
Tabra sudah menggengam tangan. Mempersiapkan diri akan mengetuk pintu tersebut, Kalboza malah menghentikannya.
“Sebaiknya aku saja yang mengetuk pintunya.” Kalboza mengajukan diri.
Mendengar hal demikian, entah apa maksud dari Kalboza ini. Tabra tidak habis pikir mengapa Kalboza ingin mengetuknya.
“Aku saja.” Tabra menjawab pendek, hanya dua kata—aku saja—pun Kalboza berkata demikian sama, kompaknya mereka berdua berebut hanya ingin mengetuk.
Tabra bertanya kepadanya kenapa? Kalboza hanya tertawa pelan. “Entahlah, aku hanya mempunyai firasat kau akan menyalahkanku atas semua ini dan lebih baik kau salahkan saja aku dengan perbuatanku sendiri, bukan malah kau mengada-ada sesuatu yang tidak kuperbuat. Itu sama saja kau berbohong.”
Kalboza mengeluarkan apa yang ada di dalam isi kepala yaitu pikirannya. Entahlah, dia tidak ingin peduli begitu katanya.
Entah dia yang tidak bisa berenang di alam pikirannya sendiri atau dia hanya sekedar mengutarakannya, mengatakan jujur.
“Baiklah, sebenarnya itulah alasanku mengajakmu. Memang, aku hanya ingin menyalahkanmu. Sekarang, kau saja yang mengetuk pintunya dan setelah kau mengetahui akan semua ini, firasatmu itu tidak salah dan benar adanya. Apakah kau akan mempertimbangkan diri untuk menjauhi tuduhan, untuk pergi dari tempat di mana kita saat ini sedang berdiri?”
Tabra. Tabra. Kau tersibuk dengan segala ocehanmu dan tidak memikirkan bagaimana perasaan lawan bicaramu.
Walaupun Kalboza tidak terlalu menanggapinya serius, tetapi mendengar hal itu cukup membuatnya menelan ludah pahit. Yeah, disalahkan akan kesalahan yang tidak diperbuat oleh dirinya adalah suatu hal yang amat terasa sakit olehnya.
Dijadikan kambing hitam tanpa alasan yang jelas cukup merasa dirinya tak mampu menjelaskan dengan kosa kata bagaimana sakitnya mempunyai teman seorang penuduh dan tentulah pengkhianat.
“Kau benar-benar aneh, mempertanyakan hal seperti itu yang membuatku merasa ingin muntah. Lelaki sepertiku sudah banyak disalahkan, sudah banyak dikatakan orang dengan pemikiran mereka. Tapi, aku tidak menganggapnya serius, bahkan dulu aku tidak pernah memikirkannya. Apa yang kuperbuat itulah yang kuyakini, apa yang dikatakan orang berupa dusta, justru itu tidak menambah kejelekan pada diriku. Seperti kayu gaharu yang dibakar semakin menebar bau harum, begitulah keyakinan yang pernah kutelaah di Desa Daura.”
Penuturan Kalboza berawang dan mengempun. Tabra terkeseok ludah kala mendengarnya, itu seperti nada sebuah syair yang pernah dia dengar. Nada syair yang menggetarkan hati, menentramkan jiwa di saat tubuh tak mampu meredamnya.
“Kau mempunyai seorang guru yang bijaksana, Kalboza. Itulah alasan mengapa kau sampai sekarang menyakininya dengan cukup sama dengan mereka, bijaksana.”
Tabra mencoba pengalihan topik dan mencoba untuk menghibur dengan kosa katanya. Memberikan suatu arah pembicaraan yang mungkin tiada habisnya, tiada dalam jumlah banyak itu diterangkan.
__ADS_1
Kalboza tersinggung saat seseorang mengatakannya bijaksana. Sungguh, amat jeleklah bagi dirinya orang yang mengatakan hal demikian. Kebijaksanaan tidak dinilai dari sebuah kata. Karena kata bisa jadi hanya topeng penuh kedustaan.
