
Pelayaran Altha bersama para kru kapal dan Qaisha seseorang yang akan menjadi guru bagi ketiga orang anak yang telah menunggu kedatangannya, kini mereka semua telah tiba di pulau Butariya.
Embusan angin damai bersemilir lembut menyentuh tubuh yang sekarang berada di ambang kesenangan. Oh, oh. Horreee!
Lautan berombak tenang, hawa pelayaran yang terhirup menenangkan. Asyik sekali para kru kapal menikmatinya dan kini bersyukur lebih banyak kalimat yang mereka ucapkan usai tiba tidak terjadi apa pun.
Perasaan yang sebelumnya saat berlayar mengatakan berbagai kecemasan kini telah sirna sudah. Kebahagian terbit laksana sinar matahari yang memancar dari raut wajah mereka ternampak menyinari dunia dengan pancaran sinar cerah bermandikan keringat basah bergumam syukur. Mereka merasa sangat bersyukur dan tak henti bercanda satu sama lain, saling menghibur.
Salah seorang kru kapal menghela napas, menatap lautan yang telah mereka lalui.
“Aku tahu ini sedikit berbeda dari yang kuharapkan, tetapi aku tetap bersyukur.”
“Memangnya apa yang kau harapkan?” tanya salah seorang kru kapal lainnya.
“Aku berharap bisa bertarung melawan bajak laut, tetapi kenyataan yang kutemui tidak begitu, teman.” Orang itu menyahutnya dengan senyuman yang terpampang menawan, bahkan giginya seakan bersinar.
Mengacungkan jempol. Temannya menatap tertawa. Dan Qaisha selaku orang yang akan melajarkan ilmu senjata kepada ketiga anak di pulau Butariya itu sejenak menghirup napas. Menatap ke arah pulau.
Altha menatapnya. “Ada apa, Qaisha?”
Sambil mengelus jenggot putihnya Altha menghampiri, menatap dengan raut wajah mantap bertanya. Menduga-duga hal yang rumit bagai tali kusut berajut benang.
Qaisha kembali menghirup napas pelan, mencoba berpejam. Sejenak membuka mata, melanjutkan diri menatap Altha yang tengah menghampirinya.
“Tidak ada apa-apa, Altha. Mengenai ini kurasakan sudah lama aku tidak berkelana menjelajahi dunia dan pulau ini seperti yang kau bilang bernama Butariya. Suatu ketika rasanya aku pernah dulu mendengar rumor yang beredar. Katanya di pulau ini terdapat makhluk yang banyak ditakuti dikalangan bajak laut mengenai makhluk bernama kraken. Apa itu benar, Altha?”
Qaisha mempertanyakan hal yang selama ini banyak beredar rumor dari mulut ke mulut. Membayangkan rasa yang berkecamuk dalam dirinya membentuk perasaan yang teramat gelisah resah memikirkan bahaya yang akan terjadi.
Altha mengangguk serius. “Ya, semua itu benar. Bahkan baru kemarin malam kami menatap kraken lebih besar dari sekadar rumor yang beredar. Wujudnya yang luar biasa, bahkan badannya dan sekujur tubuhnya ternampak jelas, walaupun saat itu di kegelapan malam, tetapi bagiku suatu keberuntungan aku bisa menatap lebih jelas dan itu luar biasa. Rumor yang selama ini banyak beredar di kalangan bajak laut dan masyarakat itu memang benar adanya.”
Altha menjelaskan perkara yang sebenarnya secara panjang lebar. Qaisha menyimak penuh berkepalan tangan, penuh rasa yang membuncah dan kurang nyaman di dalam benak pikirannya untuk saat ini.
“Qaisha, mengenai makhluk Kraken yang memang benar adanya, kau tidak perlu takut mengenai itu. Perlu kau tahu Kraken hanya muncul malam hari, ia tidak akan muncul saat siang hari. Pulau ini menjadi tempatnya tidur dengan kepala menancap ke laut dan tentakelnya menjulur ke pantai. Saat itu asalkan kita tidak menganggunya, ia tidak akan menyerang kita.”
Altha kembali menjelaskan. Qaisha mengangguk. “Begitukah, Altha. Kau adalah seorang pengamat yang luar biasa.”
“Itu bukan pengamatanku, Qaisha.” Altha menyergah.
Baginya buat apa berbohong dengan apa yang ada di pandangan mata yang hanya sebatas sementara. Dunia ini tak lama sekadar bernapas tanpa kesudahan.
Lelah letih dalam hal mencari makna kehidupan yang tebersit dipikiran. Membuat sungai-sungai bernaungan cahaya yang mendamaikan suasana.
Sebenarnya itu memang bukan pengamatan seorang Altha. Dia sekadar menuturkan perkara yang selama ini dia tahu akan semua itu bagaikan disiram air di kepala.
“Lalu pengamatan siapa?” Qaisha menatap tanya. Bahkan sedikit mengernyit.
Altha memang sejak dulu orangnya berbeda dari Qaisha kira. Altha adalah sosok yang sederhana baginya, tak mudah mengakui milik orang lain sebagai miliknya. Pun suatu temuan obat terkenal, dia sosok tabib yang tak minta dipandang ataupun dipuja puji.
Selama dalam hal ini perasaan yang kala dibahas panjang lebar melunturkan linangan air mata panas menjular ke dalam raga yang amat jelas terasa menyimpan perasaan begitu indah. Teramat indah bagai pancaran permata yang melebur dalam tungku api. Membentuk suatu keindahan karangan yang amat memanjakan mata.
“Semua itu adalah pengamatan Akma Jaya. Itulah pengamatan seorang anak yang akan kau latih.” Altha mengelus jenggotnya.
Qaisha sekarang tampak tertarik mendengarnya. Raut wajah tersenyum dan perasaan yang berusaha dia sembunyikan. Dari semula Altha ini begitu sangat sering menyebut-nyebut Akma Jaya.
Qaisha berpura tidak peduli dengan semua itu, walaupun perasaan melukis kalimat yang mempertanyakan hal demikian. Ia berusaha untuk menyembunyikannya.
“Altha, selama dalam hidup ini kurasakan warna yang begitu jelas terpampang bagai butiran mutiara yang indah. Ini sepertinya kau ingin mengajakku berpikir untuk tertarik dalam melatih anak itu, kau seakan sengaja melebih-lebihkan suasana untukku tertarik. Apa kau sekarang berbohong kepadaku?” tanya Qaisha.
Altha tertawa. “Hidup kadang memang sedikit aneh, teman. Kala dulu kita menatap ke arah yang berlawanan. Aku tahu semua tentang masalah yang terjadi dalam hidup ini. Kadang bercampur aduk di kelipatan warna yang membentuk penjelasan rumit dalam kehidupan ini. Dalam sekian warna yang ditatap sementara, inilah awal kebersamaan yang tiada sanggup kubayangkan. Aku tidak pernah berbohong, teman. Bukankah selama ini kau cukup mengenaliku sebagai seorang tabib?”
