Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa


__ADS_3

Setelah selesai makan, Tabra berjalan ke luar ruangan. Dia berdiri menatap sekitaran lautan, tak lama kemudian, kicauan burung terdengar.


Walaupun samar, Tabra mencoba mencari dari mana asalnya, dia menoleh ke sumber suara. Terlihatlah seekor burung bertengger di permukaan layar, sedangkan di kakinya terdapat sebuah golongan. Tabra bergumam heran, tetapi cepat mengambilnya, burung itu kembali mengepakkan sayap, terbang seperti tidak ada beban.


Tabra berusaha tidak memikirkannya, juga tidak membuka golongan tersebut, tak berlama-lama, dia membawa dalam genggaman menuju ke hadapan Akma Jaya.


Memasuki ruangan. "Kapten!" Tabra berseru seraya mendekati Akma Jaya.


"Ada apa?" tanya Akma Jaya ringkas.


"Sepertinya seseorang telah mengirimkan sebuah surat, saya menemukan seekor burung dan terdapat sebuah golongan, saya mengambilnya, ini adalah golongan yang saya maksud ...." Tabra memberikan golongan tersebut kepada Akma Jaya.


Akma Jaya mengambil. Lantas membukanya.



..."Wahai orang yang telah membunuh, carilah dan dapatkanlah sumber mata air kehidupan sebagai penebus dosamu, tepat di Wilayah Valissa, di sana kau akan temukan sebuah waduk dan kau harus mendapatkannya. Berjuanglah...


...— Kapten Broboros...


"Sumber mata air kehidupan?" Akma Jaya sedikit terkejut.


Tabra mengernyit. "Kapten, ada apa?" Dia bertanya mengenai sesuatu yang dilihatnya mengherankan.


"Surat ini berasal dari Kapten Broboros, dia meminta kita untuk mencari dan mendapatkan sumber mata air kehidupan sebagai tebusan atas dosa yang telah kita lakukan." Akma Jaya menjelaskan perihal apa yang tertera di dalam surat tersebut.


"Tertulis dalam lembaran surat ini, sumber mata air kehidupan itu ada di Wilayah Valissa, tepat di sana katanya ada sebuah waduk. Tapi, surat ini tidak jelas, walaupun ditulis sedikit panjang dan di akhir surat terdapat kalimat yang berbeda dengan sikap Kapten Broboros."

__ADS_1


"Dia menyuruh kita tuk berjuang." Akma Jaya kembali menjelaskan panjang lebar.


Tak lama kemudian, Aisha datang menghampiri mereka. Tabra menatap ke arahnya penuh duga.


"Aisha, jangan bertanya!" Tabra cepat berbicara, padahal Aisha belum mengucapkan sepatah kata pun. Dugaan yang terucap terus terang tanpa disembunyikan.


Seketika Aisha sedikit geram karena mendengarnya. Akan tetapi, dia berusaha untuk tidak marah karena Akma Jaya berada di hadapannya.


"Sebenarnya aku tidak pernah mendengar sumber mata air kehidupan ini, terlebih mengenai Wilayah Valissa. Dan juga Kapten Broboros tidak menyertakan peta di dalamnya." Akma Jaya berucap panjang lebar, Tabra menyimak. Lantas seketika mengernyit setelah Akma Jaya selesai berucap.


Kemungkinan ada yang janggal dari isi surat tersebut. Tabra sedang menduga-duga.


"Kapten, kemungkinan apa yang tertera di dalam surat itu hanyalah sebuah tipuan atau Kapten Broboros sengaja untuk melakukan semua ini, agar kita fokus mencari, bahkan tanpa peta, kita akan terombang-ambing di lautan dan tak akan pernah bisa tuk mendapatkannya." Tabra memberikan gambaran berupa dugaan yang ada di dalam kepalanya, hanya saja bagi Akma Jaya itu termasuk prasangka buruk yang mana tidak baik untuk dikatakan.


"Tabra, jangan berucap begitu," jawab Akma Jaya menepis ucapan Tabra dengan cara yang halus, tidak kasar.


"Surat ini akan kusimpan, nanti ketika berjumpa Adfain, aku akan menanyakannya, semoga saja dia mengetahui keberadaan dan peta dari Wilayah Valissa ini," jawab Akma Jaya seraya melipat golongan surat tersebut, lalu memasukkan ke dalam jubah kehitaman yang dipakainya—ada kantong di dalamnya.


"Kapten, lebih baik Anda beristirahat, cuaca malam tidak bagus untuk kesehatan." Aisha memberikan saran.


