
Dari kesemuaan kekhawatiran yang melanda lubuk seorang kapten tersebut. Tidak mengapa. Aswa Daula telah bangun dari pingsannya. Sejenak menggelengkan kepala dan akhirnya apa yang dikatakan Kapten Zaiya memang benar. Perasaan takutnya menatap atau mengingat darah telah sirna bagai dihisap, dibuang dan diterbangkan jauh-jauh dari benak pikiran dan perasaannya.
Duduk menatap keempat orang di sampingnya, juga sisanya yang berada di sana memandang senyum. Masing-masing senang sendirian.
“Aswa Daula, istirahatkan dirimu. Untuk kedepannya kau harus melatih diri agar kuat sepertiku. Dan tidak jatuh pingsan hanya karena mengingat darah.” Boba percaya diri mengatakannya. Heran mengapa wajahnya tidak menatap, gaya membelakang.
Aswa Daula balas tersenyum. Hambala mengulurkan tangan, membantu agar berdiri dan kuat berpijak. Aswa Daula menyambutnya. Dia pelan berdiri. Hati-hati dibantu Ashraq, Glosia dan Jalbia.
Dengan percaya diri sama seperti Boba. Aswa Daula mengencangkan otot, tertawa penuh arti di wajahnya. “Aku—aku tidak perlu beristirahat, Boba.” Wajahnya menyeringai getir berdiri.
Ashraq mendeham. “Aswa Daula, apa yang kau ucapkan tolong untuk saat ini aku meminta kepadamu akan perkara baik. Tolong—tolong jangan memaksakan dirimu dan beristirahatlah!”
Ashraq memberikan kalimat sopan. Nada ucapan yang membuat Boba tidak suka mendengarnya. Boba mengernyit.
Kemudian mengangkat alis. Daun telinganya seakan tersengat lebah. Sejenak menatap dengan gertakkan gigi. “Ashraq, kau berbicara aneh yang entah mengapa aku tidak suka mendengar nada bicaramu yang seperti itu, tetapi nada bicaramu tidak memberatkanku dalam memahaminya.”
Boba kembali mendengus. Tidak banyak ucap lagi. Saat itu Boba kembali memelesat, menyerang beruang yang terus mengamuk.
Hanya dia sendirian. Yang lainnya diam menyaksikan. Seperti tidak setia kawan. Boba menganggap demikian.
Salah Boba sendiri. Maju sendirian tanpa menuruti kehendak yang lainnya.
Tabra saat itu sama juga seperti mereka. Hanya terdiam gerakan. Menatap sebentar tanpa sedikit menoleh. “Aswa Daula. Aku mengerti tentangmu yang selama ini takut dengan darah dan mengenai kegigihanmu yang ingin membantu. Maka, saat ini kuperhatikan keadaan yang sebaik-baiknya. Lebih baik kau sekarang beristirahat agar kau bisa untuk memulihkan tenaga dan kondisi fisikmu. Aku ingin memberitahumu sekarang. Kesemuaan ini seperti melatih diri dari waktu ke waktu, tidak mungkin bukan seseorang bisa langsung kuat, semua itu memerlukan waktu perlahan. Dan jadikanlah semua ini sebagai latihan.”
“Apakah yang Anda maksud, Tabra?” Aswa Daula tidak mengerti, mungkin karena kepanjangan ucapan dan bertele-tele.
Bahkan Glosia saja garuk kepala. Pun sama juga Jalbia. Kompak saling pandang.
Tabra menancapkan pedang. Memasang wajah mantap. “Maksudku sederhana saja, seharusnya kau bisa memahaminya tanpa kujelaskan lebih lanjut. Selama ini kita selalu berlayar mengarungi lautan, selama itu kita telah menemukan berbagai macam peristiwa. Pada kenyataan yang sesungguhnya semua peristiwa itu belum mencapai titik akhirnya. Kita sebenarnya selama ini hanya berlayar dan belum menghadapi masalah yang sebenarnya. Kalian tahu mengenai ini. Satu hal yang kupikir dalam adalah kita semua belum layak berhadapan langsung dengan para bajak laut. Mereka mungkin lebih ganas dari beruang yang sekarang kita tatap.”
“Wal hal seperti yang kau lihat, menghadapi beruang saja kita tidak mampu dan cobalah pikirkan bagaimana mungkin kita bisa menghadapi para bajak laut yang lebih ganas dari beruang itu—”
Tabra menjelaskan panjang lebar. Tiba di menit penjelasan yang membosankan. Boba menatap keras. “Tabra, cukup bicaramu. Walau bagaimanapun kau menjelaskan perkara itu, bagiku tetap saja semua itu adalah informasi yang tidak berguna.” Boba menyergah dengan suara lantang.
