
Tabra berdiri dari semula berduduk. Matanya terpancar tajam. Berjalan perlahan Dengan niat ingin menghampiri Aisha yang tengah bersuara serak, lantas setelahnya tampak menunduk. Tabra melihat semua itu seakan mengerti perasaan adiknya.
Langkahnya perlahan maju, menghampiri seorang adik yang kini menunduk.
“Aisha, sudahlah jangan kau pikirkan. Kapten baik-baik saja. Kau harus percaya dia pasti akan baik-baik saja.” Dari arah belakang, seorang kakak lebih tua usianya itu memegang bahu adiknya, berusaha menenangkan perasaan yang berkecamuk tak tentu arah pikiran.
Aisha sedang menangis sekarang, tetapi dia menyembunyikan wajah dengan menunduk. Padahal, air matanya jelas ternampak.
Air mata yang jatuh tidak deras, sembab berlinangan memenuhi sekitaran pandangannya terus mengalir ke pipi. Bentuk tangisan tanpa sedikit pun ada suara. Rasa cemas yang tertahan di kerongkongan, sesak mendalam, merasakan dirinya penuh ketakutan.
Tabra memandang bukan sekadar main-main. Dia memancarkan tatapan serius dan peduli. “Aisha, percayalah kapten baik-baik saja.” Dia kembali berusaha menenangkan perasaan adiknya. Tangisan pecah kala Tabra menyebutkannya lagi.
Sebagian anak buah bergumam Tabra tidak tahu perasaan wanita. Kasihan, sosok lelaki yang tengah mereka tatap adalah kumbang paling tidak tahu mana bunga layu mana bunga segar. Boba menggeleng-gelengkan kepala, mengasihani melalui gumaman.
Kalboza lelah berdiri. Perlahan dia duduk menghirup napas. Sementara, Jalbia terciduk sedang berbisik-bisik. “Mereka ini orang-orang cengeng!”
Glosia di sampingnya menjawab, “Benar, cengeng. Kapten menghilang saja sampai tujuh keliling tinggal cari beres masalah.”
Kalboza bangkit menghampiri mereka. “Kalian berdua sedang tidak ada kerjaan atau kurang sopan santun. Lebih baik kalian diam!” Kalboza tampak marah. Glosia mengangkat bahu, Jalbia tersenyum mengalah.
Mereka berdua kompak saling meminta maaf, enggan berdebat. Kali ini mereka lebih memilih untuk menurut dan tidak saling melontarkan ucapan.
Aisha tak menjawab. Diam seribu bahasa baik mulut maupun anggota tubuh lainnya.
Jauh di dalam lubuk hatinya, wanita semampai berambut pirang itu mengenang kembali hubungan yang selama ini terjalin cukup lama, hubungan satu sama lain antara keluarga dan teman.
Mereka bukan lagi seperti teman biasa, melainkan keluarga yang saling melengkapi di saat suka maupun duka. Kesemuaan itu telah mereka lewati bersama.
Permasalahan yang tengah mereka hadapi mengenai Akma Jaya sosok kapten yang menghilang ditelan ilusi atau kenapa tidak diketahui alasannya. Tabra sekilas menduga ada portal dimensi yang kemungkinan sang kapten masuk ke dalamnya. Menghilang dan berpindah tempat yang jauh dari sini.
Sekarang, perasaan bingung melanda pikiran mereka. Jelaslah sudah, mereka bukan orang yang berpengalaman dalam masalah ini, mereka tidak punya kemampuan yang bisa membantunya.
Pikiran seakan berkelana jauh meninggalkan diri mereka. Apa yang akan mereka perbuat untuk menyelamatkan sang kapten dari kedalaman lubang jurang yang bahkan mereka sendiri tidak tahu seberapa dalam lubang tersebut. Itulah sekilas mengenai apa yang mereka pikirkan.
Para anak buah bergeming tanpa suara sedikit pun, terdengar helaan napas dari Boba, lalu disikut Glosia.
Mengenai ucapan Aisha sebelumnya cukup membuat para anak buah mengernyit dan berusaha menenangkan diri mereka. Seorang wanita berani menyebut mereka orang munafik. Astaga? Tidak bisa diterima.
Dengan sikap bijak. Mereka semua sekilas memahami seorang wanita, enggan menabok ataupun menghunus pedang.
