Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga


__ADS_3

Burung-burung tampak beterbangan dengan suara kicauan yang menyertainya, Kapten Kuja memberhentikan mulutnya, dia bergeming, begitu pun dengan orang-orang yang berada di situ.


Dalam keheningan yang menyelimuti tempat itu, Akma Jaya mulai menggerakkan pedangnya, sedangkan Kapten Kuja sudah bersedia untuk menangkisnya.


"Ayo, majulah!!" Kapten Kuja bersuara keras dengan tatapannya yang cukup mengerikan.


Secara tiba-tiba Akma Jaya mengembalikan pedangnya ke tempat semula.


"Ka–kapten, ada apa?" Tabra bertanya dengan ekspresi yang tampak heran.


Belum sempat, Akma Jaya menjawab, suara gelak tawa dari Kapten Kuja membuatnya bergeming.


"Hahaha ...."


"Wahai, Sang Kapten! Apakah engkau takut kalah kemudian mati?"


"Hahahaha!!"


Lagi-lagi Kapten Kuja tertawa dengan apa yang dilihatnya. Dia menongakkan kepala seperti orang yang menunjukkan kehebatannya, bagai seekor kingkong yang memukul-mukul dada kemudian ia mengeluarkan suaranya dengan keras.


"Engkau pengecut! Hahaha."


"Engkau tak layak untuk menjadi seorang Kapten!"


"Hahahaha ...."


Sontak saja, tawanya itu membuat Tabra mengernyit kesal, tanpa pikir panjang Tabra langsung menghunus pedangnya.


"Kuja, berhentilah tertawa! Aku muak mendengar tawamu yang seperti kambing terjepit pintu!" Tabra mengejek dengan nada yang cukup tinggi.


"Tabraaa!"


Akma Jaya menahan Tabra dan menyuruhnya untuk meletakan pedangnya ke tempat semula, akibat dari itu membuat suasana bertambah keheranan, apa sebenarnya tujuan Akma Jaya? Mengapa dia begitu kokoh tidak ingin menyerangnya.


"Pemimpin dari Kelompok Bajak Laut Jingga, daripada kita bertarung, lebih baik kita berteman dan saling mendukung satu sama lain!"


Akma Jaya mencoba bernegosiasi dengan ucapannya, sedangkan Kapten Kuja yang mendengarnya tampak mengerutkan dahi.


"Apa kau buta? Apakah engkau tak mempunyai akal?"


Seketika tanpa jeda, Kapten Kuja melancarkan serangan, dia mengayunkan pedangnya ke arah Akma Jaya, untungnya Akma Jaya dapat menangkisnya.


Pedang mereka saling bertemu, beradu dengan saling tebas, kecepatan keduanya saling meningkat, gerak-gerik seorang penyerang melancarkan tebasan pedangnya yang seimbang.

__ADS_1


Badan yang gendut, pergerakan yang lambat serta penglihatan yang mudah terkecoh, jauh berbeda dengan Akma Jaya, Kapten Kuja mengembuskan napas lelah.


"Kau memang hebat! Bisa membuatku sampai begini!"


Kapten Kuja tak ingin direndahkan, dia berpura-pura mengakui kehebatan Akma Jaya, dilain hal dia begitu licik, saat Akma Jaya lengah, tepatnya saat dia berduduk untuk mengambil napas sejenak.


Kapten Kuja kembali menyerang, pedang yang mengkilat tajam itu menuju ke arah Akma Jaya.


"Matilah kauuu!!" Kapten Kuja berujar seraya melancarkan serangan dengan tebasan pedang yang maksimal.


Akma Jaya terpaku, tebasan pedang itu hampir mengenainya, secara spontan Tabra bertindak cepat menangkis tebasan tersebut.


"Kapten, apa Anda baik-baik saja?"


"Tak apa. Aku baik!"


Tabra bernapas lega bisa menangkis tebasan itu dengan cepat, dia membantu Akma Jaya untuk berdiri.


Kemudian, dia menunjuk Kapten Kuja dengan jari telunjuknya.


"Kau, kau yang menyerang secara licik, kau tak pantas hidup!!"


Tabra mengeluarkan amarahnya, menatap dengan sorotan mata yang mengerikan.


Tabra memegang erat senjata yang ada ditangannya, bahkan meremasnya dengan genggaman yang sangat kuat.


Suasana berubah menjadi menegangkan, Akma Jaya tetap sama, masih saja menahan Tabra dalam melancarkan serangan, entah bagaimana mimpi yang baru dialami Akma Jaya saat berada di dalam kamar kapal masih saja terngiang dalam benaknya.


