
Di hari yang usai dijanjikan tiba. Awan mendung meliputi cakrawala. Tabra mempunyai firasat buruk.
Duhai inikah firasat
Menggema dalam dada yang kian mengkhawatirkan.
Mengapa ini?
Apa yang akan terjadi?
Pandangan mata itu menatap langit dan entah bagaimana perasaannya saat itu berkata berbeda.
Semoga tidak apa-apa.
Hingga mereka terus berlayar menyusuri lautan yang di sana bagi Tabra hawa hawa mulai terasa. Awan mendung di ufuk langit kian menebal. Tak berselang lama, puluhan tembakan berbunyi dari kejauhan. Berbarengan dari arah muka dan belakang.
Tabra menelan ludah. Apakah semua firasat yang dirasakannya akan benar terjadi? Penuh pertanyaan kini dalam benaknya menguraikan nada tiupan suling.
Meriam itu meletus. Meluncurkan tembakan meriam yang dilengkapi kecepatan penuh. Gedebum suara mengguncang ombak, kala itu suatu keadaan terhalang jarak yang memang sedikit jauh. Meriam itu untungnya tidak mengenai kapal mereka.
Akma Jaya menatap melalui teropong puluhan kapal dengan meriam berada di belakang.
Sementara, menatap ke depan sana puluhan armada kapal milik Raja Hurmosa sama juga bersiap dengan tembakan meriam. Tabra berseru mengantup layar.
Bersama puluhan anak buahnya bekerja sama membantu, masing-masing kompak. Kapal itu berhenti usai layar dikantup rapi pada tempatnya. Juga sama kapal yang lainnya juga berhenti tepat di sisi mereka dengan menyesuaikan jarak jangkauan meriam.
Mereka telah kepung muka belakang, terjepit di antaranya seperti dua buah benua dan satu buah pulau kecil yang berada di tengahnya. Dua samudra juga demikian sama seperti menggambarkan betapa hari itu tiada lagi yang mampu diutarakan dalam batin. Denting denting waktu dan udara melancarkan cahaya.
“Ini semua ternyata adalah jebakan!” Kalboza mendesis, menampar tiang layar.
Awan mendung kian pekat. Ini tentang janji Raja Hurmosa, secara garis pandang dia telah berkhianat. Kerajaannya akan hancur dan lautan mengamuk.
Di mana kalimat janji itu terikrar antara lautan dan samudra di antara tahta dan istana. Kalboza mengutuk dalam kepalanya. Penipu. Pendusta.
“Kotornya raja itu. Dia mengingkari janji.”
Dausa ikut berpekik. “Mungkinkah kita akan mati?”
“Pikiranmu sudah rusak, Dausa.” Boba menggeram.
“Kita tidak akan mati semudah itu.” Dia lanjut bicara menguatkan tekad semua orang di sana.
Kalboza menggengam erat pedang terasa percuma. Mereka para bajak laut itu menggunakan meriam bukan dengan pedang untuk bertarung.
“Mau bagaimana lagi, semua kecurigaanku selama ini ternyata benar! Dan kau Kalboza, kau orang pertama yang kuberitahu tentang ini dan kau sama sekali tidak percaya terhadapku, kau juga orang pertama yang pesimis menyatakan diri untuk menyerah.”
Dilema dada yang saat itu menyeruak. Tabra berucap demikian hanya kesal. Saat dia ingin membicarakan rencana. Kalboza orang pertama yang bilang buronan seperti mereka hendaknya menyerah pasrah dan membuat mereka membayar impas, terasa percuma berbuat kebaikan dan apa yang hendak dibicarakan.
Kala semua nyanyian batin tiada bergema dalam satu nada. Kita ada bukan sebagai teman! Begitulah yang usai dulu perkataan itu dikatakan Ashraq. Kelompok ini bagai gelap di nuansa fajar menyingsing, tiada lama cahaya.
