Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula


__ADS_3

Masa lalu yang dialami oleh Aswa Daula adalah sebuah kejadian yang sudah lama berlalu, tetapi ingatannya tak kunjung hilang, bahkan meninggalkan kenangan yang sulit dia lupakan.


Dia yang mengalaminya kadang meronta dalam isak tangis yang berjatuhan, kadang dia meneriakan suara tawa, berbagai ekspresi, kadang delima diselimuti rasa yang menggema, terngiang-ngiang dalam ruang pikiran.


***


"Cepat! Kalian lambat!"


Seseorang berjubah merah dengan kain hitam yang membalut kepala, dia bersuara keras memerintah dengan sikap kejam yang dia tunjukkan, cambuk panjang tergenggam dengan wajah yang terlihat seram.


Aswa Daula mendengar dan menyaksikan dengan kelopak mata yang terbelalak kaget, saat itu usianya baru tujuh tahun. Di sebuah ruangan perbudakkan bajak laut, tepat berada di ujung daerah Atila.


Ayahnya bekerja di sana, bahkan satu keluarga itu tinggal di sekitaran tempat tersebut.


Aswa Daula melihat siksaan yang mereka lakukan, darah itu mengalir serta memenuhi ruangan penyiksaan. Suara cambukan, teriakan serta rintihan napas kesakitan, semua suara bercampur serta bergema memenuhi isi ruangan.


Aaargh!


Suara jeritan mereka yang terkena cambukan, betapa Aswa Daula tak kuasa melihatnya, dia berlari dari tempat penyiksaan itu.


Sangat disayangkan, orang yang menyiksa para budak itu adalah ayahnya sendiri yang bernama Walsa.


Walsa dipercaya Kapten Zaiya untuk mengurus para budak yang dipenjarakan olehnya. Kapten Zaiya tak mengetahui perbuatan yang dilakukan oleh Walsa, dia bahkan tidak pernah mengunjungi ruangan perbudakkan tersebut.


Aswa Daula terus berlari, terlihat awan gelap menyelimuti sekitaran, gemuruh angin bersuara, tak lama dari itu, hujan gerimis berguguran. Dia diam terpaku, hujan itu mulai deras.


Bersamaan dengan derasnya air hujan, air mata ikut berjatuhan, kedua air itu saling menyatu dan perlahan gugur menimpa tanah.


Beberapa hari setelah itu, Kapten Zaiya mengetahui perbuatan Walsa terhadap para budak.


Dia langsung dipanggil menghadap Kapten Zaiya, dari sorotan mata tajam yang diperlihatkan Kapten Zaiya, membuat Walsa bersujud ketakutan.


"Jangan menyiksa orang lain, kau harus ingat aturan!" Kapten Zaiya berujar dengan suara lantang.


"Maafkan saya, Kapten!"


"Lain kali, kau jangan mengulanginya!" Kapten Zaiya memerintahkan anak buahnya untuk menyeret Walsa keluar ruangan.


Walsa dipaksa keluar, semenjak saat itu, dia berhenti menyiksa para budak, tetapi karena kebiasaan yang seolah menyatu dengan kesehariannya.


Entah pikiran apa yang dia alami, raut wajah menunjukkan prostasi, semua kebiasaan yang dia lakukan, tak bisa dia tinggalkan, Aswa Daula menjadi korban kebiasaan buruknya.


Aswa Daula menderita memar, tetapi tak ada keluhan yang terkeluar dari rongga mulut, darah segar mengalir memenuhi lantai, bahkan siksaan itu terus dia tahan, seorang ayah yang dia sayangi telah berubah menjadi seorang monster.

__ADS_1


Sekarang, Kapten Zaiya sering menemui para budak dan memperhatikannya dengan sedikit berbeda dari para Kapten pada kebiasaan yang banyak orang temui.


Aswa Daula mengintip di semak-semak, dia melihat dari kejauhan, sosok Kapten Zaiya yang tampak sedang memperhatikan para budak dengan tangan yang memegang sebatang pena, dia menulis sebuah catatan.


Tak lama dari itu, suara keras terdengar dari arah pesisir pantai.


"Haaa, kelompok kami akan merebut daerah ini!"


"Aku akan menjadi penguasa Pilar Tujuh Lantai!"


Aswa Daula berlari, sambil bersembunyi dia melirik keadaan, menyaksikan dengan kedua matanya sendiri, bajak laut dengan badan yang cukup besar beserta anak buah yang berjumlah ratusan, masing-masing dari mereka memegang pedang.


Mereka semua bertujuan untuk merebut gelar kekuasaan daerah atila, Kapten Zaiya turun untuk menghadapinya.


"Ka–kau ..."


"Kau adalah Kapten Zaiya!"


Kapten Zaiya tak menghiraukannya, dia hanya memperlihatkan tatapan khas yang dia miliki, mulut yang tertutup kain hitam, tatapan mata itu jelas menajam.


Tatapan yang menusuk tepat ke area jantung.


Bahkan, beberapa anak buah dari bajak laut itu tampak gemetar ketakutan, seketika pedang yang berada ditangan mereka, terlepas dari genggaman, masing-masing mata tertuju pada satu titik, terbelalak dengan lebar, mata mereka tak kuasa untuk berkedip.