Sementara itu, Kapten Kuja terkekeh dengan keras.


"Apa yang kau saksikan dan lihat adalah akibat dari perbuatan kalian sendiri!"


"Jangan salahkan diriku atau pun kelompok Bajak Laut lainnya, tetapi salahkanlah pemimpin kalian sendiri yang telah mendirikan kelompok Bajak Laut Hitam dan melawan kekaisaran bajak laut!"


"Dan bodohnya kalian malah bergabung–"


Perkataan yang dilontarkan Kapten Kuja terpotong dengan cepat oleh Tabra.


"Bodoh? kau bilang kami adalah bodoh? Pikirkanlah kekaisaran bajak laut yang kalian banggakan, hanyalah bentuk kejahatan yang merugikan orang lain!"


"Apakah kalian tidak melihatnya, banyak orang yang menderita karena ulah kalian, lautan ini butuh ketenangan!"


Tabra berhenti sejenak, tatapannya masih saja tertuju ke arah Kapten Kuja, bahkan matanya tidak berkedip, dengan perlahan mata itu menyipit menunjukan tatapan tajam yang terlihat dengan jelas.

__ADS_1


"Kalian membajak, mengotori, bahkan melecehkan wanita dan menjadikan mereka semua budak rendahan yang seenaknya kalian lakukan!"


Tabra mengeluarkan nada getar, mengucapkannya dengan penuh kewibawaan seorang pembawa kisah sedih yang menyayat perasaan dengan perih.


/Flashback on/


Tahun 1689 sebuah kekacauan, kehancuran melanda seluruh benua, lautan yang berwarna biru itu berubah menjadi merah akibat dari pertumpahan darah, Akma Jaya beserta Tabra dan Aisha, mereka bertiga mendirikan kelompok Bajak Laut Hitam, di sebuah pulau yang mereka jadikan sebagai markas.


Pulau Andaba, sebuah pulau yang mereka huni selama pelarian dari kejaran Kapten Kaiza.


"Tabra, kita tidak bisa tinggal diam untuk hal ini, kita harus bertindak!"


Saat itu hanya mereka bertiga, menyaksikan betapa ngerinya lautan. Bajak Laut semakin mengganas, mereka berpesta pura dengan wanita-wanita yang mereka culik dan mereka jadikan budak.


Saat itu, Tabra mengajukan sebuah nama kelompok, Akma Jaya setuju dengan apa yang diajukan oleh Tabra, mereka akhirnya mendirikan Bajak Laut Hitam atas dasar itu, untuk mencoret kekejaman para bajak laut seperti halnya tinta hitam yang mencoret tulisan.


/Flashback off/


"Engkau tak mengerti apa pun, bukalah kedua matamu untuk melihat, bahkan sampai saat ini lautan itu masih saja berwarna merah, apakah kalian tidak melihatnya?"


Tabra menghabiskan kosa kata, mengeluarkan segalanya dengan tanpa jeda dan suara yang lantang.


Akan tetapi, Kapten Kuja tampak tidak mendengarkannya, dia memalingkan wajahnya, sambil berjalan, dia mengangkat bahunya.


"Hah. Itu omongmu belaka!"


Dia berjalan menghampiri anak buahnya.


"Lebih baik kita pergi dari sini!" Kapten Kuja berseru mengajak anak buahnya pergi.


Sebelum itu, dia berpaling menatap ke arah Akma Jaya dan yang lainnya.


"Silakan ambil saja harta karun yang kalian inginkan!"


"Harta karun itu berada di tengah gunung itu, di mana bunga persik bermekaran dan jatuh ditanah."


"Letak jatuhnya bunga persik itu adalah letak peti harta karun tersebut, tetapi ada satu hal yang harus kalian waspadai yaitu aroma yang beracun dari dalam tanah, jika dilihat tampak seperti awan putih, ketika kalian melihatnya tutuplah hidung kalian!"


Mendengar perkataan dari Kapten Kuja, terjawab sudah dari apa yang ada di benak Akma Jaya dan yang lainnya.


Tentang surat itu, surat yang membingungkan mereka semua. Pada akhirnya kebingungan itu telah hilang.


Kapten Kuja beserta anak buahnya pergi meninggalkan mereka. Saat itu angin menderu, berembus meniup dedaunan, jubah Kapten Kuja yang berwarna merah pekat itu berkibar tertiup angin, dia berjalan menjauh, entah apa yang ada dipikirannya setelah mendengar apa yang diucapkan Tabra, sikapnya langsung berubah.

__ADS_1


__ADS_2