Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal


__ADS_3

Tabra saat itu bercerita gopoh. Napasnya yang memburu cepat hingga membuat Akma Jaya tidak bisa mencerna jelas akan setiap kata yang diucapkannya.


“Tabra, cobalah kau tenang dan berceritalah dengan pelan!” Akma Jaya menghentikan suara Tabra yang mencerocos tidak beraturan. Entah mengapa dia memang tidak bisa mencernanya dalam artian mengerti akan setiap kata perkataan Tabra.


Untuk sesaat, Tabra menahan mulut, menghentikan cerita miliknya, sedangkan Adfain masih menyimak dan menanti kelanjutan dari cerita Tabra tersebut.


“Berceritalah...” Akma Jaya menyuruhnya dengan nada pelan, tidak kasar.


Tabra mengangguk. “Baiklah, Kapten.”


“Saat saya menyusuri desa ini, saya terus menyusurinya hingga di salah satu pasar, saya membeli sebuah peta harta karun dari seorang kakek tua yang berjualan benda-benda antik, peta harta karun langka yang sangat susah untuk didapatkan!” Tabra menceritakannya sesuai kejadian.


“Begitu rupanya? Lalu apa selanjutnya yang ingin kau katakan?” jawab Akma Jaya ringkas. Dengan semua jawaban itu dia cukup mengerti bagaimana cerita Tabra.


“Begini, Kapten. Konon katanya cerita yang dia ceritakan kepada saya ada sebuah kapal yang berlayar, kapal itu terdampar di salah satu pulau dengan harta yang cukup banyak, hingga dia memutuskan untuk meletakkan hartanya di pulau tersebut, dia menggambar sendiri peta ini dengan keterampilan seorang kapten bajak laut!”


Tabra menceritakan persis apa yang diceritakan oleh kakek tua tersebut. Dia tidak tahu yang sebenarnya.


Adfain hanya tersenyum. “Ini peta adalah peta biasa yang dijual bebas di mana pun, bukan peta harta karun sungguhan.” Adfain menjelaskan saat itu.


Tabra mendengarnya tidak percaya. “Hei, kau tahu darimana? Jangan sembarangan berucap!” Tabra menyahut cepat.


“Jangan berdusta di depanku,” lanjut Tabra menatap Adfain yang baru saja berkata.


“Saya tidak berdusta, Tabra.” Adfain menjawab usai itu meminta melihat peta.


Tabra seperti tidak mau memberikannya. Akma Jaya berbicara, “Berikanlah peta itu kepada Adfain, biarkan dia memeriksanya.”


Dengan mengikuti gaya tangan itu, Akma Jaya membujuk Tabra. Tidak ada pilihan lain baginya, walau terpaksa Tabra akhirnya memberikan peta itu kepada Adfain.


Adfain menerima peta itu yang berupa gulungan dan membukanya. Saat itu dia memperhatikan dan lalu menjelaskan.


“Tidak salah lagi, ini hanya gambar buatannya sendiri dan dia jual dengan menyebut barang antik. Saya mempunyai peta banyak di rumah di tempat ini, sebenarnya pedagang yang Anda maksud saya mengenalnya. Dialah Jaidas, seorang kakek tua penjual benda antik yang sebenarnya semua barang itu tidaklah antik. Dia hanya pandai dalam membuat tipu muslihat, mengarang cerita dan menipu pembeli dengan itu. Peta dan beserta cerita yang barusan kau dengar itu termasuk cerita karangannya, walau bagaimanapun sebenarnya memang ada peta sungguhan, jelas bukan ini petanya.”


Adfain kembali memberikan peta yang baru dia lihat itu kepada Tabra. Usai mendengar itu di hati Tabra tebersit rasa percaya.


Dia hanya memastikan, “Benarkah semua yang kau katakan itu? Kakek tua itu penipu? Kurang ajar, berarti aku telah kena tipu.”


Harga peta itu cukup lumayan mahal. Membuat alat tukar di saku celananya mengurang banyak, mengering kempes.


“Tidak apa-apa, anggap saja kau sedang bersedekah, Tabra.” Akma Jaya menghibur.


Adfain berkata, “Jaidas melakukan semua itu memang karena ekonomi yang membuatnya menjadi seorang pedagang penipu. Dia menawarkan harga mahal dan menipu orang dengan tipu dayanya. Saran saya sebelum membeli sesuatu, alangkah baiknya barang itu Anda teliti tentang kebenarannya terlebih dahulu.” Adfain menjelaskan dengan campuran gaya tangan seperti orang sedang berpidato.


