Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta


__ADS_3

Pukulan palu yang diayunkan Akma Jaya sukses membuat bola lampu itu seketika pecah, berhamburan kaca ke segala arah.


Akma Jaya tak berhenti, dia memecahkan bola lampu secara bertubi-tubi, hingga pecahannya kembali berjatuhan ke area kolam, bergelombang permukaannya.


Pecahan bola lampu itu kian membuat kemarahan orang-orang meningkat, hal tersebut tak bisa ditoleransi oleh mereka, semakin riuh bergemuruh, bahkan bukan sebatas itu saja, suasana mengeruh penuh ricuh, kerusuhan yang tak bisa diatur dan ditertibkan.


Kemarahan yang memuncak dahsyat, melambung tinggi ke atas udara, melebihi ketinggian batas cakrawala, amarah mereka tak mempunyai kendali sama sekali, bahkan benteng pertahanan, tidak ada. Amarah itu bergejolak penuh.


Sementara itu, pada waktu yang sama di dalam ruangan yang dipenuhi suara kenikmatan, hawa-hawa udara pengap berkeringat, Kapten Riyuta bercanda gurau dengan beberapa orang wanita, secara pandang, dia dalam posisi berbaring sambil memeluk wanita.


Bergelak tawa hilang kesadaran dari dunia, dia berpindah ke dimensi surga miliknya yang tak kasat mata, surga khalayan penuh sia-sia belaka.


Sekumpulan bunga mawar berwarna merah, ia berjejer dengan keindahannya, bentuk bulat dan berlubang, seekor kumbang terbang melayang-layang, menyusuri tempat dengan suara, diselimuti belaian udara, ia berkelana menyusuri tempat yang dipenuhi tanaman bunga mawar. Indah berwarna kemerahan.


Kumbang itu terbang kemudian menusuk-nusuk bunga tersebut, dengan penuh suka rela, sari bunga terenggut begitu saja.


Apa yang dialami oleh sang kumbang, apa pun itu sudah menjadi kebiasaan yang rutin dia lakukan, tak bisa dikendalikan olehnya, bahkan hampir setiap waktu, sang bunga tidak menepisnya, ia berdiam merasakan sang kumbang yang menusuk, mengambil sarinya sesuka hati.


Kapten Riyuta adalah seorang lelaki yang berusia kurang lebih di atas remaja, sebenarnya dia baru beranjak menuju dewasa, dia dipercaya untuk meneruskan jabatan Ayahnya.


Dia memimpin Kelompok Bajak Laut Jimaya, menggantikan posisi Ayahnya yang sudah pensiun, tetapi diluar dugaan Kapten Riyuta menghamburkan waktu dengan sia-sia, bergelut perihal wanita, berhari-hari, bahkan sepanjang waktu dia menghabiskan semua itu, hanya berkumpul dengan seorang wanita.


"Apakah Anda sudah merasakan kenyamanan, Tuan?" tanya salah seorang wanita yang berbadan molek tak memakai sehelai kain di sekujur tubuhnya.


Baru saja, kalimat itu terlontarkan, bernada lembut, Kapten Riyuta berbaring telungkup, sedangkan wanita itu berada di bawahnya, Kapten Riyuta berucap ingin menjawab apa yang dipertanyakan wanita tersebut, tetapi suara ricuh di luar ruangan kembali terdengar olehnya membuat dia geram dan penuh kesal.


"Ada apa sebenarnya? Keadaan di luar begitu membuatku tak nyaman!" gumam Kapten Riyuta sambil memainkan tangan dengan gerakan memutar, memegang dan meremas sesuatu yang berbentuk bulat dan empuk.

__ADS_1


Posisi Kapten Riyuta laksana kodok tengkurap, bernikmat tanpa busana.


Namun, setelah itu Kapten Riyuta bersegera menyingkir, bangkit dari posisinya, meninggalkan wanita yang berada dibawahnya, dia memilih keluar dari zona kenikmatan.


"Tu–tuan, mau kemana? Apakah tuan mau meninggalkan kami?" tanya salah seorang wanita bersuara lembut, dia memegang erat tangan Kapten Riyuta yang sedang ingin beranjak pergi dari ranjang.


Akan tetapi, Kapten Riyuta menyingkirkan tangan wanita itu tanpa sedikit saja berbicara, dia bergerak mengambil pakaian yang berwarna keemasan dan topi bundar hitam pekat berlambang tengkorak.


"Tu–tuan ...." Wanita itu memeluk erat tubuh Kapten Riyuta, dia menahan kepergiannya.