Qaisha bergumam tidak melulu diam dalam perkara ini. “Iya, kau adalah seorang tabib yang sibuk berkutat membaca buku-buku tebal dan selalu bersemangat menjalani hari, melewati hari-hari suram.”
“Aku percaya denganmu!” Qaisha lanjut berbicara dengan suara tegas, badan tegak berdiri menatap sedikit tertawa.
“Akma Jaya adalah harapan yang mungkin menjadi jawaban atas semuanya. Kuharap lautan yang selama ini berkecamuk akan dapat damai di suatu masa nanti.”
Altha menatap teduh. Raut wajah yang terbilang menatap Qaisha dengan rasa keyakinan yang begitu membara.
“Kau begitu percaya dengan semua ini. Walau bagaimanapun Akma Jaya hanyalah seorang anak kecil tanpa bisa kamu tahu apakah harapan itu dusta belaka atau hanya tipuan semata yang melanglangkan pikiran ke hadirat semu tanpa kesudahan air mata dan deraian nestapa!” Qaisha menjelaskan tutur kata yang melebihi hasrat seorang guru dalam kata mutiara.
Kata yang berguguran luar biasa tingginya serta memenuhi ruangan pikiran dengan jutaan atmosfer yang ternganga dan memberikan suatu makna yang tiada sanggup ditangkap logika dan akal sehat, bahkan terasa amat berbeda.
Altha kembali mengusap jenggotnya. “Iya, aku percaya dan itulah juga harapan Kapten Lasha yang dituangkan kepadanya!”
“Kapten Lasha?!” Qaisha sedikit tercengang saat mendengarnya. Kapten Lasha adalah kapten yang terkenal berdarah dingin.
“Kau mengenal Kapten Lasha?” Qaisha bertanya dengan raut wajah tegang.
Dentuman atmosfer perasaan yang amat menegangkan dan terasa jauh berbeda dari permulaan berjumpa. Inilah perasaan yang kalau dibahas akan memanjangkan kata ke ujung barisan yang teramat luar biasa.
“Iya, aku mengenal beberapa saat sebelum dirinya wafat!” Altha menatap serius.
Qaisha bertambah tambah tercengang saat mendengarnya langsung. Puyuuh, embusan napas tegang, jantungnya bergelamatup tup tup membayangkan seorang kapten yang selama ini terkenal ternyata telah wafat. Bagaimana mungkin? Sekilas pertanyaan membentuk bangunan megah di dalam benak pikirannya, membentuk aliran sungai yang memanjang luasnya.
Bertanya penuh pertanyaan yang menyeruak hebat dan memenuhi setiap ajang piala dunia yang melebar ke segala penjuru angan dan bermuara terus menerus kata di dalam sanubarinya.
“Altha, bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Kapten Lasha yang selama ini terkenal berdarah dingin dan hebatnya luar biasa ternyata bisa wafat?!” tanya Qaisha dengan pandangan mata terbelalak.
Altha menatap heran. “Mengapa kau tampak seperti orang yang tidak punya logika. Bukankah setiap manusia punya nyawa dan sekuat apa pun dia pasti akan merasakan mati. Janji hidup kita di alam rahim.”
“Dan sejatinya manusia itu diciptakan oleh Sang Maha Kuasa dengan kondisi tubuh yang lemah, putus satu urat saja. Maka akan berakibat fatal bagi kehidupan seseorang.”
Altha kembali menuturkan perkara yang amat jauh dari perkiraan Qaisha. Perkataan ilmu tinggi dan rasa yang membuncah dalam sanubarinya berkecamuk.
“Altha, sebenarnya bukan itu maksudku dan mengenai apa yang kau ucapkan sebelumnya aku memang tahu semua itu, manusia seperti kita ini hakikatnya memang diciptakan lemah. Sekuat apa pun hidup seseorang pasti akan berakhir pada masanya. Namun, sebelumnya aku hanya sebatas bertanya kepadamu mengenai penyebab kematian Kapten Lasha, ini begitu tidak bisa kupercayai begitu saja!”
Qaisha menjelaskan maksud ucapan sebelumnya yang justeru membebani perasaan kala mendengar ucapan Altha yang tampak mengusap jenggot putihnya.
Berdegum-degum jantung dan berirama konsleting. Membiarkan pikiran ternaung gelap di bawah awan yang berarak menutupi penuh dalam benak pikirannya.
Altha menatap serius. “Apakah kau tidak mempercayai ucapan yang sebelumnya kukatakan kepadamu, Qaisha?”
“Altha, aku tidak bermaksud begitu.” Qaisha menjawab ringkas.
“Oh, baiklah. Maaf, aku telah mengatakan perkara yang sepertinya menjadi beban pikiranmu dalam memikirkan masalah ini.” Altha melanjutkan bicara tenang. Menatap penuh dengan raut wajah mantap.
“Dan aku pun sama ingin meminta maaf kepadamu, Altha. Karena kadang ucapan tak selalu ditangkap sempurna, kadang bisa saja salah paham dan lain sebagainya.” Qaisha balas menuturkan ucapan lembut.
“Altha, aku percaya denganmu. Bisakah kau sekarang menceritakan itu kepadaku!” Qaisha lanjut bicara menatap dengan raut wajah pasti.
Altha mengusap kembali jenggotnya. Sedikit tersenyum. “Maafkan aku sekali lagi, Qaisha. Aku tidak mungkin menceritakannya sekarang karena cerita itu sangat panjang. Ringkasnya begini Kapten Lasha telah tewas dibunuh dan Akma Jaya adalah anak Kapten Lasha!”
Bagi Qaisha nada bicara Altha terdengar menajam, bahkan seakan menusuk perasaannya untuk saat ini.
Qaisha menelan ludah. Merinding sekujur badannya mengetahui bahwa seorang kapten yang selama ini terkenal malah mati dibunuh dan dia baru tahu ternyata Akma Jaya adalah anak Kapten Lasha. Perasaan yang membuncah hebat.
Mereka sekarang masih berada di dalam kapal. Bercengkrama di dekat tiang kapal sambil sesekali menatap ke arah lautan.
Kapal mereka sekarang telah bertengger di pinggir pantai, bahkan jangkarnya telah digugurkan ke pasir. Ketiga anak tengah menatap setia menunggu wajah-wajah yang habis melakukan pelayaran menempuh lautan dibantu angin ke kota Taiya.
“Ceritakanlah kepadaku!” Qaisha mendesak.
Altha mendehem. “Nanti saja saat ada waktu panjang buat kita berdua berbincang leluasa, maka semua itu akan kuceritakan kepadamu. Ngomong-ngomong ketiga anak itu telah menunggu kita di sana, lebih baik kita menghampiri mereka sebelum kebosanan di dalam benak pikiran mereka menghampirinya lebih dulu!”
Qaisha mendengus kecewa. “Benar, itulah yang saat ini juga kupikirkan.”
Altha menatap sekilas senyum beranjak pergi memutuskan pembicaraan. “Aku akan lebih dulu turun dari kapal.”
