Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga


__ADS_3

Cerita tentang Kapten Zaiya tertuang dalam goresan pena, sebuah surat menunjukkan segalanya.


Sikap Kapten Zaiya bagai angin yang tak dapat dilihat, tetapi dapat dirasakan, tentang sikapnya yang begitu misterius, bahkan tidak ada yang tahu tentang kebaikan dibalik cerita kehidupannya, dia tidak terlalu dikenal oleh banyak orang.


"Apa yang engkau ketahui tentang Kapten Zaiya?" Tabra bertanya kepada Daula.


Dari sorotan matanya, Tabra tampak penasaran dengan sosok Kapten Zaiya.


"Dia begitu misterius, bahkan sampai akhir hayatnya tidak ada yang tahu bagaimana wajah dari Kapten Zaiya!"


"Di atas keningnya terukir sebuah tulisan yang berwarna ungu, tulisan itu terukir juga di lambang Bajak Laut Merah, lambang tengkorak bergigi emas yang dimaksudkan, saya tidak mengetahuinya, tidak ada yang tahu makna dari lambang tersebut!"


"Jadi begitu, baiklah. Aku tidak ingin membicarakannya!"


"Tentang surat ini, saya hanya bisa menerjemahkannya, tetapi makna katanya, saya tidak mengetahuinya!"


Aisha hanya menyimak, Tabra dan Daula terus berbincang-bincang, mereka berdua dengan santai membicarakannya.


Bahkan, diluar topik pembicaraan. Sosok yang terbunuh ditangan Kapten Lasha, berlalu masa pada waktu itu Kapten Lasha menyesali perbuatannya yang telah lalu, betapa itu mengganggu pikirannya bertahun-tahun.


Sampai Kapten Lasha membaca salah satu buku dari Kapten Zaiya.


Pada waktu itu, setelah Kapten Lasha membunuhnya, sebuah buku kecil yang berada di saku Kapten Zaiya terjatuh.


Berlalu masa, Kapten Lasha akhirnya membuka buku kecil itu, betapa terkejutnya dia melihat tulisan itu, untaian kata berbalut hikmah dari perjalanannya menjadi Bajak Laut, tulisan itu ditulis menggunakan bahasa umum yang banyak dimengerti oleh orang-orang.


Itulah sekilas cerita.


"Tunggu dulu!" Tabra berbicara lantang, mengejutkan Daula, begitu pun juga dengan Aisha.


"Tabra, Ada apa denganmu?" tanya Aisha.


"Sebenarnya tulisan surat ini berasal dari daerah mana? Aku belum mengetahuinya, aku hanya mengetahui itu berasal dari Benua Ruyanisma!" Tabra melontarkan pertanyaan kepada Daula membahas surat yang 4 lembar tersebut.


"Surat ini memuat bahasa dari daerah yang bernama Atila. Daerah yang mempunyai pilar tujuh lantai!"


"Pilar tujuh lantai?!" Tabra tercengang mendengarnya, entah dia heran atau apa? Dia mengucapkannya secara sponstan.


"Apa itu? Bisakah engkau menjelaskan itu kepadaku?"


"Dengan senang hati, saya akan menjelaskannya kepada Anda."


"Pilar tujuh lantai adalah pangkat jabatan para kelompok Bajak Laut yang dicatat dan diakui akan kehebatannya di seluruh benua Ruyanisma."


"Dahulu posisi pertama pilar diberikan kepada Kapten Kaiza bersama kelompoknya, setelah kelompok mereka berhasil membunuh Kapten Lasha, seluruh Benua Ruyanisma mencantumkan kelompok itu di urutan pertama."


"Saat Bajak Laut Merah ada, mereka berada di urutan pilar yang kelima, namun sekarang saya tidak mengetahui bagaimana kabar tentang pilar tersebut."


"Ah, jadi begitu! Sekarang aku mengerti."


Di tengah perbincangan mereka bertiga, Akma Jaya terbangun dari lamunannya.


"Ba–bagaimana, Kapten? Apa Anda sudah dapat menemukan jawabannya?" Tabra bertanya dengan tidak sabaran.


"Tidak bisa, aku tidak bisa menemukan jawabannya!"


"Apakah pencarian harta karun ini akan terus kita lanjutkan, Kapten?" tanya Aisha memandang ke arah Akma Jaya.


"Aku memutuskan kita akan tetap mencarinya, berdasarkan yang tercantum di dalam surat itu bahwa harta karun tersebut berada di atas gunung, tetapi menurut peta ini, harta karun itu berada di dalam gua ini."


