Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)


__ADS_3

Kapten Atlana mengamuk di markas besarnya. “Mengapa! Mengapa! Mengapa!”


“Mengapa mereka selalu saja bisa meluluskan diri! Seharusnya Akma Jaya itu mati saja!”


Amarah yang luar biasa. Usai hari itu pertarungan mereka di tengah laut. Ceramahnya yang panjang dan lain-lainnya terasa tidak berarti lagi.


Kelompok bajak laut hitam itu memang menampakkan niat sang kapten untuk memberontak. Dia merasa gagal total ingin memusnahkannya.


Akma Jaya membuat kesalahpahaman baru. Api fitnah tersebar lagi di kalangan kapten lainnya.


“Kapten, sebaiknya Anda beristirahat untuk sejenak menghibur diri dan berjalan-jalan menikmati pemandangan kota di pagi ini.” Salah seorang bicara.


Kapten Atlana menghampiri piano. Memainkannya. Tekanan nada berbunyi klasik itu menyertai suasana pagi itu. Baginya hal yang tidak bisa disanggah akal pikiran adalah pemberontak harus dimusnahkan.


Kapten Atlana kembali mengirim utusan untuk menyebarkan surat ke penjuru negeri.


...SURAT DENGAN CATATAN MERAH!...


...WAHAI SELURUH PARA BAJAK LAUT! KITA TERUS MENCARI KELOMPOK BERALIRAN HITAM ITU. MEREKA TENGAH MELAKUKAN PELAYARAN MENUJU KE ARAH TIMUR. WILAYAH KERAJAAN DI SANA TIDAK ADA BAJAK LAUT. KIRIMKAN SELURUH ARMADA DAN KITA BASMI MEREKA DI SANA....


Usai surat tersebar. Puluhan kapal berlayar menuju arah timur. Kapal-kapal besar dengan peralatan lengkap siap untuk berperang. Ini seperti kisah lama.


Asra Burona terkekeh dalam andai perandai mengucapkan kata, “Inilah maksudku, Tabra. Hari yang akan kau tunggu sebentar lagi menemuimu.”


Tabra tersedak. “Siapa yang membicarakanku?”


“Tentu bukan aku.” Dasasa menyahut. Dausa ikut menimpali, pelayaran kala itu baru dimulai.


Bola berkilat putih itu berada di kamar Asra Burona menghilangkan cahaya matahari, gelap gulita dalam relungnya pun berkata berbeda.

__ADS_1


Dalam keadilan hukum duniawi yang katanya terbias cahaya, apalah artinya berlayar lebih nyaman hidup di daratan dengan suasana hening nan tentram.


Di pelupuk mata. Di ujung lorong kesekian ribu peristiwa, menggambarkan akan suatu perbandingan. Kapten Atlana menggenggam erat tangannya.


Kibaran bendera di atas layar. Dia penuh keyakinan. Membendungkan air dalam bendungan.


“Akma Jaya, semakin kau lari dari kenyataan! Semakin kau akan binasa di tangan kami.” Kapten Atlana siap berlayar bersama puluhan kapal lainnya.


Sorak sorai menghiasi lautan yang disinari cahaya keindahan di pagi itu. Para bajak laut amat senang, Kapten Atlana dipuji seperti keagungan ayahnya.


Lautan di semenanjung barat di penuhi kapal. Memang dari dulu semenjak hari itu dimula punya kisah pilu di ujung sejarah lama dalam kekuasaan orde lama. Waktu Kapten Zaiya masih muda dengan perawakan gagah dalam mencari nafkah.


Kapten Zaiya menuturkan, “Selalu punya mata bagi orang yang bisa memikirkan, selalu punya telinga bagi orang yang punya insting.”


Pengembara lautan di sana juga ikut menimpali. Tapi, detektif Shen Kolong tidak bisa mendapatkan peluang emas untuk memusnahkan masa jabatan Kapten Zaiya. Berbagai fitnah juga terasa percuma.


Itulah gelar pertama yang terjadi. Menembus Pilar Tujuh Lantai. Kapten Zaiya menghabisi semua orang yang memberontak. Kapal-kapal itu tenggelam dan orangnya ditawan. Kekuasaan itu tidak berlangsung lama, perang meletus di lautan Farida.


Andai perandai Kapten Atlana menyuarakan semangat di antara para bajak laut. Ini sebuah malapetaka yang akan menimpa Bajak Laut Hitam.


Bagaimana Kapten Atlana bisa tahu pelayaran mereka? Apa yang menjadi firasat Tabra benar.


