
Kapten Lasha berseru di tengah sengitnya pertarungan. “Kalian berlima akan kutebas sampai ke urat nadi kaliaannn!!!” Tebasan pedangnya meningkat tajam.
Mereka tertawa mendengarnya. “Lasha, kau sudah terdesak, terimalah kematian yang terpampang jelas di depanmu!” Mereka melakukan block kade terhadap pergerakan Kapten Lasha dari arah belakang, kiri dan kanan.
Sementara, dari arah depan, terhunus sebilah pedang yang apabila dia bergerak, maka akan tertusuk dan mati, mereka terus tertawa.
“Lasha, bersiaplah menemui ajalmu!” Salah seorang dari mereka mengacungkan pedang, dia bermaksud ingin menebas, tetapi dia terlalu lama bertindak, suara tawa menyertai ucapan yang dengan mudah secerah cahaya memelesat masuk ke celah pergerakan yang ternampak jelas.
Mengenai celah kelemahan yang cepat diketahui, diprediksi Kapten Lasha, baginya itu semua adalah kesempatan besar, tidak boleh disia-siakan. Lantas, dia bergerak cepat menyerang.
Kesempatan yang menguntungkan karena mereka terlalu sibuk tertawa dengan sesuatu tidak ada faedahnya. Tidak ada faedah, tertawa dan tertawa.
Kini, Kapten Lasha memelesatkan serangan, tak tanggung-tanggung. “Kalian salah, justru kalianlah ... yang akan menemui ajaaal kaliaan!!” Kapten Lasha berseru lantang seraya menebas mereka berlima.
Seketika itu, mereka berlima tersayat goresan beruntun, mereka pun tumbang dan terkapar mati dalam iringan angin yang sedikit meniup deraian darah tersebut. Kabut mengiringi arah angin.
Sementara, Alba tampak kelelahan dalam menghadapi serangan Kapten Kaiza, pedang mereka saling tangkis satu sama lain, tetapi Alba selalu gagal dalam melakukan serangan. Dia kesulitan mengenai titik sasaran, gerakan Kapten Kaiza terbilang lincah, bergerak di dalam kabut yang sulitnya mata dalam menerka pergerakkan lawan.
Alba terlalu gopoh dengan gerakannya sendiri. Dia menghela napas, memegang erat pedang. “Kaiza. Hari ini... aku akan membunuhmuuu!!” Alba berseru lantang, dia menoleh sepintas, lalu menebaskan pedang dengan kecepatan beruntun.
Alba terus mengayunkan pedang hingga goresan pedang Kapten Kaiza mengenai wajahnya. Kapten Kaiza menghantam perut Alba dengan siku. Alba memuncratkan cairan darah dari mulutnya, dia terjerembab ke pasir. Kesakitan memegang perut. Dia tidak bersuara, cukup memegang dan menatap kesamaran wajah Kapten Kaiza.
“Lihatlah, siapa yang akan membunuh dan siapa yang akan dibunuh!” ucap Kapten Kaiza meletakkan pedangnya ke leher Alba yang tengah tersungkur di hamparan pasir.
Kapten Lasha memelesat, lalu melempar lurus pedangnya. Kapten Kaiza menyadari ada pedang yang melayang ke arahnya, lalu menangkis. Pedang yang semula mengarah ke leher Alba. Kini menangkis pedang Kapten Lasha, pedang yang semula dilempar itu terpental lumayan jauh.
Kapten Lasha menatap serius. “Kaiza, akulah lawanmu yang sebenarnya!” Dia berjalan perlahan, lalu memegang pedang yang sebelumnya terpental dan tertancap di pasir. Dia mencabutnya dan balas tersenyum sinis.
Beruntungnya, Alba berhasil selamat dan Kapten Lasha melakukan tindakan di luar pemikiran musuh. Kapten Kaiza berpaling pandangan, menatap seorang kapten bajak laut tua di hadapannya.
“Alba, pergilah dari sini. Lindungi Haima dan Akma Jaya, bawa mereka ke tempat yang aman!” Kapten Lasha berseru. Alba cukup mengangguk.
Kapten Lasha cukup merasakan khawatir atas kondisi Haima. Dia masih berprasangka baik. Di saat sebelumnya muncul firasat aneh. Dia bergumam, tetapi berusaha tidak menghiraukannya, berusaha percaya bahwa Haima baik-baik saja.
