
Pada suasana pasar yang ramai, siang hari dengan terik matahari yang bersinar cerah, beberapa peluh keringat menetes jatuh. Aswa Daula sibuk menyusun barang dagangan.
"Aswa, cuaca begitu panas, kau masih bekerja? Lihatlah, semua orang tampak beristirahat!" kata salah satu dari pedagang.
"Apakah kau tidak ingin beristirahat?"
"Aku sudah terbiasa bekerja dibawah terik matahari, aku tak kelelahan!"
Aswa Daula terus bekerja menyusun rempah-rempah, pedagang tersebut pergi beristirahat. Ibunya juga beristirahat, mereka berdua berjualan bersama-sama.
πππ
Hari kembali berlalu, desiran angin bertiup membawa peristiwa yang sudah berlalu. Dedaunan takdir berembus, memberi kesan kehidupan berselimutkan kenangan.
Tahun 1689
Dimana pada saat itu, awan mendung bercampur suara gemuruh, hujan hendak turun, Aswa Daula yang sedang berdagang, dia bergegas membereskan barang dagangan.
Bersama ibu yang ikut membantunya, walaupun Aswa Daula mewanti-wanti.
"Ibu, biarkan aku saja yang membereskan barang dagangan ini."
"Tidak, Nak. Ibu akan tetap melakukannya karena ini adalah kemauanku sendiri!"
Ibunya tetap bersikeras, dengan napas yang berembus lelah, wanita lanjut usia itu dengan kecekatan, keahlian membereskan barang dagangan begitu terampil, mungkin saja itu sudah menjadi kebiasaan yang sering ia lakukan.
Badai di lautan mengamuk dengan ombak yang besar menerpa kapal, seorang kapten beserta kru kapalnya melintasi lautan, menerjang ombak untuk sampai ke Desa Daura.
Kapten itu, tidak lain adalah Akma Jaya beserta Tabra dan Aisha, mereka bertiga berlayar menuju Desa Daura.
***
Pada hari yang cerah, Aswa Daula kembali berdagang, suasana pasar seperti biasa, ramai dengan para pembeli yang menawar harga barang.
Masing-masing pedagang mempunyai sikap yang berbeda dalam menanggapi tawaran, ada yang beralasan harga itu sudah ditetapkan, tidak bisa ditawar.
Sebagian pedagang yang lain memilih mengalah dan setuju dengan harga yang ditawar oleh pembeli, begitulah suasana pasar, riuh suara terdenger jelas ditelinga.
Kepandaian seorang pembeli diakui, jika dia berhasil menawar barang yang tadinya mahal berubah menjadi murah. Itulah sekilas kebiasaan ibu-ibu pada masa itu yang saling membanggakan diri mereka masing-masing.
Aswa Daula sibuk berjualan rempah-rempah, walaupun sepi peminat, dia tidak berputus asa.
"Rempah! Rempah! Dibeli! Dibeli!" ucap Aswa Daula berteriak dengan tangan yang melambai.
Dia telah berteriak, berusaha dengan sikap gigihnya. Namun, masih saja keadaan sepi peminat, kemungkinan untuk saat ini mereka tidak membutuhkan rempah-rempah.
__ADS_1
Tak lama dari itu, seseorang berjubah hitam beserta dua orang yang bersamanya, mereka bertiga menghampiri tempat Aswa Daula.
Seseorang berjubah hitam itu, tidak lain adalah Akma Jaya dan dua orang yang bersamanya adalah Tabra serta Aisha, mereka bertiga membeli barang dagangan yang dijual oleh Aswa Daula.
Perbincangan terjadi di antara mereka, setelah Aswa Daula membungkus rempah tersebut.
"Berapa harganya?" Akma Jaya bertanya, Tabra dan Aisha hanya bergeming. Rempah itu telah dibungkus rapi dalam kantong plastik.
Aswa Daula menyebutkan harganya, seketika Akma Jaya membayar tanpa menawar sedikit pun.
Setelah itu, Akma Jaya mengajaknya bergabung dalam kelompok yang dia dirikan.
"Apakah kau bersedia bergabung dengan kelompok kami?" Akma Jaya memulainya dengan bertanya.
Aswa Daula berwajah heran.
"Apa maksudmu?"
"Kami adalah kelompok Bajak Laut, apakah kau bersedia untuk bergabung?"
"Walaupun kami Bajak Laut, tapi kami berbeda dari yang lain, kita akan menciptakan perdamaian lautan!"
Tabra berbicara menjelaskannya.
"Jaβjadi, kalian adalah bajak laut?!" Aswa Daula tercengang, dia begitu takut setelah mengetahuinya.
Mendengar pengulangan kata dari Tabra, dia bernapas tenang. Akan tetapi, Aswa Daula menolaknya, dia mengeluarkan suara yang cukup lantang.
