Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 119 – Syin2: Lumrah


__ADS_3

Dagya berniat memulai pembicaraan baru. Raut wajahnya ternampak mantap. “Akma Jaya, aku mengetahui banyak tentangmu melalui data yang baru kulihat. Kau adalah kapten Bajak Laut Hitam. Bagaimana perasaanmu kala memimpin? Apa yang kulihat di masa lalumu kau tidak punya sikap kepemimpinan sama sekali. Bahkan, kau menganggap anak buahmu semacam keluarga. Apa perasaan yang selama itu ada di dalam sanubarimu?” Dagya bertanya.


Akma Jaya mengangkat bahu. “Tidak ada apa pun yang kurasakan. Mereka bagiku adalah keluarga, harta berharga yang satu-satunya kupunya.”


“Oh. Ringkasnya kau menganggap mereka sebagai harta berharga belaka?”


“Lebih dari itu. Aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar, selama kau tidak pernah merasakan di dalam kehidupanmu sendiri, maka kau tidak akan bisa mengerti.” Akma Jaya menjelaskan apa yang menurutnya pantas. Menatap Dagya yang daritadi hanya memutar mutar topik.


Bukankah dia bisa melihat masa lalu seseorang? Tidak dimungkiri, dia bisa melihat data demi data. Kemungkinan lain, Akma Jaya menduga Dagya melakukannya hanya sebagai percakapan saja, pemanis waktu dalam kebersamaan ada obrolan dengan beberapa pertanyaan.


Lihatlah, ekspresi Dagya sekarang menyeringai, mendengar ucapan sebelumnya tampak sedikit tidak setuju.


“Kau berkata seperti tahu tentangku. Haha... Akma Jaya, minumlah lagi.” Dagya kembali memberikan minuman yang semula. Tertawa sedikit nyaring.


Akma Jaya menyambut, meminumnya. Seperti biasa, lumayan segar di tenggorakan. Itulah minuman yang begitu terkenal di tahun 2021. Di dimensi waktu, dari zaman mana pun mereka bisa memakan dan meminum sesukanya.


Percakapan telah usai. Dagya dipanggil untuk bergegas ke tempat pusat kontrol waktu di sana katanya rekan-rekan membutuhkan bantuan. Dengan cepat dia sejenak berbasa-basi, lantas berdiri tegak menatap depan, berlari meninggalkan Akma Jaya seorang diri. Dia menghilang di detik-detik berlari. Apa yang sebenarnya terjadi? Akma Jaya menatap bingung.


Detak sang waktu berdetak, bergema memenuhi ruangan lebih nyaring. Akma Jaya kini duduk sendirian seraya memikirkan cara untuk bisa keluar dari dimensi waktu yang seakan menahan dirinya. Berusaha tidak memikirkan mengenai sosok Dagya yang menghilang bagai ditelan cahaya putih.


Cahaya yang semula dia tatap saat pertama kali masuk ke dalam dimensi waktu. Sekarang Akma Jaya mengusap wajahnya.


Kacamata ghaib yang semula terpasang. Akma Jaya tidak mengetahuinya, bahkan saat menyentuh wajah terasa seperti biasa. Merasa tidak memakainya sama sekali. Cahaya putih yang semula ditatapnya berubah jalanan, gedung. Dan sekarang dia berada di dalam suatu ruangan. Berniat ingin beranjak pergi. Ayolah, apakah ada jalan keluar dari ruangan itu? Akma Jaya berpikir lebih keras, lebih lama berkutat untuk mendapatkan jawabannya.


Ruangan tertutup. Senyap dari suara manusia, hanya detak dari sang waktu yang daritadi segar terdengar di kedua pasang telinga. Seperti tidak ada pintu. Dagya pergi seakan menghilang begitu saja, itulah yang sekarang dia herankan. Kenapa dan ada apa? Dua pertanyaan sekilas tidak panjang bermuara di dalam benak pikirannya.