Jalbia berpejam mencoba mencari solusi dan cara miliknya. Dia tidak ingin tahu, tidak ingin memikirkan lebih banyak mengenai perasaan wanita. Dia pernah trauma mendengar perkataan seperti laknat.
__ADS_1
Disebut munafik atau apalah itu lebih tajam dari apa pun. Tentunya tidak nyaman didengar. Kalau orang yang mengucapkannya adalah Kalboza atau yang lainnya, tentulah akan terjadi perdebatan lagi, lagi dan lagi.
Aisha telah salah mengucapkannya. Pun semuanya tampak memendam emosi, menatap berusaha tenang.
Munafik. Bentuk kata yang memuat tujuh huruf bermakna dua muka. Banyak orang di dunia ini yang betul munafik menyembunyikan sikap asli mereka.
Kendatipun demikian, munafik atau tidaknya seseorang, siapa pun akan tetap marah kala ada orang yang menyebutnya munafik. Terkecuali golongan orang yang mampu bersabar dan memahami keadaan. Inilah suatu bentuk cerminan yang tidak mahal harganya, bahkan tidak berharga.
Itulah yang terjadi pada seluruh anak buah yang merasa tuduhan kata munafik itu tidak seharusnya diucapkan.
Mereka semua cukup tahu kondisi, cukup mengkhawatirkan, tetapi sebelumnya mereka tertawa hanya sekadar itu saja, tidak dalam bentuk mengejek, mengulu-ulu atau berbahagia atas hilangnya kapten.
Sesekali tidak demikian, mereka pun memahami perasaan itu rumit. Kini jauh di dalam benak masing-masing seakan kesal dan tak terima dengan penyebutan kata munafik tersebut, tetapi mereka tahu perasaan itu kadang kalau dibahas akan membingungkan.
Begitulah, Aisha. Mereka memaklumi seorang wanita yang tidak mampu menyembunyikan perasaannya.
Tabra masih berada di samping Aisha, menenangkan perasaan yang jelas terasa sedikit lebih sulit dari menjaga layar saat melaju di lautan lepas.
Kalboza saat itu menatap serius ke sekeliling mereka. “Sebenarnya kita mampu berpikir, tetapi satu hal yang menghalangi diri kita tidak bisa berpikir adalah tidak adanya sikap saling percaya.”
“Tabra dan kalian semua, sebelumnya kita saling berlawanan pendapat, saling mengucapkan kekesalan, mungkin itulah penyebabnya.” Kalboza lanjut menjelaskan.
“Secara tidak langsung. Boba, kau telah membuktikan kepada kami semua bahwa kau tidak percaya padaku, sikap ketidakpercayaan itulah yang membuat kita tidak bisa berpikir.” Kalboza menyahut santai. Dia mudah saja membalik ucapan, itulah keahlian yang dia miliki.
Boba mengerutkan bibir. “Cobalah kau pikirkan matang-matang, lalu jelaskan. Apa hubungannya di antara kedua hal yang telah kau sebutkan antara ketidakpercayaan dan tidak bisa berpikir. Apa hubungannya?”
Sementara yang lainnya diam. Kalboza hendak menjawab. Tabra langsung mendehem, otomatis suara Kalboza tertegah. “Kalian berdua sampai kapan akan terus berdebat? Perlu kukatakan kepada kalian semua agar masing-masing mendengarkan, sesuatu yang kalian bahas sebelumnya, timbul perdebatan juga perkelahian itu tidak membantu apa pun.”
Kalboza terpaksa berhenti berucap. Sudahlah, lupakan saja. Lebih baik dan tentram adalah merenung, memikirkan alam semesta mengapa ada siang dan malam.
Begitulah gumaman Kalboza yang lelah menanggapi ucapan demi ucapan. Rasa yang ada di dalam jiwa tentram itu kini terusik merasakan lelah tidak dalam artian sebenarnya, dia sekadar berdiam tidak ingin memperpanjang perdebatan.
Suasana sekarang sedang terik-teriknya matahari. Tengah hari yang terasa gerah bukan hanya tubuh, melainkan sanubari juga ikut merasakannya.
Aisha di sisi mereka masih tidak ingin menatap, lebih sederhananya menunduk diam. Kemungkinan merasa bersalah atas apa yang telah dia katakan. Entahlah perasaan wanita itu rumit, sulit diterjemahkan melalui tatapan.
