Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara


__ADS_3

Kapten Riyuta melangkahkan kaki ke luar ruangan, berjalan menuju ke tempat kerumunan, sedangkan Akma Jaya masih bertengger di atas menara.


Berangsur-angsur, kaki itu melangkah. Dia berjalan di sela-sela kerumunan, banyaknya orang, membuat jalanan terbuka karena wibawa Kapten Riyuta.


Wibawa yang mampu membuat orang-orang di sekitaran tempat tersebut melebarkan jalan.


   "Menarik!" Kapten Riyuta mendongakkan kepala melihat Akma Jaya yang sudah menghancurkan ke lima bola lampu menara.


Tersisa dua lampu berikutnya, kedua posisi lampu berdampingan, tak berlangsung lama kedua lampu itu pecah, Akma Jaya melakukan tindakan sesuka hati, dia tidak mengenal waktu istirahat.


    "Tabra, kita sudah berhasil memecahkan semua lampu, hanya tinggal merusak inti dari menara agar tidak bisa digunakan!" Akma Jaya berucap menjelaskan, Tabra mengangguk.


Kapten Riyuta dibawah, dia memperhatikan, kebosanan melanda dirinya hingga dia menaiki menara, membuat orang-orang bertambah tercengang.


   "Apa yang dia lakukan? Kenapa dia ikut menaiki menara?" ucap salah satu dari mereka.


Orang disebelah, dia mendelik. "Seperti yang kuduga, akan terjadi pertarungan di atas menara!" Dugaan yang dikatakannya dipercaya oleh sebagian orang.


Tabra menyaksikan sosok Kapten Riyuta yang menaiki menara, sedangkan Akma Jaya berusaha merusak inti menara.


Inti menara adalah sebuah permata berbentuk lonjong, berukuran kecil, terletak di tengah-tengah jejeran lampu tujuh warna. Akma Jaya berusaha merusak inti tersebut. Konon katanya itu adalah benda keramat, sebuah permata yang menjadi kepercayaan orang-orang.


Itulah mengapa dijadikan inti menara, padahal permata itu tidak ada fungsinya sama sekali, hanya menjadi pajangan dan benda kepercayaan yang dianggap bisa menerangi hidup penuh keberkahan serta kekayaan. Permukaan permata itu sangat kuat, Akma Jaya kesulitan untuk menghancurkannya.


  "Kapten, jika Anda kesulitan merusak inti menara, daripada merusaknya lebih baik kita mengambilnya!" Tabra memberi masukan.


Akma Jaya menggangguk.


"Brillian, i like its!" Menggunakan bahasa yang tidak dimengerti, Tabra menatap heran. "Kapten, apa yang Anda bicarakan?" Tabra bertanya karena tidak mengerti.

__ADS_1


Kendati demikian. "Tabra, kau jenius!" Akma Jaya memuji, Tabra seperti memaklumi, dia tidak menanyakannya.


Akma Jaya bergerak mengambil. "Syukurlah, kita berhasil merusak keseluruhan menara, setelah ini para bajak laut itu akan kebingungan karena inti menara ada ditangan kita, pada waktu berikutnya, aku ingin sepenuhnya menghancurkan permata ini." Akma Jaya memperlihatkan inti menara itu kepada Tabra. Ya, sebuah permata.


"Kapten, kenapa inti menara ini adalah permata, saya pikir benda ini tidak ada kegunaannya bagi menara, ada apa dengan benda ini?" Tabra bertanya, dia belum mengetahui sejarah tentang benda keramat tersebut.


"Tabra, saat aku berbincang dengan Adfain, dia menceritakan sejarah tentang permata ini, kepercayaan menjadikannya terpandang dan itulah alasan kenapa mereka menjadikan menara sebagai penentu kemenangan dari perjudian, semua itu adalah karena benda keramat, walaupun berupa permata!"


Akma Jaya menjelaskan sedikit mengenai benda tersebut, permata sederhana, tetapi dipandang mulia oleh sebagian orang, membuatnya menjadi sorotan dan dijadikan tempat perjudian.


"Kepercayaan membuat para bajak laut itu berlomba ingin berjudi, hanya karena permata ini, semuanya karena benda ini!" Akma Jaya masih menjelaskan, Tabra menyimak santai.


"Jika menara ini kehilangan inti menara, mereka tak akan memakai menara ini lagi!" Akma Jaya beranggapan demikian.


"Tapi, Kapten, bukankah ini sia-sia?" Berbeda dengan Tabra, dia beranggapan hal itu sia-sia belaka. Toh, keinginan orang, kadang keinginan membuat anggota bergerak. Ada banyak cara sebenarnya, tak tertentu perihal menara.