Tindakan yang selama ini diyakininya adalah sebuah kebijaksanaan. Dengan itu, kata yang sesuai dengan tindakan bisa dikatakan bijaksana. Kalboza merasa diri hina, merasa tidak pantas disebut demikian. Hal itu sejak dulu terasa amat ganjil dengan peristiwa pengurungan atas dirinya oleh sekian mahaguru. Kalboza dimasukkan ke dalam penjara atas dasar yang tidak mendasar. Bagaimana kala itu dia bertahan, hanya detik ke detik berharap bahwa tanah menenggelamkannya hingga ke dasar. Tidak ada yang perlu dirisaukan.
Tidak ada yang perlu ditangisi. Kalboza telah dicoret dari daftar murid. Dia dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam penjara. Itulah masa kelam seorang murid durhaka, kata yang tersebar di beberapa orang menyebut Kalboza murid durhaka.
“Kau tahu. Orang sepertiku tidaklah bijaksana, lebih banyak bicara dibanding bertindak. Kadang sering ucapanku tidak sesuai dengan perilaku dan tindakanku. Dengan kata bijak bukan berarti aku orang bijak, aku hanya ingin menghibur diri dengan kata yang bisa menentramkan pikiranku. Itu saja bagiku sudah seperti hal yang menyenangkan. Bisa dibilang aku seorang pembohong yang sadar tak sadar telah berani mempermainkan kata ke kata.”
Kalboza menjelaskan sekelumit tentang dirinya. Tabra mendengarkan penuturan itu merasa iba dan cukup mengerti.
“Heh, sudahlah. Kau seorang kesatria yang suka menyamar. Semakin banyak kita bicara, semakin kutahu memang kau bukan orang bijak yang tidak bisa menempatkan sesuatu di tempat layak. Seperti kau sering salah meletakkan kain handuk di kasur.”
Pembicaraan mereka mulai berubah ngawur. Beralih ke arah lawakan Tabra nan garing dan tidak enak didengar. Lama juga mereka berbincang hingga tak sadar berdiri di sana seperti orang yang menghadap bendera penuh keraguan antara ingin menuju peperangan ataukah tidak. Mereka pada akhirnya berhenti bicara usai Tabra mengatakan banyak lelucuan garing.
Tabra pun sudah mengizinkan Kalboza mengetuk pintu dan berkata tidak ingin menyalahkannya. Kalboza pun memutuskan untuk mengetuk pintu. Dengan begitulah pembicaraan absurd mereka berakhir.
Di dalam ruangan Akma Jaya sedang menatap sebuah surat lama yang ditulis Kapten Broboros. Dengan lentera kecil mata fokus melihatnya, ruangan tempatnya melihat surat itu cukup gelap, hanya diterangi lentara kecil yang cahayanya tampak redup, tidak terlalu terang.
Apalah yang hendak dikata duhai temanku. Nasi usai menjadi bubur, mereka semua kelompok Bajak Laut Hitam itu telah menjadi buronan bajak laut dan hingga sekarang terus berlayar ke mana pun arah ombak dan arah angin menuntun mereka untuk melarikan diri dan mencari makna hidup yang selama ini masih menggantung, mengawang-awang dan membuat mereka merasa bimbang antara mengikuti atau mengakhiri segalanya dengan menyerahkan diri atau terus berlayar atau mati diujung benua yang tak ada manusia.
***
“Kapten, apa Anda sedang tidur?” Tabra bersuara memanggil, sedikit berteriak. Kalboza masih saja mengetuk. Terhitung dua kali dan usai itu pintu terbuka.
“Mengapa kalian tidak buka saja pintunya. Tidak usah sungkan terhadapku.” Akma Jaya mengatakannya usai menatap mereka.
Ada banyak basa-basi di sana. Tidak ditulis untuk mempersingkat kosa kata. Akma Jaya cukup tertawa tawa melihat tingkah konyol mereka. Awak kapal dan sahabatnya.
Mempersilakan masuk dan terus terang bahagia rasanya. Bagi Kalboza dan Tabra sikap itu cukup menyenangkan, tidak seperti kebanyakan kapten di luaran sana.
