
Desas desus dengungan yang tidak ada di perempatan jalan, tidak ada di kota. Jelas saja, sekarang mereka di tengah lautan.
Lihatlah, teman. Lautan ini bersih.
Dengungan angin dan pemandangan biru yang menghiasi. Lihatlah, panorama langit di puncak kesetaraan dengan bumi.
Matahari pagi ini menyinari separuh bumi. Entah separuh atau serempat karena bumi itu bulat. Kata orang dunia ini bola di dalam bola. Entah benar atau tidak, sejauh ini..
Yeah, lupakan saja. Kita sedang berada di dalam kapal yang terus melaju, tidak peduli kau sedang duduk atau berbaring. Atau di atas layar seperti Kalboza menatap dengan sebilah pedang. Dia ingin berlatih dengan tekad dan semangat yang membara.
Sementara itu, tiga orang dengan satu orang sedang duduk santai di sebelah sana, jumlahnya total keseluruhan ada empat orang. Terdengar suara yang kira-kiranya begini bunyinya seperti kicauan burung unta yang hendak terbang, tapi tidak bisa.
“Tidakkah ini lumayan bagus mengenai dirimu, Aswa. Kau tidak pernah menyebut jasamu di hadapan kami di dalam kelompok ini. Tidak pula membuat janji manis.”
“Hahaha... janji manis? Cukuplah sudah, aku cukup menjadi diriku sendiri yang apa adanya tanpa dibuat-buat, aku tidak suka menyebut jasa ataupun janji manis seperti para raja yang sibuk menebar janji. Pun masih dihormati oleh para pengikutnya, walaupun banyak janji yang sudah mereka ingkari.” Aswa Daula main terang-terangan menyebutkannya. Memang mengucapkan janji itu mudah, melaksanakannya susah.
“Kami cukup tahu kau bukan orang yang seperti itu. Dan kau sering bertindak sesuka hatimu.. hati yang masih bersih dari sifat tercela seperti kau sebut sebelumnya.”
Benar saja. Aswa Daula memang begitulah orangnya. Dia suka mengikuti apa kata hatinya. Dia juga orang yang suka menjaga kebersihan hati dari dosa dan perbuatan yang sia-sia. Perbuatan yang justru apabila dilakukan itu bisa mengotorkan hatinya. Jauh sekali dari hal demikian. Dia amatlah bisa menjaga diri dari hal tercela lainnya.
Salah seorang di antara mereka berinisiatif bertanya mengenai pemikirannya tentang diri dan cerita Aswa Daula. Bagaimana cerita lama kala itu yang diceritakan oleh Tabra seakan memberi bekas yang tidak mudah untuk dihilangkan.
“Aswa Daula, sungguhlah mengenai satu hal tentang dirimu membuatku amat penasaran. Aku sungguh penasaran bagaimana cerita hidupmu? Bisakah kau menceritakannya langsung kepada kami? Katanya kau pernah bersama Kapten Zaiya dan bersamanya antara kau dan dia seperti ayah dan anak. Apakah itu benar atau sekadar cerita yang sengaja dibesar-besarkan agar kami tertarik? Mengenai cerita itu dan dirimu sebenarnya apakah benar atau tidak. Ataukah hanya cerita saja? Kau lebih muda dari kami.”
__ADS_1
“Suatu peristiwa yang membuatku kadang sering berpikiran lama tentang hal itu.” Dia mengucapkan kata serumit mie pasta yang tidak gunting saat memakannya. Panjang.
Dua orang lainnya juga setuju. Mereka bertiga kompak mengatakan hal demikian, meminta Aswa Daula bercerita.
Aswa Daula hanya tertawa. Dia yang usianya sudah mencapai angka ratusan itu masih bisa tertawa dengan leluasa kala mengingatnya. Dia tidak lagi galau.
Dia masih berjiwa muda. Apalagi dia pernah mandi di sumur panjang usia yang membuatnya seperti kanak-kanak yang baru berusia sepuluh tahun. Begitu pun yang lainnya. Pernah suatu waktu, tetapi tidak akan diceritakan di sini, itu kejadian lama yang terjadi tiga tahun lalu. Sumur panjang usia itu mengubah mereka layaknya seperti berumur sepuluh tahun dan di antara mereka lima belas sampai dua puluh tahun. Begitulah dengan limited usia mereka bisa bepergian lebih leluasa.
Para pengejar tidak akan bisa mengenali mereka lagi. Begitulah kiranya apa yang terjadi saat ini di antara mereka dan kelompok Bajak Laut Hitam tersebut.
Kiranya dahulu waktu itu bagai sebuah ranting pohon yang jatuh. Apa dan mengapa bisa terasa menyakitkan? Masa lalu yang usai lama terkubur sekian waktu.
Perdetik... sekian detik yang lama itu.
Masa lalu yang kian menyiksa batin itu bagaimana? Tersiksa akan masa lalu. Tapi, tenang saja di antara dirinya dan masa lalu sudah mampu berdamai. Dia sudah bisa menerima semua itu dengan sepenuh hati dan lapang dada. Selapang lautan yang sekarang ditatap olehnya sambil duduk bersantai bersama tiga awak kapal biasa, bukan termasuk kesepuluh anak buah.
Salah seorang berkata, “Kami tahu kami ini bukanlah teman dekatmu. Tapi, tidak ada salahnya, bukan? Kami hanya ingin tahu mengenai cerita itu langsung darimu.”