Boba menanggapi, “Kau harus sadar diri, Tabra. Dan kau tidak bisa menyalahkan Kalboza, kau sendirilah yang kalau membicarakan sesuatu sukanya bertele-tele dan itu sungguh memuakkan!”
Kalpra di saat itu menepuk pundak Boba, “Teman, tidak ada waktu untuk berdebat. Ibarat sebuah kata kita sudah berada di ujung jurang dan jangan kau tambah lagi dengan hujan dan petir. Kau tahu hal seperti itu tidak bisa menyelamatkan kita.”
Aswa Daula ikut menimpali, “Mungkin karena kau menatap langit dan terinspirasi mengucapkan kata tersebut. Awan sedang mendung sekarang.”
“Ini untuk Boba agar dia bisa merenungkannya.” Kalpra tersenyum yang persis itu menyenangkan dan wajahnya tidaklah panik seperti bakpoa yang ada di piring tanpa ditemani oleh minuman.
Boba menghela napas. “Kau benar, Kalpra.”
Ada pun Tabra kini mengusap wajahnya yang terasa kebas memikirkan nasib mereka. Kalboza menatap langit awan menghitam. Mungkinkah ini seperti kuburan bagi mereka? Dengan warna hitam di langit?
Benaknya menggambarkan sebuah kosa kata yang tiada berkawan dan tiada bertuan. Tiada yang bisa diutarakan lagi olehnya dalam kata ke kata. Saat itu memilih pasrah.
Air mata Dausa hendak tumpah. Berbeda dengan Aisha—adalah wanita, tetap tegar dan bisa menerima semua kenyataan. Dia jarang berbicara usai banyak menemui peristiwa saat bersama mereka.
Akma Jaya berjalan ke haluan kapal. Berbalik menatap semua orang. Mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tembakan meriam sudah tertuju ke arah mereka. Para kapten melonggarkan waktu mungkin supaya kelompok yang hina itu sempat untuk saling bertatap muka mengucapkan kalimat taubat dan saling minta maaf di antara seluruh anggota dalam kelompok tersebut.
Kapten Atlana terbahak. “Ajalmu sudah dekat, wahai orang durjana! Tidak sepantasnya kau ada di bumi!”
__ADS_1
Tawa Kapten Atlana disambut semua orang yang ikut menyertainya. Hitungan detik, tembakan meriam tersebut kalau ditembakkan akan mengakhiri segalanya. Meriam itu belum juga ditembakan oleh mereka, masih melonggarkan waktu.
Perasaan dalam batin saat itu bergejolak seperti irama dan ombak yang menerpa. Penjahat seperti Akma Jaya yang jahatnya hanya karena hasutan dan fitnah dari Kapten Atlana. Akma Jaya akan menerima akibat dari kesalahan yang sejatinya tidak pernah diperbuat olehnya. Tentang fitnah dan bagaimana cara mereka melepaskannya itu sudah tidak bisa.
Walaupun kejadian tersebut memang benar. Hanya saja, Kapten Atlana mendramatisir dan menciptakan suatu fitnah berawal dari dua kesalahan.
Kesalahan pertama itu terjadi saat hancurnya menara di Wilayah Nanaina itulah yang menjadi sebuah fitnah terbesar pada awal mula kelompok mereka berlayar.
Kapten Atlana berpuas diri saat itu menyebar berita bohong bagai menyalakan api unggun di tengah siang hari. Panas mentari bercampur panasnya api. Dia menyebar fitnah tentang bagaimana keadaan dan kondisi ganasnya kelompok yang hendak mengacaukan peradaban serta menghancurkan negeri dan mendendam dengan niat membunuh.
Padahal nyatanya tidak seperti itu. Akma Jaya ketika itu bermaksud memusnahkan bajak laut adalah untuk menghentikan pembajakan di lautan.
Bukan memusnahkan dengan cara membunuh. Itulah mengapa di sini masalahnya menjadi rumit.