Kapten Bajak Laut itu malah tertawa gelak, dia berbeda dengan anak buahnya yang takut hanya dari memandang sorotan mata.


Bajak Laut itu bernama Auriza. Tepatnya dia seorang kapten dari kelompok Mauka, berlambang jubah biru dengan ikan hiu bergigi tajam.


"Auriza, kau datang hanya untuk menghantarkan nyawamu kepadaku!"


"Tidak, kaulah yang akan mati, Zaiya!"


Kapten Auriza menghunus pedang,  sedangkan Kapten Zaiya tetap diam, dia menatap dengan tatapan yang sama.


Secara tergesa-gesa, jelas terlihat Kapten Auriza bukanlah tipe orang yang penyabar, emosi itu meluap, terlihat dengan jelas dari raut wajahnya, dia melancarkan serangan beserta ocehan yang dikeluarkan, tetapi pergerakan darinya begitu mudah diprediksi oleh Kapten Zaiya.


Tebasan pertama dari Kapten Auriza bergerak cepat, namun Kapten Zaiya menghindar dengan wajah yang terlihat tenang.


"Zaiya, jangan hanya menghindar, aku dapat menilai kau tak pantas menyadang gelar pertama dalam Pilar Tujuh Lantai!"


"Auriza, aku tak pernah mengakui bahwa diriku berada dalam urutan pertama, kau bisa melihat, merekalah yang mencantumkan namaku, bukan hanya namaku, kelompok Bajak Laut Merah, kami semua dicantumkan!" Kapten Zaiya berujar setelah dia muak mendengar ocehan yang dilontarkan Kapten Auriza.


"Aku bisa membuatmu mati dalam sekejap mata, tetapi itu bukan keinginanku!" Lanjut Kapten Zaiya sambil menghunus pedang.

__ADS_1


"Lantas, apa keinginanmu, Zaiya?"


"Aku ingin membuatmu lebih menderita!"


"Zaiya, tunjukkanlah kepadaku!"


Mereka berdua saling tebas dengan pergerakan yang cepat, suara pedang itu berdencang-dencang, kilatan putih dari ketajaman pedang itu terlihat jelas menyorot cahaya silau, cahaya itu memecah seiring tebasan pedang yang mereka tebaskan.


Aswa Daula menelan ludahnya, dia terus mengintip dari balik semak belukar. Ini adalah kali pertama dia menyaksikan pertarungan seseorang dengan memegang pedang ditangan mereka masing-masing.


Anak buah yang banyak itu juga terpaku, mereka semua menyaksikan pertarungan yang sangat dahsyat.


Dimana seorang pemuda yang namanya sudah tercantum dalam Pilar Tujuh Lantai, bahkan dia berada dalam urutan pertama.


Kapten Auriza begitu percaya diri, walau sekujur tubuhnya tergores, darah itu terus mengalir keluar, tetapi dia tak kenal menyerah.


Kapten Auriza memelesat dengan pedang yang terhunus tajam, dia berusaha menusuk, tetapi Kapten Zaiya menangkisnya dengan mudah.


Kapten Auriza berhenti sejenak, dia terbahak meremehkan kemampuan Kapten Zaiya.


"Apa yang dikatakan orang-orang, tidak seperti yang kulihat sekarang, kau hanyalah makhluk yang lemah, Zaiya!"


"Apakah kau tidak melihat, Auriza?"


"Sekujur tubuhmu sudah tergores, napasmu berembus hampir sekarat!"


"Aku tak peduli, walaupun aku mati hari ini, sebelum itu akan kupenggal kepalamu, Zaiya!" Kapten Auriza langsung melancarkan serangan.


"Kekuasaan telah membutakan matamu, Auriza!" Kapten Zaiya menangkis serangannya dengan mudah.


"Sadarlah, dunia ini hanyalah sementara!"


Dengan pergerakan yang cepat, Kapten Zaiya menebaskan pedangnya, tebasan pedang itu tepat mengenai area leher Kapten Auriza.


Perlahan, Kapten Auriza jatuh tersungkur ke tanah, kelopak mata itu kian menutup hingga dia mengembuskan napas terakhir, Kapten Auriza telah mati dengan cairan darah segar yang terus keluar dari area lehernya.


"Adakah diantara kalian yang berani menyerang?" Kapten Zaiya berujar dengan nada yang cukup keras.


Anak buah Kapten Auriza, mereka semua langsung bersujud meminta belas kasihan kepada Kapten Zaiya.


Aswa Daula masih memperhatikan, melihat dari balik semak-semak.


"Kalian semua akan kujadikan budak!"

__ADS_1


Seketika mereka langsung diikat dan Kapten Zaiya menyuruh anak buahnya untuk membawa mereka semua ke tempat perbudakkan.


Kapten Zaiya mengambil buku catatan kecil, dia kembali menulis, Aswa Daula masih memperhatikan, entah apa yang ditulis oleh Kapten Zaiya. Terlihat jelas kedua matanya terlihat menggenang, berurai air mata.


__ADS_2