Aswa Daula tidak langsung mengiakan. Memang benar tidak ada salahnya. Tapi, kalau langsung bercerita. Hal itu jelas saja tidak menarik, dia membutuhkan basa-basi sebelum memasuki ke tahap cerita itu.
“Apakah kalian penasaran dengan ceritaku dan Kapten Zaiya itu?” Aswa Daula memulai basa-basi bertanya terlebih dahulu.
“Ya.”
__ADS_1
“Bahkan kami sangat penasaran.”
“Bagaimana cerita antara kau dan Kapten Zaiya yang sangat terkenal itu. Kami sangat penasaran bagaimana kapten yang menjadi legenda dengan terbunuhnya dia di tangan Kapten Lasha itu bisa bersamamu dan katanya lagi kalian berdua seperti ayah dan anak. Dan mengenai kabar betapa perkasa Kapten Zaiya itu seperti angin yang melesat menyinggahi wilayah, sangat cepat menyebar ke berbagai penjuru pulau dan negeri di dunia ini tentang kisah Kapten Zaiya dan terbunuhnya dia di tangan Kapten Lasha. Cerita itu sudah lama terjadi dan kau sekarang tampak tidak tua, bahkan kau lebih muda dan hanya seperti kanak-kanak yang sulit kami percaya.”
Tampilan tidak menjelaskan usia. Akma Jaya, Tabra dan Aisha. Dan kesepuluh anak buah lainnya sudah berubah seperti anak yang berusia antara sepuluh sampai lima belas tahun. Di antara itu Aswa Daula mendapat usia seperti sepuluh tahun. Mereka memasuki sebuah wilayah yang di sana ada sumur panjang usia. Itu cerita mungkin saja akan diterangkan pada masa-masa yang akan datang. Tidak di sini tempatnya yang akan memakan banyak waktu dan penjelasan. Di sini cukuplah ini saja. Kata salah seorang teman, jangan tergesa-gesa dalam menulis. Itu saja.
“Ya, beginilah dari tutur kataku kalian bisa menebak berapa usiaku? Ini hanya tampilan dan memang sekarang usiaku sepuluh tahun pada tampilannya. Pada sebenarnya usiaku lebih seratus tahun. Mungkin mengenai ini dan rahasia lainnya, lebih baik kalian tidak usah mengetahuinya.” Aswa Daula menjelaskan intinya lebih sedikit yang kau tahu itu lebih baik.
“Baiklah, maafkan atas kesalahanku sebelumnya. Kami hanya ingin kau bercerita tentang Kapten Zaiya dan dirimu. Tentang usia dan tampilan yang kau bicarakan, memang lebih baik itu tidak usah dibicarakan. Jadi apa kau mau menceritakannya kepada kami?” Salah seorang kembali mengutarakannya.
Aswa Daula mau menceritakannya. Tentu saja dengan senang hati dia mau menceritakannya, memang itulah moment yang sedaritadi dia tunggu-tunggu. Berbasa-basi seperti itu sengaja dibuat rumit. Walaupun benar adanya mengenai tampilan usianya adalah sepuluh tahun dengan usia ratusan tahun lamanya.
Ketiga awak kapal itu tampak senang kala mendengar hal demikian. Mendengar penuturan Aswa Daula yang mau menceritakannya kepada mereka.
Aswa Daula kembali menerangkan kepada mereka. “Sesungguhnya memang benar tidak ada bedanya di antara kami seperti ayah dan anak. Kapten Zaiya bagiku dulu dia begitu amat pemurah bagai matahari yang menyinari wilayah hidupku. Wilayah hidup yang dipenuhi rerumputan hijau. Rasanya kala mengingat semua itu, aku tidak sanggup membayangkan bagaimana dulu kalau dia tidak ada bersamaku. Ayahku bernama Walsa sering menyiksaku dengan mulut dan sebutan yang tidak manusiawi.”
“Hari itu, teman. Kau ingin tahu ceritaku di hari yang bagiku terasa seperti langit terbelah, hari itu juga pohon kujadikan tempat kenaungan untuk melihat berapa banyak waktu yang telah kuhabiskan. Kala kenangan hidupku menjadi bala bencana yang tidak pernah kuinginkan. Kalian ingin mendengarkan bagaimana ceritaku saat itu?” Di pojok kiri kapal. Aswa Daula ingin memulai cerita di pagi hari itu.
Yang mana matahari pun ikut tersenyum di langit menatap mereka dengan hangat.
Aswa Daula yang memulainya. Di pagi hari itu memulai cerita. Mereka awak kapal yang dalam jumlah mereka bertiga itu kompak bertanya dan ingin tahu tentang bagaimana cerita Aswa Daula dan Kapten Zaiya yang katanya perkasa itu. Mereka penasaran bagaimana sosok Kapten Zaiya yang gagah perkasa itu dalam memimpin kelompok bajak laut merah yang menjadi legenda. Dan kelompok bajak laut merah itu juga yang konon katanya ikut terlibat dalam peperangan besar yang dulu pernah terjadi di laut Farida, peperangan besar di antara para bajak laut. Kapten Zaiya usai itu terlibat duel dan tewas ditangan Kapten Lasha, ayah sang kapten Akma Jaya yang sekarang menjadi Kapten bagi Aswa Daula.
Pagi ini, kau tahu matahari seakan bersinar seraya tersenyum. Senyuman yang indah dipandang, hangat seperti bakpoa di ulang tahun Author kemarin. 5 Maret 2022.
__ADS_1