__ADS_1
Kapten Riyuta, misalnya. Itu kisah lampau kalau diceritakan juga sepertinya tidak penting, ya sudahlah. Kita lanjutkan saja.
“Jadi, bagaimana rencana kita, Kapten?” Tabra mengajukan suaranya, memulai topik dengan sedikit membuka toples kacang.
“Rencana apanya?” Akma Jaya garuk kepala dan melepaskan topinya. Pura-pura tidak mengerti dan menampakkan kebodohan.
Tabra dan Kalboza saling pandang, hendak tertawa. “Bagaimana ini, Kapten. Ternyata anda tidak punya rencana sama sekali. Bukankah itu adalah markas musuh?”
Kalboza menyikut lengan Tabra. “Seettss.. jangan lancang, biar aku saja. Kau bicara seperti tiupan angin, terlalu kencang.”
Tabra memelotot saat mendengarnya dan menyerahkan perkara ke Kalboza. Baiklah—kau rupanya sok pintar. Tabra merasa geram sendiri, tetapi tidak mengapa.
Dia sudah wajar dengan rasa kesal yang mendadak datang tanpa diundang.
Akma Jaya daritadi hanya memutar-mutar kompas dan Kalboza merasa Tabra bisa memaklumi dirinya, lalu mengeluarkan suara. “Rencana itu penting, Kapten. Saya ingin mengajukan beberapa rencana yang bisa kita atur dari sekarang, perlahan tapi pasti. Ada berapa jumlah mesin tembak, Kapten. Kita punya banyak. Pun sama, meriam, busur juga pedang. Kapal kita tidak kekurangan senjata, tetapi kekurangan orang yang kurang terampil dalam menggunakannya. Kapal ini juga telah dilengkapi aura mistik yang kala itu dibantu Adfain. Kapal kita dapat berlayar lebih cepat dari siapa pun dan kita terus kabur tanpa arah dan tujuan. Mereka terus mencari kita. Akankah lebih baik kita memunculkan diri saja sebagai penjahat yang teramat penjahat, kita mengakui kesalahan dan paling penting kita memperbuat sesuatu yang memang kita bersalah harus dituntut dan diadili.”
“Lalu itukah rencanamu?” Akma Jaya bertanya, dia cukup menyimak.
Akma Jaya sedikit menyela. Tampak Kalboza terburu-buru dan Tabra menyumpal mulut Kalboza, itukah rencana yang hendak membunuh diri mereka saja.
“Kurasa rencanamu terlalu naif, Kalboza.”
Kalboza masih belum selesai bicara, Tabra telah salah menyumpul mulutnya. Membuat Akma Jaya menjadi salah paham dan termenung dalam memikirkannya. Tabra berusaha mewanti-wanti memberi solusi lain, tetapi semua itu tidak didengarkan oleh Akma Jaya yang kini sedang tengah berdiam diri merenung.
Sang kapten berjubah hitam itu juga sudah memperkirakan semuanya. Akan awak kapal, anak buah dan juga dirinya. Dia terus saja berlatih untuk tetap tenang dan menjalani semua hal dengan sabar. Sebagai seorang pelaut yang kini menjadi putus asa dalam mengarungi lautan, sudah lama.
Kapten Atlana pun sudah lelah menunggu dan menunggu. Apakah sudah saatnya mereka muncul dan berhenti dari bersembunyi. Apakah sudah saatnya mereka menerima hukuman sang laut?
Entahlah, kapten itu sedang mempertimbangkan perkara yang seolah dia tidak bisa berpikir lebih jernih lagi untuk perkembangan kelompok mereka.
__ADS_1
Untuk seterusnya dari masa ke masa dan nantinya. Untuk jadwal yang akan dihadiri oleh tawa atau tangisan. Untuk acara yang akan diwakili oleh baginda raja Hurmosa. Baginda Raja mencari ke sebuah teluk dan menemukan peti jarahan hasil buangan kelompok Jaraya. Bagaimana jalan cerita akan hal itu bisa terasa berliku.
Entahlah, lagi dan lagi entahlah.