Akma Jaya berpikir untuk sementara mengelilingi ruangan demi ruangan. Rupanya semacam ada kekuatan aneh yang membuat dirinya bisa berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Kaget. Ada tikus melintas. Astaga, di dimensi waktu ada tikus? Sangat tidak bisa dipercaya.


Akma Jaya lanjut berjalan menelusuri ruangan. Senyap dari suara manusia. Detak sang waktu berdetak, terdengar segar di kedua pasang telinga, lelah mendengarnya. Apakah ada semacam tombol untuk mematikannya, seperti tidak ada. Dimensi yang hanya ada waktu, tetapi tidak disangka ternyata dibalik itu semua ada sepuluh makhluk yang berwujud marmut, berjubah merah. Merekalah penghuninya—kaum yang tidak pernah tidur, bahkan berpusat sebagai perkotaan besar. Menjulang gedung tinggi, di dalam gedung itu terdapat suatu ruangan khusus mengontrol waktu yang semula Akma Jaya temui sendiri.


Sepuluh bayangan yang jelas ditatap menjadi sesosok marmut berjubah merah. Mereka semua mengelilingi Akma Jaya. Itulah yang sebelumnya terjadi.


Penjelasan demi penjelasan masih terngiang jelas di dalam benak Akma Jaya saat menelusuri ruangan. Tentulah penjelasan yang dijelaskan Dagya sebelumnya. Salah satu di antara semuanya, hanya satu yang melekat kuat bagai tali yang diikat erat di kepala adalah mengenai Kapten Kaiza.


Sosok kapten yang kata Dagya usianya tetap sama dengan waktu itu yang membunuh seluruh penduduk desa dan orang tua Akma Jaya. Ternyata di dunia yang terbentang daratan dan lautan ada semacam benda pusaka yang bisa membuat seseorang menjadi seperti itu. Akma Jaya tidak pernah menyangka. Usianya kini sudah 40 tahun. Mendekati tua semakin tua.


Selama itu dia terus berdiam di dalam pulau Andaba bersama Tabra dan Aisha. Mereka bertiga menghabiskan waktu terlalu lama bersembunyi hingga usia saat ini memutuskan berlayar di lautan lepas


Sosok Akma Jaya yang tidak begitu tahu mengenai perkembangan Kapten Kaiza, ternyata ada banyak hal yang terjadi.


Di tengah deru angin bertiup selama itu, selama dia bernapas di dunia ini. Dia tidak tahu apa pun. Kadang keajaiban dari suatu benda pusaka memang sedikit sulit dipercaya, tetapi itulah kenyataannya.


Akma Jaya terus menerus menelusuri ruangan. Pindah ke pintu berikutnya. Tak disangka dia keluar dari gedung menjulang tinggi tersebut. Setelah penelusuran lama, embusan napas lega kini terkeluar syukur.


Apa yang sekarang terpampang di depan Akma Jaya? Perkotaan. Dipenuhi gedung dan makhluk-makhluk berwujud marmut bermacam pakaian. Tentulah mereka semua menatap Akma Jaya yang keluar dari gedung itu seketika kaget.


Ada manusia? Mereka mengelilingi Akma Jaya. Menatap penuh penasaran mengenai sosok manusia. Lihatlah, manusia yang selama ini mereka pelajari di sekolah yang katanya semacam makhluk hidup. Makhluk yang berada di kerak bumi.


Sekarang mereka melihatnya jelas terpampang sesosok manusia berjubah hitam memakai topi bundar. Mereka tidak bermaksud jahat sekadar ingin berkenalan.


“Siapakah dirimu?” tanya salah satu di antara banyaknya marmut yang bergerembul mengelilingi Akma Jaya.


Sosok kapten berjubah hitam itu tersenyum menatap marmut yang tadi bertanya. “Ya, siapakah aku? Jawabannya aku adalah seorang manusia yang sekarang sedang tersesat di sini. Bisakah di antara kalian berbaik hati memberitahuku mengenai jalan untukku bisa keluar dari tempat ini?”