Yang paling mencengangkan adalah kesalahan kedua. Terbunuhnya Kapten Riyuta di tangan Akma Jaya. Penebusan dosa itu cepat dilakukan Akma Jaya dengan berlayar menuju ke wilayah Valissa untuk mencari sumber mata air kehidupan. Seperti yang dikatakan Kapten Broboros akan hal demikian.
Dua kesalahan itu menjadi bahan Kapten Atlana menguncangkan seluruh armada bajak laut.
Apalah yang hendak dikata, duhai. Nasi kini usai menjadi bubur. Dilema tentang kejadian di masa lalu dan di masa yang sekarang seakan menyeruak ke jalanan dan pesisir pantai hingga kata itu tak bisa lagi diutarakan tentang bagaimana cara menjelaskannya.
“Apa yang akan Anda perbuat, Kapten?” Dausa berlinang air mata, dia cengeng ingin menangis.
Dasasa ikut menimpali. “Paling tidak selama ini kita pernah bersama dalam suka maupun duka.”
Di saat seperti ini kalimat maaf mungkin saja akan terucap. Akan tetapi, Akma Jaya menanggung halnya sebagai seorang kapten, kalimat maaf akan dia ucapkan kalau mereka semua selamat. Di saat seperti ini Akma Jaya tidak mengucapkan kata apa pun. Dia memilih diam sementara dan tengah berpikir mencari solusi untuk masa yang akan datang dan berpikir tentang bagaimana kelanjutan yang akan dia lakukan bersama mereka, tentang hidup dan mati.
“Kalau saja mereka tidak pengecut seperti ini, mereka mengepung kita. Aku lebih memilih bertarung satu demi satu dengan mereka ketimbang hal seperti ini.”
“Kau benar, Kalboza. Ini seperti kita berada di pusaran lautan yang hendak membinasakan kita. Semua ini terlihat menakjubkan dan membuatku teringat masa lalu.” Aswa Daula tertawa. Yang lainnya saat itu tegang hanya dia seorang diri yang tertawa.
“Kau bicara apa, hah? Di saat seperti ini kau malah berbicara seperti itu.” Boba menggeram.
Jalbia kini juga tertawa. “Boba, kau tidak sepantasnya marah kepada Aswa Daula karena dia benar.”
Glosia ikut tertawa. “Hidup ini memang kadang terdengar lucu. Kita menghadapinya bersama.”
“Hidup ini senda gurau belaka.” Hambala menimpali.
Ashraq mengatakan dengan wajah bahagia. Tapi usai itu dia baru terpikir tentang muatan kapal selam tersebut. Tabra menepuk jidat. Mengingat jumlah yang harus dikurangi hanya satu orang.
Di kapal itu mereka bertiga belas usai di pelabuhan sebelum melanjutkan pelayaran. Para awak kapal lainnya memutuskan berganti kapal dan disewa oleh pihak yang lebih banyak mempunyai uang.
Boba gigit jari mengingat muatan kapal selam itu. Di buritan kapal adalah tempat yang tersembunyi dan di sana kapal selam itu berada. Tiga kapal selam.
Akma Jaya sebentar berpikir, menatap depan dan belakang. Puluhan kapal masih menunggu. Naluri sang kapten dalam dirinya seolah muncul. Menyebut semua hal yang terjadi adalah karena kesalahannya.
“Aku tak bisa seperti ini.” Sedikit lirih terucap.
Dia menyadari akan bagaimana posisi dirinya. Bagaimana kedudukan bisa membuatnya seperti kayu dan ranting yang mudah patah. Dia merasa tidak pantas memimpin dan berkorban adalah jalan penebus dosa.
Akma Jaya menatap semua orang. “Aku tak bisa membiarkan kalian bernasib sama seperti yang kualami. Ini semua terjadi ...”
Satu-dua kiri kanan memperhatikan. “Apa yang Anda maksud, Kapten?” Hambala orang pertama berkata.
Aisha sudah banyak mengerti akan bagaimana maksudnya. Pun Tabra yang mengambil pena dan menulis kata itu ke dalam lembaran buku. Kisah ini akan segera berakhir sebentar lagi, teman.
