Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 44 – Tanggung Jawab


__ADS_3

Ditengah sorakan dengan nada yang tinggi, senyuman yang bercampur gelak tawa, tiba-tiba saja terdengar ngauman keras menuju ke arah mereka.


Seketika suasana berubah mencekam dengan deru angin yang bertiup kencang.


"Ngauman apa itu? A–apa mungkin–"


"Sudah, jangan khawatirkan itu!" Tabra memotong cepat perkataan anak buah tersebut.


"Ka–kapten ... itu?" Tunjuk salah satu anak buah ke arah belakang Akma Jaya.


Akma Jaya menoleh ke arah tersebut, sontak saja dia terkejut melihat ukuran naga yang sangat besar.


Betapa besarnya Naga itu hingga seluruh badannya menutupi cahaya matahari.


"Ba–bagaimana mungkin? Sebenarnya ada berapa banyak naga yang ada di pulau ini?" Batin Akma Jaya menatap naga tersebut.


Tabra berdecak kesal, sedangkan Aisha menelan ludahnya, mereka semua tidak dapat berbuat apa-apa.


Akma Jaya terus berkutat, tak lama naga itu langsung menyemburkan api dari mulutnya, mereka semua berusaha menghindar dengan cepat. Untungnya tidak ada korban jiwa, mereka semua selamat dari semburan api naga tersebut.


Tabra sudah mencapai batasnya, dia sudah tertatih dalam menghadapi naga berukuran kecil, sekarang malah muncul naga berukuran besar. Nasib sial menimba mereka semua.


"Menyebalkan!!" Tabra berteriak ke arah cakrawala.


Akma Jaya hanya bergeming, Aisha menarik kerah baju Tabra, menyeretnya untuk berlindung.


Sekarang, mereka semua berlindung, bersembunyi di balik batu yang cukup besar, untungnya di pinggir tebing itu tersusun beberapa batu yang besar.


Tempat yang sempurna untuk dijadikan tameng–tempat perlindungan. Tabra beristirahat sejenak melepas rasa lelah dan mengambalikan staminanya.


"Kapten, terlalu berbahaya untuk kita menghadapi naga tersebut, lebih baik kita pulang!" Salah satu anak buah gemetar ketakutan.


"Jangan begitu, aku punya cara untuk mengatasi masalah ini!"


"Cara apa yang Anda maksudkan? Ba–bagaimana mungkin kita bisa melawannya!?"


"Bukan melawannya, tetapi kita akan menelusuri sarangnya, aku masih penasaran, sebenarnya ada berapa banyak naga di pulau ini?"


"Bukankah itu akan membuang banyak waktu, Kapten?"


"Jika engkau dihadapkan oleh dua pilihan, engkau akan pilih yang mana?"


"Pilihan antara membuang waktu hidupmu atau kau malah kehabisan waktu hidupmu dibakar oleh semburan api naga?"


Lantas, mereka bungkam, tak mengeluarkan sepatah kata pun setelah mendengar dua pilihan yang dilontarkan oleh Akma Jaya. Mereka yang membantah kini menganggukkan kepalanya secara pelan.


***


Akma Jaya beserta para pengikutnya menelusuri jejak naga tersebut, celah-celah lorong gua dengan berhati-hati, anehnya mereka tak menemukan satu ekor naga pun, bahkan naga yang tadinya muncul di hadapan mereka, tidak ada sama sekali.

__ADS_1


"Kapten, ini mengherankan! Tidak ada apa pun di sini!" Salah satu anak buah melontarkan ucapan.


"Iya, kapten. Ini mengherankan! Benar apa yang di katakan olehnya!" Aisha membenarkannya.


Akma Jaya merenung sejenak dengan tangannya yang memegang dagu.


"Kapten, kalau begitu kita lanjutkan saja pencarian harta karunnya!" Tabra mengajukan pendapat.


Akma Jaya hanya bergeming, dia tidak menjawab Tabra. "Kapten!" Tabra merasa Akma Jaya melamun, dia pun menepuk beberapa kali dengan tangannya.


"Aisha, bagaimana menurutmu?" tanya Tabra menatap Aisha.


"Kita tunggu keputusan kapten!" jawab Aisha ringkas.


"Baiklah, kita akan menunggunya!"


Tak lama dari itu, Akma Jaya bangun dari lamunannya. "Baiklah, semuanya! Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ini sendirian, seperti biasa kalian tunggulah di luar!" Akma Jaya menyerukan apa yang ada dipikirannya.


"Ka–kapten, apa sebenarnya rencana Anda?" Tabra mengajukan pertanyaan menandakan sikap penolakannya.


"Ini bukanlah sesuatu yang bisa kubicarakan dengan mudah!"