Mereka semua diam. Tidak ada jawabannya sama sekali. Mengapa? Adakah penjelasan yang masuk akal mengapa mereka terdiam, enggan untuk menjawabnya atau memang tidak tahu jawabannya. Entahlah, Akma Jaya semakin merasakan hawa-hawa keanehan yang membebankan pikirannya sekarang.


“Apakah kalian mendengar ucapanku sebelumnya?” tanya Akma Jaya lagi, kali ini dia mendekatkan diri ke salah satu marmut.


“Hei, bisakah kau beritahu aku, alasan kenapa semua marmut yang kutanya termasuk dirimu sekarang mendadak berubah diam. Adakah penjelasan yang bisa aku mengerti?” Akma Jaya berbisik. Sosok marmut lainnya hanya terdiam menatap, memperhatikan lebih jelas sosok manusia yang selama ini ingin mereka tatap.


Mereka diam. Kemungkinan karena baru kali ini menatap sosok manusia, diam menatap beku. Hanya bentuk kalimat terkesima yang sekilas terdengar samar, seperti gumaman dari beberapa marmut.


“Hei, apakah dia akan memakan kita?” bisik salah satu marmut ke temannya. Marmut yang ditanya menggeleng ketus, juga menyilangkan tangan di dada. Ia diam tak menjawab. Itulah kebiasaan yang sering ia lakukan.


Salah satu marmut yang tadi berbisik masih bersikukuh mengulangi bisikan sebelumnya, terulang-ulang hingga tiga kali. Sayang sekali, masih tidak ada jawaban dari temannya.


Mungkin ia malas menjawab atau ada hal yang tidak ingin ia katakan.

__ADS_1


“Hei, jawablah pertanyaanku tadi.” Ia kembali membisikkan sesuatu. Temannya mungkin lelah, kali ini balas berisyarat 'aku tidak tahu.' Itulah isyaratnya.


Marmut yang semula berbisik sudah puas mendapatkan jawaban, mangut-mangut mengalihkan pandangan.


Sekarang tampak menatap Akma Jaya yang berada di sana. Wajahnya penasaran, penuh dugaan lain-lain di dalam benaknya.


Akma Jaya masih menunggu jawaban dari salah satu marmut yang tadi dia bisikan. Ingin tahu jalan keluar. Adakah? Atau memang tidak ada sama sekali, mengapa marmut yang semula berbicara dengannya diam, termasuk marmut yang dibisikannya suatu pertanyaan.


Mengapa? Adakah penjelasan agar dia mampu menemukan titik terang dari semua hal yang telah dia temui. Akma Jaya butuh penjelasan.


“Maaf, aku juga tidak tahu mengenai itu.” Marmut itu balas berbisik. Lengkap sudah rasanya, Akma Jaya mengembuskan napas kecewa, bertambah semakin merasa ada semacam keanehan, tetapi berusaha dirinya tetap berprasangka baik.


Berusaha agar pikirannya tetap tenang. Ini bukan suatu hal berat. Bukan suatu hal gila yang membuatnya masih tidak paham. Ayolah, ini sangatlah aneh? Sangat tidak bisa ditangkap oleh akal pikiran yang sehat. Cacat logika. Letih memahami dan lain sebagainya. Sebenarnya ada apa?


Semua marmut yang bergerembul masih menatap kuat-kuat ke arah Akma Jaya. Ada yang juga tidak mengerti bagaimana bisa sesosok manusia tersesat di tempat mereka. Apa yang semula didengar mereka Akma Jaya mengatakan dirinya tersesat, sepertinya itu bukanlah diksi yang tepat.


Bahkan para marmut itu bingung juga saat mendengarnya. Berusaha mengerti, tetapi tidak bisa menjelaskan. Ini baru pertama kali ada sesosok manusia yang tiba di alam mereka. Tidak tahu mengapa dan apa alasannya.


Para marmut itu sekadar penduduk biasa, sekadar hidup berkembang biak dan tinggal mengurus kehidupan dari hari ke hari.


