Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua


__ADS_3

Hari ini, sebuah kapal besar mengarungi lautan dengan terpaan ombak yang menerpa kapal.


Kapal yang cukup besar dengan bendera berlambang tengkorak dan sekelilingnya dipenuhi corak hitam pekat. Mereka semua mempunyai sebuah misi.


Misi kelompok mereka adalah untuk melindungi dan bukan menyakiti atau merampok, tetapi untuk kedamaian lautan.


Suatu badai berupa pusaran angin topan melanda pelayaran mereka, pusaran angin topan itu hampir-hampir membuat kapal mereka tenggelam.


Seorang Kapten berteriak memberi arahan pada saat badai itu berlangsung hingga badai itu mulai mereda dan kapal mereka baik-baik saja.


Beberapa anak buah kelelahan dan mereka pun beristirahat, termasuk kapten yang memimpin kelompok tersebut.


Pada pertengahan siang, seorang kapten sedang tertidur dengan pulas, tepatnya di sebuah kamar kapal.


Seorang Kapten yang bernama Akma Jaya terbangun dari mimpinya. "Hah ... di mana aku? Aku masih hidup?!" Akma Jaya tercengang sambil melihat kedua belah telapak tangannya.



Tampak sekujur tubuhnya sudah dewasa dengan jenggot dan pakaian yang dia kenakan layaknya pakaian seorang kapten.


Sementara itu, Tabra yang berada dekat dengannya, mendengar perkataan Akma Jaya, dia pun menanyakannya. "Ada apa, Kapten? Apa Anda baik-baik saja?"



"Aku baik-baik saja," jawab Akma Jaya dengan tenang, sekarang tiba-tiba saja secara perlahan ingatannya bermunculan tentang sesuatu yang telah berlalu.


Setelah itu, Tabra pergi dari hadapan Akma Jaya. "Apa mungkin? semua yang telah kualami hanyalah sebuah mimpi?" Batin Akma Jaya sambil memegang kepalanya.


Sekarang, dia berada pada tahun 1690, tepat satu tahun yang lalu dia mendirikan kelompok Bajak Laut Hitam.


Akma Jaya kembali merenung seolah sedang memikirkan apa yang sudah dia rasakan di alam mimpinya.


Pelayaran kali ini, Akma Jaya beserta kelompok Bajak Laut Hitam menelusuri lautan Farida, tujuan mereka adalah pergi ke sebuah pulau untuk mencari sebuah harta karun.


"Kapten, kita sudah sampai di salah satu pulau harta karun!" Anak buah tersebut menghadap dan memberi tahu, Akma Jaya langsung berdiri dan keluar dari ruangannya, tampak Tabra sudah berada di luar menunggu kedatangan Akma Jaya.


"Kemungkinan aku sedang mengalami mabuk laut, aku bahkan tidak mengingat semua yang telah terjadi." Batin Akma Jaya setelah mendengar ucapan anak buahnya.


"Tabra, bisakah kau menceritakan apa yang terjadi?" Akma Jaya menatap ke arah Tabra

__ADS_1


"Kapten, beberapa waktu yang lalu, saat kita sedang berlayar, terjadi badai pusaran angin topan, kemungkinan itulah penyebabnya."


"Alangkah baiknya, Anda beristirahat dan menenangkan diri!"


"Tujuan kita pergi ke pulau ini adalah untuk mencari sebuah harta karun, melihat kondisi Anda yang sekarang, alangkah baiknya, Anda beristirahat dan menenangkan diri!" Tabra mengulang perkataannya.


Namun, Akma Jaya menolak saran yang diberikan oleh Tabra, tak lama Aisha datang menghampiri mereka. "Kapten, apa Anda baik-baik saja?" tanya Aisha dari arah belakang.



Akma Jaya menoleh dan menatap ke arah Aisha, terlihat dari raut wajah Akma Jaya, dia masih belum mengerti dengan semua yang telah terjadi.


"Bagaimana keadaan Altha dan guru kita?" tanya Akma Jaya kepada mereka berdua.


"Apa maksudmu, Kapten? Kita tidak pernah mempunyai seorang guru dan siapa itu Altha?" Aisha bertanya.


"Kemungkinan memang benar, aku sedang mabuk laut! Aku tak mengerti mengapa aku mengalami mimpi yang bagiku itu terasa sangat nyata!" Akma Jaya kembali berduduk menenangkan dirinya.


"Mimpi?! Mimpi seperti apa, Kapten?" Aisha kembali bertanya.


