
Aswa Daula termenung mengingat masa dulu. Mendongak, menatap langit dengan perasaan kelabu. Bagai makanan tanpa penyedap. Hambar, bahkan mau muntah.
Masa di mana dirinya dulu mendapatkan siksaan yang teramat pedih dari seorang ayah biadab berhati monster. Ayah yang tidak tahu diri, tidak tahu malu dan lain sebagainya. Tumpukan sampah!
Kalimat ke kalimat bermuara bagai aliran sungai, mengalir hingga ke lautan kenangan buruk dengan badai kehidupan.
BOOM!
Dentuman perasaan. Gejolak yang muncul terang memancarkan kilatan demi kilatan.
Darah lagi-lagi darah
“Mengapa?!” Tubuh Aswa Daula menggigil, sebatas membayangkan apa yang terjadi.
Dan semua itu belum terjadi. Lihatlah ke sana, beruang itu masih mengaumkan suara kerasnya.
Mematahkan pepohonan. Aswa Daula termenung sendirian membayangkan hal yang tidak bisa kuat dibayangkan.
“Ini ....”
Kedua tangan gemetar. Menatap pedang dengan pikiran dan sanubari yang melanglang, mengingat masa kelam.
Pandangan Aswa Daula memudar. Pedang terlepas. Kepala pusing berlipat ganda, memegang sejenak kepala.
Tak lama dia jatuh tersungkur. Pingsan. Desir angin dan suara jatuh bersamaan membuat semua orang cemas.
“Aswa Daula!” Hambala menyebut namanya.
Menghampiri. Pun yang lainnya juga sama. Tabra bersiap menjaga. Beruang itu masih berlari menghampiri mereka.
Aswa Daula telah pingsan. Memori kenangan dalam otaknya muncul memberi bayangan yang menakutkan.
Saat itu Aswa Daula berusia tujuh tahun. Ayahnya melakukan penyiksaan yang teramat sadis. Namun, tak hanya itu sekilas kembali memancar bayangan putih yang menyeruak dalam benak pikirannya.
Memberikan gambaran sebaliknya. Di bawah naungan pohon kelapa. Aswa Daula duduk di pinggir pantai beralaskan pasir bersandar. Menatap keindahan ombak dan desir angin yang menenangkan.
Kapten Zaiya kala itu sedang berjalan. Menyusuri pantai, menatap Aswa Daula yang tampak termenung dengan linangan di matanya. Jelas sekali, tampak sekian banyak linangan yang tertahan hendak jatuh, membentuk bendungan.
__ADS_1
Terpaan batin bersuara. Membendungkan rasa iba yang tidak tersentuh tangan. Dengan langkah ke langkah pelan, seorang kapten berambut merah dan wajah tertutup kain hitam itu menghampiri.
“Siapa namamu, wahai anak kecil!” Kapten Zaiya berucap seraya menghampiri dengan suara khas miliknya.
Aswa Daula terkesiap mendengar suara yang datangnya tiba-tiba. Dia daritadi sibuk termenung sehingga tidak menyadari. Baru tersadar. Mengusap wajah.
Menatap gugup ke arah seorang kapten yang selama ini dikenalnya menakutkan. Hari itu dia melihat sendiri bagaimana menakutkannya pertarungan antara Kapten Zaiya dan Kapten Auriza. Dan mengenai ujaran yang dilontarkan Kapten Zaiya masih kuat terbayang di ingatannya.
Mengenai ingatan tentang jasad Kapten Auriza yang dilempar ke laut. Terombang ambing darah ditatapnya jelas kala itu membuat bayangan ketakutan.
Aswa Daula menelan ludah, menatap getar getir mempertahankan keberanian.
Dia bersegera bangkit. Memberikan sikap hormat. “N-a-m-a s-a-y-a A-s-w-a D-a-u-l-a.”
Dia terbata menjawab. Raut wajah bersimbah keringat gugup. Kapten Zaiya masih menghampiri dengan wibawa yang terpancar menakutkan.
“Kau tidak perlu takut kepadaku.” Kapten Zaiya mengatakan sekilas tatap.
Mendengar ucapan yang terbata menjadi suatu tanda dari ketidaknyamanan perasaan seorang anak kecil yang tengah dihampirinya.
“Anak kecil, aku sudah mengatakannya kau tidak perlu takut kepadaku.” Kapten Zaiya mengulangi ucapan.
Mereka berdekatan saling menatap. Aswa Daula balas mengangguk tidak menjawab dengan tutur kata, terdiam.
Sejenak Kapten Zaiya memalingkan pandangan, menatap lautan. “Sepertinya ada sesuatu yang sedang melanda perasaanmu saat ini. Maka, tenangkanlah dirimu dan lihatlah lautan sana. Kau harus tahu kehidupan ini laksana lautan yang berombak. Pikirkan tanpa kapal seseorang akan kesusahan menyebranginya.”
“Di dunia ini ada orang yang menyebrangi lautan tanpa kapal. Dia berenang dengan keberanian menempuh lautan hingga tenggelam dan hanyut dibawa arus, terombang-ambing tidak tentu kemana arah dan tak akan bisa mencapai hakikat hidup. Ilmu pengetahuan adalah kapal bagi seseorang menyebrangi lautan. Seberapa besar kapal seseorang, maka ia akan kuat menghadapi badai di tengah lautan sana.”
“Orang yang hidup tanpa ilmu pengetahuan bagai tidak punya kapal. Mereka menjalani hidup dengan berpasrah diri berenang terus menerus berembus napas keluh. Persis saat aku menatapmu!”
Kapten Zaiya menatap rendah. Aswa Daula saat itu berusia tujuh tahun. Hakikat kehidupan belum saatnya dia pelajari. Kapten Zaiya tak pandang bulu, mengatakan perkara yang susah dipahami bagai kapas yang diterbangkan begitu saja.