Kemungkinan tidak ada apa pun yang disembunyikan, kemungkinan lain memang mereka menyembunyikan sesuatu yang enggan mereka ucapkan.


Itulah prasangka Akma Jaya sekarang. Menatap diam ke seluruh marmut yang bergerembul mengelilinginya.


“Siapa namamu? Apakah kamu mempunyai nama?” tanya salah satu marmut lagi. Akma Jaya sebelumnya memang tidak menyebutkan nama. Sekadar menyebutkan sosok dirinya sebagai seorang manusia.


Seberapa penasaran dirinya. Rasanya sungguh membuat perasaan yang semula tenang sekarang kian terasa membingungkan. Apa yang sebenarnya telah didengar Akma Jaya sekilas tangkap. Dia sekilas menduga hal lain dan berusaha untuk menenangkan pikiran.


“Namaku Akma Jaya. Kalian bisa memanggilku dengan ringkas Akma.”


Mereka mendengarnya langsung. Tertegun sejenak dari sebagian marmut. Sebagian lagi bersitatap kukuh dengan pertanyaan berlipat ganda di dalam benak pikirannya.


Sekarang banyak mata tertuju fokus seraya bergumam macam-macam. Akma Jaya? Nama yang terdengar asing di telinga mereka, bagaimana tidak asing lain wujud, lain tempat, tetapi anehnya mereka berbahasa seperti bahasa Akma Jaya. Paham dan mengerti maksud ucapannya.


“Akma Jaya? Namamu sepertinya terdengar aneh.” Salah satu marmut menyahut. Yang lainnya masih kukuh menatap, masih bergumam sesama mereka.


Akma Jaya tertawa kecil. Bentuk senyuman yang tidak terlalu terdengar suara tawanya. Salah satu marmut juga ikut tertawa. Mereka semua tertawa nyaring. “Kenapa kalian tertawa?” tanya Akma Jaya.


“Itu lumrah bagi kami semua.”


Akma Jaya memegang dagu. “Lumrah?”


“Ya, lumrah. Kalau ada hal lucu, tawa itu memang lumrah bagi kami. Apakah manusia tidak mengenalnya?” tanya salah satu Marmut. Semua Marmut lainnya mengiakannya. Mangut-mangut tersenyum.


Marmut-marmut meminta bersalaman. Ini baru pertama kali mereka bertemu manusia. Itulah moment berharga katanya. Kalau ingin tahu moment berharga juga lumrah harus ada bukti kenang-kenangan.


Salah satu marmut berkata demikian, meminta Akma Jaya untuk berfoto dengannya. Eh, tunggu? Foto? Di zaman itu ada kamera? Akma Jaya tidak tahu apa itu kamera. Dia memutuskan bertanya.


“Apa maksud kalian berfoto? Apa itu kamera?” Primitif sekali, ya. Wajar saja di tahun 1690 belum ada kamera. Eh, ada di wilayah padang pasir, salah satunya kamera yang bisa memotret dengan sedikit buram tanpa pencahayaan, gelap. Hanya saja, Akma Jaya belum pernah sekali pun tahu.


Belum pernah sekali pun melihatnya langsung, belum pernah sekali pun berfoto. Ini adalah kalimat pertama kali yang dia dengar mengenai berfoto dan kamera.


“Eh, kamu tidak tahu kamera?” Salah satu marmut heran.


“Iya, sangat tidak bisa dipercaya, ternyata kamu tidak tahu sama kamera? Baiklah, aku akan menjelaskan kepadamu. Ringkasnya begini, kalau kamu tidak tahu apa itu kamera, kamu juga tidak akan tahu apa itu berfoto.” Salah satu marmut lainnya menyahut. Katanya ingin menjelaskan, apa itu yang dinamakan penjelasan? Entahlah.


Akma Jaya berpikir sejenak. “Oh, begitu?”


Sosok kapten itu serius sekali dalam masalah ini, dia menelan semua ucapan, menganggap sebagai ilmu pengetahuan baru yang masuk ke dalam kepalanya.