Alba mengangguk. “Baiklah, Kapten. Saya akan pergi dan melindungi mereka berdua!” Dia berseru, beranjak pergi dari tempat tersebut. Dengan berlari gopoh, menembus ketebalan kabut.
Kapten Kaiza mencih dengus. “Kau pikir bisa kabur dariku? Heh, tak akan semudah itu kabur dariku!”
Kapten Kaiza memelesat ke arah Alba. Pedangnya sudah terhunus tajam, posisi lurus seakan ingin menusuk target.
Alba terus berlari, dia jelas mendengar seruan Kapten Kaiza. Dia tengok belakang sambil terus berlari. Tusukan pedang dan tebasan berusaha dilancarkan semaksimal mungkin, berusaha menghindarinya.
Alba sudah kekelahan, dia berlari dengan napas di ubun-ubun. Itu terjadi karena pertarungan sebelumnya yang telah menguras tenaga miliknya dan nahas ... dia tidak sempat menghindari serangan untuk kesekian kalinya.
Tusukan pedang Kapten Kaiza tertusuk tepat di punggung Alba. Ayah dari seorang anak yang bernama Tabra itu tumbang. Cucuran darah mengalir deras. Di ingatannya sekarang, hanya tentang anaknya, perlahan-lahan pandangannya memudar. Ingatan dan naluri bercampur dalam kesatuan, cahaya remang dan rasa hangat dari darah yang menetes.
“Ma–maafkan ... saya kaapteen,” lirih Alba menjelang kematian. Matanya tertutup, juga bibir bercahaya pucat.
Kapten Lasha terpaku, juga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kematian Alba seakan memberikan kesan buruk karena mengingat kenangan bersamanya.
__ADS_1
Kapten Lasha menggeram kesal, menatap tajam ke arah Kapten Kaiza. “Cukup, kau datang dan menghancurkan desaku, sebenarnya apa alasan kau melakukan semua ini? Katakanlah dengan jujur supaya kau mati tanpa meninggalkan bekas dan beban dipikiranku.” Kapten Lasha berujar dengan nada mengancam.
Kapten Kaiza menatap Kapten Lasha dengan arogan. Dia tidak menjawab, tidak menghiraukan, sekilas tersenyum sinis.
“Kaiza ... kau akan mati malam ini!” Kapten Lasha berseru lantang seraya meloncat ke arah cakrawala. Pedang terbentang membelah awan. Udara berembus menyela kabut, rembulan menatap anggun.
Kapten Kaiza mendongak. “Lasha, kau terlalu percaya diri.” Lagi-lagi dia tersenyum sinis seraya bersiap menangkis serangan.
Melalui udara Kapten Lasha melancarkan serangan dengan kecepatan yang menyertainya. Sementara, Kapten Kaiza tampak tenang menghadapi serangan.
Mereka berdua terus beradu pedang, pelesatan serangan cepat, juga embusan napas amarah Kapten Lasha seakan melebarkan senyuman Kapten Kaiza.
Usai menangkis serangan, Kapten Kaiza meloncat mundur, lalu memandang seraya berjalan pelan ternampak santai, seolah-olah sedang meremehkan Kapten Lasha yang berada di depannya.
Kapten Lasha kembali berseru memuncakkan amarah, dia mengumpat kasar, sekasar-kasarnya ucapan.
Kapten Kaiza tertawa. “Lasha, inilah karma yang harus kau terima karena kau telah membunuh Kapten Abka. Rasakanlah karma. Bagaimana sekarang perasaanmu bajak laut tua!” Dia menggelakkan suara, tertawa dan tertawa.
Kapten Lasha diam. Menyisakan suara tawa dan ombak berdebur serta desir angin membawa kabut.
Kapten Kaiza sejenak berhenti, lalu menatap serius. “Kau menyebut dirimu bajak laut, tapi kau tak pantas menyandang gelar tersebut.”
Kapten Kaiza memaki sekadar untuk mengeluarkan kemarahannya karena umpatan kasar yang sebelumnya di ucapan Kapten Lasha.
Kapten Lasha menyeret pedang. Dia berjalan dengan ujung pedang menggores di pasir seraya berujar, “Oh, jadi begitu, heh, ternyata kalian berdua bekerja sama untuk membunuhku?”
Kapten Kaiza tertawa. “Lasha, kau sudah semakin tua! Gerakan pedangmu sangat lemah.” Dengan pergerakan santai, Kapten Kaiza menangkis berucap meremehkan.
