Cinta Orang Biasa

Cinta Orang Biasa
11. tertangkap basah


__ADS_3

Syaqina tampak begitu terheran-heran melihat Rumah yang begitu megah nyaris seperti istana dalam negeri dongeng, Rumah yang terdiri dari 3 lantai dengan gaya arsitektur Eropa modern.


"gila...ini Rumah apa istana mewah sekali"


gumam Syaqina penuh takjub


"udah ..ayo buruan masuk gue capek mau istirahat, nggak usah norak gitu baru ini ya lihat rumah sebesar dan semewah ini"


ucap Shaka dengan nada sedikit sombong. kemudian tanpa berkata-kata Shaka langsung menarik tangan Syaqina untuk masuk ke dalam dengan satu tanganya menarik koper milik Syaqina. Syaqina yang masih tercengang cuma bisa pasrah mengikuti langkah Shaka dan terhenti ketika berada di ruang keluarga. disana ada sepasang lelaki dan perempuan paruh baya tengah asyik menyaksikan siaran televisi.


"malam Mah, Pah.."


"lhoo...sayang kamu sudah pulang ?"


sapa sang mama ketika melihat anak bungsunya berdiri tak jauh darinya


"Iya mah"


"kamu pulang bawa siapa nak ?"


tanya Mama Vina setelah melirik ke arah gadis yang berdiri dibelakang putra tercintanya


"emmm.... perkenalkan ini Syaqina Pah, Mah "


"Syaqina ini Papa dan mama ku "


"selamat malam nyonya, Tuan saya Syaqina "


Syaqina berucap sambil sedikit membungkukkan badan ya sebagai tanda penghormatan. kemudian mama Vina mendekat ke arah Syaqina dan mengulurkan tangannya mengajak bersalaman Syaqina terlihat ragu namun tetap saja menyambut dan menyalami tangan mama Vina kemudian mencium punggung tangan beliau, bergantian Papa Andi juga melakukan hal yang sama dengan sang istri


"cantik sekali kamu sayang"


itulah pujian yang Mama Vina berikan untuk kesan pertama pertemuan mereka


"nyonya bisa saja"


jawab Syaqina tersipu malu


"Shaka sepertinya kamu harus menjelaskan pada papa dan Mama "


"emmmhh.. Syaqina ini pacar Shaka Pa, Ma sekarang lagi ada masalah jadi sementara waktu bolehkan dia menginap disini"


"hehh..kamu ini apa apan !!"


Syaqina mencubit lengan Shaka sebagai protes sambil berbisik namun masih terdengar oleh orang lain


"awww...sakit.. kali ini kamu nurut sama gue kalau mau aman"


"kalian baik- baik saja kan ?"


usut Mama Vina


"Iya Mah.. biasa Syaqina masih malu"


"maaf Nyonya, Tuan saya bisa jelaskan "


"sudah.. sudah.. berhubung kamu ini pacarnya Shaka kamu nggak boleh panggil kami dengan sebutan Tuan dan Nyonya kan kami ini bukan majikan kamu, panggil Mama sama Papa saja ya "


pinta Mama Vina


"ta...ta..tapi , kita tidak "

__ADS_1


belum lagi sempat terselesaikan kalimatnya sudah di potong oleh Mama Vina


" cukup ! sekarang kita semua istirahat, Shaka bawa pacar kamu ini ke kamar di sebelah kamar kamu, tapi awas kalau sampai macam-macam"


"Iya Mah.. Shaka tahu kok"


"sudah ya sayang Mama Papa tinggal dulu, selamat beristirahat ya, nanti kalau Shaka nakal teriak saja"


pamit Mama Vina dengan sedikit menggoda mereka berdua.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"ini kamar kamu, pakaian kamu susun saja di lemari, ini dulu kamar kakak perempuanku sebelum pindah ke Paris, kalau butuh apa-apa panggil gue kamar gue disebelah, sekarang gue mau istirahat capek banget"


"tapi kita harus bicara sekarang"


"udah besok saja, gue ngantuk"


Shaka pun meninggalkan kamar Syaqina menuju ke kamarnya. sementara Syaqina mulai menyusun baju yang dibawanya tadi dan disusun di dalam almari. tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar dan tak berapa Lama hujan pun turun beriringan dengan petir yang terus berkilatan.


Syaqina yang seakan memiliki trauma terhadap hujan petir menjerit ketakutan sambil menangis memanggil sang Ayah, Sadar akan hal itu Shaka pun berlari menuju kamar Syaqina dan mendapatinya sudah meringkuk ketakutan sambil menangis di pojokkan kamar


"Syaqina ..kamu tenang kamu jangan takut aku disini,kamu tidak perlu takut aku akan menjagamu"


ucap Shaka sambil terus memeluk Syaqina yang tampak begitu kekutan. Shaka pun mengendong Syaqina ke atas tempat tidur


"kamu jangan takut lagi, ada aku disini"


Syaqina tidak sanggup berkata-kata ia masih terus terisak, dan tenggelam dalam pelukan Shaka. malam semakin larut hujan petir belum juga mereda, karena terlalu lelah dan mengantuk mereka pun terlelap tanpa sadar dengan posisi Shaka memeluk Syaqina dan kepala menyandar pada tempat tidur.