Tabra cengar-cengir. Lantas, mendehem. Ada yang aneh, di sekitaran mereka udara berembus canggung.


"Aisha, bukankah kau telah lama bersama kapten, tentu kau mengetahui bagaimana kapten, dulu kau tidak pernah berucap begitu, sekarang kau justru seperti peduli akan kesehatan kapten." Tabra berbisik pelan ke telinga Aisha. Lantas, Aisha bergerak cepat menyingkirkan wajah Tabra dengan tangannya.


"Hahaha ...." Tabra tertawa puas.


Akma Jaya tak menghiraukannya, dia beranjak pergi dari hadapan mereka berdua, sedangkan Aisha tampak menyilangkan kedua tangannya dan menggerutu, memarahi Tabra.

__ADS_1


Tabra begitu fokus memperhatikan raut wajah Aisha, hampir-hampir lelah, sepertinya. "Aisha, apa kau tahu mengenai dirimu, aku membayangkan tentang amarahmu ini, jelas sekali tak sehebat gunung meletus, wajahmu memerah, bahkan saking merahnya bagaikan sebuah tomat yang berusia ratusan abad, lalu lapuk ditelan waktu. Nenek tua!" Tabra mencerocos ketus. Lantas, tertawa terpingkal-pingkal.


PLAAK!


Aisha menemparnya tanpa berpikir panjang. Tabra mengelus wajahnya dan berhenti tertawa. Tanpa sepatah kata pun Aisha beranjak pergi dari hadapannya.


"Sebenarnya apa salahku? Aku hanya bercanda." Tabra bergumam sendirian, hanya dia yang tertinggal di sana, sunyi senyap tanpa ada orang di sisinya.


"Inikah yang dimaksud dunia hampa?" ucap Tabra mendramatisir. Dia teringat syair yang dilantunkan oleh seseorang sebelumnya. Tabra sedikit merenungkannya, di kala waktu berlalu, setiap orang yang dulu bersama, sekarang terpisah atau sengaja berpisah, bahkan diri tertinggal sendirian dan menyisakan tanda tanya yang bersemayam di dalam pikiran.


Udara kian berembus, ringkih bersama lirih, melengkung tak bisa menjelaskan semua kejadian tentang suasana duka, derita bercampur hampir mengisi peputaran waktu dari hari ke hari.


Rindu itu telah pecah, hancur, kepingannya berserakkan bagaikan kaca yang terinjak menyebabkan luka berdarah, perih. Namun, sebagian pecahan tak membekas, tak menyisakan apa pun, kecuali kepingan tanda tanya yang tak kunjung ditemukan jawabannya. Pengalaman pribadi menunjukkan sekilas gambaran dukacita karena kehilangan.


Tabra menggelengkan kepala seraya menghela napas. Memang sedikit berlebihan, mengenang kembali peristiwa yang lalu, saat Desa Muara Ujung Alsa melebur hancur atas kekejaman yang dilakukan oleh Kapten Kaiza. Di kala itu, kesedihan tak terbendung, tetapi sekarang baginya untuk apa bersedih.


Besok, hari akan berganti. Tabra sekadar mengenang tanpa berbicara, diam membisu tak menunjukkan pergerakan, bergeming, hanyut dalam pusaran waktu yang menghilangkan kesadaran.


Tak lama kemudian, seorang anak buah menepuk bahunya. "Tabra, sedang apa Anda di sini? Apakah Anda tidak ingin beristirahat?" tanyanya memecah kesunyian.


Tabra sedang galau, merana dan tak tahu bagaimana cara menjelaskannya, tetapi sorotan matanya tak menunjukkan tanda apa pun. "Aku sedang menikmati suasana malam seperti lantunan syair, lihatlah suramnya malam, kita ditemani bintang dan bulan, seperti lantunan syair, aku sedang membayangkan mereka tidak ada, bagaimana dunia tanpa itu semua." Tabra kembali mendramatisir, dia mendongak, menatap bintang-bintang serta bulan.


Dia tidak mengucapkan secara gamblang, hanya sekilas ucapan sesuai syair yang telah dia dengar. Tabra pun menyadari pemahaman orang berbeda-beda.


Lantas, tertawa. "Hahaha.. aku sekadar mendalami syair, tak bermaksud apa pun." Tabra menjelaskan tuk mengalihkan perhatian, padahal anak buah itu tidak bertanya, dia diam menyimak penjelasan.


Sejenak setelah itu, dia menghela napas, lalu berucap, "Baiklah, aku akan pergi untuk beristirahat." Tabra beranjak pergi, sedangkan anak buah itu mengangguk. Tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2