
Angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Desir dan debur ombak terdengar. Tabra dan Akma Jaya tampak saling berbicara, berduduk, juga bermain-main bersama Takma yang sibuk berkicau.
Dengan panjang lebar, Tabra menjelaskan kepada Akma Jaya tentang semua yang telah terjadi. Akma Jaya tampak menyimak apa yang sudah dikatakan Tabra.
Dari kejauhan tabib memanggil mereka berdua. “Hei, Tabraaa ... Akmaaa!” Tabib berseru tampak sedang berada di haluan kapal, menatap hamparan lautan. Sepertinya dia telah selesai membaca kitab obatannya.
Mereka berdua berjalan santai, menghampiri tabib. Tersenyum. Kini, mereka saling berdekatan, bersitatap.
“Lihatlah hamparan luas luatan di sana, kalian pernah berlayar?” Tabib menunjuk lautan tampak hamparan biru laut menyatu dengan birunya langit.
Mereka berdua belum pernah berlayar. Ini adalah pertama kali mereka melakukan pelayaran. Suasana damai, hening bersama desir angin bertiup, menyentuh sela-sela pakaian dan rambut kepala bergerak sejuk.
Akma Jaya perlahan menghirup napas, mengembuskan pelan. Begitu pun Tabra, sedangkan Aisha tengah beristirahat atas saran yang diberikan Akma Jaya sebelummya. Tabib dan dua orang anak itu menatap hamparan lautan, menatap bergeming.
“Tabra, apa kau merasakannya?” Akma Jaya bertanya memandang Tabra.
“Iya, Akma. Suasana yang begitu damai dan tentram, inikah lautan itu ... ini adalah pengalaman pertamaku berlayar.”
“Benar, Tabra. Aku pun merasa begitu.”
Mereka berdua saling menikmati embusan angin, juga cahaya biru lautan yang terpampang menawan. Tabib pun sama dengan mereka.
Burung putih ternampak terbang bebas di udara, kadang ia bertengger di tiang layar. Tabra dengan wajah senang berlari menyusuri sekeliling, mengejar burung yang hinggap di geladak. “Akma, ayo ikut bersamaku.” Tabra berseru, Akma Jaya mengikutinya, mereka pun berlarian ke sana ke mari, menyisakan tabib yang tampak memperhatikan seraya tersenyum.
Di saat itu, Tabra membuat larinya semakin cepat meninggalkan Akma Jaya, sekarang dia berada di depan—tertawa kencang.
“Akma, cobalah kau kejar aku!” Tabra berseru, berlari kencang. Derap langkah memenuhi kapal. Dia tertawa.
Akma Jaya mendengarnya, merasa tertantang. Dia ikut memacu kaki. “Baiklah ... Tabra, aku akan mengejarmu!” Akma Jaya berteriak mengencangkan langkah.
Dengan hitungan cepat Akma Jaya menyusul, mereka berusaha saling menyelip. “Hei, Akma itu ada burung!” Tabra berseru—menunjuk arah belakang, mengalihkan perhatian. Dia semakin cepat berlari, menyusuri putaran yang telah dia tentukan.
Akma Jaya menoleh ke arah yang sudah ditunjuk Tabra, dirinya mematung, memperhatinkan tempat yang ditunjuk.
“Mana? Tidak ada buru—” Akma Jaya berucap terpotong, menatap Tabra yang jauh meninggalkannya.
Tampak dari kejauhan Tabra tertawa dengan mulut terbuka lebar. “Akma, kau sudah tertipu!” Tabra berteriak memberikan juluran lidah. Astaga? Akma Jaya mengepal kesal, lalu berlari mengejar Tabra sambil berteriak, “Tabra, awas kau ....”
“Ayo, kejar hingga kau bisa menangkapku!” Tabra melambai. Berseru kencang menjulurkan lidah. Tabib menggelengkan kepala, menatap kelakukan mereka berdua.
***
Pelayaran mereka telah memasuki wilayah samudra Albamia. Hamparan samudra kosong yang terbentang luas, tidak ada terlihat pulau ataupun kapal yang berlayar, suasana hening. Hanya terdengar tawa dan derap langkah mereka. Kini, Akma Jaya berhenti berlari.
“Akma, kenapa kau tidak mengejarku lagi!” Tabra berseru tidak suka.
“Tabraaa ... aku lelah mengejarmu,” jawab Akma Jaya beristirahat sejenak, bersitatap awan. Dia menghela napas.
__ADS_1
Tabra berlari menghampiri Akma Jaya. Dia juga tampak kelelahan, mereka pun saling beristirahat sejenak.
Tabib yang daritadi memperhatikan, menatap mereka berdua yang sekarang tampak kelelahan. Dia pun menuangkan air ke dalam gelas, memberikannya. “Ini minuman untuk kalian berdua.”
