
Di malam hari yang dipenuhi kabut pekat serta bulan purnama bersinar terang. Kapal mereka terus melaju menuju benua Palung Makmur. Syukurlah saat itu, pelayaran mereka benar-benar tidak diketahui oleh bajak laut lainnya.
“Tabra, perlayaran kita akan menempuh waktu kurang lebih sembilan hari lamanya. Apakah kau tidak ingin beristirahat?” tanya tabib memandang Tabra.
Tabra menghela napas. “Entah kenapa aku merasa tak bisa beristirahat, kejadian yang baru terjadi, begitu menakutkan. Aku belum bisa melupakannya,” jawab Tabra dengan wajah sendu—tak bersemangat.
Tabib mengangguk. “Baiklah, tunggulah. Aku akan memasak sup untuk kalian berdua makan.” Dia berusaha memahami perasaan dua seorang anak yang sedang menunduk tidak bergairah. Berharap dengan sup akan mencairkan perasaan sedih mereka.
Dia seorang tabib yang cukup pandai memasak. Keseringan pergi merantau sembari memeriksa pasien. Dia belajar memasak, salah satu yang amat dikuasainya adalah memasak sup.
Tabra ternampak bingung. Aisha di sampingnya hanya diam, bagaimana mungkin seorang tabib itu ada bahan untuk memasak. Sementara, mereka berpergian dalam keadaan tidak membawa makanan.
Tabib tertawa. “Kau lihat isi tasku?” Dia mengambil tas, membuka dan memperlihatkan isinya. Tabra menatap senang, di dalamnya ada banyak bahan.
Bukan sekadar tanaman obat, melainkan bermacam makanan baku. Tas berukuran besar itu berada sejak permulaan di kapal, ternyata tabib dari awal tiba di desa Muara Ujung Alsa telah meninggalkan bekalnya di dalam kapal berukuran besar berlambang tengkorak dengan bendera merah itu yang tengah membawa mereka berlayar. Kapal milik Kapten Lasha.
Di dalam tas itu ada kantong khusus makanan baku yang dibungkus rapi. Bahan sup ternampak lengkap.
“Hebat. Bahan makanan ini cukup untuk sebulan.” Tabra menyengir lebar.
Tabib kembali tertawa. “Kau berlebihan, tidak cukup itu, perlu lebih banyak bahan untuk sebulan.”
Tabra mangut-mangut, tidak sekadar tersenyum. Dia juga tampak senang menatap tidak terlihat sedih lagi. Tabib beranjak meninggalkan mereka berdua. Dia memasak sup untuk mendamaikan suasana.
Kapal berukuran besar berlambang tengkorak dengan bendera merah itu dilengkapi dapur, juga peralatan masak lengkap. Bahan makanan baku juga lengkap, tabib memasak sup ikan dengan campuran sayuran.
Tepat beberapa jam berlalu, sup itu pun selesai dimasak. Masih mengepul aroma sedapnya, dituangkan ke mangkok.
“Tabraaa ... Aishaaa.” Tabib berseru memanggil. Mangkok disusun rapi di meja. Dia menunggu kedatangan mereka, sibuk menata makanan.
Mereka berdua pun berjalan menghampiri tabib yang tengah menata dan sekeliling meja sudah tersusun makanan. Betapa terkejut dan senangnya mereka melihat sup ikan dengan aroma sedap tercium.
“Ayoo ... kita makaan!” Tabib berseru. Dengan senyuman lebar duduk menatap mereka berdua. Dia telah selesai menata makanan.
Aisha dan Tabra saling pandang. Perlahan duduk di meja. Lalu perlahan mengambil sendok, perlahan memakan sup, satu hirup dengan meniup santai.
Setelah memakannya, Aisha tampak tersenyum, sedangkan Tabra memuji kehebatan tabib dalam memasak, tidak menyangka seorang tabib yang sedang ditatapnya ternyata bisa memasak.
“Kau hebat, sup ini lezat sekali. Jika kau membuat tempat jualan, pastilah sup ini akan laku berapa pun harganya.” Dia lanjut tertawa, menepuk pundak tabib berkali-kali.
Tabib tersenyum mendengarnya. “Ah, kau selalu berlebihan. Kalau begitu, kau harus makan sup ini hingga habis seluruh isi dari wadah itu,” ucap tabib menunjuk ke arah sup dengan wadah besar—tempat memasak.
“Mana mungkin, perutku tidak akan muat!” Tabra berseru dengan wajah datar.
Tabib tertawa. “Aku sekadar bercanda.” Tawa darinya membuat Tabra ikut tertawa, Aisha tampak hanya menyimak pembicaraan mereka berdua, tidak hirau.