“Ditambah kau hanya sekadar berucap tanpa pembenaran. Kupikir kau hanya berkata dusta kepada kami semua!”
Boba mundur dari penyerangan terhadap beruang. Dia mengepal tangan dan mengertakkan giginya kesal.
__ADS_1
Tabra menatap. Pun yang lainnya. Mundur sebentar mengusap wajah, lanjut berteriak sambil memelesatkan serangan terhadap beruang tersebut.
Sementara Aisha masih diam dari ucapan. Sosok wanita itu berkacak pinggang sebelah tangan, menatap dan menatap ke semua orang di sana. Saat ini yang melakukan penyerangan hanya Boba.
Kalboza. Kalpra. Dausa dan Dasasa yang berada di sana juga tampak menyimak pembicaraan tersebut. Masih bergemuruh suasana menyelimuti sekitaran.
Beruang yang entah bagaimana cara menghadapinya? Mereka tampak kesulitan untuk menghadapinya. Bayangkan mereka itu kelompok yang dibentuk secara tidak ada latihannya sama sekali. Pengalaman? Tidak ada. Kelompok yang dipandang remeh oleh Kapten Atlana.
Benarlah. Kapten Atlana tidak berkata dusta, ambius bercampur ketidakmampuan diri itu percuma. Kelompok yang bahkan hampir tidak punya tujuan kejahatan. Ambisi untuk mencapai tingkat pengalaman, mencari apa yang selama ini ingin mereka cari. Membela apa yang selama ini ingin mereka bela.
Hambala menepuk pundak. “Aswa Daula, lebih baik bagi kau beristirahat. Mengenai ini serahkan saja kepada mereka.”
Seiring dengan ucapan itu, suasana tegang dan serba salah di antara mereka seakan pecah, berangsur semua yang tersirat bisa diterima dengan lapang dada.
“Aku benci mengakuinya, tetapi apa yang baru saja dikatakan Ashraq itu memang benar, jangan memaksakan dirimu yang sejatinya kau sendiri tak mampu!”
Hambala menghela napas untuk kesekian kalinya. Perdebatan ini tidak akan berangsur lama lagi, bukan?
Memang benar. Lihatlah kaki yang masih gemetaran itu. Pun berjalan masih terhuyung. Setengah sadar, setengah tidak.
Aswa Daula mengiakan. Dia beristirahat di dekat pohon, dibantu Hambala, Glosia dan Jalbia yang memangku tangannya, menuntun. Bagaimana dengan Ashraq?
“Tabra, katakan kepada mereka apa rencanamu yang sebelumnya kau katakan kepadaku?” Boba berteriak lantang, mundur.
Apa yang diucapkan Boba sukses mengingatkan Tabra kembali akan rencana yang sebelumnya. Sosok yang sementara menggantikan posisi kapten itu memang benar-benar lupa mengatakannya. Lebih tepatnya mengatakan kepada semua anak buah yang baru bergabung.
Sebelumnya rencana itu hanya diberikan tahukan dengan Boba—orang pertama yang membantu Tabra daripada yang lainnya.
Tabra memandang sepintas. “Benar juga, mengenai rencana itu, aku baru sekarang mengingatnya. Terima kasih, Boba!”
“Heh, tak usah berterima kasih. Kau ingin berlagak sok suci di depanku!” Boba menjawab ketus. Bola matanya tidak menatap dengan gaya sok berkuasa.
Tabra tertawa pelan. “Yeah—kuakui kau memang berbeda, Boba.”
Ashraq menatap, menyeringai. “Memang benar. Kau berbeda, Boba.”
“Benar-benar, itu memang benar.” Dasasa menyahut. Disusul kemudian Dausa. “Itulah Boba yang selama ini kita kenal.”
__ADS_1
Apa maksudnya? Mereka semua kompak saling sahut menyahut. Boba masih tidak hirau, sibuk bernapas. Berembus napas lelah yang membuatnya seakan kesusahan dalam hal mengatur embusan.
Jiwa pemuda tak gentar. Lelahnya rasa bergemuruh. Dalam benak pikiran melanglangkan ketidakpastian. Oh, jiwa yang lelah, putus asa atau kenapa?
Tidak, tidak demikian. Jiwa pemuda yang sehat, mempunyai ciri berbadan gendut itu tidak sibuk soal perkara cinta. Selama ini dia juga tidak sibuk mengenai perkataan buruk orang lain kepadanya. Sesekali terpancing amarah, itulah Boba yang bahkan jauh berada di atas rata-rata dari benak pikiran orang-orang yang bersamanya.