Kapten Lasha melepaskan serangannya kemudian meloncat dan menjauh dari Kapten Kaiza. Dari jarak berjauhan, mereka berdua saling bertatapan.
“Lasha, perlu kau ketahui, bukan hanya Abka yang ingin membunuhmu, tapi seluruh kelompok bajak laut setuju untuk membunuhmu, bahkan menenggelamkan dataran pulau ini. Perlu kau ketahui, aku diperintahkan mereka untuk membunuh anakmu yang bernama Akma Jaya karena dia adalah ancaman terbesar yang akan mengancam seluruh samudera.”
“Sebelum aku ke sini, aku mendapatkan laporan dari bos penculik yang kau jadikan budak, bahwa Akma Jaya sudah berhasil disembuhkan dari racunnya. Banyak orang yang membayarku untuk memusnahkanmu, anakmu, bahkan seluruh markasmu ini. Lasha, Kau sudah tua. Cepat atau lambat kau pasti akan mati, tenggelam oleh usia. daripada itu lebih baik kau mati di tanganku dan itu akan menjadi kehormatan bagiku.”
Kapten Kaiza melontarkan ucapan panjang lebar, lalu tertawa kencang. Kapten Lasha berpejam mendengarkan. Dia tahu telah melakukan pembunuhan terhadap Kapten Abka, tetapi semua itu adalah karena salah Kapten Abka sendiri yang terlebih dahulu menghadang kapal, lalu menyerang, mengucapkan ingin membunuh. menunjukkan tatapan meremehkan.
Di akhir tebasan pedang. Di saat gugurnya jasad Kapten Abka ke lautan. Kapten Lasha mengatakan ciri khasnya, menepis ucapan Kapten Abka sebelumnya.
Seorang kapten bajak laut tua yang terkenal di kalangan orang-orang, kini seakan tak punya apa-apa lagi.
Seluruh penduduk, rumah dan dataran pulaunya habis di pandangan. Sekarang, dia berharap anaknya baik-baik saja, juga seorang istri yang amat disayangi.
Beberapa saat berpejam, Kapten Lasha membuka mata perlahan. “Kaiza, kau terlalu banyak bicara!” Dia mengayunkan pedang, menatap tipis. Kabut bergerak ke arah laut, daratan pantai terbias samar.
“Lasha, berterimakasihlah. Aku telah menjelaskan dari pertanyaanmu kenapa aku menyerang desamu,” ucap Kapten Kaiza seraya tersenyum sinis.
“Heh, aku tidak pernah bertanya!”
“Cih, bajak laut tua. Kau tidak ingat, baru saja kau berucap saat kematian Alba.”
__ADS_1
Mereka saling pandang. Kapten Lasha menancapkan pedang, menatap Kapten Kaiza, dia menunjukkan sedikit senyuman.
“Lihatlah, aku telah menancapkan senjata milikku. Aku seperti orang yang tidak mempunyai senjata. Jadi, sekarang bunuhlah aku.” Kapten Lasha menundukkan kepala, menatap pasir yang tampak putih dan bercak kecoklatan, bekas kaki berpijak.
Perasaan kapten bajak laut tua itu seakan menangis atau seakan hidup tak berselera. Hampa, lunglai, tak ada semangat berpacu, dunia dirundung pilu. Sakit dan lain lainnya.
Alba adalah sesosok teman sekaligus kaki tangan yang kadang sering duduk bersama dengannya. Saat itu, saat di pelayaran menuju ke suatu wilayah. Kapten Lasha dan Alba banyak bergurau, bercanda. Memory kenangan bersambut ria di dalam benak pikiran. Kapten bajak laut tua itu menunduk, menatap butiran pasir. Sejenak hening, tanpa ucapan dari keduanya.
Kapten Kaiza menghampiri dengan pedang terhunus. “Lasha, sepertinya kau telah menyadarinya. Selamat tinggal—” Tidak sempat Kapten Kaiza menghabiskan bicara, pedang yang telah tertancap di pasir dengan mudah dicabut Kapten Lasha, lalu mengarahkannya ke Kapten Kaiza.
“Kau sudah tertipu. Kaiza, kaulah yang akan kubunuh!” Kapten Lasha berucap seraya mengayunkan pedang. Dengan percepatan cepat Kapten Kaiza menangkis. “Lasha, sudah kubilang, kau terlalu percaya diri!”