Qaisha diam seraya mengangguk. Menatap lautan dengan pandangan teduh dan masih membekas pertanyaan yang bertubi-tubi mengguncangkan angannya. Bagaimana mungkin seorang kapten yang selama ini terkenal itu bisa wafat dibunuh? Dan apa penyebabnya? Siapa yang bisa membunuhnya? Banyak pertanyaan yang memenuhi benak pikirannya saat ini. Dan ternyata anak yang diceritakan Altha selama ini adalah anak Kapten Lasha. Bagaimana mungkin anak itu berada di pulau Butariya? Adakah maksud dan penjelasan dari semua yang telah terjadi? Panjang lebar penjelasan dan banyak pertanyaan.
Altha pun tak banyak ucap menjelaskannya, sekarang ingin turun kapal dan perlahan berjalan menelusuri geladak.
Sementara, Akma Jaya bersama Tabra dan Aisha sudah menunggu lama di pinggir pantai. Menatap kapal menunggu kedatangan Altha beserta para kru kapal. Tersenyum menunggu.
Lihatlah wajah mereka bertiga yang cerah ceria menatap kedatangan kapal berukuran besar berlambang tengkorak dengan bendera merah tersebut.
“Uuhh, keripik ikan tuna!” Tabra tidak sabar.
Akma Jaya dan Aisha kompak menatap tertawa. Tabra tidak peduli dengan mereka berdua, sibuk menatap ke arah kapal dengan penuh rasa kegirangan. Berkepalan tangan dengan sorakan. Menanti kedatangan Altha terasa begitu lama, dia sangat tidak sabar.
Batang hidung Altha kini ternampak di penglihatan ketiga anak yang tengah menunggu kedatangan mereka. Perasaannya pun sangat senang. Bergumam rasa sekian warna keindahan.
“Uuuh, keripik ikan tuna!” Tabra kembali bersorak girang.
“Hei, Tabra. Tenanglah sedikit, kau itu daritadi berteriak terus!” Aisha menatap serius berkepalan tangan ingin menabok.
Tabra menjulurkan lidah. “Terserah aku!”
“Iih, dasar!” Aisha menggeram.
Dia sebelumnya telah mengepal tangan.
BUUK!
Tabra terkena tampar di kepala, sekarang mengusap kepalanya. Aisha sangat geram. Perdebatan terjadi saling melontarkan ujaran hingga Akma Jaya saat itu berusaha meleraikan mereka. Altha menatap dari kejauhan tampak sedikit tertawa menatap raut wajah Tabra yang luar biasa lucunya.
Tabra yang menatap Altha tampak tidak hirau lagi dengan Aisha. Dia membuat corong dengan ke sepuluh jarinya. Memekikkan suara.
“Altha, apa kau ingat pesanku? Hei, apa kau juga ingat katamu sebelumnya ingin membawakanku keripik ikan tuna?!” Tabra berseru-seru mengingatkan Altha.
Aisha menutupi kuping. “Tabra, suaramu membuat telingaku sakit!”
Akma Jaya tertawa. “Aisha, sudahlah. Tabra sekarang sedang senang, kau jangan merusak kesenangannya.”
Tabra mangut-mangut. “Nah, benar itu apa yang dikatakan Akma.”
Aisha mengerut merasa tidak ada yang mendukungnya. Menyilangkan kedua tangan di bawah dada.
Altha sekarang masih menuruni kapal tampak tersenyum mendengar seruan Tabra yang memekik suara nyaring. Saat dia turun sempurna dari kapal. Seorang tabib yang berusia tua itu langsung mengeluarkan dari bungkusan, memberikan keripik ikam tuna itu kepada anak yang tadi berseru-seru tidak sabar menunggunya lebih lama.
Tabra sekarang tampak senang. Dia bersegera mengambilnya. Memakan. Beuh, lahap sekali, dia menghabiskannya dalam hitungan menit. Akma Jaya dan Aisha cukup melihat enggan memakannya.
Walaupun sebelumnya Tabra berbasa-basi menawarkan, bahkan memberikannya dan menyuruh mereka berdua ikut makan bersamanya. Kedua orang anak itu kompak menggeleng. Hanya Tabra yang sekarang senang memakannya.
Sementara, Qaisha masih berada di kapal. Terdiam tanpa suara sejenak. Puas menatap lautan. Dia perlahan turun juga dari kapal. Berjalan pelan menghampiri mereka bertiga.
Tabra menelan ludah. Berbisik ke telinga Altha. “Hei, Altha. Siapa itu?”
“Dialah orang yang akan melatih kalian bertiga.” Altha balas berbisik.
Tabra tersenyum semringah. Wajahnya mengembang bagai balon. Haha, inilah yang mantap sebenarnya.
Salah seorang yang saat ditatap Qaisha adalah hanya satu orang anak yaitu Akma Jaya yang sangat membuatnya penasaran. Dengan langkah pasti menghampiri.
“Apakah kamu orang yang dimaksud Altha bernama Akma Jaya?” Qaisha menatap kuat-kuat ke arah Akma Jaya.
Dugaan memelesat dalam batinnya. Bergema memenuhi sekitaran udara. Tabra merasa cukup heran mengapa hanya Akma Jaya yang dia sebut. Terlalu.
Pilih kasih tidak memandang siapa orang yang ada di sampingnya kiri dan kanan. Tabra puas bergumam dalam batinnya. Tidak terima dengan perlakuan seperti itu.
Saat sebelumnya mereka berlayar mengarungi lautan. Antara Qaisha dan Altha banyak membahas perihal Akma Jaya, Qaisha terus mempertanyakan perihal Akma Jaya kepada Altha dan sosok tabib berusia tua itu pun menjawab sesuai apa yang diketahui olehnya.
Itulah mengapa yang menjadi bahan penasaran otaknya sekarang. Qaisha menatap serius. Sementara, Tabra mendenguskan napas, menatap ketus.
Sekarang, Qaisha kembali mempertanyakan hal perihal yang sama langsung kepada Akma Jaya, sedangkan Altha tampak menyimak apa yang Qaisha tanyakan. Dia sejenak tidak berbicara apa-apa.
“Iya, nama saya Akma Jaya,” jawab Akma Jaya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Dengan tatapan pasti, menatap dengan raut wajah serius. Sementara Tabra merasa semakin tidak suka bagai tidak dianggap. Qaisha itu menyebalkan di matanya.
__ADS_1
Tabra daritadi tidak ditatap sama sekali. Dia benar-benar tidak menyukainya. Dasar orang tidak tahu perasaan. Gumam suara bermuara di benak pikirannya saat ini.
Qaisha memperlihatkan senyuman yang terpancar bersinar. “Dengarkanlah, Akma Jaya dan kalian berdua, mulai sekarang aku akan menjadi guru kalian untuk kalian berlatih senjata. Maka dari itu persiapkanlah diri kalian untuk berlatih di bawah bimbinganku dan arahanku!” Qaisha menjelaskan dengan tutur kata tegas.
Tabra semakin tidak suka mendengarnya. Qaisha itu benar-benar pilih kasih, hanya nama Akma Jaya yang dia sebut, sedangkan namanya tidak disebut sama sekali.
