Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan


__ADS_3

Sebuah era bajak laut melanda, merajalela dengan sikap penuh kebrutalan, kekejaman tak bermoral. Namun, dibalik itu semua, ada seorang kapten yang berbeda dari kapten lainnya.


Dia bertekad memimpin kelompoknya untuk membawa secercah harapan.


Bertujuan menciptakan perdamaian dan memusnahkan sikap kekejaman, kebrutalan, serta hal kejahatan yang melekat pada Bajak Laut.


Walaupun hanya secercah harapan, sebuah sinar yang redup, berbentuk tekad, bahkan tak pernah terbayang rasanya apakah kelompok itu bisa mengatasinya.


Tahun ke-1869


Kelompok Bajak Laut Hitam mutlak didirikan, Akma Jaya berseru lantang.


"Kalian semua, dengarkanlah! Tujuan kelompok kita dibentuk adalah untuk mencoret kekejaman para bajak laut."


"Benar, seperti halnya tinta hitam yang mencoret tulisan, itulah mengapa kelompok ini didirikan dan itulah alasanku kenapa kelompok ini kuberi nama dengan nama Bajak Laut Hitam."


Tabra menambahkan karena dialah yang merancang nama tersebut, nama yang dibuat dengan tujuan untuk mencoret.


Beberapa catatan yang bertebaran tentang kekejaman para bajak laut, Tabra menulis kata perkata kemudian dia mencoret menggunakan tinta hitam dengan ekspresi wajah yang dipenuhi kekesalan, kemarahan, dua emosi yang bercampur aduk menjadi satu. Dendam lama dari kehancuran Desa Muara Ujung Alsa.


Dari situlah sebuah inspirasi muncul, sebuah nama yang dia sebutkan, Akma Jaya mengangguk, setuju dengan apa yang disebutkan oleh Tabra.


***


Sekarang, Akma Jaya beserta anak buahnya yang sudah dia kumpulkan selama berada di desa Daura, mereka semua kembali ke Pulau Andaba, bukan untuk menetap, Akma Jaya menguraikan rencana kepada anak buahnya.


Sebuah rencana untuk mengarungi lautan, membasmi para bajak laut, berkelana sambil menelusuri, menjelajah lebih luas, mendalami seluk beluk lautan. Dia kembali ke pulau Andaba untuk mengambil beberapa barang penting yang tertinggal di sana.


Dalam iringan lautan yang luas, kapal yang diterpa ombak. Bajak Laut Hitam berlayar, walaupun anak buah yang terkumpul hanya berjumlah sepuluh orang dengan Aswa Daula yang melengkapi hitungan.


Namun, Akma Jaya belum mengetahui nama Aswa Daula serta riwayat hidupnya.


Pulau Andaba terletak di bagian utara, pulau kecil, jauh dari pandangan mata, bahkan hampir tidak ada mata yang memandang pulau tersebut, selain dari mereka bertiga.


Beberapa waktu yang lalu, telah meninggalkan kenangan, hal yang terlewat melukis kehidupan dengan warna campuran.


"Hei, kau tak menyimak perkataanku!" seseorang kapten di bagian bumi selatan mengamuk, melontarkan kata amarah berbentuk cacian kepada anak buahnya.


Kapten Kuja sang penerus dari Bajak Laut Merah, dia berbadan besar dengan jenggot lebat serta jubah merah yang menjadi ciri khasnya.


"Bodoh!" Dia kembali berujar dengan tatapan amarah.


Campukan mengenai tubuh, luka memar membekas pada kulit dengan sedikit darah yang mengalir. Jeritan kesakitan, rintihan, pada setiap penjuru wilayah, siksaan yang mereka terima bernasib sama, sekarang masa mencekam di seluruh benua.

__ADS_1


Generasi penerus lebih biadab dari sebelumnya, mereka merebut kapal-kapal, menjarah pulau-pulau dengan kebiasaan yang sudah tertanam seperti generasi sebelumnya. Hanya saja sedikit berbeda.


***


Bajak Laut Hitam sudah sampai di pulau Andaba, Akma Jaya berseru pada saat sampainya mereka.


"Tabra, Aisha!"


"Ada apa, Kapten?" tanya mereka berdua bersamaan.


Akma Jaya tak menjawab, dia kembali berseru.


"Tabra, Aisha dan kalian semua, kuatkanlah tekad serta bersiaplah untuk menjadi seorang Bajak Laut yang menghentikan kekejaman yang mereka perlihatkan!"


"Siap, Kapten."


Mereka semua menjawab kompak sambil meletakan telempap tangan dengan bentuk lurus menghadap dahi.


Tabra tidak memilih barang, baginya setiap barang itu penting, semua barang dimuat ke dalam kapal, sekarang Pulau Andaba menjadi kosong seperti sedia kala, hanya menyisakan tiga bangunan berbentuk hunian sederhana, terbuat dari dedaunan kering serta batang pohon jati yang berikat tali pada setiap ujung bangunan.


Tabra menghela napas.


"Ini berbeda dari apa yang kita lihat sebelumnya."


"Lihatlah, pulau ini mengingatkanku pada saat kita pertama kali datang ke pulau ini!"


Tabra mengatakan sebuah nostagia, mengingat kembali, Akma Jaya serta Aisha menyimak perkataan yang dia lontarkan.


