ibu itu terlalu kuat menyayangi anaknya.
Di setiap waktu dulu. Betapa pun dikupas perasaan itu bagaikan selembar kain sutra. Rumit, seberapa kuat kasih sayang itu, melebur dan teruslah begitu.
__ADS_1
***
Tabra berada di dekat pantai bersama ayahnya Alba. “Ayah, jika mereka benar-benar datang ke desa kita, apa yang akan kita lakukan?” tanya Tabra menatap ayahnya dengan tatapan sendu.
Alba menyeringai. “Anakku, kamu tidak usah memikirkan sesuatu yang belum terjadi, ini hanyalah kekhawatiran Kapten Lasha yang belum tentu, apakah mereka akan datang ke desa kita atau tidak.” Dia menepuk pundak anaknya. Dengan kepalan tangan percaya, bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
Tabra mengangguk, mempercayai perkataan ayahnya. Sekarang, dia beranggapan melalui firasatnya bahwa kelompok bajak laut ganas itu tidak datang ke desa Muara Ujung Alsa, tetapi firasat Kapten Lasha, seorang kapten bajak laut tua yang telah lama berhubungan dengan dunia. Dia telah lama menggunakan firasat sebagai senjata seakan terasah dari waktu ke waktu. Dengan berlalunya masa, ia telah menciptakan suatu pengalaman sehingga firasat Kapten Lasha tidak pernah meleset.
Tabra menatap ayahnya. “Bukankah ayah mengenal Kapten Lasha. Beberapa hari lalu, bos penculik itu mengatakan banyak hal kepadaku.” Dia mendongak, menatap rembulan yang sedang menunjukkan cahaya purnama.
Alba menatap Tabra. Dengan lembut, dia berkata, “Anakku, inilah dunia bajak laut, dunia penuh kekejaman dan ambisi untuk menguasai, tetapi seiring berjalannya waktu Kapten Lasha mulai berubah, bukankah kamu melihatnya sendiri?”
“Sekarang, kita hidup dikelilingi bajak laut, mereka yang kuat akan berkuasa, mereka yang lemah akan ditindas. Dengan ambisi berakar, mereka punya naluri untuk menguasai. Kita akan saling serang antar kelompok satu sama lain, cara bertahan hidup adalah bertarung,” lanjut Alba menjelaskan sedikit panjang.
Tabra sedikit menelan ludah, mengangguk. “Baiklah, Ayah. Pada suatu hari nanti, aku dan Akma Jaya akan menjadi bajak laut. Kami akan mencoretnya. Dengan itu, aku harus berusaha dan rajin berlatih untuk mewujudkan dunia yang dipenuhi kedamaian.” Dia cukup optimis
Alba tertawa pelan. “Berusahalah, kamu punya harapan!” Dia menepuk pundak anaknya.
“Angin apa ini?” Tabib mengibas udara. Mengusap hidung. Sepertinya dia sedang masuk angin, udara dingin dan kondisi tubuh yang telah menua, berbeda dengan usia muda dulu.
“Untungnya, di tasku ada tanaman herbal yang bisa kuracik dalam mengatasi situasi seperti ini.” Tabib mengingat, dia bergumam seraya membuka tas.
Dia bergerak, meracik tanaman herbal untuk menghilangkan rasa menggigil, selesai meracik. Dia pun menyeduh di dalam gelas, lalu meminumnya.
Sesaat dia meminum itu. Suara riuh di luar rumah menerobos masuk ke celah indera pendengaran. Seorang kakek tua itu penasaran, lalu dia pun keluar rumah. Ternampak ramai penduduk berkumpul, juga penjaga di sekitaran rumah.
“Sebenarnya, ada apa ini? Kenapa kalian beramai-ramai berjaga?” tanya tabib menatap seakan sedang panik. Jauh sekali, kakek tua itu tidak tahu menahu, dia sekadar bertanya dicampur bumbu drama.
“Apakah kamu mengetahui rumor yang beredar? Tentang kabut bercampur hawa dingin di tengah bulan purnama.” Anak buah yang menjadi penjaga itu menjelaskan sedikit menakutinya.