"Mengapa Anda melakukan ini? Mereka yang ingin berjudi, akan tetap berjudi, setelah ini mereka akan mencari cara lain untuk berjudi." Tabra menjelaskan pendapat.


Akma Jaya tersenyum manis. "Ya, walaupun demikian. Jelas bukan itu alasanku," jawab Akma Jaya penuh ekspresi ringan, tidak berat—sulit menjelaskan.


Tabra tak dapat berkutik lagi, menegur pun sudah terlambat, membantah percuma karena sudah terlanjur, memberi sugesti, tetapi berbeda. dia menghela napas berat, sia-sia, habis waktu dan tenaga, tak dapat apa-apa.


"Lantas, apa alasan Anda melakukan semua ini?" Tabra bertanya, Akma Jaya mengganguk, mendengarkan.


"Menara ini punya sejarah, sebelumnya Adfain berpesan, agar aku melakukan hal ini karena menara, tempat kita berpijak, dulunya adalah menara suci yang didirikan atas dasar kecintaan seorang wanita, seorang pendekar muda dan seorang putri mahkota, cinta segitiga, tidak direstui oleh pihak kerajaan hingga sang putri mendirikan menara, benda keramat ini milik pendekar tersebut!" Akma Jaya menjelaskan perihal sejarah menara. Tabra terdiam sibuk mendengarkan.


"Adakah Adfain menjelaskan tentang pendekar tersebut? Dan sang putri yang Anda bicarakan, bagaimana kelanjutan kisah mereka?" Tabra bertanya, dia tipe orang yang banyak tanya, walaupun demikian, Akma Jaya tetap suka menjelaskannya.


"Cerita itu telah lama, terjadi pada pertengahan abad ke—10, sudah lama, bahkan sangat lama hingga masa sekarang, aku tidak menanyakan perihal kedua orang itu kepada Adfain, mungkin lain kali!" Akma Jaya menjawab tegas.

__ADS_1


Tabra mengangguk. "Begituuu?" Dia memanjangkan harakat huruf akhir, membuat bibirnya lonjong ke arah depan.


"Benar!" Akma Jaya menjawab ringkas, hampir tertawa karena melihat permukaan bibir–mulut lonjong. Tabra bergumam sedikit, tidak terdengar gendang telinga.


"Kapten, kenapa Adfain menyuruh Anda untuk melakukan ini?" Dia kembali bertanya setelah bergumam.


Mendengar itu, Akma Jaya menggelengkan kepala secara pelan, dia kembali menatap Tabra penuh hawa-hawa nostagia.


"Bukankah sudah kukatakan? Sepertinya kau masih sama seperti dulu, selalu tidak menyimak perkataanku dengan benar!" Akma Jaya berucap tegas, sepertinya masa lalu begitu lekat, sangat susah untuk dihindarkan, sering kali peristiwa terasa seperti terulang kembali.


"Kapten, Anda mengingatkan masa lalu, sepertinya Anda juga sama!" Tabra mengingatkannya.


Akma Jaya jatuh melamun heran. "Apa yang sama?" Dia bertanya, mengernyitkan dahi penuh berkerut.


Tabra tersenyum lebar. "Masih tidak ingin mengulangi perkataan!"


Ya, sepertinya begitu, dari dulu jika Tabra berucap demikian, selalu begitu. Dia benar, tidak berubah, tetap sama seperti dulu.


"Kau bergurau?" Akma Jaya bertanya singkat.


Tabra menggelengkan kepala. "Tidak, saya tidak bergurau!"


"Tabra, aku sudah salah berucap, kau sedikit berbeda dari dulu, walaupun sedikit. Sekarang kau berucap menggunakan bahasa halus seperti menghormatiku, jelas aku bukan siapa-siapa, hanya makhluk hidup sama sepertimu memerlukan udara untuk menghirup napas."


Akma Jaya menjawab panjang, menyampaikan ilmu, mengatakan hukum alam, dimana setiap makhluk hidup begitu. Siapa pun dia, tak memandang kemuliaan atau apa pun itu. Bernapas menghirup udara—campuran gas yang terdapat pada permukaan bumi. Udara tidak dapat dilihat, tidak ada rasanya. Kehadiran udara hanya dapat dilihat dari adanya angin yang menggerakan benda—berupa unsur kimia yang mempunyai lambang O, berurut nomor atom 8, rumus O² dan mengeluarkan napas—berupa Karbon dioksida, Co².


"Kesombongan? Meminta kemuliaan, untuk apa?" Akma Jaya menyambung ucapan.


"Hahaha, Kapten. Anda terlalu sering bercanda." Tabra tertawa, kata itu terucap sambil menahan-nahan tawa supaya tidak terlalu nyaring.

__ADS_1


Akma Jaya menggeleng, menunjukkan wajah serius, tidak ikut tertawa.


"Aku tidak bercanda."


__ADS_2