Mereka bertiga menghabiskan sup, kini wajah mereka tersenyum. Kebersamaan membuat Tabra melupakan sejenak kejadian yang sebelumnya. Dia pun bisa beristirahat, lalu tidur nyenyak, begitu pun Aisha. Pada malam hari itu, mereka tidur dan nyaman tidak gelisah lagi.
***
Hari berlalu, tepatnya lima hari berlalu siang berganti malam. Pelayaran mereka sudah meninggalkan benua Maura Hiba, sekarang mereka memasuki samudra Albamia.
Pada pelayaran mereka yang sekarang. Di dalam kabin kapal. Tabra duduk di sisi Akma Jaya dengan maksud menemani sahabatnya. Saat itu, tiba-tiba Akma Jaya menggerakkan kening, mengerjapkan mata, lantas bangun dari tempatnya berbaring.
__ADS_1
Keadaan itu telah menandakan kesembuhan total dari racun yang bersemayam di dalam tubuhnya, sedangkan Tabra berada di sisi Akma Jaya. Dia jelas menatapnya. Lantas berteriak senang. “Akmaaa ... kau sudah sadar!” Tabra mengucapkan refleks dengan wajah tersenyum lebar, lalu memeluk erat seraya menepuk punggung Akma Jaya.
Teriakan senang darinya terdengar hingga keluar kabin. Aisha dan tabib yang tengah berada di luar ruangan bergegas mendatangi ke dalam kabin.
Di dalam dekapan Akma Jaya balas menepuk pelan punggung sahabatnya. “Tabra, apa kau baik-baik saja?” tanya Akma Jaya dengan raut wajah sedih.
Tabra melongo, melepaskan dekapan, menatap bingung. “Kenapa kau bertanya begitu?” Dia balik bertanya dengan raut wajah yang tidak enak disebutkan.
Aisha dan tabib itu pun tiba di kabin. Mereka menatap Akma Jaya yang tengah bangun dari berbaring, menatap tersenyum.
Sementara, Tabra bergeming heran. Akma Jaya belum menjelaskan apa pun. Seorang anak dari Kapten Lasha itu memandang tabib tersenyum. “Tabib, aku ingin berterima kasih kepadamu karena dirimu mampu mengobati racun yang bersemayam di dalam tubuhku.”
Tabib menepuk pundak Akma Jaya. “Itu sudah menjadi tugasku.” Dia lanjut bersalaman, bersitatap damai.
Baru saja apa yang dikatakan Akma Jaya dan tabib semakin membuat Tabra bertambah tercengang. Pun Aisha, mereka berdua sama tidak mengerti dengan Akma Jaya yang seakan mengetahui kejadian sebelumnya. Padahal, saat itu dia tengah terbaring lemah, berada di alam bawah sadar, tidak mungkin bisa mendengar ataupun melihat kejadiannya.
“Bukan sekadar tugas. Kau telah menyembuhkan racun di dalam tubuhku, bahkan menyelamatkan kami semua.”
“Iya, syukurlah ... kau sudah sembuh, juga kita semua bisa selamat dan kabur dari Kapten Kaiza.” Perkataan tabib kali ini semakin membuat Tabra pelongo-pelongo. Astaga, sebenarnya apa yang terjadi?
“Ada apa ini? Akma ... bukankah kau selama ini terbaring, tertutup mata, tidak bisa berbicara, bergerak dan lain sebagainya. Kenapa sekarang kau seperti mengetahui semua kejadian yang telah terjadi?” tanya Tabra langsung ke intinya, tidak bertele-tele. Dia lantang mempertanyakan dengan memandang serius.
Akma Jaya tampak mengangguk. Sekilas tertawa, lanjut menatap serius. “Iya, aku mengetahui kesemuaan kejadian, walaupun aku tidak dapat melihat, tetapi telingaku masih bisa mendengarnya, racun itu hanya melumpuhkan seluruh anggota, penglihatan serta ucapan, sedangkan pendengaranku masih bisa mendengar.”
“Apakah tabib tidak menjelaskan akan hal ini kepadamu?” Akma Jaya lanjut bertanya menatap serius.
Tabra mendengarnya, lalu cepat memandang ke arah tabib yang tengah mengelus jenggot, bersandiwara seakan berusaha mengingat kejadiannya. Tabra melontarkan pertanyaan absurd miliknya.
Tabra memaklumi akan hal itu, dia pun baru mengingatnya. Saat dikhalayak ramai, disaksikan banyak penduduk, juga bajak laut. Tabib mengatakan bahwa Akma Jaya masih hidup, bahkan bisa mendengar ucapan mereka. Ketika mengingatnya, dia tersenyum dan tak ingin membahasnya.
Sekarang, Tabra mempunyai satu hal yang dirasanya lebih berat. Di dalam benak pikirannya itu bergelayut rasa tak nyaman dan bersalah atas kejadian yang telah terjadi, kejadian yang tidak bisa dia cegah.
