
Setelah kepergiaan Kapten Atlana, Akma Jaya menatap ke arah Tabra dan Aisha yang sedang terdiam, tak dapat berkutik.
"Kalian berdua, masalah tentang kejadian sebelumnya, tidak usah kalian pikirkan, mengenai apa yang sudah terjadi, itulah yang dinamakan roda kehidupan, suatu hari nanti, saat-saat itu tiba, Kapten Kaiza akan menerima balasan yang setimpal, kita akan menyerang markas mereka." Akma Jaya berjalan menghampiri keduanya.
"Baiklah, Kapten!" ucap Tabra tersenyum.
Setelah itu, Akma Jaya melakukan perundingan bersama Tabra dan Aisha. Mereka bertiga membahas mengenai markas Kapten Kaiza.
Mereka membahas semua itu sambil berdiri saling memandang satu sama lain, saling bertatapan penuh perbincangan.
"Bagaimana menurut kalian?"
"Apakah kita akan melakukannya sekarang? Apakah kita akan berlayar pergi ke markas Kapten Kaiza?" Akma Jaya memberi pertanyaan sederhana.
Tabra menggeleng, Aisha juga sama.
"Kapten, saya tidak mempunyai kemampuan, bahkan untuk menghadapi Kapten Atlana saja, saya tidak mempunyai kemampuan dan keberanian, terlebih Kapten Kaiza, seorang yang memegang gelar pertama di Pilar Tujuh Lantai."
Tabra menjelaskan alasan, memberi gambaran logika tentang kekuatan Kapten Kaiza, sedangkan untuk menghadapi Kapten Atlana mereka sudah ketakutan, usaha dan mental, keduanya harus seimbang. Akma Jaya menganggukkan kepala, dia menerima alasan yang dijabarkan oleh Tabra.
"Benar, Kapten. Saya juga merasa demikian!" Aisha berkata sedikit meniru alasan Tabra.
"Oh, baiklah. Aku daritadi berencana dan sekarang aku sudah memutuskan ingin melanjutkan perlayaran kita ke Desa Lauma!" Akma Jaya menuturkan rencananya.
"Desa Lauma?"
"Kapten, bagaimana dengan ruangan penyiksaan yang ingin kita lihat?" Tabra berbicara dengan tangan kanan yang mengacung ke atas.
"Ruangan itu, sepertinya tidak usah kita lihat, mengenai apa yang ada di dalamnya, jelas itu cukup mengerikan!"
"Lebih baik, kita mencairkan suasana dengan menikmati hawa perlayaran."
Akma Jaya menjelaskan alasan, memilih untuk meninggalkan Desa Buana, saat itu suasana tidak memungkinkan, terlebih sebagian anak buah sudah mengalami ketakutan, Akma Jaya menatap mereka penuh perhatian.
"Mungkin, lain waktu, jika kau ingin, pendamlah dulu, kita akan berlayar lagi ke desa ini, terlebih apa yang banyak orang bicarakan sudah kita ketahui, kebanyakan dari rumor yang beredar, beberapa memang benar adanya, seperti bajak laut yang menguasai Daerah Daulisa, dia bernama Kapten Ranjaya, kita sudah mengalahkannya, seperti kebun wortel, kita sudah memanennya."
"Dan beberapa hal lain, seperti kristal yang sudah kuberikan kepada Kapten Atlana."
Tabra mengangguk pelan, Aisha juga begitu, mereka berdua sama-sama mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah, Kapten. Saya setuju dengan apa yang sudah Anda katakan!" Tabra berucap menerima alasan yang disampaikan oleh Akma Jaya.
Aisha bersiap beserta Tabra dan anak buah yang sebelumnya lari, mereka kembali ke tempat semula, menghadap Akma Jaya, setelah mendengar kekalahan Kapten Atlana.
Mereka semua memasuki kapal dan berlayar menuju Desa Lauma.
***
Desa Lauma terletak tidak jauh dari Desa Buana, ia berjarak antara dua pulau dan jika ditembus, perlayaran tidak memakan waktu banyak, hanya kurang lebih dua jam. Jika angin berembus kencang, hanya menempuh setengah jam perlayaran menuju Desa Lauma.
Desa Lauma seperti halnya Desa Buana, bukan berpasir, tetapi tanah yang berwarna kecoklatan karena desa tersebut masih dalam kawasan Daerah Daulisa.
Saat perlayaran, Akma Jaya mengobati luka yang berada di sekujur tubuhnya, Aisha membantu, mengobati luka yang ada di punggung Akma Jaya, walaupun luka tersebut tidak terlalu dalam, hanya berupa goresan, kendati demikian, luka tersebut mengeluarkan banyak darah.
Usai dari mengobati luka, mereka sampai di Desa Lauma, desa yang mempunyai penduduk berpakaian kumal serta rambut yang acak-acakan, seperti orang yang tidak terawat.
Akma Jaya singgah dan menetap di salah satu perumahan, dia menginap di sana, mereka semua beristirahat di perumahan tersebut.
Namun, berbeda dengan Tabra, hanya dia sendirian yang mempunyai rasa penasaran yang mendalam tentang wilayah Desa Lauma, dia berjalan menyusuri setiap jalanan, hingga dia melihat-lihat pasar yang tidak ramai.
Di pertengahan pasar, ada salah satu kakek tua, dia berjualan aneka benda antik, kakek tua itu masih kuat berteriak untuk menarik pembeli, teriakan yang lantang.
"Ini topi Bajak Laut abad ke 101, bajak laut penuh garang, dia berbadan besar dan kuat gagah perkasa!"