“Iya, apakah di alam manusia tidak ada kamera?” tanya salah satu marmut lainnya bersuara imut. Ah, benar. Hampir lupa menjelaskan, suara mereka semua imut-imut. Marmut namanya, didengar pun lucu, rasa ingin tertawa. Tahan dulu, ada yang harus dibicarakan, penting.


“Di alam manusia kemungkinan ada, tetapi aku tidak tahu, juga tidak pernah menemukannya atau hanya aku yang belum menjelalajah penjuru dunia hingga tidak tahu apa itu kamera.” Akma Jaya menjelaskan tidak pasti. Dia memang tidak tahu sama sekali mengenai kamera, untuk apa berlagak sok tahu.


Entah ada di mana kamera itu berasal. Akma Jaya memang tidak pernah tahu. Kelompok Bajak Laut Hitam selama ini hanya berlayar di lautan lepas, melakukan kesalahan atas hancurnya menara. Kabur mencari perlindungan di desa Lauma dari bulan ke bulan. Akma Jaya saat itu memutuskan untuk mencari sumber mata air kehidupan. Berapa lama, berbulan-bulan lamanya terombang-ambing di lautan, banyak mendapatkan kesusahan.


Sosok kapten itu tidak berputus asa, terus menerus berjuang dan berjuang terus percaya demi apa yang hendak dia dapatkan. Bukti kesunggahannya tercapai. Lihatlah, sumber mata air kehidupan telah didapatkan dengan perjuangan melawan monster penjaganya.

__ADS_1


Dengan perjuangan terombang-ambing di lautan, penuh perjuangan lelah, keluh dan hampir berputus asa. Pelayaran selanjutnya pergi menemui Kapten Broboros untuk menyerahkan sumber mata air kehidupan yang telah mereka dapatkan.


Kapal bertolak. Di tengah pelayaran, Tabra baru menyadari bersahut suara lantang mengapa sosok kapten itu tidak mengatakan tujuan pelayaran lebih awal untuk bermusyawarah, wal hal mereka adalah buronan. Saat itulah surat meminta perlindungan kepada Kapten Broboros diterbangkan, surat itu memelesat dibawa angin, itu terjadi karena pemberian benda pusaka dari Adfain.


Benda ajaib yang bisa memerintahkan angin, itu sama dulu kepunyaan Kapten Lasha. Di mana dia memerintahkan angin untuk cepat tiba di benua Palung Makmur, sayangnya sang angin berkehendak lain. Di tengah samudra kosong, Samudra Albamia, sosok kapten itu mendapatkan hukuman dari sang angin berupa badai ganas yang hampir membuat kapal terhempas tenggelam. Perjuangan demi perjuangan telah berlalu, semuanya akan berbuah manis. Pada saatnya nanti hasil panen akan dipetik. Dan pada saatnya nanti tawa kebahagian akan terasa lebih istimewa.


“Hei, kenapa kamu melamun?” salah satu marmut menepuk pipi Akma Jaya.


Akma Jaya tersenyum. “Aku hanya sekadar mengingat masa lalu.”


“Oh, ternyata kamu mengingat masa lalu. Kamu tahu mengingat masa lalu itu adalah bentuk lumrah juga.” Salah satu marmut menyahut. Sudah dibilang suaranya imut.


“Ternyata ada banyak kata lumrah yang kutemukan hari ini.” Akma Jaya menatap sekalian mereka senang. Padahal, dia sendiri tahu apa itu lumrah, tetapi dia menahan diri menyebutkannya. Dan menyebutkan dirinya tahu untuk apa? Mangut-mangut saja menghargai ucapan para marmut tersebut.


Mengenai kelumrahan atau kebiasaan. Itulah yang menjadi pemikiran Akma Jaya saat ini, pikirannya melanglang. Pergi entah kemana, berkelana atau apa? Pergi atau tetap diam, terserahlah.


Salah satu marmut tersipu malu, mungkin ia adalah betina. Menggerakkan jari telunjuk bagai busur anah panah yang digoyangkan. Bagaikan ombak di lautan, merekat kedua ujung telunjuk sambil sesekali menunduk, sambil sesekali tersenyum.