Parah! Dasar orang tidak tahu perasaan orang lain. Tabra bersuara dalam batinnya, merasa tidak suka dengan hal demikian. Hei, ayolah. Jangan pilih kasih seperti itu membuat orang lain menjadi kurang nyaman perasaannya.
“Kenapa Anda hanya menyebutkan nama Akma. Bagaimana dengan kami berdua?” Tabra memotong ucapan Qaisha secara cepat setelah Qaisha selesai berucap.
Qaisha menatap tampak memakluminya, hanya balas tersenyum sambil sedikit menganggukkan kepala. “Mengenai itu karena aku tidak tahu nama kalian berdua.”
Itulah yang menjadi alasannya. Tabra merasa heran. “Eh, tunggu. Bagaimana mungkin Anda bisa tahu orang yang di samping saya ini namanya Akma Jaya?”
Tabra tidak habis pertanyaan. Altha geleng kepala. Pun sama Aisha menatap tidak suka, kakaknya itu seperti orang yang tidak tahu sopan santun sama sekali terhadap orang yang lebih tua darinya.
“Mengenai itu sebelumnya Altha telah banyak membicarakan Akma Jaya kepadaku. Dia memberikanku banyak informasi pengenalan sebelumnya.” Qaisha menjelaskan tanpa banyak protes.
“Heh, Altha. Kenapa hanya Akma yang kau jelaskan kepadanya? Aku dan adikku kenapa kau tidak menyebutnya juga?” Tabra sekarang menatap tajam ke arah Altha.
Beralih tatapan yang semula menatap Qaisha geram, kini menyalahkan semuanya dengan tatapan tajam ke arah Altha.
Tabra bahkan tidak segan segan menatap tidak suka. Mengerut.
Altha tertawa berusaha memecahkan suasana. “Tabra, kalau ingin tahu ada banyak hal yang tidak mungkin kujelaskan semuanya. Biarkanlah ia menjadi kejutan!” Dengan suara parau, sosok tabib berusia tua itu menjelaskan maksud ucapannya.
“Ah, mana bisa begitu. Kau memang tega melupakan kami berdua begitu saja.” Tabra menyilangkan tangan.
Kembali menatap serius. “Tapi, sudahlah. Tidak perlu membahasnya lagi!”
Akma Jaya tersenyum seraya menepuk nepuk bahu Tabra. “Kurasa apa yang dikatakan Altha ada benarnya. Tabra, coba kau pikirkan sepertinya lebih baik begini, bahkan rasanya seperti kejutan di antara kalian untuk saling berkenalan. Dan itu akan menjadi moment berkesan bukan?”
Perkataan Akma Jaya terdengar di telinga Tabra kini keluar bagai air dingin yang menentramkan. “Hmmm, sepertinya itu masuk akal, Akma.”
Tabra tertawa mengalihkan pandangan ke arah Altha yang semula disalahkannya.
“Altha, baiklah. Ini memang tidak perlu dibahas lagi, aku percaya kau tidak mungkin melupakanku bukan?”
Altha balas tersenyum. “Persis sama seperti yang dikatakan Akma Jaya. Ini menjadi kejutan untuk kalian bisa berkenalan.”
Damai suasana. Qaisha daritadi hanya terdiam memperhatikan mereka saling bicara. “Baiklah, kalau begitu perkenalkanlah nama kalian berdua kepadaku!” Qaisha melanjutkan bicara usai keadaan damai.
Tabra sekarang tidak banyak ucap lagi. Dia lantas membungkuk, memberi sikap hormat kepada Qaisha. “Perkenalkan nama saya Tabra dan dia adik saya Aisha.”
Tabra memperkenalkan diri dan Aisha yang sebelumnya berbisik meminta agar kakaknya menyebutkan namanya. Aisha ternyata malu berkenalan. Itulah alasan mengapa Tabra memperkenalkan dirinya sekaligus Aisha di sampingnya.
Qaisha menatap paham. “Baiklah, Akma Jaya, Tabra dan Aisha. Sekarang, persiapkanlah diri kalian untuk berlatih di bawah bimbinganku dan arahanku!”
Qaisha kembali mengulangi ucapan sebelumnya. Tabra mengangkat tinggi-tinggi tangannya ke udara.
“Tunggu, saya baru ingat bahwa Anda belum memperkenalkan diri kepada kami, siapa nama Anda?” Tabra sekarang kembali memotong perkataan Qaisha tepat saat Qaisha selesai bicara.
Altha menatap sedikit tersenyum. Menahan tawa. Raut wajah Qaisha berbeda saat sekarang Tabra memotong ucapannya. Padahal, jauh sebelumnya Altha sudah pernah menjelaskannya.
Tabra sekadar mengulangi kalimat tanya. Kemungkinan dia tidak ingin merasa sia-sia dalam hal bertanya, sekali tanya kurang puas. Altha bisa saja berbohong. Dugaan itulah yang saat itu ada di dalam benak pikirannya, memastikan kebenarannya.
Aisha sedikit menyikut lengan Tabra. “Hei, kau itu tidak sopan bertanya seperti itu.” Sedikit berbisik ke telinga kakaknya.
“Biarkan, aku ingin tahu kebenarannya!” Tabra balas berbisik.
Aisha berwajah datar. “Heleh.”
Kedua kakak beradik itu saling pandang, sama sama ketus keduanya.
Qaisha sekilas mendengarnya. Berusaha memaklumi seorang anak kecil yang masih apa adanya berbicara, sedangkan Akma Jaya menatap tersenyum, juga menahan tawa seperti Altha. Itulah yang saat ini dirasakannya. Puyuuh, bahkan luar biasa melebihi pikiran dan lain sebagainya.
Entah mengapa Altha sekarang merasa senang dengan kebersamaan mereka, bahkan terasa begitu menyenangkan di dalam sanubarinya. Menatap kedua kakak beradik itu saling melakukan tingkahnya yang tampak sangat akrab.
Qaisha tidak memedulikannya. Menatap dengan raut wajah serius.
“Perkenalkan namaku Qaisha,” jawab Qaisha dengan nada bicara serius. Raut wajah yang berusaha diatur tersenyum semringah.
Tabra dan Aisha mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perdebatan. Mereka menyimak, menatap Qaisha yang memperkenalkan namanya.
Tabra mendengus pelan. Dia sudah tahu namanya Qaisha. Itu berarti Altha tidak berbohong. Batin Tabra bersuara memandang bersipit mata. Hanya Aisha dan Akma Jaya yang tidak tahu nama Qaisha.
“Semoga kalian bisa menerimaku sebagai guru kalian.” Qaisha melanjutkan bicara.
Akma Jaya mengangguk senyum saat mendengarnya. “Iya, salam kenal dan semoga kami bertiga juga bisa menjadi murid yang baik dan selalu menurut!”
Sekarang Tabra merasa kurang nyaman mendengarnya. Itu terdengar seperti kalimat canggung. Dia pun tertawa. “Namamu Qaisha? Hahaha, nama macam apa itu?”
“Hei, Tabra. Tutup mulut!” Aisha menyergah.
