
Mencintai sebuah karya seni rasanya membuatku galau dengan seribu bahasa.
“Baiklah, teman. Entah mengapa aku ingin menulis cerita ini lagi, hanya rindu.” Pada suatu hari Author Gabut ingin kembali menulis cerita yang tampak menyebalkan ini, menjanjikan berbagai kosa kata ambyar.
Dia bicara sendirian, memang bulan Januari ini, rasa rindu kadang sering muncul pada tahun sebelumnya. Di saat itulah hari yang menyebalkan. Layar komputer menyala, jam menunjukkan jam 05 sore waktu setempat sambil menikmati cahaya senja yang menawan itu. Begini ringkasnya.
Ashraq sedikit tertawa. “Hei, kawan. Bangunlah dari mimpi konyolmu, dia orang yang selama ini kau cintai sudah punya orang yang dicintainya, dia tidak sedang bergurau saat bersamamu dia tidak ingin. Bangunlah dari mimpi konyolmu. Dan kau tahu, saat ini kau hanya dijadikan olehnya sebagai batang sapu yang dia perlukan buat menyapu masalahnya.”
Ashraq sering menggerutu akhir-akhir ini, jiwa pemuda itu tidak mencerminkan sedikit pun rasa kawan atau bilasungkawa atas kejadian yang menimpa sesosok pemuda teman di hadapannya. Yang sepertinya seperti keseleo tulang. Eh, salah, sedang galau maksudnya!
Sambil membuka mata pelan, dia melingkar mengusap wajahnya. “Biarlah.. kau ini mengganggu orang yang sedang tidur saja, biarkanlah dia... yang penting dia bahagia, itu sudah cukup buatku melihatnya bahagia dan aku merasa bahagia.”
Dia bangkit layaknya orang yang sugar bugar, tampak tidak ada sakit hati. Ashraq memulai ocehan sederhana yang tampak seperti sebuah ceramah kaset rusak di tengah rimbun pepohonan daun kelapa.
Dua jam berlalu, ceramahnya sangat panjang. Kalau orang yang tidak biasa mendengarnya, tentulah akan sakit tambah sakit! Baiklah, ceramah memang bagus!
Tapi, ceramah yang menggurui? Oh, astaga. Pemuda itu menelan ludah pahit, habis bangun tidur langsung kena ceramah.
Dia memblokir semua nomor WhatsApps temannya dan menghapus aplikasi itu. Eh? Gak juga, mana ada. Itu zaman kuno.
Belum ada lebih tepatnya.
“Kita tidak ingin melampiaskan masalah, memulai cerita ini sederhana, teman. Kau tidak bisa memulai terburu-buru atau keluar arah sesuka maumu.” Nah itu suara temannya Author yang mengetik tulisan ini.
__ADS_1
“Baiklah—baiklah, aku mengerti.” Author itu kembali membanting kemudi untuk mencari sebuah ide, apa yang saat itu terbesit dalam otaknya? Ah, entahlah.
Cerita ini dimulai. Layar diembuskan angin, inilah pelayaran yang mendebarkan dada.
Diksi-diksi modern itu benar sekali. Rasanya kekuatan cinta sudah mengakar kuat membuat parit-parit sungai yang luas.
“Kapten, lautan di sana ada berita yang sering dibicarakan banyak orang. Bajak Laut Nirwana membuat jebakan di antara lautnya. Bagaimana mungkin kita bisa melewati perbatasan di antara laut itu.”
“Dengan tombak!” Akma Jaya menjawab ringkas, dengan tombak?—Apa maksudnya? Wah, mengerikan.
“Kapten, apakah Anda bercanda. Ini masalah serius, tidak ada waktu bercanda di antara kita. Lebih-lebih kabar yang saya dengar lautan di sana begitu banyak jebakan. Amat mengerikan, bahkan bisa menenggalamkan kapal yang lewat.”
“Itu hanya cerita orang setempat saja, kita hadapi dengan tombak. Tiupan angin dan ombak itulah yang menjadi patokan kita.”
“Mustahil bisa ditembus, kapten. Entahlah melihat banyak kenyataan tiupan angin dan ombak kadang sering tidak bersahabat dengan bangsa manusia.” Kalpra menyahut ringan, mengeluarkan argumen.