Tabib mengelus janggut. “Rumor? Ah, ya. rumor itu ... aku mengetahuinya. Lebih tepatnya, aku baru mengingatnya. Tentang rumor itu, momok mengerikan lautan, Mafia Kelas Kakap!” Tabib sedikit mendramatisir.
__ADS_1
Saat selesai berucap, tiba-tiba bunyi terompet terdengar. Sebelumnya, terompet itu telah dipersiapkan Kapten Lasha sebagai tanda dari kedatangan kelompok tersebut.
Mereka semua tercengang. “Itu ... itu adalah bunyi peringatan. Waspada semua!!” ucap salah seorang anak buah lantang. Dia adalah anak buah yang sebelumnya berbicara dengan tabib.
Selayang pandang, suasana menjadi bertambah kekhawatiran, tetapi apa sebenarnya tujuan kelompok itu datang ke desa Muara Ujung Alsa. Apa kehendak yang mereka lakukan, berbagai pertanyaan bergema di dalam batin seorang tabib. Dia mengelus jenggot tampak tenang dan mengembuskan napas perlahan.
Beberapa anak buahnya tampak gemetar, menatap kapal yang diselimuti hawa menakutkan. Kapal itu terpampang jelas tengah mendekati pantai.
Kapten Lasha menatap dan sudah bersiap menghunus pedang, seluruh anak buahnya yang berjaga di pesisir pantai juga bersiap.
Kapal kian mendekat hingga menambatkan jangkar ke pasir. Kabut masih lekat di pandangan, salah seorang dari dalam kapal menatap pantai. Lalu, berjalan memasuki kabin, mengetuk pintu dan masuk melapor.
“Kapten, sepertinya mereka telah mengetahui kedatangan kita. Mereka berjaga di sekeliling pantai.” Di dalam kabin kapal itu, dia menghadap sang kapten yang ternampak muda dari wajahnya.
Dia bernama Kaiza. Mendengar penuturan anak buahnya. Kapten Kaiza tersenyum sinis. “Kita akan menampakkan diri!”
Anak buahnya mengangguk, beranjak pergi dari hadapan sang kapten. Kapten Kaiza menggerakkan jemari, mengetuk meja, dengan kepalan tangan sebelah menyangga wajah. Dia memegang topi. Dengan perlahan Kapten Kaiza berjalan beserta para anak buahnya. Mereka menampakkan diri.
Kapten Lasha, juga anak buahnya yang daritadi terus waspada, kini dari pandangan mereka, cukup jauh jaraknya. Mereka menangkap sosok misterius berbadan kekar terselubung di balik kabut yang mengelilingi dataran pulau.
Kapten Lasha, juga anak buahnya, seluruh orang yang berada di situ menyaksikan pemandangan tak biasa, mereka tidak pernah bertemu, tidak pernah bersitatap seperti apa bentuk wajah, bentuk badan dari Kapten Kaiza. Mereka sekadar mendengar nama dan rumor yang beredar.
Pada malam itu, mereka menatapnya. Kabut perlahan membuka tabir penutup. Senyuman sinis Kapten Kaiza ternampak di setiap mata yang memandang.
“Itu ... itukah sosok Kapten Kaiza!” Tabra tercengang. Dia memegang wajah, menatap tak berkedip. Seorang anak muda berambut hitam panjang menutupi sebelah mata. Dengan senyuman sinis ternampak menakutkan bagi orang yang menatapnya, itulah sosok Kapten Kaiza.
Seluruh orang menelan ludah serentak. Kapten Kaiza menatap mereka semua dengan senyuman sinis. “Kapten Lasha.” Kapten Kaiza bersuara ganas menatap ke arah Kapten Lasha.
Suasana saat itu menjadi hening, embusan angin meniup kabut perlahan, memecah keheningan. Tatapan Kapten Lasha menjadi dingin, dipenuhi dengan hawa membunuh.
Kapten Kaiza menatap Kapten Lasha seperti tatapan meremehkan. Tabra sedikit merasa takut, tetapi dia berusaha menenangkan diri, juga berusaha berani menghadapi situasi yang kini ada di hadapannya.
__ADS_1