Tabra berwajah datar saat sebelumnya mendengar ucapan Adfain yang terdengar sok bijak. Dia tidak menjawabnya.


Adfain melanjutkan. “Di antara pulau ini, Anda harus tahu, Tabra. Jaidas yang berusia tua itu selalu menipu banyak orang, kalau saya ceritakan begitulah keadaan dirinya dan tentang apa yang telah terjadi. Tabiat yang dia gemari memanglah suka menipu orang, saya pun heran dengan dirinya itu.”


Akma Jaya menegahi. “Tabra, kita hanyalah seorang pendatang, sudah seharusnya kita bersikap dan menghargai mereka.”


“Kau sudah dengar tentang ekonomi di desa ini, ternyata ekonomi mereka buruk, membuat rakyat menderita dan terpaksa melakukan berbagai cara untuk perut dan citra mata. Benarlah kata salah seorang harta benda dan makanan adalah surga seseorang, bahkan bisa menjadi neraka.”


Tabra menelan ludah. “Saya mengerti, Kapten. Saya merasa tidak apa-apa.”


“Hanya saja masalah penipu ini...” Tabra terhenti bicara menyebut akan hal itu.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, kita simpan peta itu sebagai kenang-kenangan.” Akma Jaya menyahut dan Tabra mengiakan.


Tabra menatap Adfain. “Dan kau, Adfain. Kau bicara seperti orang yang tengah sok bijak, menyuruh teliti. Bagaimana mungkin aku bisa mengetahui semua itu? Sedangkan dia menceritakan sejarah itu seperti nyata dan membuatku tertarik membelinya.”


Tabra salah paham akan maksud perkataan Adfain. Usai itu dia menghela napas panjang, sangat panjang. Sepertinya dia tengah begitu menyesal karena telah membeli peta harta karun tersebut.


“Tabra, tak usah terlalu kau pikirkan lagi, lebih baik kau beristirahat..” Akma Jaya bisa mengerti akan hal itu, rasa lelah dan tertekan lebih baik dibawa istirahat.


Tabra sekarang terlalu lelah hingga membuatnya percaya begitu saja tanpa memikirkan dan mendengar perkataan Adfain yang begitu dia tidak suka, menilai sok bijak dan sebagainya. Dia tidak memikirkan. Apakah cerita itu benar atau tidak? Apakah peta itu asli atau palsu? Jelas waktu itu dia tidak memikirkannya dan malah langsung membelinya.


“Baiklah, Kapten. Saya akan beristirahat,” ucap Tabra beranjak pergi dari tempat dan hadapan Akma Jaya, juga Adfain.


Di tempat itu menyisakan mereka berdua yang saling bicara. Menyebutkan berbagai hal perkataan yang mereka bicarakan.


***


Waktu berlalu sekian hari, mereka tinggal di Desa Lauma selama lima hari. Akma Jaya saat itu banyak berbagi dengan orang fakir miskin di desa tersebut. Membagikan seadanya dengan tawa dan kesenangan.


Bukan sebatas perkenalan, tetapi juga senyuman yang merekah. Berbahagia mereka kala itu menikmati suasana kedekatan mereka satu sama lain.


Mengisi hari yang terus berlalu. Pagi berganti siang hingga suasana berubah malam. Peputaran waktu terus berlalu, kebersamaan penuh senyuman.


Akma Jaya memberi uluran tangan untuk mereka, keceriaan selama itu ada.


Tibalah saat-saat itu. Hari berikutnya, tepat di beberapa jam dari bergulir matahari setinggi bayangan tongkat sejajar, dia berizin pamit ingin beranjak pergi beserta para anak buahnya. Meninggalkan desa Lauma yang mereka singgahi, bermaksud untuk melanjutkan perlayaran.


Di pinggir pantai, mereka semua berkumpul melihat Akma Jaya dan yang lainnya berkumpul banyak. Masing-masing dari mereka mengucapkan ucapan. Beberapa sambutan kalimat perpisahan.


“Selamat tinggal, jaga diri kalian baik-baik!” Tabra berseru melambaikan tangan penuh haru di kedua matanya.


Aisha berpelukkan dengan salah satu anak kecil yang tidak kuasa melepasnya pergi.


“Uwuwu, kamu imut sekali!” Aisha berseru girang mencubit dengan kedua tangannya.


Anak kecil itu mengeluarkan buliran air mata, Aisha mengusap lembut di sela-sela kelopak mata anak kecil tersebut.


“Jaga diri baik-baik, ya. Jika ada waktu, lain kali kakak akan kembali ke sini lagi, jangan menangis, kamu harus kuat seperti kakak.”