Oh, astaga. Tabra menamparnya di pergelangan tangan, tepat di bawah bahunya. Aswa Daula tak bisa menahan tawa. Beberapa juga ikut tertawa.
“Kapten yang bodoh bertemu dengan kita memang hal yang menyenangkan.”
“Bisa dibilang begitu.” Mereka berbisik-bisik dan rupanya entahlah.
“Kita mempunyai pusaka untuk memerintah angin, tenang saja. Selama pelayaran ini kita akan dibantu oleh roh angin.” Akma Jaya menjawab dan meninggalkan mereka.
__ADS_1
Wujud dari telinga mendengar. Suara-suara bisikan itu terdengar sekali, telinga sang Kapten itu sudah terasah semenjak dia berumur tiga tahun. Inilah satu kali pendengaran menangkap pembicaraan mereka. Bagaimana kondisi hati saat itu?
Menjauh adalah caranya untuk tidak ikut menyertainya dan mendamaikan hati untuk tetap bisa menerima. Akma Jaya memegang topinya dengan bayangan masa lalu yang tidak bisa dia lupakan.
Salam rindu yang tak akan sama, rindu yang sangat membekas. Masa lalu itu memang ada di belakang, pengingat diri di saat jiwa itu terombang ambing tanpa arah.
Salam rindu yang tak akan sama, rindu yang sangat membekas. Masa lalu itu memang ada di belakang, pengingat diri di saat jiwa itu membimbang tanpa arah.
Di depan kapal Jalbia tak kisah dengan mereka semua. Dia sibuk menikmati pemandangan lautan yang damai tanpa gangguan. Lautan sepi jauh dari samudra para bajak laut itu. Pengejaran lama mengenai kesalahan masa lalu masih saja lekat sampai saat ini, terasa membekas.
“Apa kehidupan kelompok ini akan berakhir di tangan musuh atau di lautan. Aku memikirkan hal yang tak bisa kutemukan sisi baiknya. Aku ingin bebas dari kelompok ini dan menjalani hari-hariku sebagai rakyat biasa saja, tetapi semuanya sudah terlanjur, nasi usai menjadi bubur. Para kelompok bajak laut itu pasti akan mengejar kelompok ini dengan wajah yang sudah ada di daftar buronan sampai ke akarnya.” Jalbia bicara sendirian.
“Andai saja waktu itu aku tidak ikut bergabung dengan kelompok ini, tentulah jalan hidupku saat ini tidak serumit ini.”
Andai perandai terbayang di sana. Walaupun di kitab yang pernah dipelajarinya bahwa berandai andai itu tidak diperbolehkan. Dengan kalimat andai saja itu bisa mengundang penyesalan yang tak tertahankan. Begitulah apa yang terjadi padanya, menyesal dan andai saja.
“Andai saja aku bisa memutar waktu, kembali ke masa lalu. Andai saja aku bisa melihat kedua orang tuaku. Andai saja aku bisa melakukan semua itu, tentulah aku bisa bersyukur dengan hidup yang saat ini kujalani, walaupun bagaimana aku selalu rindu akan masa lalu yang sedikit aneh itu.”
Jalbia terus menerus berbicara sendirian. Itu cara sederhana baginya untuk merasakan ketenangan dan menghilangkan kesepian dalam dirinya. Bagaimana dulu di desa Daura dia hanya seorang anak yatim piatu yang diasuh oleh seorang guru.
Dari kejauhan Glosia tampak melihatnya. Bagaimana raut wajah Jalbia mengingat-ngingat tentang masa lalu. Itu dapat dirasakan oleh Glosia karena mereka berdua sudah bersahabat sejak lama.
Hari itu genap rasanya usia melewati dua puluh tahun, ketika bersama-sama. Wujud kerinduan itu mengakar kuat di dalam hati.
__ADS_1
Mereka bersahabat sejak lama, lama sekali. Hingga rasanya tak akan ada seorang pun yang bisa memisahkannya. Salam Rindu akan segala kenangan dan pengharapan lama, salam rindu yang begitu membekas.