“Semua ini terjadi karena kesalahanku. Mereka hanya menginginkan kematianku dan dalam hal ini tidak sepantasnya aku melibatkan kalian.” Akma Jaya menjelaskan.
“Aku yakin dengan ini dan aku akan tetap berada di kapal. Bukankah jumlah yang harus dikurangi hanya satu orang? Maka akulah orangnya dan akulah orangnya sebagai kapten yang memimpin kelompok ini.” Akma Jaya mengatakan terus terang.
Yang lainnya jelas saja tidak setuju. Hal itu sungguh sangat mencengangkan bagi mereka.
Saat mendengarnya Tabra menghela napas, “Jangan Anda katakan hal seperti itu, Kapten. Kami semua tidak akan meninggalkanmu seorang diri.”
Apalagi Aisha. Dan Boba juga sama walaupun dia yang paling menyebalkan, tidak mampu mengiakan.
Di sana ada kapal selam yang dulu dibuat Tabra bersama anak buahnya di pulau Andaba, tiga kapal selam itu berada di buritan kapal. Tabra merasa dilema saat mendengar perkataan Akma Jaya menyuruh pergi dan jangan hiraukan lagi apa yang akan terjadi pada diri sang kapten tersebut.
Jalbia mengatakan, “Kami tidak bisa membiarkan Anda menderita sendirian, Kapten. Sejak pertama kami bergabung ke dalam kelompok ini, tiada hal yang membuat kami menjadi renggang terhadap perasaan dan penderitaan di antara kita semua. Ini sebuah ibarat anggota tubuh, satu anggota saja yang mengalami sakit, kami juga ikut merasakannya.”
__ADS_1
“Benar, Kapten.” Ashraq menyahut.
Dausa hanya mampu kini mengusap air mata. Dasasa beda cerita saat itu merasa susah bernapas. Puluhan kapal itu masih bersiap-siap menembak dengan meriam yang hendak membinasakan mereka.
“Kami semua tidak akan meninggalkan Anda sendirian di sini, Kapten. Kita satu kelompok yang harus tetap bersatu sampai kapan pun.”
Di sana suara lainnya juga ikut sahut menyahut. Mereka saling mengutarakan hal yang sama.
Akma Jaya menegaskan ucapan, “Turutilah perintahku walau bagaimanapun ini adalah perintah langsung dariku sebagai kapten kalian.”
Akma Jaya terus menyakinkan hingga mereka semua terpaksa setuju dengan itu. Kapal selam itu hanya berjumlah tiga dengan bentuk yang kecil.
Satu kapal selam muat untuk 4 orang. Sementara mereka jumlahnya bertiga belas di sana. Akma Jaya selaku kapten merasa perlu bertanggung jawab.
Dia memilih keselamatan bagi dua orang sahabatnya dan kesepuluh anak buahnya. Masing-masing dari mereka merasa berat dan bagaimana Akma Jaya terus saja menyakinkan mereka bahwa Akma Jaya tidak akan apa-apa. Dia akan senantiasa ada bersama kenangan dalam hidupnya. Kenangan yang melekat.
Tabra menepuk bahu Akma Jaya. Aisha berjabat tangan untuk terakhir kalinya memeluk dan menguraikan bait air mata. Perpisahan mereka kali ini disaksikan cakrawala di antara lautan yang jernih. Di antara mentari yang bercahaya di balik awan.
Cuaca sedang mendung. Mentari menyembunyikan diri. Tetes hujan terbendung di langit.
Kalboza, Dausa, Dasasa, Hambala, Aswa Daula, Ashraq. Mereka mengepalkan tinju ke arah Akma Jaya. Sementara sisanya juga melakukan hal sama.
Boba yang lebih sedih lagi. Dia terus saja menyalahkan dirinya, bahkan Akma Jaya sendiri tiada kuasa menatapnya terus seperti itu.
