
Tabra melebarkan mulut penuh gelak tawa, sedangkan Aisha berwajah datar.
"Aisha, kau tahu apa tentang legenda?" Tabra mulai mengoceh.
"Kapten, saya memberi saran kepada Anda untuk tidak usah mempercayai ucapan Aisha karena menurut saya tidak pernah ada Legenda Bajak Laut Merah seperti yang telah disebutkan Aisha!" Tabra memperjelas dengan suara lantang.
"Ka–kapten, saya pernah mendengar cerita tentang bajak laut merah tersebut!" Salah satu anak buah bersuara dengan terbata-bata.
Tabra tercengang mendengarnya, dia seolah tidak percaya dengan ucapan anak buah tersebut.
"Baiklah, bisakah kamu bercerita seperti apa legenda yang kamu ketahui?" jawab Akma Jaya menyuruh anak buah itu bercerita.
"Ini terjadi pada permulaan tahun 1650, menurut rumor yang beredar ayah Anda–Kapten Lasha pernah berhadapan dengan pemimpin kelompok Bajak Laut Merah ini."
"Akan tetapi, ini bukanlah sebuah legenda hanya berlalu masa sedikit lebih lama dari masa sekarang!"
"Aisha, apakah engkau mendengarnya, itu bukanlah legenda, kau sudah salah dalam berbicara!" Tabra menyahut cepat setelah anak buah itu selesai berbicara.
"Aku hanya mendengar beberapa orang yang menyebutkannya bahwa itu adalah legenda!" Aisha menjelaskan.
"Aisha, perlunya engkau mencerna baik-baik apa yang engkau dengar, jangan langsung mempercayainya!" Tabra menekan suara lantang.
"Hmmm, baiklah ...." jawab Aisha.
"Kalian berdua, diamlah. Jangan ribut di depanku!" Akma Jaya memperlihatkan wajah seriusnya.
"Hei, lanjutkan bercerita!"
Akma Jaya menyuruh anak buah itu untuk melanjutkan ceritanya.
"Baiklah, kapten!"
"Pada tahun 1650 terjadi pertempuran besar di kalangan bajak laut, saat itu bajak laut merah ikut bertempur di laut Farida, salah satu laut di samudra Albamia!"
"Laut Farida saat itu berkecamuk dipenuhi dengan bunyi meriam dan ledakan yang menghancurkan beberapa kapal!"
"Ada banyak kapal yang tenggelam dalam pertempuran itu, saat itu kelompok bajak laut merah adalah yang paling unggul dari yang lainnya."
"Akan tetapi, pada suatu ketika mereka bertemu Kapten Lasha, sebelum bercerita tentang itu, saya akan membahas perihal tentang pemimpin kelompok tersebut yang bernama Zaiya!"
"Zaiya?!"
"Benar, pemimpin kelompok itu bernama Zaiya!"
__ADS_1
"Lantas, apa yang terjadi setelah itu? Tidak usah kau ceritakan tentang si Zaiya ini, langsung saja ke inti cerita!"
"Baiklah, pertempuran bertambah sengit dikarenakan kelompok tersebut bertemu dengan kelompok Kapten Lasha."
"Seperti yang beredar tentang Kapten Lasha, tentang sikapnya yang begitu keras, kejam berdarah dingin, musuh-musuh atau siapa saja yang bertemu dengannya dan tidak memihak pasti akan tenggelam dalam lautan tanpa dasar."
"Zaiya sang pemimpin kelompok bajak laut merah terlalu memandang rendah Kapten Lasha, dia begitu percaya diri!"
Tiba-tiba saja, Tabra memotong cerita anak buah tersebut.
"Hei, sebenarnya di mana engkau mendengar cerita ini?"
"Apakah cerita itu dapat dipercaya bahwa cerita itu benar adanya?"
"Ma–maafkan saya, saya hanya bercerita berdasarkan apa yang saya ketahui dan saya juga sudah memastikannya bahwa cerita ini benar terjadi." Anak buah itu mulai bercucuran keringat.
"Hei, aku menanyakannya untuk melatih mentalmu, tidak ada maksud lain. Hahaha ...." Tiba-tiba saja Tabra tertawa dengan gelak.
Aisha yang berada di sampingnya mulai geram, dia pun mencubit tepat di area pinggang Tabra.
"Aaah! Aisha, apa-apaan kau? Kenapa malah mencubitku?"
"Hei, Tabra. Jangan kebiasaan memotong perkataan orang lain atau pun orang lagi bercerita, jangan sering engkau memotongnya!" Aisha pertegas dengan suara lantang.
"Sudah kubilang, kalian berdua berhentilah bersikap seperti itu!" Akma Jaya kembali bersuara menghentikan mereka berdua, sedangkan anak buah itu terdiam menatap dengan wajah yang tampak gugup.
"Benar, kapten. Ini semua salah kami!"
Mereka berdua langsung bersujud hormat dengan cara membungkukkan badannya menghadap Akma Jaya.