Aisha berucap lembut dan mereka berpelukan. Aisha memberikan lelucuan dan membuat anak kecil itu dipenuhi canda tawa yang menghiasi wajahnya, dia berusaha menghibur anak kecil tersebut.


Sementara itu, Akma Jaya menatap Adfain. Mereka berdua saling berjabat tangan.


“Akma Jaya, tetapkanlah pendirian akan sesuatu yang Anda bilang kepada saya tempo lalu, saya menunggu masa-masa di mana semua keinginan yang Anda harapkan itu terkabul! Saya sungguh menanti masa itu.” Adfain tersenyum.


Menuturkan kalimat perpisahan. “Anda tahu bahwa perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Kita bisa saja berjumpa di lain hari sebagai teman dekat atau sahabat.”


Akma Jaya mengangguk. “Jika itu mungkin, Adfain!" Akma Jaya sedikit lirih, entah mengapa dia mengucapkannya secara lirih?


“Saya merasa senang bertemu Anda, semoga lain waktu kita bisa berjumpa kembali.” Adfain tak menghiraukan jawaban Akma Jaya yang mengatakan kalimat mungkin. Dia hanya ingin menambahkan kalimat sebelumnya.


Akma Jaya kembali mengangguk. “Jika itu mungkin, Adfain!” Akma Jaya mengulang kalimat yang sama, entah mengapa dia mengucapkannya secara berulang?


Adakah jawaban dari kalimat itu? Adfain menatap penuh heran. Dia bertanya-tanya pada dirinya. Pun angannya. Seperti ada hal yang menancap dalam dadanya, entah apa? Tidaklah dia ketahui akan jawaban tersebut.


“Ah, jika itu mungkin? Mengapa daritadi Anda mengatakan demikian sama? Bolehkah saya mengetahui alasannya?” tanya Adfain memberanikan diri bertanya.

__ADS_1


Akma Jaya menjawab, “Mengapa kau ingin tahu dan bertanya demikian?”


“Anda mengetahuinya. Malu bertanya, sesat dijalan. Begitu kata hati saya menturkan.” Adfain menjelaskan seadanya dengan jujur dan tidak dibuat-buat.


“Tidak ada yang perlu aku jawab, Adfain.”


“Hanya saja, apakah kau tahu tentang takdir seseorang? Bahkan diriku, pikiran dan hati tidak bisa mengetahuinya. Ia sebuah kasat mata, tak tembus oleh cahaya penglihatan. Sebuah rahasia yang tak bisa aku ketahui.”


Akma Jaya menjelaskan alasan yang baginya cukup masuk akal. Di mana saat itu kala dia berucap disertai angin yang berembus, meniup dedaunan pohon kelapa di pinggar pantai serta ombak yang bersuara pelan, menerpa pasir pantai.


“Jadi itukah maksud dari perkataan Anda. Jika itu mungkin?” Adfain memastikan.


“Benar. Itulah maksudku.” Akma Jaya menyahut anggukan kepala. Bagaimanalah percakapan mereka bisa terkoneksi dengan bernas. Adfain hanya menduga-duga.


“Jika itu maksudmu. Di ujung desa ini. Di sebuah tempat beratap daun kelapa kering, bentuk rumah yang sederhana, rumah yang berada di bawah pohon besar. Di sana ada salah seorang ahli dalam hal mengetahui takdir, apakah Anda mempunyai keinginan untuk mengetahui takdir? Saya bisa mengantarkan Anda kepadanya.” Adfain menepis perkataan Akma Jaya secara halus.


Itu artinya takdir seseorang bisa diketahui oleh orang yang ahli. Mendengar akan hal itu, Akma Jaya menghargainya, tetapi tetap berpegang teguh pada keyakinannya.


“Di antara kau dan aku, Adfain. Aku mengakuinya di beberapa pikiran orang seperti kita dan semuanya kadang berbeda, tidak selaras. Itulah mungkin kehidupan. Ada beberapa orang yang selaras. Di antara kau dan aku ternyata pikiran kita tidak selaras. Bagiku tiada seorang pun yang bisa mengetahui bagaimana takdir seseorang, begitu pun dengan takdir dirinya sendiri.”


Akma Jaya melanjutkan penuturan, “Mengenai takdir itu laksana daun yang gugur ditiup angin, kadang seseorang bisa saja menduga-duga di mana tempat ia gugur, dugaan itu ada kalanya benar dan ada kalanya salah.” Akma Jaya menunjuk daun yang jatuh ditiup angin.