Mengingatnya atau melupakannya seperti baginya terasa menyebalkan. Boba melamun sebentar, mengingat masa lalu.
Masa lalu yang terlebih keindahannya bergelantung ria dalam benak pikiran yang saat ini menatap dan menatap beruang.
Rindu yang teramat sangat mendebarkan perasaan. Gurih, pahit, manis, asam, dan garamnya kehidupan yang selama ini terus dirasakan. Bercampur semuanya dalam kesatuan bumbu masakan sedap. Merasakan pengetahuan betapa pentingnya sebuah masa lalu yang kala itu dijalani tanpa berkeluh kesah dengan kalimat syukur dan menerima takdir.
Apa pun dan bagaimanapun. Kalimat yang membentuk sesederhana ucapan. Boba mengusap matanya yang sedikit berair. Nominal angka waktu seakan berganti lambat. Putaran detik ke detiknya kosong. Dia berharap bisa memulai hidup barunya.
Dia pernah dulu di desa Daura menulis sastra tulisan. Ajang kesempatan kala itu lomba menulis besar-besaran di desa Daura, semua orang pun kala itu mengetahui bahwa Boba tidak menang, pemuda yang kala itu menunduk kesal dan akhirnya menemukan kembali semangatnya.
Bersyukur dan terus bersyukur. Masa lalu hanya bahan renungan yang jelas setiap orang di dunia ini pasti merasakan dan menjalaninya bagaimana masa lalu. Orang tahu dari tatapan dan perasaan, menyatu dalam kenangan. Ini berbeda dari apa yang dikira, sangat jauh berbeda.
Bahkan di dunia ini ada orang bodoh yang dengan santainya menghakimi masa lalu orang lain seakan dirinya adalah orang yang tidak pernah mengalami masa lalu. Bagaimana mungkin masa lalu dijadikan bahan ejekan? Hei, ayolah!
Boba mengepal tangan. “Tabra, seperti yang kau sebutkan sebelumnya mengenai rencanamu. Maka sebutkan saja, tidak usah mengatakan hal-hal yang tidak berguna!”
“Yeah, terkadang sangat mudah bagi seseorang mencari celah keburukan. Itulah hidup ini, kawan. Kau tidak bisa membuat orang lain menyukaimu, mereka bergerak sendiri atas kemauan mereka, bahkan sekehendak mereka yang tak akan bisa kau ikut campur dengan pemikirannya.” Kalboza angkat bicara, Boba semakin tidak suka.
Atmosfer di antara mereka memanas. Ini tidak bergurau. Tatapan Boba memalingkan pandangan. Dia maju tidak hirau mereka lagi. Tabra mengembuskan napas.
“Baiklah. Begini, aku punya rencana kita akan membuat formasi bintang. Dengan gerakan cepat bekerja sama membuat beruang itu pingsan tanpa melukainya, setelah ia pingsan kita bisa kabur dan tidak ada masalahnya lagi. Walau bagaimanapun beruang itu tidak sepantasnya kita bunuh. Ia makhluk hidup yang tentu juga mempunyai hak untuk terus hidup. Aku memang tidak tahu alasan mengapa beruang itu mengamuk, tetapi inilah rencanaku yang sebenarnya tidak ingin membunuhnya.”
Tabra menjelaskan rinci. Boba di sana mengernyit. Dengan gesit mundur. “Astaga? Kau mengubah rencana?”
“Boba, sudahlah.” Ashraq mengingatkan, “Saat ini kita ikuti saja rencana yang telah dikatakan Tabra, walaupun aku tidak tahu rencana apa yang sebelumnya Tabra katakan kepadamu, Boba.”
Kalboza mangut-mangut. “Aku setuju dengan rencana satu ini. Dan bagiku inilah arti sebuah rencana. Kita semua saling mendengarkan pendapat. Boba, ambillah sisi baiknya dari sebuah rencana.”
“Kita tidak mungkin juga membunuhnya. Ia hanya seekor hewan yang malang, tidak berdosa. Kita manusia punya akal dan bisa berbicara. Dari situ sebaiknya kita berempati kepadanya. Esok atau lusa, semoga kita bisa bersama kembali bersama kapten, kembali mengarungi lautan.”
“Kau benar, Kalboza.” Kalpra menyahut senyum. Ashraq mengangguk setuju. Pun Dausa mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
Boba terpaksa menurut. Tabra menatap mereka semua. Baiklah, ini saatnya melakukan formasi bintang dengan gerakan cepat. Satu rencana apakah jitu atau tidak? Mereka ingin membuat beruang itu pingsan. Aswa Daula di sana duduk di batang pohon, hanya mampu menatap dan berdoa semoga mereka bisa terlepas dari beruang tersebut.