Enam pasang mata tertuju pada satu titik, mereka bertiga menatap Pulau Andaba, benar saja nostagia melanda suasana.


/Flashback on/


Kehancuran Desa Maura Ujung Alsa, sang bajak laut pemegang nama pilar yang kelima bernama Kapten Kaiza. Dia menyerang habis-habisan, sebuah kelompok yang dia beri nama Mafia Kelas Kakap bermuara di lautan, kedatangan mereka disertai kabut dengan hawa dingin menusuk kulit.


Akma Jaya terbaring lemah, dia tak dapat berbuat apa-apa. Tabra meringis dengan pedang yang dia genggam melawan orang yang sudah membunuh Haima.


Kapten Lasha bertarung dengan Kapten Kaiza mendapatkan firasat tentang kematian Haima, tetapi dia berusaha fokus pada musuh yang jelas terlihat tersenyum sinis, wajah penuh dendam tak memberi belas kasihan.


Kapten Lasha menyuruh Alba untuk cepat pergi ke tempat Akma Jaya dan Haima, sayang beribu kata yang dilimpahkan, dia tak sempat, pedang Kapten Kaiza tertancap jelas dipunggungnya.


Perlahan, Alba mengembuskan napas terakhir, sebelum itu Alba berujar mengeluarkan kata permintaan maaf kepada Kapten Lasha.


Kapten Lasha bergerak melawan dan terus melawan, tanpa henti serangan terus di lancarkan. Hingga dia terbunuh mengenaskan.

__ADS_1


Asap dari kebakaran rumah penduduk memenuhi suasana, ditengah malam yang dikelilingi kabut, semakin membuat suasana memburam, pandangan memutar dan meremang.


Akan tetapi, bagi Tabra itu adalah kesempatan yang dia memiliki.


Dia bersama Aisha membawa Akma Jaya ke tempat kapal yang berada di ujung pulau, mereka berdua terus menggendong Akma Jaya, berlari menembus kegelapan malam ditengah kabut bercampur asap kebakaran.


Dengan langkah yang tergopoh, berembus napas lelah, mereka sampai pada kapal yang berada di ujung Desa Muara Ujung Alsa. Seketika mereka langsung berangkat, kapal itu melaju meninggalkan desa tersebut.


Ditengah perlayaran mereka, kapal itu terus berlayar, berlalu masa hampir dua hari mereka berlayar tanpa arah tujuan.


Secara tiba-tiba, badai besar terjadi, ombak menerpa, mengguncangkan kapal, Tabra dan Aisha yang tak pandai berlayar hanya bisa pasrah dengan raut wajah ketakutan, layar kapal mereka patah.


Akma Jaya masih terbaring lemah, kapal tersebut terus berguncang-guncang terbawa arus hingga mereka terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni.


Mereka berdua pingsan dan Akma Jaya masih terbaring lemah. Hampir seharian, cahaya terik matahari membangunkan Aisha dan Tabra.


Sontak, mereka kaget berada di sebuah pulau yang entah di mana letaknya. Bingung, bertanya tanpa ada jawaban.


Perut yang lapar menuntut insting mereka untuk bertahan hidup, beberapa dari buah kelapa mereka petik, terlihat mereka berdua begitu kelaparan.


Beberapa hari berlalu hingga Akma Jaya terbangun dari sakitnya, suasana menjadi terasa lengkap, mereka bertiga hidup dan bertahan dengan cara apa pun.


Mereka semakin tumbuh dewasa, ketika itu sebuah nama terpikir oleh Tabra. Dia memberi nama pulau itu dengan Andaba.


Sebuah singkatan dari kata "Apa pun dan bagaimanapun."


Alasan Tabra memberi nama Andaba, apa pun yang terjadi, bagaimanapun yang terjadi, mereka bertiga akan terus bersama.


Pada akhirnya, Tabra berencana membangun kelompok Bajak Laut Hitam, mereka membangun kapal sederhana dan mengabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyelasaikannya.


Kapal itu cukup besar, mereka mempunyai bakat dalam membuat kapal, di setiap sisi mempunyai bentuk ciri khas kesukaan Akma Jaya, pahatan sebuah wortel.


Mereka mulai mengarungi lautan, perlayaran pertama mereka di kejar oleh Bajak Laut, mereka terus berlayar mencari berbagai informasi, mereka kembali ke Pulau Andaba setelah mendapatkan kabar.


Pada sekian kalinya mereka berlayar, banyak informasi yang mereka dapatkan.


Di sebuah desa yang bernama Daura, dari informasi yang didengar mereka, desa itu cukup aman untuk berkeliaran, mereka berlayar menuju ke desa tersebut.


/Flashback off/


"Benarkah itu? Apakah kau bergurau?" tanya Aisha.


"Aku tidak bergurau, Aisha." Tabra menjawab dengan raut wajah yang tersenyum. Kelompok mereka sepenuhnya sudah mulai terbentuk.

__ADS_1


Akma Jaya memasuki kapal, meninggalkan mereka berdua yang masih sibuk berbincang-bincang mengingat sesuatu yang tidak ada faedahnya. Bukan begitu, mungkin saja bagi mereka itu adalah hal yang cukup berkesan.


__ADS_2