
Mobil yang dikendarai Mang Udin pun sampai di pelataran Rumah sakit Kasih Ibu tanpa menunggu waktu Shaka pun turun membopong tubuh istrinya yang kini tidak sadarkan diri, lengan dan baju Shaka pun penuh dengan bercak darah yang terus keluar dari tubuh Syaqina
" dokter... tolong selamatkan istri dan bayi dalam kandungannya "
Dua orang perawat pun dengan sigap mendorong bangkar dan Shaka segera membaringkan tubuh lemas istrinya dan segera di dorong ke ruang IGD
" bapak tunggu di luar ya untuk mempermudah penanganan pasien"
pinta seorang perawat dengan sopan, dokter Clara pun segera masuk ke dalam Ruang IGD
"Cla.. tolong selamatkan istriku dan juga calon bayi kami "
" kamu tenang dulu, ini kenapa bisa terjadi seperti ? kalian kan baru sekitar 3 jam yang lalu pulang dari Rumah sakit ini ?"
tanya Dokter Clara mengingat beberapa jam yang lalu mereka baru saja memeriksakan diri dan semua dalam keadaan baik- baik saja tapi kini mereka kembali dengan keadaan yang memprihatinkan
" aku nggak tahu Cla yang pasti dia terjatuh dari tangga "
" sekarang kamu tenang, berpikir positive insyaallah semua akan baik - baik saja, biar aku tangani dulu "
" lakukan apapun yang terbaik untuk mereka "
Dokter Clara pun segera masuk kedalam ruangan IGD
Sementara Shaka tampak mondar mandir berdiri di depan pintu hingga sang Ayah yang baru datang pun menghampirinya
" sabar kamu harus kuat agar istri dan calon anakmu juga kuat "
" Pah... Mah... Shaka khawatir "
" serahkan semua sama Allah Sayang berdoalah supaya Allah bermurah hati menyelamatkan keduanya "
" iya Ma "
Suasana kembali hening hingga kurang lebihn30 menit berlalu dan dokter Clara pun keluar dari ruangan dan menghampiri Shaka
" gimana istriku Cla ?"
" saya harus bicara denganmu sebagai suami dan mungkin Om Andi bisa mendampingi Shaka, mari kita bicarakan diruangan saya "
__ADS_1
tanpa banyak kata mereka pun langsung mengikuti sang dokter
" gimana istriku Cla ?"
Shaka tampak sudah sangat tidak sabar ingin secepatnya mendapatkan jawaban dari Dokter Clara
" jadi begini Shaka dan Om benturan yang dialami Syaqina sangat keras sehingga berakibat fatal saya sangat menyesal tak bisa menyelamatkan janin kalian dan untuk menyelamatkan nyawa ibunya maka harus diadakan operasi kuret secepatnya agar pendarahan segera berhenti, satu lagi berita tak baiknya rahim Syaqina terluka parah sehingga kemungkinan besar harus dilakukan pengangkatan rahim juga , mudah - mudahan diagnosa kami keliru sehingga tak sampai mengangkat rahimnya "
Jedarrrrr
seperti petir menyambar seluruh tubuh Shaka kini ia sudah melorot pada lantai seakan tak ada lagi tenaga untuk menopang kakinya berdiri
" Sabar nak, apapun itu lakukan yang terbaik untuk menantuku Cla.. om serahkan semua padamu "
" baik om saya membutuhkan tanda tangan persetujuan dari keluarga Om bisa mewakili Karena Shaka saat ini tidak memungkinkan untuk melakukannya "
" baiklah Om yang akan bertanggung jawab dan menandatangani surat persetujuannya "
Shaka pun menangis dan masih terkulai di lantai ruangan dokter Clara, dan Papa Andi telah selesai menandatangani surat tersebut
" Shaka kamu harus kuat , kita bantu istrimu dengan doa agar semua lancar dia pun memiliki kekuatan dan kesabaran , kamu harus bisa menguatkan dia "
" sudah , sudah kita keluar dulu kita tunggu proses operasinya "
Shaka pun menurut pada sang Papa dan duduk menyusul Mama Vina yang kini sudah ditemani Pak Pras dan bu Susan
" Pa... gimana menantuku ?"
