
Setelah sampai dikamar Shaka segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Shaka sengaja merendam dirinya di dalam bathup dengan membubuhkan aromaterapi dengan maksud untuk merelaxsasi tubuh dan pikirannya yang sedang kusut. Setelah 20 menit Shaka pun menyudahi berendamnya dan segera membilas tubuhnya.
Setelah beberapa saat Shaka tampak berpikir keras akhirnya dia putuskan untuk menelpon seseorang, setelah berbincang cukup lama Shaka pun mengakhiri telponnya.
"maafkan aku Syaqina kali ini aku kembali mengambil jalan yang Salah untuk bisa menutupi kesalahanku "
kemudian dihempaskanya dengan kasar tubuhnya ke atas Kasur dan berusaha memejamkan kedua matanya yang sebenarnya sudah sangat terasa mengantuk.
Sementara di kamar Syaqina masih berkutat dengan tugas kuliahnya, meski tubuhnya sudah terasa begitu lelah namun Syaqi tetap bersemangat untuk menyelesaikan Tugasnya malam ini juga. diliriknya jarum Jam di dinding kamarnya telah menujuk pada angka 22:45
tugas pun selesai tepat waktu, kemudian Syaqi mempersiapkan keperluan untuk kuliah besok setelah itu ia pun bersiap untuk menuju alam mimpi.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Pagi masih begitu buta setelah selesai mengerjakan Sholat subuh Syaqina pun pergi ke dapur untuk mempersiapkan sarapan, saat saat seperti inilah Syaqina pasti kembali bersedih teringat akan kebiasaannya selama masih ada Ayahnya, selesai sholat subuh pasti ia beranjak ke dapur untuk mempersiapkan sarapan dan membuatkan kopi untuk sangat Ayah, bahkan sampai hari ini hari kesepuluh semenjak kepergian sang Ayah ia masih selalu menyediakan Kopi untuk sang Ayah meski setiap pagi lagi cangkir itu masih tetap utuh namun Syaqina selalu menggantinya dengan yang baru.
"Ayah.... Syaqina rindu dengan Ayah"
ucap Syaqina dengan airmata yang berjatuhan menerpa pipi merah yang kini terlihat sangat tirus. kali ini Syaqi membuat sarapan mie goreng sozis, meski hari-hari ia lalui dengan sepi dan sendiri namun ia tetap selalu tersenyum ketika sedang menikmati sarapannya karena ia tak mau melihat Ayah bersedih juga ketika mendapati putri kesayangannya menangis seperti ini.
Dari dalam rumah terdengar suara dari mobil berhenti tepat di depan rumah, Syaqina yang sudah menyudahi sarapannya segera berjalan menuju teras Rumah
"siapa pagi-pagi begini sudah bertamu?, apa mungkin Shaka ? tapi ada urusan apa pagi-pagi kesini"
tak lama kemudian terdengar suara pintu di ketok
TOKK TOKK
Syaqina pun beranjak berniat membuka pintu, dan setelah pintu terbuka Syaqina tampak bingung melihat dua orang berpakaian rapi lengkap dengan dasi, dan beberapa pria jabatan tegap bertampang sangar seperti preman.
"m..maaf anda siapa ?"
"selamat pagi bisa bertemu dengan sodari Syaqina azzahra?"
__ADS_1
"saya sendiri, ada apa ya pak?"
"perkenalkan saya lukman kami dari Bank Nusantara "
"tunggu ini maksudnya gimana ya pak saya tidak paham?"
"begini mbak ayah anda bapak Damiri telah menggadaikan rumah ini sebanyak 500 juta dan ini sudah jatuh tempo, jika Anda tidak bisa melunasinya saat ini juga maka dengan terpaksa rumah ini akan kami sita, dan anda terpaksa harus meninggalkan rumah ini tanpa membawa barang kecuali pakaian"
"hahh!! "
seketika dunia seperti berhenti berputar yang ada hanya gelap kepala Syaqina begitu pusing tak sanggup menerima apa yang diucapkan seseorang yang mengaku pegawai Bank tersebut.
" ta...tapi Ayah saya tidak pernah menceritakan hal ini, pasti ini kesalahan?"
"silahkan Anda baca sendiri berkas ini disitu jelas atas nama dan tanda tangan ayah Anda"
dengan cepat Syaqina pun meraih map berwarna kuning berisikan berkas yang dimaksud. Syaqina terdiam matanya terbelalak melihat nama dan tanda tangan Ayahnya terlihat sama persis.
"kami kasih waktu sampai sore ini jika tidak di nasi maka anda harus mengosongkan rumah ini"
Tak berselang lama sebuah mobil mewah berhenti tepat di halaman rumah Syaqina siapa lagi kalau bukan Shaka, melihat Shaka datang Syaqina langsung menghambur pada Shaka kayaknya anak kecil yang mengadu pada Ayahnya.
"kamu kenapa Sya ? ada apa ini?
ucapnya dengan wajah penuh tanya, bukan jawaban tapi malah tangisan yang semakin menjadi jadi yang di dapat.
"tenang lah... gue disini akan selalu ada untukmu "
Setelah puas menangis Syaqina pun menceritakan semua apa yang baru saja ia alami
"payah sekali kan hidupku semua yang aku miliki pergi hilang satu persatu, bahkan rumah ini satu-satunya tempat penuh kenangan dengan Ayahpun harus hilang "
"aku tahu semua ini terasa berat untukmu, tapi aku yakin setelah hari ini kamu pasti akan menemukan kebahagiaan, sekarang berkemaslah dan ikut denganku"
__ADS_1
ucapan Shaka bernada permohonan
"kenapa harus ikut denganmu?"
"lalu...kamu akan tinggal dimana lagi, nggak usah khawatir rumahku memiliki banyak kamar, disana ada orangtuaku, dan juga beberapa Pekerja kamu tidak perlu takut "
"ta..tapi kita kan baru saja saling kenal? Masak iya aku tinggal denganmu"
"sekarang aku tanya padamu apa ada alternatif lain? mungkin kamu mau tinggal dimana? dengan teman kuliah mu mungkin?"
kali ini Shaka sudah merubah ekspresinya sedikit datar dan Acuh
"Iya juga gue kan nggak punya banyak temen, nggak mungkin juga gue numpang sama Raisa atau pun Aldo " batin Syaqina berbicara
"baiklah... kalau kamu ada pilihan lain gue pergi dulu ya kerjaan gue numpuk di kantor"
sambil beranjak dari duduknya Shaka nampak ngedumel
"tu..tunggu ..Iya aku ikut denganmu "
Syaqi pun reflek menahan langkah Shaka dengan menarik tangan Shaka dan beberapa saat masih memeganginya
"hemmm... gimana mungkin kamu bisa berkemas kalau kamu kelamaaan panggang tanganku"
ucap Shaka sambil mendehem, sadar dirinya masih memegang tangan Shaka dengan cepat Syaqina melepas genggamanya dengan kasar.
"ma...maaf reflek, "
"cepatlah berkemas tidak mungkin kan seharian gue disini, pekerjaan di kantor bisa-bisa gue kena pecat "
"ya udah, mau ke kantor pergi saja lagian gue juga masih harus ke Campus "
"ok..kalau begitu nanti malam gue jemput soalnya nanti gue lembur"
__ADS_1
"baiklah".
Setelah mereka Bersepakat untuk pindah nanti malam Shaka pun pergi meninggalkan Syaqina.