Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel


__ADS_3

Petang telah usai, waktu telah berganti malam, para anak buah, mereka semua tidur dengan nyaman.


Berbeda dengan Akma Jaya, dia belum tidur sama sekali, dia menengadahkan kepala, menatap sekawanan bintang yang berjejer, bertaburan di atas cakrawala.


Kegelapan malam itu melanda lamunan yang mendalam, entah apa yang sedang dia lamunkan, deburan ombak, desiran angin, sunyi.


Siapa sangka, Tabra juga belum tidur, dia berkeliaran di sekitaran kapal, tak sengaja melihat Akma Jaya yang tampak melamun.


Tabra mengintip diam-diam. Dia berjalan pelan, memperhatikan Akma Jaya lebih dekat.


"Kapten!"


Tabra berseru kemudian bersembunyi. Akma Jaya menoleh heran, ada suara terdengar, tetapi tak ada orang yang terlihat, Tabra sengaja mengubah suaranya.


"Kapten!"


Dia kembali berseru. Lagi-lagi Akma Jaya menoleh, dari yang terdengar, suara itu berasal dari balik tong. Secara perlahan Akma Jaya menghampiri suara tersebut.


"Tabra, kau sedang apa?"


Akma Jaya muncul secara tiba-tiba, seketika wajah Tabra berkerut, dia kaget bersimbah peluh keringat.


"kapten, saya hanya bercanda." Tabra menjelaskan sedikit canggung.


"Tak apa," jawab Akma Jaya ringkas.


"Kapten, Anda seperti melamun, adakah sesuatu yang menganggu pikiran Anda?"


Tabra bertanya, Akma Jaya hanya bergeming, dia tak menjawabnya.


"Kapten, apa Anda baik-baik saja?" Tabra menepuk bahu Akma Jaya.


"Tak apa."


Akma Jaya pergi meninggalkan Tabra, dia hanya menjawab ringkas, tidak panjang, hanya dua huruf.


Ya, Tabra kebingungan, lamunan itu terlihat seperti Aisha hanya saja Akma Jaya sedikit berbeda, dari raut wajahnya itu membingungkan.


Malam hari itu, sepertinya Tabra berusaha melupakannya, dia tidur tak lagi memperdulikan apa yang sedang dilamunkan oleh Akma Jaya.


***


Pagi hari, suasana pagi yang menyegarkan, otot yang terasa mengembang, pikiran lapang, perasaan tenang, semuanya terasa nyaman.


Akma Jaya berseru mengumpulkan mereka semua, rencananya mereka akan menelusuri Desa Buana. Namun, pada awal perlayaran, bahkan sepanjang perlayaran, Akma Jaya tidak memberitahukan apa tujuannya.


"Kapten, bolehkah saya bertanya?" Aisha mengacungkan tangan, dia meminta izin.


"Baiklah, silakan!"

__ADS_1


"Sebenarnya apa tujuan kita menelusuri Desa Buana?" Aisha mengajukan pertanyaan, Tabra berada disampingnya, menyimak dan mengangguk pelan.


"Menurut kabar yang kudengar, di ujung Desa Buana terdapat kebun wortel yang sangat luas, kita akan membuktikannya!"


Akma Jaya menjelaskan sambil turun dari kapal, sedangkan mereka mendengarkan apa yang dia jelaskan.


Kemudian, mereka mengikuti Akma Jaya–turun dari kapal.


"Ini benar-benar desa yang telantar!"


Tabra mengucapkannya, dia menelan ludah, menatap ke sekeliling tempat, di mana yang terlihat hanya desa yang porak poranda, puing-puing rumah berserakan tak beraturan, rumah-rumah itu rata dan beberapa ada yang menyatu dengan tanah, tenggelam diisap tanah.


Waktu kehancuran desa yang terjadi pada tahun ke-1640 itu meninggalkan masa yang cukup lama, hitungan jari bukan, lebih dari itu.


Sekitar 49 tahun berlalu, waktu yang lama. Telantar, desa yang hancur berkeping-keping, penduduk yang tewas dihayutkan ke laut, adapun sisa penduduk, mereka dijadikan tawanan dan dikurung di suatu ruangan khusus.


Namun, bajak Laut dari kelompok Jalama, sang pemimpin yang bernama Abna. Setelah mengurung penduduk, dia tak menghiraukannya dan pergi meninggalkan Desa Buana.


Penduduk itu dibiarkan terkurung di dalam ruangan tersebut, sungguh ironis.


"Kapten, cerita tentang penduduk yang dikurung oleh kelompok Jalama, kita perlu mencari kebenarannya." Tabra berucap mengajukan saran.


"Benar, Kapten. Kita harus mencari kebenarannya!" Salah satu anak buah menyahut cepat, sedangkan yang lain mereka ketakutan.


"Nanti, setelah kita sampai ke kebun Wortel yang kumaksudkan." Akma Jaya berjalan mendahului mereka.