“Kau tidak perlu berkeluh kesah atas kehidupan ini, sejatinya tempat singgah dari pelayaran yang jauh adalah pelabuhan. Setiap makhluk pasti akan merasakan mati, tanpa terkecuali.” Kapten Zaiya kembali bertutur dengan perkataan yang sulit dimengerti Aswa Daula.
Memang kapten satu ini tidak pandang bulu setiap ucapannya keluar begitu saja dari benak pikirannya.
Aswa Daula berusaha memahami dalam gumaman yang tak didengar. Hasilnya tetap saja tidak mencapai maksud dari ucapan yang mengherankan tersebut.
__ADS_1
Aswa Daula termasuk anak kecil yang tidak berani mempertanyakan dan tidak sembarang memahami, walaupun sekilas dengar ucapan itu jelas tertangkap sedemikian maksudnya. Dia tetap tidak berani sembarang memahami.
Kapten Zaiya menatap tidak ragu. “Aku yakin kaulah orang yang mengintip di balik semak hari itu, saat aku dan Kapten Auriza bertarung di pinggir pantai.”
Aswa Daula mendengar terbelalak lebar dengan perasaan takut. Mempertanyakan dalam benaknya bagaimana mungkin Kapten Zaiya mengetahuinya? Bahkan saat itu rasanya dia bersembunyi matang. Sekilas bayangan pun tidak bisa ditatap.
“Kenapa, heh? Kau terkejut?” Kapten Zaiya menampakan tatapan tajam.
Wajah yang sembunyi di balik kain hitam itu tidak dapat diketahui bagaimana sekarang raut wajahnya. Saat ini hanya tatapan mata yang jelas ternampak dipandang Aswa Daula.
“Ba—” Aswa Daula bicara terhenti.
“Kau tidak usah bicara.” Kapten Zaiya menyergah.
Aswa Daula menelan ludah. Gugup bercampur takut menatap tatapan mata yang baginya tidak nyaman dipandang, bahkan terasa hawa dingin.
“Aku menghampirimu kemari bukan untuk memarahimu ataupun menghukummu. Itu bukan tugasku sebagai seorang kapten. Melainkan sekadar ingin bertanya apa yang menjadi tujuan hidupmu? Mengapa kau memilih hidup ke dunia yang fana ini?” Kapten Zaiya bertanya.
Aswa Daula bergeming, tak punya jawaban atas pertanyaan tersebut. Dia menggeleng tak bersuara. Sementara Kapten Zaiya saat itu bersekedap menatap langit. Entah apa pikirkan, raut wajahnya tidak bisa dipandang karena tertutup kain hitam.
Kala itu desir angin terdengar lembut. Ombak berdebur, juga burung elang terbang memekik di langit.
“Perlu kau tahu banyak orang yang telah kutanya mengenai tujuan hidup dan alasan mengapa mereka hidup di dunia yang fana ini. Dunia yang tidak ada keabadian. Apa yang kutemukan adalah mereka mampu menjawab dan bungkam pada pertanyaan yang kedua. Telah banyak orang yang kutanya, kau salah satunya di antaranya yang kubayangkan mereka tidak lebih sepertimu bagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Anak kecil yang sering dilanda emosi dan tidak bisa berpikir.”
“Selama berbicara aku tidak pernah memandang ke siapa orang yang kuajak bicara. Ini tidak menutup kemungkinan orang yang lebih tua darimu tidak lebih hanyalah orang yang punya tanduk di kepalanya, tetapi sayang beribu sayang dia tidak punya akal untuk berpikir.”
“Bahkan sering dikuasai amarah dan haus kekuasaan yang sejatinya hanyalah titipan sementara, seperti Kapten Auriza yang telah kubunuh. Itulah takdir dirinya karena sikap serakah. Hidup ini tidak lama.”
“Semua yang hidup dan yang mati bukan kehendak diri, termasuk perkara bunuh diri yang sejatinya manusia akan mati kala berhadapan dengan beberapa sebab yang telah digariskan titik temunya, baik senjata atau mencelakai diri sendiri. Semua itu adalah perkara sebab akibat terjadinya kematian dan goresan takdir yang telah ditetapkan semenjak pohon di alam sana berguguran dengan deretan nama. Hidup dan mati adalah sebab akibat wujud kesadaran diri seseorang menatap bahwa dunia ini memang fana, apa yang kau lihat sebatas bertamu hari ini atau kemungkinan besok mengembuskan napas terakhir. Selama mengarungi lautan nanti, menempuh pelayaran demi pelayaran ke berbagai wilayah. Dengan pengalaman itu kau akan tahu hakikat kehidupan ini, sampai saatnya pelayaran akan sampai tujuan.”
Kapten Zaiya menjelaskan perkara panjang lebar yang tidak dimengerti Aswa Daula. Dan memang itu terdengar seperti tidak memiliki konteks.
Aswa Daula hanya diam mendengarkan ucapan Kapten Zaiya yang mengherankan. Dia belum mengetahui banyak hal. Selama ini hanya berdiam diri bersama seorang ayah yang selalu menyiksanya. Setiap hari berlalu menghabiskan siang dan malam dengan rasa perih di sekujur badan.
Bahkan sang ibunda sering memohon agar ayahnya berhenti menyiksa. Namun, hati sang ayah telah mengeras bagai batu yang berwujud monster dan luarnya berwujud manusia. Munafik! Ayah yang tidak punya perasaan dan tidak punya otak.
Burung di langit sana kembali melintas. Kapten Zaiya mendongak. “Kepakkan sayap burung elang itu menelusuri langit. Kebiruan yang ternampak menawan seperti memberi kesan yang berharga dalam suatu makna kehidupan.”
__ADS_1