"Topi ini sangat langka, dibeli, dibeli!"
Akibat dari tuturan mulut yang tidak berhenti, beberapa orang menghampiri, tetapi disayangkan dari mereka tidak ada yang membeli, hanya diam menonton bagaikan menonton pertunjukkan sulap.
Dari arah kejauhan, Tabra menyaksikan dengan detail. Dia berlama-lama, tak jenuh memandang orang-orang serta si kakek tua yang sedang berjualan.
Tabra menghampiri kakek tua itu setelah berlama-lama melihat dari kejauhan.
Tabra berdiri menonton si kakek tua yang berteriak-teriak memperkenalkan sejarah dari benda antik tersebut.
Kakek tua itu mengambil salah satu peta.
"Ini adalah peta harta karun, benda antik yang sangat susah didapatkan, konon katanya sebuah kapal berlayar, ia terdampar di pulau dengan harta yang cukup banyak, hingga dia memutuskan untuk meletakkan hartanya di pulau tersebut, dia menggambar sendiri peta ini dengan keterampilan seorang kapten bajak laut!"
Kakek tua itu menjelaskan panjang lebar, tak terlihat lelah, mulut yang berucap, napasnya masih bisa berembus.
__ADS_1
Tabra mengangguk takjub, dia akhirnya menanyakan harga peta. Lantas, membeli dengan harga yang sudah ditetapkan oleh kakek tersebut.
Dia bergegas menuju ke tempat penginapan untuk menyampaikan hal tersebut kepada Akma Jaya.
***
Sementara itu, Akma Jaya tengah berbincang-bincang dengan salah satu warga di desa tersebut, memperbincangkan wilayah desa Lauma, tentang pertanyaan sederhana, mengapa sebagian orang terlihat berpakaian kumal dan rambut yang beracak-acak, tidak terawat.
"Di desa ini, tidak ada penguasa yang mengatur perekonomian, sehingga membuat orang-orang susah untuk mengatur harga-harga seperti yang terlihat, harga seenaknya mereka naikkan, tidak ada yang mengatur semuanya!"
"Saya pernah hidup pada usia sepuluh tahun, saat itu desa ini di pimpin oleh satu orang bernama Yarawi, seorang pemimpin yang sangat adil, dia mengatur perekonomian rakyat dengan begitu bijak, berbaur menunjukkan sikap seorang pemimpin yang kami pandang baik dan dermawan, saat ada orang yang kesusahan, dia mengulurkan tangan, memberi bahan pokok kebutuhan mereka."
"Namun, beberapa waktu setelah itu, dia mengembuskan napas terakhir, membuat rakyat bersedih hati, nuansa duka berselimutkan air mata, berhari-hari, berbulan-bulan, saat itulah perekonomian rakyat di desa ini tidak stabil, berangsur-angsur, semakin hari, semakin hari berlalu, hingga saat ini mereka kesulitan menentukan harga dari barang-barang yang mereka beli di wilayah lain dan menjualnya ke desa ini, dari mereka ada pedagang yang mementingkan diri sendiri."
Akma Jaya menyimak, mendengarkan apa yang dikatakan orang tersebut.
"Saat perekonimian desa ini tidak stabil, para pedagang menaikkan harga sesuka hati mereka, beberapa rakyat kecil seperti yang Anda lihat, mereka terpaksa membeli bahan pokok kebutuhan mereka, walaupun harganya sangat mahal."
"Mereka tidak bisa memprotesnya, hanya berpasrah diri karena tidak ada yang memimpin desa ini."
"Mereka rakyat kecil, bekerja demi memenuhi kebutuhan, segenggam nasi untuk mengganjal perut, sedangkan untuk hal yang lain, seperti pakaian, mereka tidak memikirkannya, hanya sibuk berkutat mengenai bahan pokok kebutuhan."
Akma Jaya mengangguk pelan, setiap kali orang itu berucap, dari semula mereka berjumpa, Akma Jaya tidak menanyakan nama, hanya bertanya mengenai warga yang memakai pakaian kumal, tetapi tidak disangka orang itu menjelaskan dengan panjang lebar, membuat Akma Jaya berdiam sambil mengangguk, mendengarkan apa yang dijelaskan oleh orang tersebut.
"Siapa namamu?" Akma Jaya menuturkan kalimat tanya, setelah orang itu berhenti sejenak untuk menarik napas, penjelasan yang panjang membuatnya hampir kehabisan napas.
"Adfain, orang-orang terbiasa memanggil saya dengan nama fain!" jawab Adfain memperkenalkan nama beserta nama panggilannya.
Akma Jaya tersenyum.
"Baiklah, Adfain. Karena aku tidak ingin memotong nama seseorang, maka lebih baik kupanggil kau Adfain, nama itu tidak terlalu panjang, untuk apa aku memotongnya?" Akma Jaya bergurau menatap Adfain penuh tawa.
"Ah, kalau begitu, sambunglah bercerita tentang desa ini!" Akma Jaya melanjutkan ucapan, menyuruh Adfain untuk menceritakannya.
"Baiklah, saya akan melanjutkan bercerita mengenai desa ini kepada Anda!" Adfain mulai menarik napas untuk menceritakannya kembali.
Namun, secara tiba-tiba Tabra datang mengejutkan mereka dengan teriakkan yang terdengar semerbak dilubang telinga.
Secara otomatis, Adfain terpaku dalam diam, dia tidak jadi menceritakannya karena kedatangan Tabra yang berbicara lantang ingin menceritakan tentang benda yang dia dapatkan saat berada di pasar.
__ADS_1