
Udara berembus, daun kelapa melambai. Di malam yang tiada bertabur bintang, bulan terselubung awan. Asra Burona bersekedap. Akma Jaya duduk di samping, menemani di sisi dirinya. Suasana sunyi, menyisakan suara jangkrik dan gemuruh ombak.
“Akma Jaya, lihatlah rembulan yang tiada bintang di sisinya. Ia membulat anggun di sana, awan sedang bersimpati menemani.” Dengan elusan jenggot sekilas. Dia mengambil catatan, lanjut menuangkan syair-syair ke dalamnya.
Tabra loncat dari semula berbaring. Dia mengernyit. Menepuk pundak Akma Jaya, juga Asra Burona. “Hei, hei. Kalian ini, sudah malam. Tidur!” Entahlah, mungkin dia terganggu dengan suara mereka. Dari tadi bolak-balik badan, kadang-kadang tutup telinga. Duduk sekilas, loncat menepuk pundak mereka berdua.
Asra Burona bergeming sejenak. Akma Jaya diam menemani. “Tabra, perlu kau tahu di mana pun tempatnya, tiada malam yang kuhabiskan, tiada hari berlalu. Lantunan syairku akan terus bergema, kutulis selalu dalam lembaran kertas. Jika ada yang menegahku, aku rela meregang nyawa untuk bersyair di alam baka.”
“Astaga?” Tabra memegang wajah, memandang takzim. Dia mengguncang tubuh Asra Burona, jangan-jangan dia sedang kerasukan. Akma Jaya terdiam, guncangan tubuh semakin kuat.
“Dunia terlalu luas. Jika hanya kau gunakan untuk keluh kesah, mendongaklah. Lihatlah ke sana, Tabra.” Asra Burona menunjuk cakrawala. Akma Jaya masih berdiam.
Asra Burona tersenyum. “Syair pujianku teruntuk Sang Pencipta. Dialah nomor satu, tiada dua, tiada yang menyamainya. Tabra, hidup ini singkat. Usia tak akan memberitahumu kapan kau akan meninggal, sebelum datang waktunya, waktu di mana kau tak lagi berbicara, tidak lagi bernapas. Habiskanlah semua pujianmu terhadap Sang Pencipta sebelum kematian datang menemuimu.”
Hikayat lama malam hari itu bergema mengisi suasana. Asra Burona seseorang yang terkenal di desa Lauma bisa mengetahui takdir itu menjabarkan panjang lebar mengenai kehidupan. Awal penciptaan dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.
***
Pagi bertampak ria menyambut hari, mereka menghabiskan waktu bersama, makan seperti orang-orang biasa.
“Adfain, makanlah yang tenang.” Asra Burona menegur, melambaikan tangan, mewanti-wanti dengan ucapan lainnya.
Adfain tertawa. “Iya, baiklah.”
Selesai makan. Akma Jaya menghampiri Adfain, mengajaknya berbicara empat mata. Di dekat pantai, rimbun daun kelapa menaungi dari terik matahari, mereka berdua berbincang mengenai wilayah Valissa.
“Adfain, apakah kau tahu wilayah Valissa?” tanya Akma Jaya sedikit menatap serius.
“Wilayah Valissa?” Adfain tercengang.
Akma Jaya menunggu, menatap Adfain yang tampak tidak nyaman membahasnya, bahkan dari wajahnya terlihat seperti enggan berbicara mengenai wilayah tersebut.
“Lupakanlah, kawan. Wilayah Valissa bukan tempat manusia, lupakan saja.” Adfain menggelengkan kepala. Tidak ingin memberi tahu Akma Jaya.
“Perlu kau tahu, di saat aku berada di Wilayah Nanaina, aku berhadapan dengan Kapten Riyuta. Dia telah mati di tanganku, Kapten Broboros menyuruhku mencari sumber mata air kehidupan di Wilayah Valissa. Dengan begitu aku bisa menebus kesalahan yang telah kulakukan.” Akma Jaya menjelaskan.
Saat mendengar penjelasan Akma Jaya, Adfain membenam bibir, sepertinya ternampak sulit baginya. Adfain mengajak Akma Jaya ke sebuah toko buku tua di pinggiran desa Lauma.