"Tidak apa, kalian berdua bangkitlah, jangan bersujud di depanku, aku sangat tidak nyaman karena itu."
Mendengar itu, mereka berdua bangkit dari semula membungkuk.
"Terima kasih, kapten." Tabra menghela napas karena Akma Jaya telah memaafkannya.
"Saya juga berterima kasih kepada Anda, Kapten. Engkau sudah bersedia memaafkan kesalahan kami," sahut Aisha berbarengan dengan Tabra.
Akma Jaya hanya bergeming dan mengangguk pelan sebagai isyarat mengiakan.
"Bisakah engkau lanjutkan bercerita?" Akma Jaya berucap sambil memandang anak buah tersebut.
"Baiklah, Kapten ...."
__ADS_1
"Saya akan sedikit mengulang ceritanya, saya tadi terlalu cepat dalam menceritakan kejadiannya."
"Tak apa, teruskanlah!"
"Baiklah, Kapten. Pada saat itu, Zaiya memerintah anak buahnya untuk berlayar mendekati kapal Kapten Lasha."
"Kapal itu pun mendekat secara perlahan, Kapten Lasha tidak menembakkan meriam, dia melihat kapal itu mendekat kemudian kapal mereka berdua saling berdekatan."
"Kapten Zaiya memerintah anak buahnya untuk membentangkan jembatan untuk masuk ke dalam kapal Kapten Lasha."
"Anak buah Kapten Zaiya langsung membentangnya, seketika itu Kapten Zaiya langsung menerobos masuk ke dalam kapal Kapten Lasha."
Kali ini, Tabra hanya diam serta fokus dalam menyimaknya, dia tidak berani lagi memotong dengan sembarangan, sedangkan Aisha tampak mengangguk pelan, Akma Jaya memperhatikan dan mendengarkan cerita anak buah tersebut.
"Dengan pedang yang sudah terhunus, Kapten Zaiya bersiap untuk menghabisi Kapten Lasha, betapa suasana saat itu begitu mencekam bagi anak buah kapten lasha, angin menderu dengan hawa dingin yang dipenuhi rasa ketakutan!"
"Hmmm ... ini terlalu berlebihan, dia menggambarkan suasana terlalu berlebihan. Ah, sudahlah! Untuk apa aku membahasnya!" Batin Tabra mendengar cerita tersebut.
"Cakrawala menggema, ikan-ikan ternganga, bahkan matahari menutup diri karena hawa yang begitu mencekam, pertemuan antara dua orang yang sudah dikenal dengan sikap kejamnya!"
"Ya, ampun. Semakin ke sini semakin bertambah, sepertinya dia adalah orang yang suka melebih-lebihkan suasana!" Batin Tabra kembali bergumam karena mendengarnya, dia sudah tidak tahan ingin menegurnya, dia berusaha untuk membungkam keinginannya tersebut.
"Kapten Zaiya melancarkan serangan dengan bertubi-tubi, masing-masing dari anak buah ikut bertempur satu sama lain."
"Dengan wajah yang semringah, Kapten lasha tampak tenang dalam menghadapi serangan yang dilancarkan oleh Kapten Zaiya."
"Bunyi pedang menggemparkan lautan, kapal itu bergoyang-goyang dengan sepak terjang seorang pahlawan, kapten Lasha menusuk tepat di area jantung Kapten Zaiya!"
"Dia tersungkur dalam dek kapal dengan cucuran darah pekat, saat itu Kapten Lasha tak kenal ampun, seluruh anak buah dari Kapten Zaiya disiksa habis-habisan hingga pada akhirnya anak buah tersebut dijadikan sebagai anak buahnya!"
"Salah satu yang menjadi anak buah tersebut adalah ayah saya!"
"Apa? Apa yang kau bilang?" Tabra menyahut dengan cepat, dia tercengang karena mendengarnya.
"Benar, saya adalah anak dari anak buah tersebut, hanya saja saya tinggal di Desa Daura, kalian bertiga menjadikan saya sebagai anak buah, benar-benar saya tidak mengetahui, bahwa Kapten Akma Jaya adalah anak dari Kapten Lasha!"
"Beberapa waktu terlewat bersama kalian sehingga saya mengetahui bahwa Kapten Akma Jaya adalah anak dari Kapten Lasha."
"Aaah, jadi begitu. Cerita yang sungguh panjang!" Tabra menghela napas lelah karena mendengarnya lebih dari satu jam.
"Ini benar diluar dugaan, tetapi engkau tenang saja, Kapten berbeda dengan ayahnya!" Tabra berbisik dengan pelan.
Akma Jaya mendengarnya, tetapi dia tidak menghiraukannya.
__ADS_1
"Jadi apa yang terjadi setelah itu?" Tabra langsung mengalihkan pembicaraannya setelah melihat Akma Jaya yang memperhatikan dirinya.
"Itulah sedikit cerita yang saya ketahui, cerita tentang berakhirnya kelompok Bajak laut merah, lambang ini memang benar, ini adalah lambang dari bajak laut merah!" Anak buah itu menjelaskan kepada mereka bertiga.