“Itu tidak sopan!” Kembali berbisik.
“Aisha, kau tidak asyik!” Tabra tidak suka, menyilangkan tangan di dadanya.
Akma Jaya menengahi di antara mereka berdua supaya tidak berkelanjutan. Lama-lama lelah juga menengahi mereka, kakak beradik itu menyebalkan memang.
Qaisha mendengarnya berusaha memaklumi. Wajarlah, seorang anak kecil.
Selama ini ada banyak orang yang dia temui, tetapi sedikit sekali bertemu anak-anak. Entah mengapa hatinya sekarang merasakan perasaan yang berbeda, sangat tentram dan terasa merasuk ke dalam jiwa bagai ditiup tiup angin dingin.
“Baiklah, kurasa kita tidak perlu banyak bicara basa basi lagi karena kalian sudah mengenal namaku. Maka dari itu persiapkan diri kalian untuk berlatih di bawah bimbinganku dan arahanku!” Lagi-lagi Qaisha mengulangi ucapannya.
Persis ucapan itu membuat suasana mencari cair kembali. Ketiga orang anak itu menatap ke arah Qaisha.
“Yeaah, saatnyaa. Ayooo kita berlatih!” Tabra bersorak nyaring, semangat. Dengan berkepalan tangan dan wajahnya senang.
Aisha menggeram di dekatnya. Akma Jaya kini menatap serius. “Kami bertiga siap berlatih di bawah bimbingan serta arahan dan siap menjadi muridmu!”
“Baiklah, sebelum kita mulai latihannya. Aku ingin memberi tahu saat berlayar ke pulau ini berniat melatih kalian, aku membawa senjata yang akan kuberikan sebagai hadiah dan bentuk perkenalan antara kita semua.” Qaisha menjelaskan.
“Tunggu sebentar. Senjata itu ada masih ada di kapal, aku perlu mengambilnya.” Qaisha lanjut menjelaskan.
Ketiga anak itu menatap serius, tidak bergerak cukup memperhatikan lebih saksama mendengar ucapan Qaisha.
Saat ini Tabra tidak sabar sekali mendengarnya. Dia begitu girang menatap ingin sesegara mungkin memegang pedang, memainkan dan menebaskannya.
Qaisha beranjak menuju kapal. Meninggalkan mereka. Dia terus berjalan ke arah kapal berniat ingin mengambil senjata buat ketiga orang anak tersebut.
Menit demi menit berlalu, Qaisha keluar kapal kemudian di tangannya sudah memegang empat senjata yang lumayan membuat Tabra bertambah senang.
“Uuh, Akma. Kau melihatnya bukan? Ini bagus sekali buatku!”
“Iya, Tabra. Sepertinya kau tampak bersemangat sekali, ya.” Akma Jaya tertawa menatap tingkah laku Tabra.
“Kita memang harus bersemangat dalam hal ini, Akma. Dengarkan kataku selagi napasku terus menghirup udara. Selama itu jiwaku akan terus bersemangat!”
Tabra mengeluarkan kata mutiara yang baginya teramat disukainya sekarang. Akma Jaya balas menatap tersenyum. “Iya, kau memang seperti itu sejak dulu kukenal.”
Tabra balas menepuk pundak Akma Jaya sedikit kencang. Tersenyum semringah.
“Kau juga sama, sahabatku.”
Mereka berdua saling tertawa senang. Sementara Altha di sana memperhatikan ekspresi ketiga anak yang ditatapnya dengan raut wajah senang.
Kesenangan yang menambahkan rasa manis dalam kehidupan. Membahana kalimat dengan jutaan warna yang menggembirakan suasana di antara mereka.
Itulah senjata pedang berjumlah tiga dan satu senjata pistol. Qaisha sekarang membagikan masing-masing senjata.
Akma Jaya menerima pedang dan begitu pun Tabra, sedangkan Aisha menerima dua senjata yaitu pedang dan pistol.
Tabra merasa heran kenapa adiknya menerima dua senjata sekaligus. Bagaimana mungkin bisa terjadi? Dia dan Akma Jaya hanya memegang satu senjata dan bagaimana mungkin adiknya itu menerima dua senjata sekaligus.
“Apakah Anda merasa tidak salah dalam membagikan senjata kepada kami? Mengapa Aisha menerima dua senjata. Sementara kami berdua hanya menerima satu senjata? Ini tidak adil!”
Tabra tidak menerimanya begitu saja dengan keputusan Qaisha. Itu baginya sama saja tidak adil dan tidak mencerminkan sosok seorang guru.
Pada saat sebelumnya, Qaisha cukup memperhatikan talenta yang dimiliki Aisha. Dia adalah orang yang bisa menilai kemampuan seseorang dari hanya melihat saja, dia mampu mengetahuinya.
Kelebihan dirinya semenjak lahir yang mana dia bisa menatap lebih lama dari apa pun. Memperkirakan perkara dengan wujud yang sama kuatnya dalam hal menebak dan lain sebagainya. Warna hidup yang terpampang menawan, membentuk asar-asar yang melebihi angan kala membahasnya.
“Aisha memiliki bakat memegang dua senjata dan itu akan lebih hebat dari kalian berdua.” Qaisha menjelaskan kepada mereka bertiga.
Tabra tidak percaya. “Bagaimana mungkin Anda berucap seakan tahu segalanya!”
Altha memegang bahu Tabra. “Tabra, saat ini perlu kau tahu bahwa Qaisha sejak dulu punya kelebihan yang sangat tidak bisa ditangkap logika, tatapan matanya yang dianugrahkan oleh Sang Pencipta. Qaisha mampu memperkirakan talenta di dalam diri seseorang, walaupun hanya sebatas menatap. Bahkan kelak di suatu saat kau akan menyadarinya. Percayalah, Tabra.”
“Hahaha, aku tidak percaya.” Tabra tertawa seakan menunjukkan rasa ketidakpercayaan terkuatnya. Bahkan terbilang sangat tidak wajar ditangkap logika.
“Altha, sudah cukup mengenai tentang diriku yang seharusnya kau sembunyikan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Aku memohon kepadamu jangan mengatakan perkara tentangku lebih lanjut lagi!” Qaisha menjawab penuh dengan rasa yang membuncah di pikirannya.
Perasaan yang menjulang ke hadirat Sang Maha Kuasa, rasa bertumpuk yang memenuhi sanubari dengan jutaan kata yang melanglangkan pikirannya entah kemana. Rasa yang luasnya terbentang dengan jutaan kilometer jaraknya.
Tabra menatap bersalah. “Qaisha. Sepertinya Anda tidak berbohong. Kali ini saya percaya saat tahu Anda tidak marah ketika saya mengucapkan perkara yang bisa membuat perasaan Anda marah, ternyata Anda tidak marah sama sekali, itu menjadi bukti terkuat. Kali ini saya percaya!”