Tiba di tempat buku. “Mengapa kau mengajakku ke tempat ini?” Akma Jaya memandang sekeliling rak buku. Toko buku tua itu ternampak kecil dengan tampilan bangunan tua, buku-buku di sana pun bisa bilang semua sudah berumur lebih dari 1000 tahun. Tapi, senantisa rapi dan tersusun tata letaknya.
“Aku akan menjelaskan sambil memperlihatkan denah wilayah. Akma Jaya, kau akan mengerti wilayah itu bukan tempat manusia.”
Akma Jaya mendengarnya. Adfain mengambil buku, membelinya. Dia kembali berjalan mengajak Akma Jaya untuk berbincang di rumahnya.
***
Tabra bersenandung bersama anak-anak desa Lauma, Aisha berulang kali memekikkan suara, menyuruh Tabra berhenti bersenandung. Mereka berdua bersama anak-anak desa Lauma berada di halaman rumah Adfain. Bercengkrama mengisi waktu.
Sementara, Akma Jaya berjalan mengikuti Adfain hingga mereka tiba. Tabra memberi hormat, Aisha juga sama. Kedatangan sang kapten disambut oleh mereka seperti biasa.
“Kapten, sepertinya tinggal di desa ini lebih nyaman daripada berlayar.” Tabra memulai basa-basi.
“Bersenang-senanglah sebelum kita berlayar menuju ke Wilayah Valissa.”
__ADS_1
“Kapten, apa Anda yakin?” tanya Tabra memastikan, dia masih mengelak tidak ingin pergi ke wilayah tersebut.
Akma Jaya menuturkan penjelasan yang sama dengan apa yang telah diputuskan. Diajaklah mereka bertiga bermusyarawah.
Setelah mendapat isyarat dari Adfain, anak-anak desa Lauma berpergian memahami. Di dalam ruangan, Adfain bersama Tabra, Aisha, Akma Jaya. Mereka semua membahas Wilayah Valissa lebih dalam, lebih detail. Berjam-jam lamanya hingga penjelasan itu selesai.
Akma Jaya menelan ludah. Dari penjelasan Adfain, tidak mungkin dia bisa pergi ke sana, terdengar mengerikan. Bulu kuduk merinding, Tabra bersuara menengahi.
***
Berbulan-bulan lamanya perasaan dan timpangan keputusan berlanglang pergi ke puncak kesadaran. Akma Jaya berpejam, berdiam diri menatap lautan, hari itu pun diputuskan mereka berlayar pergi ke wilayah Valissa.
Kesalahan tetaplah kesalahan, semua itu harus ditebus. Para anak buah dan dua orang sahabatnya hanya mampu mengangguk pasrah, menerima keputusan sang kapten.
Di dalam kapal ternyata ada tergeletak surat. Tabra mengambilnya, membaca surat tersebut.
Apa yang tengah kutulis ini adalah puisi
Satu kesatuan kata bersenandung melodi
Bukan kehidupan yang terpatri
Bukan pula nestapa merobek kayu jati
Tiada makna yang kutelusuri
Hari demi hari menggemakan naluri
Sebongkah berlian seakan bersinar
Tanpa bintang bertebar
Tanpa rembulan bergelayut asar
Segenggam pasir goyah
Kau timpakan ke wajah
Lantas menyapu sedikit berurai sedih
Rintih melanglang jerih
Cukuplah berbalu
Kau tuangkan derita di depanku
Kau hamburkan angan di sisiku
Kau tampakkan senyuman palsu
Pongah
Kuberikan tinta supaya engkau terbelangah
__ADS_1
Sepatah kata untukmu berbenah
Desir angin menyapa dadah
Lengangkan masa, bersandiwaralah dalam hitungan detik, menit, jam hingga kau puas
Melanglanglah, jauh. Pergi, pergilah, jauh semakin jauh. Tiada kepingan lagi yang tersisa, ia bercerai berai tak terkira, lupakan sudah masa. Terbanglah ke angkasa, berceburlah ke bola api raksasa. Tiada kehidupan bagimu yang memiliki dua muka
Latah
Tiada sunyi bertumbuhan asri
Aku(Asra Burona) lemah diri
Sampai jumpa lagi
Duhai musuhku(Tabra) dalam selimut rapi
__Asra Burona____
Astaga? Tabra menggenggam erat surat, memekik. “Asraaa Buronaaaa!” Pelayaran mereka sudah di tengah lautan. Asra Burona terkikik di dalam ruangannya, membayangkan kekesalan Tabra yang membacanya.