Mereka mengucapkan terima kasih, mengambil minuman. Tabra meminumnya dengan cepat, dia menghabiskannya cukup sekali tegukan. “Tabra, kau terlalu cepat meminumnya dariku!” Akma Jaya bersuara ketus dengan wajah datar.
“Ya, maafkanlah ... aku sangat haus, berlarian bersamamu hampir membuatku pingsan,” jawab Tabra mengipas wajahnya, peluh keringat berceceran. Dengan tampak raut wajahnya kelelahan.
Tabib tertawa mendengar pembicaraan mereka. “Ada-ada saja kalian berdua ini.”
Tabra mengangkat alis. “Tabib, kau baru tahu. Kami telah lama bersahabat, sudah terbiasa dengan candaan seperti ini.” Dia merangkul bahu Akma Jaya, mereka berdua saling tersenyum bahagia.
Berlari? Candaan. Tabib tertawa, sederhana sekali candaan mereka berdua, tidak perlu hal lainnya, rasa lelah mungkin menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka.
“Oh, ya ... baguslah, entah kenapa saat melihat persahabatan kalian ini sedikit membuatku teringat dengan salah seorang sahabatku.” Tabib menengadahkan wajah ke langit. Dia mengingat jelas, sahabatnya.
Kebersamaan yang terpampang jelas, canda tawa sederhana dengan kisah lama bersemi kembali. “Ah, benarkah? Kalau begitu cobalah kau cerita, aku dan Akma sangat suka mendengarkan cerita,” ucap Tabra dengan ciri khasnya, menyengir meminta sesuatu.
Dari apa yang dikatakan Tabra, tabib terbilang suka bercerita seakan mereka bertiga memiliki kecocokan satu sama lain.
Tabib mengangguk. “Baiklah ... aku akan menceritakan ini kepada kalian. Di samping itu, aku juga termasuk orang yang suka bercerita.”
Tabra menyikut lengan Akma Jaya. Dengar apa yang dikatakan olehnya, bisik Tabra sedikit samar. Tabib jelas mendengarnya, pendengarannya masih kuat, tetapi dia memilih tidak menghiraukannya. Itu kebiasaan, mungkin dia memakluminya.
“Yes. Ayo, cepatlah bercerita!” Tabra berseru senang. Wajahnya tersenyum. Akma Jaya diam menyimak.
Tabra menggeleng. “Aku belum bisa, tidak tahu Akma Jaya. Bagaimana denganmu, apakah kau bisa memetik pelajaran?” Dia lekas memandang Akma Jaya, melemparkan pertanyaan.
Akma Jaya juga menggeleng. “Aku sama denganmu,” jawabnya singkat.
Tabib memaklumi. “Baiklah, aku akan menceritakan ini, juga akan menjelaskan petikan hikmah yang terkandung di dalamnya. Simak dan dengarkanlah.”
“Dulu, aku memiliki seorang sahabat, sama seperti kalian. Kami selalu bersama, dia adalah sahabatku bernama Ardama, aku—”
Belum sempat tabib melanjutkan cerita, Tabra memotong cerita. “Bicara tentang nama, kami belum mengetahui namamu?”
Akma Jaya menepuk jidat. Sekilas setuju dengan ucapan Tabra, tetapi enggan berbicara—cukup diam menyimak.
“Ah, iya. Aku belum mengatakannya. Baiklah ... karena kau bertanya, maka aku akan menjawabnya. Namaku adalah Altha.” Tabib memperkenalkan nama.
Akma Jaya dan Tabra tampak mengangguk mendengar nama tersebut.
“Nah, aku sudah mengatakannya kepada kalian. Bolehkah sekarang aku melanjutkan cerita?” Altha memandang ke arah mereka berdua. Tersenyum. Akma Jaya hanya mengangguk.
“Iya, teruskan ceritamu. Maaf tadi aku memotong ceritamu,” ucap Tabra merasa bersalah.
“Tidaklah mengapa,” jawab Altha tersenyum. Dia pun melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
***
“Aku dan sahabatku adalah dua orang tabib yang suka belajar, meneliti lebih banyak obat-obatan. Berbagai wilayah dan tempat telah kami telusuri lebih dalam, memperkenalkan nama ke orang-orang.”
“Tepat hari itu, di sepertiga malam. Kami berdua mengarungi lautan untuk ke suatu wilayah yang katanya di sana ada peti harta karun. Menurut kabar, ada banyak bajak laut yang berusaha mendapatkannya, tetapi mereka menghilang entah kemana. Di sana wilayah mistis dan hawa-hawa merinding yang jelas terasa menusuk kulit.”
“Kabar itu amat menakutkan. Banyak di antara mereka yang mengurungkan niatnya untuk pergi ke sana. Kami berdua merasa tertantang sendiri hingga bertolak pergi tanpa takut.”