Kapten Riyuta berwajah kesal, dia mendorong keras wanita tersebut.


"Cih, menyingkir dari hadapanku!" Kapten Riyuta melepaskan dengan dorongan keras, kuat sekali, tindakan sedikit kasar yang dilakukannya, membuat pelukan wanita itu terlepas dan terjatuh karena tak bisa menahan diri dari dorongan Kapten Riyuta.


"Kau lancang, berani memelukku tanpa izin dariku!" Kapten Riyuta menunjukkan ekspresi marah, seketika wanita itu menunduk, menyembunyikan ekspresi sendu yang jelas terlihat.


Ciri khas dari Kapten Riyuta terlihat, seluruh permukaan telinganya memerah, pertanda dia sedang marah, tanda tersebut sudah diketahui oleh banyak orang.


Kapten Riyuta mendekatkan wajah dengan tangan yang memegang dagu wanita tersebut, mengarahkan pandangan si wanita ke sorotan matanya yang menajam.


"Kaupikir meminta maaf itu cukup menebus kesalahanmu, apakah kau berpikir aku akan mudah memaafkanmu? Tak semudah yang kau pikirkan!" Kapten Riyuta berucap begitu menyeramkan, suara yang membuat getaran penuh guncangan di sekitaran tempat tersebut.


Wanita yang melayani Kapten Riyuta berjumlah empat orang, mereka semua ada di tempat tersebut, menyaksikan detail kejadian, tiga wanita lainnya diam membisu karena melihat salah satu dari mereka terjatuh oleh Kapten Riyuta dan memperlakukannya secara tidak layak menurut pandangan mereka.


BUUK!


Kapten Riyuta menampar dinding cukup keras, ketiga wanita lainnya bersuara kaget.

__ADS_1


Kemudian, Kapten Riyuta mendehem, berangsur-angsur mendekatkan dirinya ke wanita yang sedang terjatuh tersebut.


"Hmmm, siapakah namamu?" lirih Kapten Riyuta bertanya sambil mendekatkan mulutnya ke telinga wanita yang sedang terjatuh tak berdaya.


Wanita itu kini berwajah merah dipenuhi buliran air mata panas yang mengalir jatuh perlahan, tubuhnya bergemetar takut.


"As—" Dia berucap terhenti seketika bersuara lirih, tidak tertangkap oleh indera pendengaran, dia tak dapat melanjutkan ucapan karena seluruh permukaan bibirnya ditutupi kecupan penuh mesra yang dilakukan oleh Kapten Riyuta.


Kedua bibir saling bertemu, berkatup penuh sesak napas tak bisa dihindarkan.


Napas yang terkeluar dari rongga hidung, suara kecupannya begitu jelas terdengar, ketiga wanita di tempat itu menelan ludah karena melihat kejadian di luar keinginan mereka, saraf mereka menegang tak beraturan.


Mereka adalah sekelompok senior dalam bidangnya, tetapi wibawa Kapten Riyuta membuat mereka tak berdaya melihat apa yang ada di pandangan mata. Cemburu sepertinya, mereka menginginkan hal yang sama dengan wanita yang tengah mendapatkan suatu kejadian langka.


Akan tetapi, bagi sang wanita yang mendapatkan hal tersebut, dia tak terima dengan kelakuan Kapten Riyuta karena memperlakukannya dengan cara yang keterlaluan.


Kapten Riyuta melepaskan bibir dari kecupan, setelah berlama-lama melakukannya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Kapten Riyuta seraya melepaskan wanita itu secara tidak hormat.


Wanita yang semula jatuh, sekarang menjadi terkapar pasrah di hamparan karpet lantai, menunduk dan terus menunduk.


"Camkan, dengarkan baik-baik! Jangan melakukan hal apa pun atas sekehandak kemauanmu, bahkan berani memelukku sesuka keinginanmu, kau adalah wanita yang tidak tahu sopan santun, berani sekali melakukannya tanpa izin dariku!"


Kapten Riyuta berucap dengan ucapan yang panjang, memaki tidak terima karena wanita itu memeluk erat tanpa izin darinya, dia bersegera keluar ruangan, tanpa sedikit pun menunjukkan ekspresi bersalah, dia meninggalkan keempat wanita tersebut.


Wanita itu seperti menderita karena olah Kapten Riyuta, dia menggigil sambil meratapi apa yang sudah terjadi, entah apa yang dirasakannya, wanita itu memendam semua perasaan, bahkan bersegera memakai pakaian dan pergi menjauh dari ketiga wanita yang mengkhawatirkannya.

__ADS_1


__ADS_2