Seketika Kapten Lasha meloncat mundur, tetapi di saat dia meloncat, kecepatan dari goresan pedang Kapten Kaiza berhasil mengenai tangan kanan. Deraian luka dari kapten bajak laut tua itu keluar deras.
“Kau sangat lemah!” Kapten Kaiza tertawa, berucap lantang menunjuk Kapten Lasha yang tengah meloncat seraya memegang tangan kanannya.
Kapten Kaiza sejenak diam. Lalu, menyeka pelipis. “Berkatmu, aku sedikit bernostagia. Terima kasih, Lasha. Aku beruntung pada malam ini berhadapan denganmu.”
Kapten Lasha tak menjawab, bahkan tak mengerti apa yang dimaksudkan nostagia.
“Ayahmu, Lasha.” Kapten Kaiza melanjutkan nada bicara. Ketika mendengarnya, mata Kapten Lasha melebar marah.
“Akulah orang yang telah membunuhnya. Kenapa? Apa kau heran bagaimana aku bisa terlihat muda seperti ini, Lasha. Kau hidup di dunia ini berapa lama, sedangkan aku telah beribu-ribu tahun semenjak saat itu.” Kapten Kaiza memutuskan ucapan.
Sementara, Kapten Lasha menggeram. Setelah sekian lama, dia akhirnya tahu siapa yang membunuh ayahnya. Orang yang tengah berdiri dihadapannya. Dialah yang telah membunuh seorang ayah bersifat tegak memerintah kerajaan dengan penuh kedamaian dan kedermawanan.
Raja Habasha.
Di saat ayahnya meninggal, beberapa saat kemudian menyusul sang ibunda. Kapten Lasha kabur dari istina, menangis tersedu, memilih berkelana hingga dia menjadi seorang bajak laut. Dia tidak peduli lagi dengan apa pun, saat itulah kekejaman dari seorang anak mahkota merajalela. Dia menjadi seorang bajak laut yang terkenal, melesat namanya ke setiap penjuru wilayah.
Kapten Lasha memegang tangan, mengatakan kemarahan. Kenangan dan kehancuran perasaannya memuncak.
Dia telah berdamai dengan luka. Bukan luka yang sekarang ada tangannya, melainkan luka di hatinya. Sebesar apa pun, luka itu telah tertutup rapat. Tak ada rasa sakit lagi, apa yang sekarang terasa adalah balas dendam, membalas kematian sang ayah.
Kapten Lasha kembali memelesat tajam. Dengan pedang terhunus, dia melancarkan serangan bertubi. Bahkan, dia tak memperhatikan luka di tangannya yang masih berguguran cairan merah.
“Kauu lemah. Kau menangis di saat ayahmu meninggal. Di saat ibumu meninggal, kau juga menangis, bahkan kabur berlayar entah kemana. Apa itu jati dirimu? Heh, Lasha. Sampai sekarang, apa kau masih kesal terhadap perbuatanku?” Kapten Kaiza membalas serangan. Entah di mana dia mengetahui hal itu, kemungkinan sesuatu yang samar. Kapten Lasha memekik marah.
“Berhentilah berbicara!” Kapten Lasha melantangkan suara. Mereka berdua kembali bertarung dengan tebasan yang sangat cepat. Pancaran sinar berupa kilatan memancar dari pedang yang saling beradu.
“Lasha, kau bilang ini serangan?” Kapten Kaiza berseru seraya menghempaskan pedang Kapten Lasha ke tanah.
Kapten Lasha tak menjawab, mengangkat kembali pedang miliknya, juga bersegera menebas dengan kecepatan di atas rata-rata.
“Kaiza, jangan berlagak sombong di hadapanku!” Kapten Lasha memelesatkan serangan. Amarahnya memuncak tak terkira, tebasan pedang ternampak rancu—tidak beraturan.
Sesaat mereka berhenti. Kompak mengatur pernapasan, mereka tampak kelelahan, cucuran keringat membasahi area pelipis.
Pertarungan yang bisa dibilang seimbang, sama sekali tidak ada kemenangan dari kedua belah pihak. Kapten Kaiza mengibaskan pedang, kabut bergerak perlahan. Kapten Lasha memegang erat pedang. Di pikirannya masih segar ingatan tentang ayahnya. Pada malam hari itu, kenangan masa lalu seakan terputar kembali, jelas ternampak di pandangan.
__ADS_1