“Akma ... aku sangat meminta maaf kepadamu. Aku tak bisa melindungi ibumu, aku datang terlambat,” ucap Tabra dengan wajah menunduk. Tabib dan Aisha diam memandang.
Akma Jaya memegang tangan Tabra dan wajahnya tampak tersenyum. “Janganlah menyalahkan dirimu, justru akulah yang bersalah. Andai saja, waktu itu aku tidak terbaring lemah, aku akan bisa melindungi ibuku, tetapi saat kejadian itu, aku tidak bisa bergerak dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ini bukan salahmu, melainkan salahku. Pada saat kejadian itu, aku tidak tahu bahwa ibuku terkena tebasan, tetapi saat aku mendengar tangisan kalian, aku pun mengetahuinya. Waktu itu, saat kau mengatakan permintaan maaf kepadaku, aku pun telah memaafkannya.”
Melalui penuturan Akma Jaya yang didengar lembut, Tabra berlinang air mata. Dia seka perlahan, lalu memeluknya erat. “Ini baru sikap Akma yang kukenal.” Tabra dengan gembira menyertai mulutnya yang tersenyum lebar.
“Tabra, kau memelukku terlalu erat. Aku tidak bisa bernapas.” Akma Jaya meronta risih—berusaha ingin lepas, sama pada saat Tabra dipeluk Kapten Gaiha.
Tabra tertawa, melepas pelukan. “Tidaklah apa-apa, Akma. Apakah kau ingat kejadian saat kita di hutan, saat kita sedang mencari kayu untuk membuat sangkar, saat aku pingsan, lalu kau memelukku, sekarang aku pun sama denganmu.” Tabra mengingatkan kejadian masa lalu.
Akma Jaya mengingatnya, kini kedua sahabat itu tertawa saling merangkul satu sama lain. “Tabra, apa kau sudah makan?” tanya Akma Jaya memecahkan tawa di antara mereka.
“Hei, seharusnya akulah yang bertanya begitu, Akma? Kau terbaring hampir setahun. Kau tahu, itu membuatku merasa khawatir dengan edaran waktu yang menurutku begitu lama. Tiada rembulan dan tiada bintang di kegelapan malam itu tampak sunyi, siang matahari kutatap sendu.” Tabra melanglang sejenak.
Tabib tertawa. “Araiya. Kau berucap laksana terbit fajar di musim dingin.”
Tabra melongo—tidak mengerti. Aisha terkekeh. Tabib tidak melanjutkan ucapannya, malah izin pamit sebentar, katanya ingin lanjut membaca.
Seorang tabib berusia tua itu tidak bisa meninggalkan kegiatan rutinnya. Membaca kitab obatan tentunya, semakin tua katanya harus banyak mengingat kembali racikan obat dan berbagai jenis racun lainnya.
Di dalam kabin itu menyisakan mereka bertiga yang saling bercengkrama. Kebersamaan mereka seakan terbit, bunga-bunga bermekaran. Rasa rindu sebelumnya kepada keluarga terobati dengan kebersamaan. Tiada apa pun lagi di sisi mereka. Satu hal sekarang adalah mereka harus saling menjaga dan senantisa bersama melewati waktu hingga terjalin kekuatan kokoh tanpa goyah.
__ADS_1
Aisha menguap sejenak. Akma Jaya menyarankan supaya dia beristirahat. Aisha mengangguk. Sekarang, menyisakan Tabra yang tetap setia menemani.
“Akma, perlu kau tahu bukan hanya ibumu, ayahmu, juga bukan hanya diriku, melainkan Takma juga mengkhawatirkan keadaanmu. Dia senantisa berkicau menatap ke arah cakrawala, berharap kau sembuh dan bisa bermain dengannya.”
“Kau bergurau?” Akma Jaya tertawa. Ucapan Tabra seperti orang yang melanglangkan logika, secara pandang hewan tidak seperti manusia, lebih-lebih kemungkinan bisa saja itu terjadi. Susah dipikirkan. Akma Jaya hanya balas tertawa.
“Eh, tidak. Apa yang kukatakan itu benar, aku tidak bohong.” Tabra melambai-lambai, menepis dengan ucapan cepat.
“Bagaimana?” tanya Tabra lagi.
“Bagaimana apanya?” Akma Jaya balik bertanya. Bingung dan tak mengerti.
“Bagaimana perasaanmu, pastilah kau rindu dengan Takma. Sepertinya kau telah melupakannya.” Tabra mengangkat alis, menyilangkan kedua tangan.
Melalui penuturan Tabra. Akma Jaya sekilas membela diri, tercengang. “Ah. Takma?! Benar, aku hampir lupa dengannya. Di mana ia sekarang?” Akma Jaya bertanya seakan membenarkan perkataan Tabra.