"Kapten, alangkah baik menurut pendapat saya, kita semuanya bersama-sama dalam menelusuri gua ini, kalau ada bahaya, kita bisa saling membantu satu sama lain!"


"Tabra, ada hal yang tak bisa aku jelaskan kepadamu!"


"Apa itu? Jelaskan saja kepada saya. Saya akan memahami penjelasan Anda, kapten!"


"Kapten–"


"Tabra, sudah cukup!" Akma Jaya memotong cepat perkataan Tabra.


"Bukankah engkau sudah lama bersama denganku? Engkau juga mengenal ayahku, tetapi aku sedikit berbeda dengannya, ini hanyalah tentang masalah tanggung jawab!"


"Tanggung jawab? Anda mengorbankan diri sendirian, apa itu yang Anda maksudkan?"


"Kapten, beberapa hal ada yang Anda tidak mengerti, bukan hanya tentang tanggung jawab!"


"Lantas, apa yang engkau maksud? Apa yang tidak aku mengerti?" Akma Jaya bertanya dengan wajah yang tampak heran.


"Apakah Anda sudah melupakannya?" tanya Tabra.


Akma Jaya sedikit merenungkannya. "Aku hanya mengingat sedikit ingatan karena mimpi itu membuatku jadi delima, sebenarnya apa yang dimaksudkan oleh Tabra?" Batin Akma Jaya bergumam setelah Tabra menanyakan apa dia sudah melupakannya.


"Kapten!"


Tabra kembali berseru, membuat Akma Jaya tersentak lamunan.


"Anda jangan khawatir! Selama kita bersama dan menyatukan kekuatan bersama, kita akan baik-baik saja!"

__ADS_1


"Benar, Kapten!" Aisha menyahut perkataan Tabra.


"Kapten, kami semuanya akan terus bersama Anda!" Semua anak buah serentak mengucapkannya.


"Baiklah, karena kalian semua ingin mengikutiku, ikutlah bersamaku!" Akma Jaya tersenyum menatap mereka.


Mereka yang mendengarnya tampak bahagia karena Akma Jaya telah mengijinkan mereka untuk ikut bersamanya.


Akma Jaya bersama orang yang mengikutinya menelusuri gua, langkah demi langkah mereka berjalan, melihat lorong-lorong gelap dari gua tersebut.


Entah kenapa? Di dalam gua itu begitu senyap, tidak ada ngauman naga yang bersuara, kecuali hawa panas yang masih terasa.


"Di dalam sini hawanya begitu panas!" Tabra mulai menggerutu.


"Aaah, engkau lelaki yang lemah!" Aisha tampak mengejek Tabra dengan suaranya yang pelan.


"Lemah? Hah ... engkau bercanda? Apa kau tidak melihat kemampuanku dalam melawan naga barusan?" Tabra memulainya dengan wajah yang konyol.


"Sedangkan kau hanya bersembunyi di semak-semak!"


"Hei, tanpa aku itu naga tidak akan tumbang!"


"Hei, kau hanya membidik bagian mata, kapten lah yang membuatnya tumbang!" Tabra membalas ucapan Aisha.


"Intinya, tanpa aku. Kalian berdua akan kesulitan menghadapi itu naga!" Aisha kembali melontarkan balasan.


Beberapa anak buah terkekeh mendengar mereka berdua yang saling mengejek, sedangkan Akma Jaya tak menghiraukan tingkah laku mereka berdua.


***


Tak lama, mereka semuanya sampai pada lambang tengkorak bergigi emas, lambang yang begitu aneh, di sisi kanan dan kiri terukir tulisan kono dan sastra tulisan yang tidak bisa dipahami.


"Kapten, ini adalah lambang yang disebutkan dalam legenda!" Aisha melontarkan ucapan.


"Legenda? Apa yang kau maksudkan?"


"Legenda sang Bajak Laut Merah!"


"Bajak Laut merah?!"


"Iya, Kapten. katanya mereka adalah kelompok bajak laut yang menumpahkan banyak darah, di mana pun mereka berada maka pertumpahan darah segar akan berhamburan, mereka adalah sekelompok bajak laut yang begitu menyukai darah!"


Beberapa anak buah mengernyit ketakutan karena mendengarnya.


"Apa benar begitu? Jangan-jangan kau hanya mengada-ngada?" Tabra memulainya lagi.


Kali ini, Aisha menginjaknya hingga Tabra kesakitan memegang kaki kirinya yang terkena injak.


"Aaa–aduh ...."

__ADS_1


"Aisha, kau sungguh keterlaluan!" Tabra meronta dengan kesal.


"Itulah akibatnya, kau begitu berani menyahut ucapanku, sedangkan aku belum selesai mengucapkannya!"


__ADS_2