"Gua ini terletak di bawah gunung. Surat dan peta ini saling bertolak satu sama lain, atas dan bawah, kemungkinan besar harta karun itu ada di tengah-tengah!"


"Bagaimana Anda mempunyai pikiran seperti itu, Kapten?"

__ADS_1


"Ini hanya firasatku saja, perlukah kita menelusuri hingga ke ujung gua ini?"


"Itu tidak perlu, Kapten. Saya percaya dengan firasat Anda!"


"Ka–kapten, jika harta karun itu berada di tengah-tengah gunung. Anda mengatakan bahwa surat dan peta saling bertolak satu sama lain. Lantas, apa maksud dari kata yang menyebutkan harta karun itu di kelilingi oleh awan yang menutupinya dengan aroma semerbak bunga persik?"


"Itulah, aku sudah bilang, aku tidak mengetahuinya."


"Kita akan tahu setelah kita sampai di tempat yang kumaksudkan."


"Baiklah, Kapten!"


Mereka semua bergerak menuju ke area tengah gunung. Mereka hanya menelusuri jalanan setapak.


Siapa sangka mereka bertemu dengan kelompok Bajak Laut lain. Untungnya Akma Jaya melihat kelompok tersebut.


"Berhenti."


"Ada apa, Kapten?"


"Lihatlah, itu kelompok Bajak Laut!" Akma Jaya menunjuk dengan tangan kanannya.


"Terlebih dahulu, siapkan senjata kalian!"


"Ba–baik, Kapten!"


Mereka semua menjawab secara serentak, Akma Jaya berjalan di depan, memimpin jalan dengan wajah yang tenang.


Kelompok Bajak Laut itu menoleh ke arah mereka dengan sedikit menyeramkan.


"Hei, siapa kalian?"


"Kami kelompok Bajak Laut Hitam!"


"Tepatnya kami bukan menantang, kami hanya ingin mencoret kekejaman para Bajak Laut, seperti halnya tinta hitam yang mencoret tulisan!" Akma Jaya menjawab dengan suara yang lantang.


"Munafik!"


"Silakan, jika engkau senang, jangan sungkan, bilang saja begitu, tetapi itulah alasan kenapa kelompok kami didirikan, sekarang beri tahu kami. Siapa kalian?"


"Kami kelompok Bajak Laut Jingga, penerus dari Bajak Laut Merah."


"Kelompok kalian datang ke pulau ini, tidak lain pastilah menginginkan harta karun dari Bajak Laut Merah, kalian tidak pantas mendapatnya, itu adalah harta milik Bajak Laut Jingga sang penerus generasi."


"Siapa yang lebih dahulu mendapatkannya, dialah akan memiliki harta itu. Kami mempunyai peta!" Akma Jaya memperlihatkan peta tersebut.


"Hahaha ...."


Pemimpin dari Kelompok Bajak Laut Jingga tertawa gelak melihat Akma Jaya memperlihatkan peta itu, entah kenapa dia jadi begitu, sepertinya itu adalah bahan lelucon yang marak terjadi dikalangan Bajak Laut.


"Peta? Hahaha, perlu kau tahu peta itu palsu, Bajak Laut Merah memberi jebakan pada peta itu!"


"Ah. Jadi begitu, aku perlu berterima kasih karena kau sudah memberi tahuku!"


Setelah mendengar itu, pemimpin dari kelompok Bajak Laut Jingga itu menutup mulutnya karena lidah yang tak bertulang melontarkan kata dengan otak yang tidak berpikir.


"Anggap saja, kalian beruntung karena diriku melontarkan kata tanpa kendali."


"Hei, kau ternyata masuk dalam kelompok mereka?"


Pemimpin dari Kelompok Bajak Laut Jingga itu menatap ke arah Aswa Daula.


Aswa Daula hanya mengangguk pelan, sedangkan Tabra menghunus pedangnya.

__ADS_1


Akma Jaya menahan Tabra untuk jangan membuat keributan dengan Bajak Laut Jingga yang tampak mempunyai kemampuan pedang jauh di atas mereka.


"Tabra, alangkah baiknya kita jangan mencari keributan di sini! Kita akan bergerak melawan mereka setelah mereka menyerang kita, jangan gegabah!" Akma Jaya berbisik pelan.


Aswa Daula tertegun, Kelompok Bajak Laut Jingga menatap ke arahnya dengan tatapan yang mengerikan.