Hari demi hari berlalu, mereka berlayar menuju ke wilayah Valissa. Banyak hal yang terjadi dari ujian dan tantangan mereka dapatkan. Berbulan-bulan berkelana, bahkan terombang-ambing di lautan. Kehabisan bekal hingga terlihat pulau di sana, mereka beristirahat menenangkan pikiran.
Di pulau itu terdapat rumah. Pemiliknya ternyata seorang penyair yang sengaja menyembunyikan diri dari khalayak ramai. Mereka pun bercakap-cakap, menginap selama seminggu hingga memutuskan kembali berlayar.
Waktu berlalu, tiga bulan setelah berbulan-bulan. Tahun 1690. Bulan pertama dalam kalender, sumber mata air kehidupan ditemukan. Betapa Tabra bersorak senang, makhluk ghaib tak menjadi penghalang selama masih bisa berpijak melawan menggunakan kristal pemberiaan dari Adfain. Mereka pun berlayar menuju ke Wilayah Nanaina, berulang kali Tabra bersahut suara lantang, mengapa kapten tidak mengatakan keputusan lebih awal.
Mereka semua berlayar ke Wilayah Nanaina tanpa persetujuan dari banyak orang. Akma Jaya mengambil keputusan sepihak. Tibalah dia menulis surat.
...“Kapten Broboros, tiada kesukaran lagi yang kudapatkan, tiada kehampaan perasaan yang kurasakan. Pada saat ini, aku berlayar menuju ke Wilayah Nanaina membawakan segelas air dari sumber mata air kehidupan teruntuk Kapten Riyuta. Kau beritahukanlah semua ini ke seluruh bajak laut. Jangan menghalangi kami, di mana pun kaki ini berpijak, di mana pun kami bertemu mereka.”...
Surat itu diterbangkan, memelesat dibawa angin. Pusaka pemberian Adfain berupa kristal itu memiliki kecepatan lebih dari seribu ekor kuda berlari. Tiba ditempat Kapten Broboros.
Surat itu jatuh, tergeletak di tempat singgana kedudukan. Kapten Broboros mengambil, membacanya. “Heh, rupanya dia bersama kelompok bodoh itu telah mendapatkannya. Tidak menyangka, kukira mereka akan mati, hilang dari dunia, berakhir menjadi debu!” Kapten Broboros mengumpat, menggenggam kuat surat, melemparnya ke dinding.
Tibalah pertemuaan mereka yang disaksikan jutaan penduduk. Rasa kesal mereka memuncak, ingin menabok, menusuk pakai sebilah pedang. Derai tangis masih membekas, kematian Kapten Riyuta membawa nestapa ke tingkat surgawi yang tiada sanggup digapai, dijelaskan, dan lain sebagainya.
Akma Jaya menuangkan setitik air ke dalam mulut Kapten Riyuta. Pancaran sinar turun dari langit, semua orang menutup mata.
Kapten Riyuta bangun, sinar menghilang. Kegembiraan bersahutan, wajah mereka semua ternampak cerah. Sebagai hadiah, Kapten Broboros menghilangkan amarah, menepuk tangan, memberikan gulungan peta harta karun.
Melewati perjamuan, mereka tertawa. Kembali berlayar menempuh jagat lautan, membelah ombak dan lain sebagainya.
***
Tabra menghela napas. “Kapten, Anda menceritakannya terlalu cepat.”
Akma Jaya tertawa. “Itu hanya cerita sebelumnya, kau sudah menyaksikannya sendiri. Tidak usah memikirkannya, lebih detail nanti kau menangis.”
“Astaga? Anda bergurau?” Tabra menepuk lengan Akma Jaya. Mereka tengah berada di dalam gua, beristirahat dari lelahnya mencari harta karun.
Malam hari itu, mereka bercengkrama, bercerita tentang masa lalu. Aisha mengerutkan bibir, selama dalam cerita sedikit sekali namanya disebutkan.
__ADS_1
Seorang wanita semampai berambut pirang itu bersegera memejamkan mata. Tidak menghiraukannya lagi, berharap besok hari cerah. Perburuan harta karun pun mungkin saja akan dilanjut atau menyerah. Itu adalah keputusan sang kapten.