Malam telah berganti pagi matahari masih tampak malu-malu menampakkan sinarnya, Syaqina pun menggeliat perlahan membuka matanya, dia merasa pegal dan kaku pada area lehernya dan alangkah kagetnya saat membuka mata Dan menyadari dirinya tidur bersandar di dada Shaka


Syaqina gemetaran berharap ini mimpi bagaimana mungkin mereka bisa tidur dalam kamar yang sama dan dalam satu ranjang, bahkan tangan Shaka masih memeluk tubuhnya pada saat ia membuka mata tadi


"Shaka... Shaka.. bangun "


" hoammm...apa ini udah pagi ?"


"Shaka tolong bangun !!"


Syaqina yang tengah benar-benar panik dia butuh penjelasan dengan apa yang telah terjadi pada mereka saat ini. Setelah beberapa kali Syaqina menguncang tubuh bahkan memukulnya Shaka pun terbangun juga


"kenapa kamu berteriak terus dari tadi, bukankah ini masih sangat pagi, menganggu saja"


gerutu Shaka dengan kesal


"Shaka kamu sadar dhonk ini tuh kita dimana?"


"Ya jelas di kamar kenapa kamu heboh? "


"Iya kita dikamar dan semalaman kita tidur dalam satu kamar dan juga satu ranjang"


Syaqina lebih menekankan suaranya meski dengan nada geram, melihat Shaka yang tidak juga menyadari kalau itu adalah kesalahan. belum sempat Shaka memberi jawaban tiba-tiba terdengar suara pintu diketok


TOKK TOKK


"Syaqina.. apa kamu sudah bangun sayang, mama masuk ya"


suara mama Vina dari luar kamar dan itu membuat Penghuni di dalam kamar itu kelabakan kalang kabut gimana cara menjelaskannya ke pada mama Vina kalau samapai tahu kejadian ini.


"Shaka sekarang harus gimana itu mama kamu diluar, kita harus apa , pasti mama kamu akan salah paham terhadapku"

__ADS_1


"ssttt... diam dulu, biar aku mencoba mengingatnya apa yang terjadi tadi malam"


"heh.. kamu mau cari mati mikirin itu duluan, sekarang cepat kamu sembunyi"


"Iya udah q sembunyi"


Baru Shaka akan beranjak bangun dari tempat tidurnya dan meraih tangan Syaqina untuk menjadi tumpuan berdiri sialnya selimut yang dipakai Shaka menjuntai ke lantai dan melilit kedua kaki Syaqina hingga membuat Syaqina terjatuh menimpa Shaka yang baru akan beranjak


"awww... "


kepala mereka beradu dan reflek keduanya mengaduh hal itu membuat mama Vina penasaran terlebih tak ada sahutan dari dalam kamar. dan benar pintu kamar tidak terkunci hingga akhirnya mama Vina membuka pintu dan alangkah kaget dan syock nya mama Vina setelah membuka pintu mendapati putra bungsunya tengah di atas kasur dengan posisi memeluk seorang Gadis


"kalian!!"


teriak Mama Vina setelahnya


"mama...!"


"apa apaan ini kenapa bisa pagi pagi buta kalian berada dalam kamar yang sama"


"maaf nyonya ini tidak seperti yang Anda pikirkan "


"mama nggak mau dengar pokoknya kalian harus secepatnya menikah! mama tidak mau kalau harus sampai kecolongan "


Mendengar suara gaduh dari arah kamar yang di tempati Syaqina Papa Andi pun merasa penasaran dan segera menghampiri


"ada apa ini masih pagi begini udah ribut?"


Syaqina semakin tertunduk antara malu dan takut entah apa yang akan terjadi setelah ini


"Pa.. lihat kelakuan Shaka gimana mungkin dia bisa menyelinap masuk dalam kamar Syaqina "


"bener apa yang di katakan Mama kamu Shaka ?"


"i..Iya Pah, maafkan Shaka.. Shaka khilaf pah "


"apa...kenapa kamu malah mengiyakannya"


Syaqina menggerutu terus mengutuk dirinya sendiri atas kebodohanya malam ini


"ya sudah kita tak perlu ributkan hal ini, tiga hari lagi kalian akan menikah"


"menikah??!!"


Syaqina bener-bener syock mendengar keputusan Papa Andi yang sama seperti keputusan mama Vina


"tidak tuan,.. saya tidak mau"


"nak.. Shaka sudah berbuat yang tidak seharusnya maka dia harus bertanggung jawab terlebih kalian kan memang sudah berpacaran sekarang apa masalahnya ?"


"Tapi Tuan saya harus meluruskan ini, saya dan Shaka tidak pacaran kami baru kenal beberapa hari ini, dan saya ..saya hanya anak orang biasa tuan saya tidak sepadan dengan keluarga Tuan"


Syaqina menyadari perbedaan yang mereka miliki dia sangat sadar diri akan hal itu.


"Pah... izinkan Shaka bertanggung jawab atas kesalahan Shaka, biarpun benar yang Syaqina katakan kami memang baru mengenal beberapa hari ini, tapi Shaka yakin kita akan saling mencintai dan saling menjaga. Syaqina ini sebatang kara dan sebelum Ayahnya meninggal beliau berpesan dan menitipkan Syaqina pada Shaka "


"ta...tapi.."


"Tapi apa lagi sayang.. kami tidak pernah mempermasalahkan seperti yang kamu katakan tadi, kami tidak mempermasalahkan status sosial kamu, yang penting kamu bisa mencintai Shaka dan keluarganya dengan tulus itu sudah cukup"


mama Vina menengahi dengan bijaksana. keluarga Darmawan Mahantara ternyata keluarga yang sangat baik meskipun mereka keluarga tersohor namun ternyata tidak pernah memandang dan membedakan seseorang berdasarkan status sosialnya.

__ADS_1


__ADS_2