Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam


__ADS_3

Pagi hari.


Udara berembus tenang dan suasana pelayaran santai tanpa ada ombak yang menerpa kapal.


Di dalam suatu ruangan, Tabra dan Akma Jaya berbincang mengenai surat yang telah mereka lihat tadi malam.


Tabra masih lekat menatap surat yang berada di tangan Akma Jaya.


"Kapten, menurut pandangan saya, kita tidak perlu pergi ke sana. Jika kita pergi, bukankah ini hanya akan membuang waktu? Lebih baik kita tidak usah, Kapten Broboros tidak akan mengetahuinya. Biarkan saja dia menunggu dan terus menunggu, berharap dan terus berharap."


Tabra berucap menjelaskan, sedangkan Akma Jaya menyimaknya.


"Ditambah lagi mengenai surat itu, dia menyebutkan sumber mata air kehidupan, jelas itu terdengar konyol." Tabra melanjutkan ucapan, sedikit konyol katanya dengan jari telunjuk mengetuk meja.


Akma Jaya tersenyum. "Tabra, aku sedang berpikir apa salahnya? Kita akan mengarungi lautan dan menambah wawasan, tetapi dalam hal ini, benar atau tidaknya, kita akan mengetahui setelah menemukan Wilayah Valissa."


"Jadi, Anda memilih untuk tetap berlayar?" tanya Tabra sedikit tercengang. Sepertinya dia tidak dapat menerima keputusan Akma Jaya.


Akma Jaya mengangguk. "Ya, aku memilih demikian, di samping itu kita akan berpetualang dan seperti yang kukatakan sebelumnya untuk menambah wawasan."


Akma Jaya tersenyum simpul. Sementara Tabra hanya bisa mengiakan, mengangguk setuju, dia tak lagi protes, walaupun pandangannya mengenai itu telah ditolak dan jelas menyakitkan bagaikan minyak panas yang tumpah ke wajah, sepertinya.


Akan tetapi, tuturan kata Akma Jaya tidak menusuk tajam, bahkan tuturan itu hanya menjelaskan maksud dari pilihannya.


Di luar ruangan, Aisha mengetuk pintu.


"Kapten!"


"Tabra!"


Aisha berseru menyebut dua orang sekaligus, ketukan pintunya sedikit nyaring.


"Nanti, kita akan melanjutkan bicara setelah aku membuka pintu." Akma Jaya berdiri, Tabra juga sama—berdiri menegah.


"Kapten, pintu itu tidak usah dibuka, kita lanjutkan bicara saja," ucap Tabra memberi isyarat bahwa itu adalah Aisha.


"Mengapa kau berucap begitu?" tanya Akma Jaya mengernyit heran.


Tabra mencari alasan agar masuk akal, tetapi gagal, Akma Jaya tetap beranjak dari tempatnya, lalu membuka pintu.


Terlihatlah sesosok wanita semampai berambut pirang lurus sedang berdiri di ambang pintu.


"Aisha." Akma Jaya menatap.


Aisha tersenyum. "Sepertinya Tabra berada di dalam, mengapa, apa yang kalian bicarakan?" tanyanya seolah penasaran karena tadi malam tidak ada penjelasan.


"Kami sedang membicarakan perihal surat, jika kau ingin ikut. Masuklah!" Akma Jaya mempersilakan dengan uluran tangan singkat.


Aisha mengangguk. "Tentu saja," ucapnya sedikit garang, lantas masuk dengan perangai gagah.


"Tabraaa!" Aisha berseru lantang.


Tabra bercucuran keringat. "Astaga?"


"Cepat jelaskan!" Aisha menjewer telinganya tanpa raut wajah senang.


"Aaa ..."


"Ya, iya, aku akan jelaskan, to–tolong.. lepaskan jeweranmu, Aisha!" Tabra meronta ingin lari, tapi tak kuasa.


"Jelaskan," ucap Aisha mendekatkan wajah seramnya.


"Astaga?" Tabra menelan ludah.


Akma Jaya geleng-geleng kepala. Lantas berucap, "Tenangkan diri kalian, kita akan membahas perihal surat bukan untuk bertengkar!" Akma Jaya cukup tegas hingga dia tidak bisa membedakan Aisha sekadar bercanda saja.

__ADS_1


"Kapten, Anda terlalu serius," ucap Aisha sedikit menyindir.


"Aisha—" sergah Tabra.


"Ya, jika begitu cukup bercandanya, sekarang kita bahas mengenai surat," potong Akma Jaya cepat seraya memperlihatkan surat.


"Kapten, bisa saya membacanya?" Aisha meminta izin. Tadi malam, dia tidak membacanya—mungkin penasaran.


"Ini ...." Akma Jaya menyerahkan surat tersebut.


Aisha membaca isi text dalam surat tersebut, lantas mengangkat kening, lalu mengerutkannya, terpandang aneh gumamnya.


"Kapten, sebenarnya apa yang perlu dibahas? Tidak perlu, menurut saya lebih baik kita buang saja surat itu ke laut," ucap Aisha mengajukan pendapat.