Boba yang cerewet dan suka mendebat itu kini terlihat berbeda dari biasanya. Tidak henti-hentinya dia menyebut Akma Jaya sebagai pahlawan.
Akma Jaya saat itu berkata, “Perlu kalian tahu, tiada hal yang berarti dalam hidupku ini selain bertemu dengan kalian semua. Saat bersama kalian, aku seperti menemukan sebuah rumah dan keluarga.”
“Maafkanlah atas segala kesalahanku. Ini semua bukan salahmu, Boba. Bukan pula salah kalian. Ini adalah kesalahanku dari awal bermula terbentuknya kelompok ini. Semua ini murni adalah kesalahanku.”
Sepenuhnya ini kesalahan Author. Seorang author pemula tengah menangis dalam kamarnya. Di antara mereka saling merangkul satu sama lain. Di balik itu, teropong Kapten Atlana terus mengawasi.
“Sungguh menyedihkan!” Senyuman licik.
Dia terbahak menatap ironi tersebut. Usai semuanya reda. Mereka satu per satu memasuki kapal selam. Satu kapal selam berisi empat orang. Tiga kapal selam lengkap sudah kedua belas orang itu di sana.
Hal itu diketahui pihak lawan. Mereka tidak membiarkan kapal selam itu akan lulus begitu saja. Walau bagaimanapun tembakan meriam.
Kapal selam itu berhasil, meluluskan mereka kesepuluh anak buah, Tabra dan Aisha. Mereka selamat dan kalimat maaf bisa untuk dimaafkan.
Saat itu dalam pikiran Akma Jaya gelar seorang kapten telah tumbang. Kini Akma Jaya hanya seorang diri tertinggal di kapal. Saat meriam itu dilepaskan serentak. Tiga kapal selam yang meluncur itu telah meninggalkan kapal cukup jauh.
Menyisakan bunyi ledakan yang sangat mengganggu bagi burung pelikan yang tengah terbang di langit. Pekikkan elang di pulau Andaba. Maafkanlah atas segala kesalahan. Maafkanlah. Kepulan asap beterbangan ke cakrawala bersama debu untuknya meratapi nasib.
Maafkanlah atas segala kesalahan
Hidup ini tidaklah lama bertahan
Teman, selalu ada jalan
Untuk di lain waktu kita bertemu
Selamat tinggal
Berpuisi di tengah gejolak rasa yang tiada mampu. Duhai dan duhai masa lalu. Selamat tinggal.
Awan mendung yang sudah tak terbendung akhirnya menumpahkan hujan. Kepulan asap dari kapal yang hancur membumbung ke langit bersamaan tetesan air hujan. Entah bagaimana nasib Akma Jaya?
Beberapa dari mereka para bajak laut dan pasukan Raja Hurmosa menyangka serta beranggapan bahwa Akma Jaya telah tewas dalam insiden tersebut hingga mereka semua terbahak-bahak. Pulang ke tempat kediaman, rumah serta istana dengan berpuas diri.
Satu hal yang berkesan di antara ini adalah permintaan maaf dari seorang kapten karena telah merasa gagal dalam memimpin. Kala itu Akma Jaya mengucapkan maafkanlah atas segala kesalahan.
Baik kesalahan itu disengaja ataupun tidak—sekadar tambahan dan begitulah maksudnya.
Kesepuluh anak buah, Tabra dan Aisha telah berhasil melarikan diri dan pencarian terhadap mereka semenjak hari itu terus dikerahkan, terus disebar brosur.
Ada pun tentang Akma Jaya di antara mereka menjadi sebuah cerita baru di kalangan bajak laut.
Tentang bagaimana Akma Jaya berakhir tewas di lautan, di kapalnya sendiri. Yang sejatinya cerita itu tidaklah benar. Akma Jaya juga selamat dari insiden tersebut.
__ADS_1
Hanya saja. Sang Kapten telah menemukan sisi renungan terdalam dan memilih mengasingkan diri dari duniawi.