Boba saja hendak tertawa. Dia selalu suka melihat wanita menangis, entah mengapa masa lalunya pernah menatap seorang wanita. Eh, skip saja tidak perlu disebutkan.
Glosia bersekedap. Jalbia merangkul-rangkul bahunya. Kedua orang sahabat itu dilihat lebih dekat ternampak sedang berpikir, padahal pura-pura saja.
Ashraq bersiul, memegang kepala belakang. Kalpra mengetuk kepalanya. “Bisa diam tidak? Dasar tidak ada kerjaan!”
__ADS_1
“Kau juga sama tidak ada kerjaan.”
“Apa!? aku tidak dengar, coba ulangi ucapanmu?”
“Itulah, saat orang berbicara dengarkan baik-baik, telingamu itu dipasang.”
“Wah, hendak terkena taboook!”
BUUK!
Saat itu benjol di bagian wajah. Ashraq berdiam setelahnya, sudahlah tidak mengapa yang penting hidup ini tentram tidak lagi ada ucapan apa pun. Ashraq bergumam pelan, beriringan usapan tangan ke benjolan kepalanya.
Aswa Daula yang melihat demikian sejenak melapangkan dada, menjauh dari mereka dengan niat tidak hendak lagi berkumpul untuk sementara waktu.
Kalpra bertumpu kuat, berkepal tangan di dadanya. “Sebelumnya aku sudah punya ide, menyampaikan dengan penuh keyakinan, tetapi kalian semua malah tidak mendengarkan seruan ide dariku!” Dia berlantang suara, memandang mereka semua.
“Ide tidak bermutu.” Jalbia menancapkan ucapan tajam.
“Kalpra, kau seakan yakin sekali bahwa idemu itu akan berhasil, aku menyangka malah sebaliknya kalau kau yang mati di bawah jurang itu bagaimana? Apa yang harus kami lakukan terhadap dirimu?” lanjutnya bertanya mematungkan gigi.
“Kau terlalu. Kau tidak tahu sopan santun mengatakan ideku seperti itu!” Kalpra bertatap marah. “Kalau kau bisa mencari ide lebih bagus, lebih baik dariku, maka kau boleh menghina ideku!”
“Eh, Kalpra. Siapa yang menghina idemu. Aku tidak ada niat menghina. Dasar kau menuduhku sembarangan!” Jalbia mengepalkan tangan lagi, dia benar-benar marah sehabis kemampuan yang dimilikinya yang semula terpendam dalam.
Kini ternampak jelas di kedua sorotan matanya yang menajam, menatap Kalpra ingin menabok, tetapi baru saja menatap Aisha mampu membuatnya mengurungkan niat, menahan dan terus menahan amarah yang ada di dalam hatinya.
Sejenak Jalbia diam, sikap diamnya adalah bentuk amarah tertahan. Glosia di sampingnya tampak mengerti keadaan sahabatnya. Lantas, maju dengan raut wajah mantap tanpa bekas senyuman.
“Kalpra, kau itu sudah salah paham, apa yang dikatakan Jalbia semua itu benar dan kau adalah orang yang suka sekali menuduh sembarangan, bahkan tanpa bukti sekadar pendapatmu yang tidak mencerminkan hati nuranimu!” Glosia panjang lebar mengucapkannya.
“Begitulah, orang sombong baru mendapatkan ide saja sudah mengakui diri yang paling hebat.” Boba menyahut ketus.
“Siapa yang mengakui diri paling hebat? Aku? Tidak ada. Kalian berucap asal-asalan!” Kalpra marah, sangat marah.
“Sama saja. Kau juga menuduh Jalbia menghina idemu. Kalpra, kau tidak tahu diri!”
“Kalpra, Jalbia, Glosia, Boba. Kalian berhentilah ribut, jangan saling ribut. Kalau kalian semakin ribut, kita akan semakin lama berada di tempat ini.” Ashraq menyela di antara perdebatan mereka.
Akan tetapi, siapa sangka tidak ada yang bisa ditegah lagi, empat orang itu terus bersahutan suara lantang.
Ashraq hanya mampu bergeming ucapan, lantas duduk geleng-geleng kepala. Mereka berempat bagai seorang bocah yang tidak mengerti keadaan sama sekali.
__ADS_1