“Tabra, rasa kepercayaan itu memang harus ada di antara perasaan seorang guru dan perasaan muridnya agar terjalin suatu hubungan yang kuat dan bisa saling memahami. Tabra, sekarang kau adalah muridku. Bahkan bagiku kau tak perlu sungkan mengatakan kalimat aku dan katakanlah seperti biasanya tak perlu mengatakan kalimat Anda. Dan entah mengapa itu bagiku terdengar kurang nyaman.” Qaisha menjelaskan sambil tersenyum menatap teduh.
Tabra tersenyum. “Baiklah, aku akan mematuhi perkataanmu!”
Tabra sekarang senang sambil berdecak kagum dalam benaknya melirik ke arah Aisha karena sekilas mengetahui adiknya memiliki bakat yang luar biasa seperti yang disebutkan oleh Qaisha.
Dan dia pun mempercayai semua ucapan Qaisha tersebut. Sedikit tanpa banyak hal yang perlu dikatakannya lebih dalam.
Pada suasana saat itu, Altha tiba-tiba saja mendehem. “Kalau bisa kalian jangan terburu-buru.”
“Qaisha, apakah kamu tidak ingin beristirahat usai melakukan pelayaran sebelumnya?”
Sekilas terdengar nada bicara Altha seperti menegah, mengajak Qaisha untuk beristirahat, tetapi Qaisha menolaknya. Menggelengkan kepala.
“Saat ini aku ingin melatih mereka dengan cepat! Selama aku hidup kamu tahu sendiri memang beginilah caraku melatih seorang murid. Bagiku kecepatan, juga kemampuan sangat penting, keduanya itu adalah fondasi mereka untuk terus maju!” Qaisha menjawab, menunjukkan tatapan serius.
Altha selama ini memang mengenalnya. Sosok Qaisha yang terbilang egois, tetapi pengajaran yang diberikannya tidak melulu salah. Bahkan hampir semua murid yang dilatihnya sukses menjadi seorang pendekar pada masanya.
Bayangkan dulu di kota Taiya terjadi peperangan hebat. Banyak orang berguru kepada Qaisha supaya mampu melindungi kota Taiya dari incaran penjahat.
Bahkan Kaira sendiri selaku pemimpin kota mengarahkan prajuritnya berlatih di bawah bimbingan Qaisha, sekaligus kekasihnya sendiri. Alasan dan pengembangan diri yang begitu tahu membuat perasaan kala itu berkecamuk bimbang.
Sementara, ini masa berbeda dari pendekar. Banyak bajak laut berkeliaran di lautan sana. Hingga sekarang perasaan mereka tahu mengenai berbagai macam prasangka selama ini yang membabi buta guncangan.
“Hidup memang singkat, Qaisha.” Altha bersuara parau mengingatkan.
“Akan tetapi, kau harus bisa memilih waktu antara terus berlatih dan beristirahat!” Lanjut bertutur seraya menjauh.
Qaisha tersenyum. “Itu sudah pasti.”
Ketiga anak itu menyimak dengan tidak ingin menyahut sebagai bentuk sopan santun, tidak mencampuri perkara urusan orang lain dengan sembarang ucapan.
Altha dari kejauhan memalingkan pandangan. “Qaisha, kau tetap sama seperti dulu, tidak berubah sama sekali!”
Qaisha tersenyum mendengarnya. “Hidup ini memang akan terus berjalan seiring berjalannya waktu seseorang yang temui dengan kukuh mempertahankan sikapnya selalu.” Qaisha menjelaskan.
Altha menepis tangan. “Heh, Qaisha. Kau tidak berubah!”
Dia terus berjalan hingga sampai di luarnya. Qaisha tidak hirau lagi, menatap ketiga orang anak di hadapannya.
“Mari, kita mulai latihannya!” Dengan suara pasti, Qaisha berucap.
__ADS_1
Ketiga orang anak itu kompak mengangguk. Serentak menjawab. “Ayoo!”
Beuh. Mereka sangat bersemangat sampai-sampai bebek saja kalah kalau berlari bersama mereka.
Latihan mereka pun dimulai. Mereka mulai berlatih, masing-masing pedang berada di tangan. Tabra terlihat begitu bersemangat menjalani latihan. Pun Akma Jaya juga sama dengannya.
Sementara Aisha sekarang kesusahan memegang senjata. Dia benar-benar belum terbiasa menggunakannya.
Apa yang dikatakan Qaisha seperti perlu latihan yang sangat lama supaya Aisha bisa memegang dua senjata sekaligus. Itulah di dalam benak pikiran Tabra saat ini.
“Aisha, semangat!” Akma Jaya memberikan semangat dari kejauhan.
Tabra pun sama. “Aisha, kau harus semangat seperti kami ini!” Tabra sangat memberikan dukungan.
Qaisha memperhatikan. Lalu menghampiri Aisha yang tengah bersikeras memegang senjata tampak kesusahan. Itu sangat tidak bisa digenggam Aisha.
“Senjata ini sangat berat!” Aisha menggerutu kesal.
“Aku tidak bisa menggunakannya!” Aisha lagi-lagi menggerutu sangat kesal.
“Aisha, percayalah dengan talenta terpendam yang kamu miliki. Peganglah senjatamu sekali lagi, pastikan kamu memegangnya dengan erat dan rasakan talenta terpendam yang kamu miliki!”
Qaisha datang memberikan arahan dengan suara tegas. “Munculkan dan rasakan lebih dalam agar kamu bisa menggunakannya!”
Akma Jaya dan Tabra tampak memberikan dukungan yang sama. Aisha kembali bersemangat mengepal tangan.
“Aisha, semangat!” Akma Jaya berseru dari kejauhan, memberikan dukungan.
“Ba—baiklah!” Aisha sejenak menyahut terbata mendengar suara dan arahan Qaisha lebih saksama. Dia tetap berusaha mencoba yang terbaik.
Berkali-kali senjata itu jatuh dari tangannya, tetapi dia tetap berusaha lagi, lagi dan lagi terus menerus mencoba seperti yang dikatakan oleh Qaisha sebelumnya, bahwa Aisha memiliki bakat memegang dua senjata, itulah yang menjadikannya bertambah semangat dan menatap dukungan yang diberikan Akma Jaya.
Aisha terus menerus berusaha berkali-kali mencobanya. Senjata itu berulang kali juga tak berputus asa terlepas dari genggaman.
Seakan memiliki nyawa dan enggan dipegang. Aisha sekarang mengembuskan napas lelah. Tabra memperhatikan dari kejauhan.
Haduuh, raut wajah Aisha ternampak lain dari biasanya. Bahkan sangat tidak nyaman ditatap. Keringat bergerombol penuh di area pelipis tidak diseka. Malah menggerutu sendirian.
“Sepertinya aku memang tidak punya bakat memegang senjata. Qaisha itu pasti berbohong. Bagaimana mungkin aku bisa, rasanya aku tidak akan bisa!”
Itulah sekilas gumaman Aisha dengan raut wajahnya yang mengerut. Tabra jelas memperhatikannya sedikit tertawa, tetapi dia sembunyikan agar tidak ketahuan Aisha.
Repot juga kalau sampai Tabra ketahuan menertawakannya. Bisa-bisa kepalanya akan benjol kena tabok dan kasihan nantinya.