Namun, di tengah penolakannya itu, seorang ibu yang berada di sampingnya tampak tersenyum serta menerima, bahkan menyuruh Aswa Daula bergabung dengan Kelompok Akma Jaya, walau demikian, dia tetap menolaknya.
Mereka berdua tampak berbisik dengan pelan.
"Ibu, aku tidak akan bergabung dengan kelompok bajak laut mana pun, walaupun alasan mereka untuk perdamaian!"
"Tapi, Nakβ"
"Sudah, ibu. Tolong mengertilah, aku tak ingin bergabung, dengarkanlah, ibu. Aku tak ingin bergabung dengan kelompok bajak laut, walaupun mereka mengatakannya dengan alasan untuk perdamaian!" Suara pelan Aswa Daula seraya memegang pipi ibunya.
Aswa Daula, dia kemudian menatap Akma Jaya dan mengeluarkan suara penolakannya.
"Aku memutuskan, aku tidak ingin bergabung dengan kelompok kalian."
"Baiklah, kalau begitu. Aku tidak akan memaksamu!"
Akma Jaya mengiakannya, dia membeli beberapa rempah-rempah masakan, setelah itu mereka bertiga meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Alasan mereka bertiga berkunjung ke Desa Daura adalah ingin merekrut anggota untuk Bajak Laut Hitam karena wilayah tersebut cukup aman untuk berkeliaran, sedangkan wilayah lainnya, mereka bertiga sudah menjadi buronan yang cukup lama dikejar oleh banyak bajak laut.
Ibu Aswa Daula berusia lanjut, dengan usia yang hendak mencapai seratus tahun, namun dia masih kuat berdiri, berjalan serta melakukan aktivitas pada umumnya.
Beberapa hari kemudian, ibu Aswa Daula dibunuh oleh salah seorang pembeli yang tidak mau membayar, wanita lanjut usia itu tak dapat melawan, betapa itu sangat menyedihkan, saat itu Aswa Daula sedang tidak ada di tempatnya.
Ketika dia sampai ke tempat jualan, dia mendapati ibunya bercucuran darah, banyak orang berkumpul mengelilinginya.
Lagi-lagi keringat kesal membanjiri tubuhnya. Dia bertanya kepada sekitaran orang yang memusatkan diri penuh perhatian.
"Siapa di antara kalian yang melihat pelaku dari pembunuhan ini?" Aswa Daula berbicara lantang.
Beberapa orang yang berada di situ tampak bergeming, sedangkan Aswa Daula berteriak, membuat orang-orang bertambah banyak.
"Maaf sebelumnya, Aku melihat pelaku itu, namun terbias cahaya samar, terlihat sekilas dia seorang pembeli biasa!" ujar salah seorang menyahut.
Seketika air mata tumpah, mengalir deras.
"Aaahh!!" Aswa Daula berteriak histeris.
"Uhuk ...." Ibunya batuk keluar darah. Menatap Aswa Daula.
Kedua matanya sedikit redup, perlahan ia meraba wajah Aswa Daula.
"As..wa, uhuk huks." Ibunya berujar terputus-putus dengan suara batuk yang menyertainya.
"Iiiβibuuu?!" Aswa Daula terbelalak sembari memeluk erat, mendekap dengan deraian air mata, dia merintih dalam lirih menyebut ibunya.
Di kala itu, suara bisikan disertai napas yang berembus pelan, Aswa Daula menyambut suara seraya mendekatkan telinganya.
"Nak, bergabunglah ke dalam kelompok Bajak Laut Hitam, uhuk."
Mulutnya memuntahkan darah segar serta luka yang menganga lebar, luka itu mengeluarkan darah, darah yang terus bercucuran.
Ibunya mengembuskan napas terakhir. Kata itu terucap bersama mata yang kian meredup.
"Iiiβibu ...."
Aswa Daula kehabisan kosa kata, dia terus mendekap ibunya. Kasih sayang tercurah, terpancarkan dari isak tangis yang berderaian.
Semua orang yang bergerumbul terharu dan meneteskan air mata, peristiwa malang berselimut duka, bahkan membalut kemalangan nasib seperti bertubi menimpa, darah lagi-lagi darah.
Tepat seminggu waktu berlalu, hari duka bersemayam, raut wajah Aswa Daula masih saja sendu, menunduk tak ada semangat berpacu.
Semenjak kejadian itu, Aswa Daula berkeliling mencari Akma Jaya, secara takdir mereka bertemu di salah satu pasar hingga dia bergabung ke dalam kelompok Bajak Laut Hitam.
__ADS_1
Aswa Daula tidak memberitahukan nama serta riwayat hidupnya karena Akma Jaya tak menanyakannya. Di lain hal daripada itu, dia tidak mengetahui, bahwa Akma Jaya adalah anak dari Kapten Lasha.