***


Mereka telah sampai di ujung Desa Buana, apa yang tersebar ternyata memang benar, ada kebun wortel di sana.


Suatu keanehan, kebun tersebut seperti terawat dan wortelnya tumbuh dengan subur.


Tabra mengernyit bingung.


"Kapten, bukankah ini aneh?" Tabra bertanya menatap ke arah Akma Jaya.


"Tabra, kemungkinan ini adalah keajaiban atau sesuatu yang diluar batas pikiran, kita akan memanennya!" jawab Akma Jaya, dia berseru kepada anak buah untuk memanennya.


Aisha melihat pemandangan sekitar, suasana jelas terasa sunyi, desiran angin yang bertiup dan gemuruh ombak yang menerpa.


Sementara itu, Akma Jaya tersenyum lebar, dia begitu menyukai wortel. Karena lama menunggu, dia berjalan-jalan pelan menjauh dari kebun tersebut.


Sementara, para anak buah sibuk memanen wortel dan Tabra ikut membantu mereka.


Akma Jaya berduduk di tempat reruntuhan, tempat itu tak jauh dari kebun, hanya berjarak 5 meter. Dia berlama-lama duduk di situ.


Tabra mengumpulkan wortel dengan gigih, dia dengan cepat mencabut wortel beserta mulut yang terus mengoceh-ngoceh.


"Sial! Wortel tidak bermutu, mengapa wortel besar-besar, ah mengapa aku menyebutnya tidak bermutu!"

__ADS_1


"Aku sungguh aneh. Ah, sungguh sial!"


"Cabut saja, sudah cabut saja."


"Hoya, hoya. Cabut wortel, cabut yang banyak, cepat, hoyaaa ... hoya. Hoya ... hoyaaa!" Tabra ngoceh dengan suara kerasnya.


Ocehan Tabra membuat mereka yang mendengarnya menjadi bersemangat dalam mencabut wortel. Berdendang, Tabra mengeluarkan suara syahdu, lepas itu dia bersiul dengan merdu.


Beberapa saat kemudian, pekerjaan mereka sudah selesai, letih sudah pasti, peluh keringat mereka bertetesan, untungnya cuaca pagi begitu cocok untuk berkeringat, menyehatkan.


Wortel itu terkumpul sangat banyak, dua puluh wadah keranjang. Ya, bukan kecil, tetapi keranjang yang berukuran besar.


Keranjang yang berbentuk bulat, bawahnya datar. Begitulah, kemudian dari itu Tabra menyuruh salah satu dari mereka untuk pergi melapor.


Salah satu anak buah itu mengangguk, dia berjalan menghampiri Akma Jaya.


Berjalan perlahan, tidak tergesa-gesa.


Ketika dia dekat dengan Akma Jaya, dia memberi hormat.


"Kapten, seluruh wortel sudah berhasil kami panen!" Dia menghadap dan melapor kepada Akma Jaya dengan tubuh yang membungkuk.


"Baiklah, kalau begitu. Segera bawa wortel itu ke dalam kapal!" Akma Jaya memberikan perintah.


Anak buah itu mengangguk cepat, dia kembali ke kebun dan menyampaikan perintah Akma Jaya kepada yang lainnya.


Mereka membawa wortel tersebut ke dalam kapal, Tabra begitu antusias, dia sangat suka mengangkat-ngangkat, bahkan tak tanggung-tanggung, dia mengangkat dua wadah sekaligus.


"Ini ringan, kalian tak ingin mencobanya?" Tabra memperlihatkan senyuman yang lebar. Giginya memancarkan cahaya sinar.


Dua keranjang itu ditumpuk, dia berjalan mengangkatnya.


"Ha ha ha ..."


Tabra tertawa, lepas itu dia bersiul, sebagian anak buah ikut tertawa, kemungkinan mereka terbawa suasana. Jelas itu tidak lucu, tetapi suara tawa dari Tabra seolah seperti virus yang menyebar, membuat orang di sekitarnya menjadi tertawa. Entah, itu membingungkan.


Tak lama dari itu, jarak yang lumayan dekat dari kebun tersebut, Tabra menghela napas lelah. Wajahnya berkerut.


"I–ini, ini berat!" ucap Tabra, keranjang itu terlepas dari tangannya, dia berduduk kelelahan.


Sementara itu, para anak buah, mereka terus berjalan dan hanya memberikan senyuman kepada Tabra.


"Hei, kalian berhenti berjalan, beristirahatlah sepertiku." Tabra menahan mereka.


Akan tetapi, mereka semua tak menghiraukannya dan terus berjalan, Tabra tertinggal sendirian.


"Aduh, nasib!"


Tabra menghela napas lelah, dia berbaring sejenak, memejamkan mata, apa yang lebih baik dari ini, jelas dia tidak mengetahuinya, hanya berbaring melepas rasa lelah yang mendera.

__ADS_1


__ADS_2