Pemimpin dari Kelompok Bajak Laut Jingga itu bernama Kuja, seorang cucu dari Zaiya, dia tinggal di Negara Atila yang berhubungan dekat dengan Kapten Kaiza.


"Aswa Daula, kenapa engkau masuk ke kelompok mereka? Seharusnya kau jangan masuk ke kelompok mereka, kau!!" Kuja berwajah marah, melontarkan kata dengan nada yang keras.


"Apa hakmu melarang dia bergabung di kelompok kami?" Aisha mengeluarkan suaranya setelah lama menyimak dan berdiam diri.


"Tidak pantas, bagi keturunan Atila bergabung dengan kelompok kalian yang hina, membantah kekaisaran Bajak Laut, kalian melakukan tindak pemberontakan!"


Kuja langsung berbicara pada inti permasalahannya, membuat para anak buah Akma Jaya menjadi tercengang karena mendengarnya.


"Jika engkau mempunyai mata, gunakanlah untuk melihat tindakan yang kalian lakukan–" Aisha berkeras suara.


"Aishaaa!!"


Akma Jaya langsung memotong perkataan itu, sebelum selesai karena suatu alasan yang membuat Aisha lepas kendali dan mengucapkan butiran hikmah tanpa kesadaran.


"Bukankah engkau tahu, aku dan ibuku sudah berlepas dari daerah Atila. Kami berdua pindah ke benua Maura Hiba!" Aswa Daula memberanikan dirinya untuk menjelaskan kepada Kuja dengan menunjukkan sikap yang tidak hormat.


Dia menekan kata 'engkau dan aku' sebelumnya dia mengunakan kata 'Anda dan saya'.


Aswa Daula menguatkan mentalnya.


"Aku bergabung ke dalam kelompok Bajak Laut Hitam atas keinginanku sendiri serta keinginan ibuku, yaitu untuk mencoret kekejaman para Bajak Laut!"


Kaju terbahak mendengarnya, dengan suara yang lantang dia berujar, mulutnya terbuka lebar, bahkan lalat dapat masuk ke dalamnya.


"Kalian semua mengatasnamakan Bajak Laut, apa kalian tahu apa itu Bajak Laut?"


"Hahaha ...."


"Hah. Sepertinya kalian memang benar-benar tidak tahu mengenai gelar Bajak Laut, kalian hanya sekelompok sampah yang hina, tak tahu aturan!"


"Hei, tutup mulutmu!" Tabra mulai geram mendengar apa yang diucapkan oleh Kuja.


"Apa hakmu melarangku untuk menutup mulut? Apakah engkau marah kepadaku? Pikirkanlah, selama kalian mempunyai akal!"


"Justru engkaulah yang seharusnya berpikir, kelompok kami mencantumkan nama Hitam di sampingnya, apakah engkau tahu kelompok Hitam bergerak melawan arus?"


"Kami bukan memberontak, kami bertujuan untuk perdamaian seluruh lautan!"


"Perdamaian? Hahaha, engkau munafik. Ketahuilah! Engkau sang pemimpin kelompok Bajak Laut Hitam, hari ini engkau akan menemui ajalmu!" Kuja mulai menghunus pedang miliknya, menatap ke arah Akma Jaya dengan tatapan amarah yang berkobar-kobar.


Tabra berdecak marah, membalas tatapan Kuja dengan tatapan yang sama, sedangkan Akma Jaya tampak tenang dalam mengatasinya.


"Sepertinya engkau tak mengetahui namaku!"


Akma Jaya juga menghunus pedang miliknya, masing-masing diantara mereka berdua sama-sama menghunus pedang.


Tabra berada di samping Akma Jaya, tetapi Sang Kapten menolak Tabra untuk membantunya.


"Biarkanlah, aku saja yang menghadapinya!"


Akma Jaya berkata dengan nada yang lirih menatap ke arah Tabra.


"Hahaha ...." Kapten Kuja tertawa dengan gelak.


"Aku mengetahui namamu, tapi tidak pantas bagiku untuk menyebutkan namamu, kau adalah makhluk hina!!"

__ADS_1


Kapten Kuja memandang rendah Akma Jaya, mempercayai beberapa kabar yang beredar dikalangan Bajak Laut tentang kelompok yang berjalan dibalik layar, berlindung di sela-sela kabut berbalut kegelapan ditengah malam, Kelompok Bajak Laut Hitam berusaha mendominasi lautan dengan keadilan, tetapi bagi para Bajak Laut, hal itu hanyalah sebuah pemberontakan yang tidak bisa dimaafkan.


__ADS_2