tanya Mama Vina yang yakin dengan firasatnya jika menantunya sedang tidak baik - baik saja setelah mendapati wajah sembab dan lesu putranya
" kita sama - sama berdoa semoga operasi kuretnya lancar Ma "
" apa ? jadi... cucu kita tidak bisa diselamatkan Pa ? hiksss hiksss "
tangis Mama Vina pun pecah begitupun Bu Susan jatuh pingsan setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Papa Andi, Rasa bersalah dan ketakutannya membuatnya semakin tertekan hingga ia pun jatuh pingsan
" Mami... bangun Mi... "
" Jeng Susan !! , Pa panggilkan perawat untuk menolong Jeng Susan "
__ADS_1
" tante.. tante Susan kenapa ?"
tak berapa Lama dua perawat membawa bangkar dan segera membawa tubuh wanita paruh baya itu ke Ruang tindakan
Setelah hampir 45 menit dokter Clara pun keluar dari ruang operasi dan segera disongsong oleh Shaka
" Cla.. "
" alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan kabar baiknya rahim Syaqina tidak perlu di angkat, namun untuk pemulihanya butuh waktu agak lama meskipun kemungkinan untuk bisa mengandung lagi akan sulit, namun harapan itu tetap ada , sekarang Syaqina masih di ruang ICU nanti setelah semua stabil kita akan pindahkan ke ruang perawatan "
" terimakasih Cla kamu sudah menyelamatkan istriku"
"itu sudah tugasku sebagai perantaranya, aku tinggal dulu ya "
" ok , sekali lagi terimakasih "
Clara pun membalas dengan senyuman dan segera meninggalkan Shaka dan keluarganya
" Shaka kamu minum dulu ini Papa bawakan kamu minum dari kantin, biar kamu sedikit tenang "
" makasih Pa, tapi gimana nanti setelah Syaqina sadar Pa apa uang harus Shaka katakan jika ia menanyakan calon bayi kami "
" tenang Shaka... yang terpenting sekarang adalah menjaga emosinya untuk tetap stabil, jangan beritahukan berita yang memberatkan pikirannya "
" sekarang kamu makan ya Nak ini Papa bawakan makanan untuk kamu Mama bantu ya Sayang , ingat kamu harus tetap sehat agar kamu bisa merawat istrimu dengan baik "
" iya Mah, Shaka akan berusaha iklas dan sabar menghadapi cobaan ini , tapi jika boleh Shaka tahu apa kejadian sebelumnya ini ada kaitannya dengan kedatangan Tante Susan dan Om Pras ?"
kedua orangtuanya pun menghela nafas dalam - dalam mereka pasti bingung untuk menjelaskannya karena mereka pun masih belum yakin akan kebenaran yang memang benar adanya itu
" sebenarnya Shaka sudah tahu Pa, Ma jika Bu Susan itu adalah ibu kandungnya Syaqina "
" ja.. jadi kamu sudah tahu ?"
" iya Ma, beberapa waktu yang lalu Om Pras memberitahuku saat kami tak sengaja bertemu , jujur aku juga merasa bersalah dengan Syaqina karena tak menceritakan dengan jujur tentang rahasia ini. sebenarnya aku masih menunggu waktu yang tepat untuk Menceritakannya "
" Mama dan Papa juga syok , seperti tak percaya ternyata dunia ini begitu sempit , kalau Mama boleh berharap lebih baik mereka tidak dipertemukan, tidak akan menyakiti Syaqina lagi "
" Ma.. ini tuh kenyataan yang harus dihadapi kita tak boleh egois semua sudah jalanya"
__ADS_1
Tak berapa lama ruang ICU pun terbuka dan tampak Syaqina masih belum sadarkan diri meskipun kondisinya sudah stabil