Raja Hurmosa mengirim utusan untuk menangkap Akma Jaya setelah pertimbangan matang. Perjanjian itu tidak lebih hanyalah seperti umpan yang manis.


Raja Hurmosa menuturkan, “Tanpa adanya bajak laut di lautan. Maka, lautan akan sepi dari jarahan. Sementara, kerajaan kita berkembang dari harta yang sering dibuang-buang oleh para bajak laut itu.”


Bajak laut itu memang kadang lucu. Di mata Raja Hurmosa, dia puas mendapatkan peti-peti yang mengambang di laut. Seperti merampok hanyalah kesenangan bagi mereka. Akma Jaya telah melakukan kesalahan besar bagi setiap orang yang menginginkan bajak laut itu tetap ada. Bahkan kebaikan para bajak laut itu tidak bisa disepelekan bagaimana jasa dan murah hati mereka.


Itulah benak orang yang mendukung bajak laut. Akma Jaya hanyalah pemberontak. Dia mencemari warisan leluhur. “Aku harus bertindak!”

__ADS_1


Raja Hurmosa ini mengenal Kapten Atlana. Ini menjadi hal yang pertama baginya berkomunikasi.


Lautan menyimpan banyak misteri, duhai teman. Kadang yang jahat di mata orang bisa saja baik di mata orang lainnya. Sebaliknya pun demikian.


Penjahat yang harus dimusnahkan itu adalah Akma Jaya beserta kelompoknya. Mengatasnamakan Bajak Laut untuk memberontak, ini adalah masalah internal di antara mereka yang harus dibalas satu demi satu.


Dibicarakan ujung ke ujung hingga semuanya menjadi jelas siapa yang jahat. Siapa yang memang penjahat.


“Kalau hanya masalah kebencian saja, mengapa mereka berlayar ingin memusnahkan para bajak laut? Ini hal yang lawak! Mereka juga bukan pelawak!”


Diskusi saat dulu menyertai pidato Kapten Atlana di Wilayah Nanaina. “Seperti halnya dirimu, kalau kau membenci, satu hal yang lebih baik kau lakukan adalah pergi jauh dan tak berhubungan lagi dengan apa pun di dunia luar yang kejam.”


“Sepertinya dendam di masa lalu menjadi sebuah alasan mereka untuk berlayar dengan hal keji seperti itu. Mereka adalah penjahat yang mengaku atas jalan kebenaran. Mereka adalah penjahat yang mengaku atas jalan kebajikan. Yang tidak lebih semua itu hanyalah omong kosong.” Kapten Atlana berujar di antaranya puluhan bangku bersudut dan bercorak hitam itu menjadi tempatnya menancapkan pedang.


“Sepatutnya kita musnahkan kelompok mereka!” Kapten Atlana berujar lagi yang membuat seluruh kapten di sana bersorak setuju.


Semenjak hari itu pula, Bajak Laut Hitam menjadi sebuah kebalikan cerita, para rakyat bahkan ikut mengutuknya. Padahal, mereka tidak punya salah di antara para penduduk yang bermukim.


Ini hanyalah masalah internal yang sukar dijelaskan bagaimana keadaan pastinya saat itu. Kapten Atlana berpuas diri menyebar api fitnah di kalangan rakyat dan para bajak laut yang tidak tahu detailnya.


“Lasha, kalau saja kau masih hidup.” Kapten Makya melihat brosur pengumuman tentang Akma Jaya.


Lebih tepatnya tentang kelompok yang dipimpin oleh Akma Jaya tentulah gambar sang Kapten berada pada brosur tersebut. Brosur bertuliskan kelompok Bajak Laut Hitam itu penjahat.


Dia batuk-batuk. Kapten Gaiha berada dalam istana kepimpinannya usai pensiun. Anaknya berkuasa kini atas jati diri yang sebenarnya telah tiada.


Jabatan terasa bagai angin sepoi. Tiada lama berselang menikmatinya, waktu seakan menjawab setiap pertanyaan di masa dulu dan kalimat selamat tinggal bermuara dalam pusaran rindu.


Rindu yang tidak sanggup diterangkan bagaimana cerita ini bisa berbelok dari kebaikan menjadi kejahatan. Di mata orang yang punya penilaian.

__ADS_1


Penilaian itu ada kalanya benar, juga bisa salah. Inilah cerita bajak laut Hitam. Menunggu di lorong ketidakpastian sang kapten dalam memimpin.


__ADS_2