“A—apa-kah ka-mu se-tu-ju ber-fo-to ber-sa-ma ka-mi?” Ia si marmut yang tadi tersipu malu menatap Akma Jaya berusaha kuat bicara, melantunkan nada walau kalimatnya patah-patah. Debar jantungnya berdegup kencang. Udara di sekitar terasa lebih sulit bernapas. Embusan napasnya berusaha diatur sedemikian tertib.


Akma Jaya heran. Ada marmut yang bertingkah seperti itu. Kemungkinan gugup atau latah, ya entahlah. Sosok kapten itu tidak ingin banyak menduga. Apa yang sudah menjadi lumrah, mungkin apa yang saat ini dia pikirkan tidak memberi banyak pertanyaan mengenai itu semua. Berfoto atau tidak? Mungkin tidak masalah, satu hal hanya sebagai kenangan.


Kenangan yang lumrah/lazim diingat-ingat. Lumrah dalam satu makna memberikan beribu kesan terindah dalam hidup. Apa yang dirasakan dari kebersamaan? Rasa ketenangan, rasa kegembiraan dan lain sebagainya. Rasa yang teramat berharga.


Akma Jaya kembali tersenyum. Lihatlah, wajahnya yang sekarang berseri bagai bunga-bunga yang tumbuh bermekaran, bagai tetesan embun di pagi hari. Menatapnya tenang, para marmut cukup tahu mengenai hati Akma Jaya yang lembut.


Pancaran senyuman yang ternampak tulus. Di hiruk pikuk kota, seluruh marmut kian berdatangan. Tempat gedung yang menjulang tinggi itu di bawahnya dipenuhi para marmut. Jalanan macet total, bahkan penuh ingin hanya menatap sesosok manusia yang berukuran sama dengan mereka. Kemungkinan ada penjelasan mengenai semua itu, lumrah karena suatu keajaiban ruang waktu atau lumrah karena sepuluh bayangan sebelumnya yang memberikan Akma Jaya kacamata ghaib.


Kacamata itu lumrah bisa menatap alam mereka. Dan satu lagi lupa dijelaskan, ukuran sang pemakainya akan menyesuaikan dengan alam mereka. Persis sama ukuran tubuh dan tingginya satu sama lain. Paling berbeda sedikit, seperti layaknya di dunia pada lumrahnya. Pada gantungan kata lumrah yang pernah dikatakan sang angin kepada rimbun rerumputan, desir keindahan yang melambaikan pelan daun kelapa. Tiupan pengusir panas. Tiupan yang juga kadang membantu manusia dalam beraktivitas di tengah lautan, berlayar.


Lumrah, semua itu lumrah terjadi.


“Oh, ya. Menurut apa yang kami pelajari di sekolah dulu mengenai tingginya manusia itu katanya rata-rata menurut kebanyakan adalah 173cm, tentunya kamu manusia lebih tinggi, lebih besar dari kami semua, tetapi apa yang kami lihat tinggi badan dan besarnya kamu sama seperti kami?” Salah satu marmut mengucapkannya. Memang seharusnya lebih tinggi dan lebih besar, tetapi kacamata ghaiblah yang membuat Akma Jaya setara tinggi dan besarnya dengan mereka.


Akma Jaya yang mempunyai tubuhnya pun bingung, mengapa bisa seperti itu. Para marmut masih menatap bertanya-tanya.


Sosok kapten itu kini tidak ingin memikirkan lebih lanjut. Dia punya satu pemikiran yang harus disampaikan, lantas berkata; “Kalian semua dengarkanlah. Anggaplah aku sebagai bagian dari kalian yang sama dari bentuk wujud dan segalanya. Jangan menatapku lebih lama, apakah kalian tidak penat bergerembul mengelilingiku seperti itu? Lebih baik dan lebih utama ini semua demi kebaikan kalian sendiri.” Akma Jaya bertutur lembut, kali ini wajahnya kembali memancarkan cahaya kedamaian.