"Dalam mimpiku, kejadian yang dulu menimpa desa kita, sebuah kekacauan dan kehancuran serta kematian kedua orang tuaku kemudian kita berada di sebuah pulau yang bernama Butariya dan kita hidup bersama di sana karena bantuan dari Altha seorang tabib."


"Sepertinya mimpi yang Anda alami adalah sebuah perbedaan yang sedikit berbeda dari yang kita alami sebenarnya!"


"Aku mengerti, tetapi mimpi itu terasa begitu nyata, saat kehancuran desa, kalian berdua membawaku dan memang tidak pernah ada sosok Altha, tetapi dalam mimpiku itu memang ada!"


"Kami mengerti keadaan yang Anda alami, sepertinya pencarian harta karun, perlu kita tunda untuk sementara waktu dan tenangkanlah diri Anda, Kapten!" Tabra memberi saran.


"Tidak, kita akan tetap mencari harta itu, kita sudah berjanji untuk membagikannya kepada fakir miskin." Akma Jaya berdiri tegak dan seperti yang terlihat ingatannya sudah kembali.


"Tidak apa, aku tidak apa-apa, pencarian harta karun akan tetap kita lakukan!" Akma Jaya menjawab dengan tatapan yang serius.


"Baik, Kapten. Jika itu adalah keinginan Anda!" Tabra mengangguk.


Mereka pun menelusuri pulau tersebut, sebuah pulau yang berada di tengah laut, namun sepertinya pulau itu mempunyai rahasia yang belum diketahui.


"Apakah kalian mendengarnya? Suara mengaum dari dalam hutan!" Akma Jaya memberi tahu kepada semua orang yang bersamanya.


"Benar, Kapten. Saya juga mendengar suara, persis seperti yang Anda dengar!"

__ADS_1


"Sepertinya ada sesuatu di dalam hutan yang tidak kita ketahui!"


"Kapten, kita harus berhati-hati!"


"Kalian semua, tenang saja. Hal seperti ini, kalian tidak perlu takut!" Akma Jaya berjalan memasuki hutan bersama dengan Tabra dan Aisha yang berada di sampingnya.


Setelah mereka menelusuri isi pulau tersebut, tibalah mereka pada sebuah gua yang besar dan suara mengaum itu semakin jelas terdengar.


"Kapten, sepertinya suara itu berasal dari dalam gua!"


"Seperti yang tergambar di dalam peta, harta karun tersebut berada di dalam gua ini, sepertinya ini tidak semudah yang kita kira."


"Tabra, apa kau mengenal ngauman ini?"


"Saya sedikit mengenalnya, seperti yang telah saya baca dalam sebuah buku, ini adalah ngauman seekor naga!" Tabra meneguk air liurnya.


"Kapten, bagaimana ini?" Aisha bertanya kepada Akma Jaya.


"Biarkan aku memikirkannya sebentar!"


Akma Jaya memikirkan sebuah siasat dengan kedua tangannya yang memegang dagu.


"Aku sudah punya siasat, alangkah baiknya kita memancing naga itu keluar dari gua tersebut!"


"Aku akan memancingnya dan kalian tunggulah aba-aba dariku, setelah itu kita akan menyerang secara bersamaan!"


"Tunggu, Kapten. Bukankah itu sangat berbahaya bagi Anda? Biarkan saya saja yang masuk ke dalam gua tersebut!" Tabra mengajukan dirinya.


"Benar, apa yang dikatakan oleh Tabra, itu berbahaya bagi Anda, Kapten!"


"Tidak, ini semua, memang sudah menjadi tugasku sebagai seorang kapten untuk maju di depan dan melindungi kalian semua, jika sesuatu terjadi padaku, kalian semua, larilah!" Akma Jaya berseru dengan suara khas seorang kapten.


"Tapiii ...."


"Tabraaa!! Bukankah kau mengenaliku?" Akma Jaya memotong cepat perkataan Tabra.


"Kalian semua!! Bersembunyilah di semak-semak, setelah naga itu keluar, kita semua akan melawannya!" Akma Jaya memberi arahan.


Mendengar itu, mereka semua tak bersuara dan mereka hanya mengangguk sebagai isyarat bahwa mereka akan melaksanakan arahan yang diberikan oleh Akma Jaya.

__ADS_1


Mereka bersegera bersembunyi di semak-semak, sedangkan Akma Jaya perlahan berjalan memasuki gua tersebut.


__ADS_2