"Kalian berdua sama saja, sepertinya keputusan yang kuambil telah salah di mata kalian," jawab Akma Jaya pelan.


"Eh?"


"Saya belum mendengar keputusan Anda, Kapten?" Aisha mengatakannya, Tabra berusaha menahan tawa, akhirnya dia tertawa.


"Haha."


"Tabra, mengapa kau tertawaaa?" ketus Aisha mencengkam kerah baju Tabra, cengkaman yang cukup kuat, Tabra kesulitan ngatur napas.


"Huh ...."


"Astaga?" gumam Tabra sedikit bercucuran keringat, menelan ludah.


"Itu, ada cicak beranak!" lanjut Tabra berseru mengalihkan perhatian.


"Mana?"


"Itu ...."


"Pembohong!" Aisha menyipitkan mata.


"Katanya paus beranak, lahirnya ayam. Hmmm ... apa itu ada?" tanya Tabra.


"Ada." Aisha mengangguk sambil melepaskan kerah baju Tabra yang semula dia cengkam.


"Di mana?"


"Di dalam mimpi," ketus Aisha seraya berduduk semula ke tempatnya.


***


Suara itu terdengar sampai ke luar ruangan.


"Eh, kau dengar tidak? Itu suara Aisha dan Tabra sedang meracau," ucap salah seorang.


"Iya, aku mendengarnya."


"Hahaha."


"Hehehe."


"Keren juga, ya?"


"Apanya?"


"Keren itu."


"Hah?"


"Sudahlah, kau tidak mengerti."

__ADS_1


"Dasar, kau aneh!"


"Heh, apa yang aneh?"


"Tidak, sana kerja. Cuci haluan dan belakang dek biar bersih."


"Kau juga."


"Iya, cepatlah ...."


***


"Mengenai surat itu, Aisha. Malam tadi, aku telah memutuskan untuk pergi ke wilayah tersebut, sekarang Tabra benar-benar ragu dan kau juga sama. Ini hanyalah tentang sedikit renungan mengenai perkataan Kapten Atlana, pada petang kemarin itu, apakah kalian mengingatnya?" Akma Jaya bertanya—mengingatkan.


"Apakah karena itu?" Aisha balik bertanya.


"Tidak, aku sekadar mengatakan sesuatu yang hampir sama dengan keputusanku!" Akma Jaya menjawab.


"Sama?"


"Ya, pada saat Kapten Atlana mengatakan jalan yang kita pilih, aku sedikit merenungkan, sebenarnya pelayaran kita sia-sia, tapi kurasa lebih baik kita jangan mencari masalah lagi, cukup yang lalu saja, hari ini aku memutuskan satu hal."


"Keputusan apa?" tanya Aisha.


"Sama seperti malam hari itu, kita akan meminta pendapat dari Adfain." Akma Jaya menjelaskan.


Aisha menghela napas, Tabra dari tadi hanya berdiam, menyimak sepertinya.


"Kesalahan kita sudah sangat fatal, kita telah membunuh Kapten Riyuta, merusak menara dan mengambil intinya. Para bajak laut itu, kemungkinan mereka akan mencari kita dengan penuh kemarahan." Akma Jaya kembali menuturkan kalimat, Aisha menyimak.


"Bukankah itu bagus? Kita akan semakin terbiasa dengan pertarungan, lagi pun itu pantas bagi mereka, tidak ada lagi tempat perjudian yang akan bisa mereka gunakan." Tabra menjawab cepat, semangat mungkin.


"Tabra, kau pintar!" Aisha memuji.


"Jangan lembek!" balas Tabra ketus.


"Apa?"


"Tidak, garam itu asin kataku," jawab Tabra.


"Siapa yang bilang manis?"


"Kapten," ucap Tabra menuduh.


Akma Jaya kaget. Keempat bola mata tertuju ke arahnya, "Eeeh." Akma Jaya geleng-geleng kepala dengan gerakan tangan yang menyertainya.


"Benar, kemarin malam itu," ucap Tabra mengingatkan. Flashback terjadi.


Di ruangan makan, pada saat selesai makan, hanya mereka berdua yang tersisa.


"Tabra, apakah kau tahu mengapa garam rasanya asin, apakah rasa itu bisa berubah manis?" Akma Jaya bertanya.


"Hmmm, mungkin terkena kutukan."


"Bukan."


"Lalu?"


"Perhatian, pada saat Aisha geram, seketika rasanya asin, saat dia tersenyum, rasanya berubah manis."


Tabra cengar-cengir mengingatnya, lantas mengulangi perkataan Akma Jaya tersebut, seketika Aisha merona malu, salah tingkah dianya, bahkan lekas memilih pergi dari hadapan mereka berdua.


"Haha." Tabra tertawa lebar.


Akma Jaya berusaha mengalihkan perhatian, menyembunyikan sikap canggung, dia lekas memeriksa arah mata angin dengan pensil dan peta wilayah.

__ADS_1


"Hahahaha." Tabra terpingkal-pingkal. Sulit menahan tawa, sepertinya.


__ADS_2