“Sebentar, Akma. Aku akan membawamu ke tempat Takma, tetapi kau harus makan dulu, ayo ikutlah denganku.” Tabra menarik tangan sahabatnya. Lalu berseru memanggil tabib yang tengah sibuk membaca. Senyuman dari mereka terpampang jelas tampak berseri memenuhi suasana kebahagian.
Akma Jaya mengangguk. “Baiklah, Tabra. Kita berdua akan makan bersama. Kau harus setuju.” Dia sedikit memaksa.
Tabra sejenak melongo. “Eh, aku sudah makan.”
“Makan lagi.” Akma Jaya menyergah.
Tabib menghampiri mereka. Mempersiapkan makanan. Di meja makan itu, mereka berdua duduk menunggu tabib selesai menyiapkan makanan.
Beberapa menit berlalu, tabib kembali pamit setelah selesai menyiapkan makanan. Mereka berdua makan bersama. Saat itu, Tabra dengan lahap menyantap makanan, sedangkan Akma Jaya berwajah datar menatap sikap rakus dari sahabatnya.
Bukankah sebelumnya dia telah makan, mengapa sekarang dia seperti orang yang kelaparan. Akma Jaya bergumam di dalam benaknya. Tabra menatap sekilas memelesatkan tangan, menepuk meja. “Ayo, kita berlomba!” Dia berteriak lantang.
Akma Jaya diam dan hanya mengangguk sekilas, mereka pun berlomba melahap makanan dengan cepat. Beberapa menit, cepat sekali lahapnya. Mereka kekenyangan dengan perut kembung.
Tabra tertawa. Akma Jaya menghela napas, meminum air. Lelah, makan sebegitu lahapnya, cepat dan berlomba siapa yang akan menang, tetapi tidak ada piala emas. Mereka hanya mendapatkan piala berupa kesenangan. Itu pun cukup bagi mereka bersama mengisi waktu.
Dengan berakhirnya mereka makan. Tabra menuaikan ucapan. Dia membawa Akma Jaya ke tempat keberadaan Takma. Waktu itu, saat dia berlari bersama tabib dan Aisha. Dia sendiri yang menenteng sangkar. Tabib menenteng Akma Jaya di pundak.
Sementara, Aisha membawa pakaian yang terdapat di lemari. Mereka bertiga memelesat, membelah kabut, menuju kapal hingga sangkar burung itu diletakkan di haluan. Di situ terpampang kayu memandang di dekat geladak kapal.
Sangkar burung itu bertengger anggun menatap ke arah lautan. Ketika Akma Jaya tiba di tempat itu. Dia menatap senang.
Takma pun begitu, ia tampak kegirangan berkali-kali mengepakkan sayap, mengeluarkan suara khas miliknya. “Aakk—maa ... jaa—yaa.”
Akma Jaya tersenyum mendengar burung peliharaannya menyebut namanya. Dia pun memberi makan. Takma memetuk makanan, berkicau berulang kali.
“Wah, sepertinya Takma senang sekali melihat kau sudah sembuh, Akma. Lihatlah, dia berkicau saking senangnya.” Tabra menatap bergembira.
“Iya, aku pun senang bisa melihat dan bertemu Takma kembali. Sudah setahun lamanya aku terbaring, andai saja aku bisa melihat ibu, namun ternyata semuanya malah jadi begini, entah mengapa aku merasa sedih karena tidak dapat melihat wajah ibu ....” Akma Jaya menunduk sedikit sedih. Dia refleks mengatakannya.
Tabra menepuk pundaknya. Tersenyum menyemangati. “Iya, Akma. Aku pun juga begitu merasakan sedih. Tapi, aku sadar dengan bersedih kita tak akan bisa mengulang waktu. Desa kita sudah hancur, saat kapal bertolak pergi dan selama berada di laut meninggalkan desa. Aku jelas melihat kobaran api besar menyala. Saat itu, aku tidak pernah mengira kejadian itu menimpa desa kita, keluarga dan penduduk telah habis dibunuh oleh sekelompok mereka.”
“Tabra, apakah kau tahu bagaimana keadaan ayahku? Apakah dia masih hidup?” Akma Jaya mempertanyakan hal lain, mengenai ayahnya—Kapten Lasha.
Tabra menggeleng. “Aku tidak mengetahuinya, Akma. saat itu aku berada di tempatmu, menjagamu. Tabib datang memberitahuku bahwa ayahku telah terbunuh di tangan Kapten Kaiza. Di saat itu, ayahmu menghadapi Kapten Kaiza. Aku pun tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu, setelah Kapten Lasha berhadapan dengan Kapten Kaiza. Aku tidak mengetahuinya. Saat itu, tabib hanya melihat sebentar, di balik semak katanya lalu bergegas mendatangi ke tempatmu. Dia membawa kita berlayar meninggalkan desa.”
__ADS_1