“Aisha, jangan berputus asa. Kau pasti bisa, jangan menyerah hanya kau sekarang belum terbiasa menggunakan senjata itu!” Tabra berseru-seru.
Mencoba memberikan motivasi kepada Aisha agar semangat dan tidak berputus asa.
Berulangkali Tabra menyerukan suara. Memberikan dukungan terbesar bagi Aisha untuk terus semangat dalam latihannya.
Terlebih bagi Tabra ini baru latihan. Di mana setiap orang yang berlatih, tentulah akan merasa kesulitan di awal. Jadi, wajar saja kalau Aisha belum bisa, hanya perlu usaha dan terus berusaha.
Tabra mendongak, menatap langit yang berisi awan didampingi kebiruan yang tampak menawan. “Aisha, kalau sekarang kau lelah ingin berputus asa, maka tataplah langit di atas sana!”
Tabra berseru menunjuk ke permukaan langit. Aisha tidak mengerti apa maksud dari ucapan Tabra tersebut.
Kebiasaan si Tabra ini memang kadang membingungkan dan perasaannya pun tidak nyaman dipikirkan, menyebalkan. Hingga saat itu Aisha menatapnya sangat geram, bahkan telinganya terasa sakit kala mendengarnya. Tabra sekarang menjadi sosok yang sangat tidak disukai Aisha.
“Hei, Tabra. Kalau berbicara itu yang jelas!”
Aisha balas berseru ketus, tidak suka dengan seruan Tabra sebelummya. Dasar tidak jelas—batin Aisha bersuara.
“Aisha, kau ingat sama kata pak tua waktu kita di desa dulu. Katanya alam semesta ini terlalu luas, tak sepantasnya bagi seseorang menggemakan keluh kesah. Yakini dan cukup jalani kehidupan sebagaimana mestinya. Begitulah katanya!” Tabra mengingatkan Aisha. Berseru-seru lebih nyaring dari sebelumnya.
Itulah perkataan pak tua di desa Muara Ujung Alsa dulu. Kejadian itu terjadi di persawahan yang mana duduk salah seorang pemuda bersamaan Tabra dan Aisha saling bercengkrama hingga pak tua pun datang menghampiri. Ikut bersama mereka bercengkrama hingga mulut pak tua itu berucap menerangkan panjang lebar mengenai pengalaman hidupnya agar pemuda itu dan Tabra, juga Aisha bisa belajar darinya, mengambil suatu hikmah yang terkandung di dalamnya.
Aisha menutup mulutnya. “Oh, iya. Itu dulu. Sekarang aku mengingatnya.”
Air mata sejenak ingin menetes. Namun, Aisha berusaha saat itu menahannya agar tidak menetes. Itulah, Aisha yang kini mengingatnya kembali ingin menangis persis terpampang kejadian semua itu bagai berada di sana. Rindu dengan berbagai kejadian di desa Muara Ujung Alsa dulu.
Rindu teramat dalam. Hubungan yang telah lama ada, sekian lamanya dalam keinginan tanpa kesudahan yang nyata.
Desa yang telah menjadi porak poranda, juga penduduknya yang telah dibunuh semuanya. Membayangkan semua itu Aisha tidak sanggup menatap lebih lama.
Dia memegang erat senjata, bertekad untuk bisa membalas dendam terhadap bajak laut yang telah menghancurkan desanya.
“Benar. Aku harus bisa!” Aisha berteriak lebih keras dari sebelumnya. Lebih kuat bertekad bahwa dirinya mampu dan bisa untuk menjadi yang terkuat.
Tabra mengusap hidung. “Aisha, semangat!”
“Kau itu harus bisa!”
Dengan lebih leluasa tentunya. Wajah yang bersimbah senyuman, juga sedikit tawa. Kebersamaan mereka terasa lebih segar ditatap, lebih nyaman dirasakan.
Qaisha memperhatikan seakan terkenang masa lalu. Di mana dirinya dulu bersama Kaira waktu kecil berlatih, inilah yang terasa masa lalu di atas masa lalu.
Terkenang masa dulu, masa yang telah berlalu, sekian lamanya. Air mata yang jatuh mengalir pilu, tertahan seakan awan mendung di langit, tak bisa dibendung dengan sekali tatap. Kehidupan memanglah berbeda. Ini lebih dari rasa yang mendalam.
Rasa yang terkenang
Ini tak akan lekang
Oh ... rasa yang hilang
Cinta dan kasih sayang
Dulu dia memberi sekuntum bunga
Bunga indah berdaun jingga
Kebahagian masa muda
Bersama dengannya adinda
Qaisha melantunkan syair di dalam batinnya. Rasa yang dulu dirasakannya terkenang kembali bagai tetesan air hujan yang membasahi dataran tandus perasaan. Mengalir ke sungai-sungai. Hidup yang dirasakan tentram dulu seakan ingin kembali mengulang waktu.
Apa daya dan upaya diri
Waktu dulu tak akan bisa kembali
Perasaan sesal nanti-nanti
Daun jatuh melayang teringat mati
Wahai hati
Bergembiralah untuk saat ini
Besok dan selalu begini
Qaisha kembali melantunkan syair di dalam batinnya. Oh.. angin yang berembus dari selatan ke utara, sampaikan salam Qaisha kepada sang kekasih yang tinggal di kota Taiya sana. Dia masih mencintainya, masih menyayanginya. Oh.. angin yang berembus dari segala penjuru, sampaikan salam Qaisha kepada sang kekasih yang tinggal di kota Taiya sana. Dia masih mencintainya, masih menyayanginya.
Kaira seorang pemimpin di kota Taiya sana menderita lebih lanjut akan siksaan gejolak atmosfer yang tak tentu dari butanya mata jabatan sementara. Warna yang ditatap semu belaka. Warna yang ditatap hampa.
Qaisha mendongak, menatap langit yang terpampang kebiruan dan bergerombol awan yang menggeremet.
“Kaira, penantian lama yang berujung ini akankah bisa kukatakan lebih lanjut kepadamu. Dan rasanya mencintaimu adalah jalan hidupku, aku tidak bisa menyingkirkan rasa yang kurasakan pada diriku. Rasa ini terus membebaniku dari waktu ke waktu. Dari hari ke hari selalu mengingatmu. Walaupun saat itu aku berniat lepas dari janji itu, tak bisa kumungkiri kota Taiya berdiri atas janji dan hidup semati kita bersama. Aku tak bisa melupakanmu, Kaira.” Qaisha masih menatap langit di pulau Butariya.
Sementara, di langit kota Taiya mendung dengan gema petir menyambar. Kaira di tempat singgasananya menatap keluar jendela. Pun sama, mengenang Qaisha.
“Qaisha, aku merindukanmu. Persis dulu saat cuaca begini engkau hadir dengan bait syair menghiburku. Dengan lantunan nada yang membuat perasaanku tenang. Aku takut petir dan guntur, engkau hadir menenangkanku. Kapan engkau akan kembali, semudah itukah kamu melepaskan janji itu dan pergi meninggalkanku. Oh, tuhan yang Maha Kuasa. Rasa rinduku begitu hebat terasa.”