“Oh, my God!” Salah satu marmut cepat memegang kedua pipi, kaget. Ia berbicara lain dari biasanya. Lumrah terkejut karena mendengar penuturan Akma Jaya. Apa yang membuatnya terkejut hingga seperti itu, entahlah yang lainnya pun hampir sama.


Sekadar perasaan yang mengatakan ini dan itu, terus mengatakan. Inilah yang kadang membingungkan. Akma Jaya merasa heran lagi dengan mereka, sebenarnya ada apa dan mengapa tampak terkejut seperti itu.


Dia berusaha memahami hingga akhirnya bertemu jawaban. Di dalam benak kapten itu melukis kata-kata yang membuatnya paham mengenai kesalahan.


“Ka—ka-mu ... ter-la-lu ....” Salah satu marmut menyahut patah-patah. Tidak jelas didengar, tersendat macet di ujung kalimat. Akma Jaya memasang seringai wajah. Menatap dengan raut wajah mantap.


“Tidak usah kau paksa berbicara lagi, jauh di dalam benak pikiranku. Aku sudah mengerti maksudmu.” Akma Jaya memandang ke salah satu marmut yang tadi mengeluarkan kalimat patah-patah. Sosok kapten berjubah hitam itu berjalan menghampirinya. Para marmut lainnya memperhatikan lebih jelas.


Derap langkah pelan. Menatap dan menatap terus tersenyum. Marmut yang tadi mengeluarkan kalimat patah-patah berusaha kuat dengan segala apa pun yang kemungkinan akan terjadi. Dia getar-getir mempertahankan tatapan. Penuh bergejolak perasaan dan jantung berdebar dahsyat.


Akma Jaya kini berdekatan. Saling tatap penuh arti dari manik matanya.


“Apa yang kau katakan sebelumnya. Aku benar-benar mengerti maksudmu. Kau terkejut dengan ucapanku sebelumnya. Ketahuilah, apa yang kukatakan sebelumnya itu bukanlah bentuk terlalu. Juga bukan dalam hal keadaanku yang ingin menghilangkan kenyataan, melainkan dalam bentuk saling menghormati dan untuk kalian memandangku dalam pandangan sewajarnya. Aku memang tahu wujudku bukanlah wujud marmut seperti kalian, melainkan wujudku manusia. Aku jelas tahu tentang itu, tetapi anggaplah wujudku sebagai wujud yang sama dengan kalian agar kalian tidak memandangku berlebihan.”


Akma Jaya menjelaskan panjang lebar mengenai ucapan sebelumnya. Ucapan yang membuat para marmut itu terkejut mendengar ucapan sesosok manusia yang seakan terdengar ingin menjadi wujud mereka.


Para marmut sudah salah persepsi dalam menangkap suara, tidak bisa memahami lebih lanjut mengenai ucapan Akma Jaya sebelumnya.


Wajah marmut yang tadi mengeluarkan kalimat patah-patah tersenyum. Akma Jaya menepuk-nepuk pundaknya. Menatapnya sebentar, beberapa saat kemudian beralih pandangan, menatap ke seluruh marmut yang juga menatap ke arahnya.


Seluruh marmut itu lantas bersorak senang karena telah mendengarnya. Mereka kini seakan menyambut kedatangan Akma Jaya dengan wajah ceria.


Penuh suka dan lepas. Mereka hamburkan bunga-bunga. Yang katanya ingin menyambut kedatangan Akma Jaya lebih meriah di kediaman mereka. Kota mereka.


Riuh seisi kota dipenuhi suara-suara kegembiraan yang bertebaran, bergema memenuhi tempat ke tempat. Lihat dan lihatlah, wajah-wajah yang berseri di sepanjang jalanan kota.


Akma Jaya cukup merasa senang. Dia sekarang melantunkan kalimat syukur di dalam sanubarinya. Bergema nuansa hangat tawa, ceria penuh suka cita.

__ADS_1


__ADS_2