“Selama berlayar menuju ke wilayah itu, kami menghabiskan waktu cukup lama. Berhari-hari, berbulan-bulan yang pada akhirnya kami pun tiba di wilayah tersebut.”
“Untungnya selama pelayaran, aku dan sahabatku tidak bertemu dengan badai. Kapal yang memuat kami tidak seperti kapal ini, ukurannya lebih kecil dari yang terlihat.”
“Kalian tahu, niat yang pertama tebersit di dalam sanubari kami, yaitu ingin membangun ruangan kesehatan, membangun sekolah medis di daerah asal kami.”
“Dengan harta karun itu harapanku dan sahabatku bergelayut terang, walaupun hanya sepeti, itu pun banyak nilainya. Dengan itu, kami mampu membangun sarana tempat kesehatan lebih leluasa.”
“Seperti kabar yang beredar, tiada tampak keanehan. Mengapa kabar itu seakan dusta di pandangan kami. Di dalam kapal, sahabatku memberi saran, menyampaikan untuk membawa bawang putih di kantong dan digenggam di tangan.”
“Kami menyusuri wilayah itu, tanpa peta hanya sekilas mendengar kabar dan tahu persis keberadaan wilayah tersebut.”
“Di tengah hari, kami memasuki gua. Jelas sekali, tampak tidak ada keanehan, apakah kesemuaan kabar itu dusta, mungkin saja.”
“Suara berdegung terdengar, asap hitam mengelilingi kami, ternampak sesosok hantu yang selama ini dibicarakan orang-orang. Kami berdua menelan ludah, tetapi masih berani bertarung.”
“Sahabatku memperlihatkan bawang putih. Tak disangka, hantu itu kabur dan menyisakan peti harta karun yang menawan dengan corak emas di sekelilingnya. Sahabatku bersorak senang.”
“Kami berdua menemukan harta karun yang selama ini tidak berhasil didapatkan para bajak laut, juga kabar menakutkan lainnya. Di pulau yang tak berpenghuni itu, sahabatku bersorak nyaring. Hatinya seakan senang, tetapi tak menyangka dia ingkar. Dibutakan akan harta karun itu. Saat itu, saat pulang dari pelayaran sikapnya berubah hingga tiba di daerah asal kami. Dia tidak mau membagi, bahkan tidak ingin membangun sarana kesehatan.”
“Dia telah dikuasai keserakahan, tidak memandangku sebagai sahabatnya, dia mengambil harta karun itu, pergi jauh meninggalkanku dan entah di mana sekarang dia berada."
***
“Begitulah cerita singkatnya, petikan hikmah, juga pelajaran yang sebelumnya kubicarakan adalah tentang sikap keserakahan. Kalian harus tahu, sikap serakah adalah awal kehancuran. Dengan menjauhinya, persahabatan kalian akan tetap terjalin erat.” Altha menjelaskan.
Akma Jaya mangut-mangut. Tabra bersekedap maklum. “Baiklah, kami berdua tidak akan begitu, benar 'kan, Akma?” tanya Tabra merangkul bahu sahabatnya.
“Iya ... benar sekali.” Akma Jaya menjawab antusias, senang dan tersenyum hangat.
Mereka bertiga saling pandang tersenyum. Tak lama setelah bercerita, Altha izin pamit ingin beristirahat—katanya ingin tidur siang. “Mataku tengah mengantuk, jadi aku ingin beristirahat,” ucap Altha kepada mereka.
Mereka berdua mengangguk. Altha pun beranjak pergi, masuk ke dalam kabin. Kepergian Altha dari mereka membuat suasana di sekitaran kembali berubah hening, tetapi tak lama dari itu Tabra memecah keheningan. Dia menepuk pundak sahabatnya. “Akma, ayo kita berlatih bersama!” Tabra memberikan Akma Jaya tongkat. Sedikit lebih mantap tersenyum.
Mereka pun berlatih. Dengan ekspresi bahagia, keduanya merasakan suasana yang begitu berbeda dengan saat mereka berada di daratan.
Sekarang, suasana laut begitu tenang, angin berembus pelan, tidak ada ombak menerpa kapal, seperti yang terlihat suasana tampak bersahabat dengan mereka.
Sementara itu, Aisha bangun dari semula beristirahat. Dia tampak pergi ke dapur, lalu membereskan tempat, juga wadah-wadah hingga selesai membereskan semuanya.
__ADS_1
Dia beranjak keluar dari ruangan dapur, lalu menatap keindahan lautan yang dikelilingi dengan cahaya biru, embusan udara terasa sejuk, di atas sana layar bersuara disentuh angin. Kapal mereka terus melaju menuju ke benua Palung Makmur.