Kaira takut petir dan guntur. Saat itu mendung dengan cahaya terang di langit, sosok wanita itu tertegun di jendala menatap langit kelabu. Tak lama, kilat menyilaukan datang. Kaira merasakan ketakutan dan bersegera menutup tirai.
Dia menutup telinga. Dengan kecamuk perasaan yang sama dengan Qaisha, saling merindukan satu sama lain.
Perasaan yang terjalin sama rata. Wajah yang tenang tentram ditatap, ternyata menyimpan rahasia di lubuk sanubari. Menyesak rasa yang kian lama dirasakan.
Qaisha mengusap air matanya. Sejenak kembali menatap ketiga orang anak itu yang saling berlatih. Mereka sekarang sudah resmi menjadi guru dan murid, berjibaku bersama dan bersemangat. Mereka berlatih dengan perasaan yang sama untuk saling menguatkan tekad satu sama lain.
Qaisha berharap mampu memberikan pelajaran yang bisa diterima ketiga orang anak itu dengan mudah. Tidak rumit, dia tidak berniat merumitkan latihan, hanya saja sejak dulu memang begitulah latihan yang diajarkannya kepada para murid tanpa terkecuali siapa pun dia.
“Semoga mereka juga bisa mengerti cara yang kuajarkan. Inilah tahap pertama latihanku yang tidak biasa.” Qaisha bergumam lebih detail memperhatikan.
Sementara Aisha masih kuat berlatih dengan tangan dan pikirannya berkuat tekad. “Aku pasti bisa!”
“Aisha, ingatlah ada banyak waktu untuk kita terus bisa berlatih dan ini adalah hari pertama. Kau tidak boleh berputus asa, teruslah semangat!” ucap Akma Jaya sama seperti Tabra memberi dukungan kepada Aisha agar terus semangat.
Aisha mengangguk. “Baiklah, Akma, Tabra. Aku akan mencobanya terus, aku tidak akan berputus asa,” jawab Aisha sambil menunjukkan wajah tersenyum.
Pada latihan mereka, Qaisha selaku seorang guru sibuk mengawasi penuh perhatian, memberikan arahan dan contoh beberapa gerakan pedang yang harus mereka ingat dan cermati dengan teliti.
Qaisha berdecak kagum menatap kemampuan Tabra yang memelesat dengan gerakan yang sangat mudah dia pelajari.
Entah mengapa berbeda tatapan dengan Akma Jaya yang tampak kehilangan kemampuan pedang. Qaisha menatap heran ke arah Akma Jaya.
Dari arah kejauhan, dia memperhatikan semua gerakan pedang Akma Jaya dan itu terlihat buruk sekali. Bahkan mengecewakan dengan nilai 50 dibawah standar yang berlaku dalam akademi.
Qaisha menghampiri Akma Jaya. Memasang niat ingin memberikan arahan dan pengajaran yang efektif.
“Akma Jaya, seperti kau kesulitan menjalani latihan yang kuberikan. Maka, sejenak rasakanlah kehendak pedangmu, arahkan ia dengan sedikit mengikuti pergerakan tiupan angin, satukan dirimu dengan angin yang menyentuh ujungnya.”
Qaisha menerangkan lebih lanjut mengenai hal tersebut, bahkan sangat luar biasa dipandang dengan teknik pengajaran dari dirinya yang terbilang lumayan.
Akma Jaya mengangguk. “Baiklah, aku akan berusaha semaksimal yang kubisa!”
“Baguslah, rasakan dengan lebih leluasa bergerak mengikuti arah angin.” Qaisha kembali menuturkan arahan.
Sosok guru yang terlebih inilah yang sangat dirasakan diluar angan, tentram didekap jiwa meronta untuk kesekian kalinya.
Akma Jaya kembali berlatih dengan tekad dan semangat yang membara. Seakan bara api berkobar. Dia terus berlatih dengan keras mengayunkan pedang.
“Akma, entah mengapa aku daritadi memperhatikanmu sepertinya gerakanmu melemah. Apa mungkin itu terjadi karena sebelumnya kau terkena racun dan aku yakin kemampuan pedangmu yang sekarang seakan benar-benar menghilang. Itu semua karena racun yang hari itu bersemayam di dalam tubuhmu.” Tabra menatap prihatin kepada Akma Jaya.
Menduga penyebab semua itu adalah karena racun yang sebelumnya masuk ke tubuh Akma Jaya. Dugaan yang bisa benar atau salah, semua itu tidak pasti.
Akma Jaya juga sempat berpikir hal demikian. Akan tetapi, untuk apa sekarang memikirkan hal tersebut.
“Kemungkinan apa yang kau bilang itu memang benar, Tabra. Kemampuan pedangku yang sekarang melemah dan mungkin itulah penyebabnya. Tapi, sekarang aku akan berusaha lebih keras lagi supaya aku bisa mengembalikan kemampuan pedangku yang selama ini menghilang!”
Akma Jaya berucap optimis. Berteriak, “Aku pasti bisa!” Dengan napas terputus, dia mengayunkan pedang dipandu arahan yang telah diberikan Qaisha sebelumnya.
Tabra semakin bersemangat mendengarnya. “Baiklah, aku juga pasti akan lebih kuat darimu, Akma!”
Mereka berdua berlatih dengan tekad, juga persaingan yang ketat seperti raga berotot, berlomba mengangkat kayu yang paling berat. Hingga ditentukan pemenangnya.
Itulah mereka yang bersikukuh saling bersaing satu sama lain. Membuktikan diri siapa yang terkuat dan terhebat.
Qaisha memandang mereka dengan tatapan yang menunjukkan ekspresi bahagia karena melihat mereka bertiga sangat bersemangat dalam latihan yang diberikannya.
Sementara, Altha telah beristirahat di dalam rumahnya. Rasa lelah telah menyelimuti tubuhnya dan wajar saja seorang tabib tua dengan tubuh yang tak lagi muda, tetapi Altha masih memiliki beberapa keinginan yang harus diwujudkannya.
Di lain keadaan dari itu semua, dia menderita sejenis penyakit batuk-batuk, tetapi bukan batuk pada umumnya. Dia mengetahui usianya tak akan lama lagi karena merujuk dari beberapa pasien yang telah datang kepadanya, berbagai penyakit tersedia obat dan bisa diobati, tetapi penyakit tua tidak ada obatnya dan tidak bisa diobati. Dia mengetahui betul kondisi tubuhnya karena dia adalah tabib.
Ringkasnya Altha beristirahat. Berbeda dengan Qaisha yang tampak sibuk memperhatikan latihan mereka bertiga.
Di mata Qaisha mereka bertiga cukup ajaib. Dengan mudah mencerna arahan yang diberikannya. Pengalaman Qaisha mengajar cukup lama, telah banyak bertemu murid, mengerti sikap dan sifat para muridnya.
Itulah yang terpampang dalam pikirannya. Ini baru pertama kali Qaisha mendapatkan seorang murid yang tidak butuh waktu lama dalam mencerna proses pengajarannya.
__ADS_1