Namun, Akma Jaya masih menghargai penuturan Adfain sebelumnya. Dia hanya memberikan sekilas perumpamaan. “Dan saat dedaunan takdirku itu jatuh, aku tak bisa mencegahnya. Daun itu jatuh dengan sendirinya saat tiba masa ia jatuh dan daun itu tak bisa direkatkan kembali. Bukankah percuma walaupun aku mengetahui takdirku dari orang yang kau sebutkan tadi, walaupun dia bisa mengetahui takdir seseorang, daun yang kuserupakan takdir itu tidak bisa direkatkan kembali...”


“Lalu untuk apa aku mengetahui takdir, jika itu hanya sebatas menduga-duga saja. Justru hal itu hanya akan membuatku cemas dan tak tentu arah tujuan.”


Akma Jaya menjawab panjang lebar, Adfain di sampingnya terdiam hanya menyimak dan mengangguk pelan. Dia tersenyum menatap Akma Jaya. “Perkataan yang Anda katakan benar. Saya mau berterima kasih, Anda berwawasan luas dan mampu memberikan kepada saya sebuah perumpamaan yang terdengar indah.”


“Aku tidak seperti yang kau bayangkan, Adfain. Itu hanya sedikit yang kuketahui.”


“Saya paham maksudnya, Anda merendahkan diri seperti tanaman yang semakin berisi, semakin menunduk.”


Tabra di sana cukup memandang pembicaraan mereka berdua. Tiba-tiba seorang yang tadi disebutkan Adfain dapat mengetahui takdir itu menonjolkan dirinya dari arah belakang. Sebetulnya dia sudah lama alias daritadi berada di tempat itu. Lebih tepatnya dia juga ikut menghadiri kepergian Akma Jaya itu dengan tidak terlihat oleh siapa pun.


Akan tetapi, selama itu dia tidak menonjolkan diri. Memilih menyamarkan diri dan kehadirannya, sekarang dia memilih menonjolkan dirinya usai mendengar Akma Jaya dan Adfain yang baru saja membahas dirinya.


Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Akma Jaya. “Hei, berani sekali kau yang berambut hitam, berpakaian hitam. Apa yang kau tahu tentang takdir? Aku bisa mengetahui takdir seseorang semenjak aku lahir.”


Sebenarnya orang itu ingin menyebutkan warna kulit. Tapi, tidak bisa karena Akma Jaya berkulit cerah walaupun sedikit agak macho. Bagaimana mungkin dia bisa mengejek dengan cara itu, terpaksalah dia menyebutkan warna rambut dan pakaian.


Dia lanjut berjalan penuh ocehan mengelilingi Akma Jaya. Mulut terbuka lebar berwajah marah. Namun, ketika dia berada di samping Akma Jaya, lama semakin lama dia di sana. Wajahnya berubah pucat, tidak kuasa untuk menatap lebih lama karena wibawa seorang Kapten yang lekat pada diri Akma Jaya.


“Siapa namamu?” tanya Akma Jaya. Menghentikan kepucatan wajah orang itu.


Mendengar akan hal itu, orang yang tadinya berpucat itu kini tampak berubah senang, ekspresi sebelumnya yang terlihat pucat berubah sedikit cerah.


“Perkenalkan namaku Asra Burona,” ucap dia memperkenalkan dirinya. Kemudian ingin berkata sesuatu, secara refleks Asra Burona mendekat dan membisikan sesuatu.


“Teman, aku bisa melihat takdirmu. Tapi, yang ini berbeda dengan orang lain yang kutemui. Takdirmu ini membingungkan, aku menjadi tidak tega memberitahumu!” Begitulah bisikan yang dia bisikan.


Akma Jaya hanya tersenyum saat mendengarnya dan menjawab, “Tidak apa kalau kau tidak ingin memberitahuku, aku juga tidak membutuhkannya.”


Asra Burona terkekeh lucu, sedangkan Adfain menatap bingung. Entah apa yang mereka bisikan? Adfain tidak mengetahuinya, cukup mereka saja yang tahu. Sikap Asra Burona tampak memang berubah dari sebelumnya.


“Baiklah, selamat berpisah!” Asra Burona dipenuhi senyuman dan mengulurkan tangan untuk saling berjabatan, Akma Jaya menerima dengan ekspresi penuh senang.

__ADS_1


Hari itu, duhai temanku. Senyuman dari semuanya merekah indah, kedamaian suasana menyelimuti perpisahan.


Betapa lambaian tangan itu membelai di sela angin yang berembus. Di setiap masing-masing tempat, mereka berjejer rapi menatap kepergian Akma Jaya, Tabra, Aisha dan beserta anak buah lainnya.


__ADS_2