Cinta Orang Biasa

Cinta Orang Biasa
18. mulai berdamai dengan keadaan


__ADS_3

"shaka benar mungkin aku harus berdamai dengan keadaan, menerima dan menjalani takdir ini, aku sudah kehilangan Ayah, rumah dan sekarang aku mendapatkan suami dan keluarga yang menerimaku dengan tulus, mungkin ini saatnya aku menerima takdirku, belajar menerima pernikahan ini, aku akan belajar menjadi istri yang baik, dan belajar mencintainya, meskipun aku sendiri tidak tahu dengannya. setidaknya Ayah akan bahagia karena amanatnya sudah aku tunaikan, dan... kak Mahes.. maafkan Syaqina tak bisa lagi menunggu karena sampai saat ini Syaqina tidak pernah tahu keberadaan kakak"


Syaqina berbicara lirih namun masih bisa di dengar khususnya Shaka. sebenarnya Shaka sudah bangun sejak Syaqina mulai menangis tadi karena airmata yang jatuh menerpa wajah Shaka yang tertidur di pangkuannya. Syaqina tampak diam melamunkan sesuatu tatapannya jauh melanglang buana entah kemana, disertai dengan tetesan air mata.


diliriknya jam di dinding kamarnya telah menunjuk pada angka 17.00 sebentar lagi magrib, Shaka masih terlelap di pangkuan Syaqina terbalut selimut, dia masih dalam masa pemulihan pasca mengalami alergi setelah memakan seafood.


Syaqina perlahan berusaha memindahkan kepala Shaka pada bantal dengan sangat hati-hati sadar dengan pergerakan di kepalanya Shaka pun membuka matanya perlahan dan mengerjap beberapa kali


"maaf... kamu jadi terganggu"


ucap Syaqina setelah melihat Shaka mengerjap kan sepasang bola matanya.


"Nggak apa-apa aku memang mau bangun kok, badanku udah lebih enakan aku pingin mandi biar lebih fress "


"baiklah akan aku persiapkan air hangat untukmu"


Syaqina pun bergegas turun dari atas ranjang menuju kamar mandi untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang Shaka perlukan. Shaka masih terduduk di bibir ranjang bibirnya sedikit tersenyum mengingat apa yang ia dengar dari ucapan Syaqina tadi.


"TERIMAKASIH Syaqina kamu akhirnya bisa menerima semua ini, dan aku janji akan memperjuangkan hatimu akan aku isi ruang hatimu yang mulai menepikan nama itu".


"hey... airnya sudah siap kamu bisa mandi sekarang"


teriak Syaqina dari pintu kamar mandi, namun tak juga mendapat respon dari Shaka


"malah ngelamun...Shaka "


Syaqina terpaksa menepuk pundak suaminya untuk mendapatkan kesadarannya dari lamunan


"i..iya..maaf"


"mikirin apa sih, ini udah senja sebentar lagi magrib kesambet kapok loh"


Syaqina bersungut -sungut, kemudian menuju lemari mempersiapkan baju ganti untuk Shaka dan juga dirinya


"iya baiklah aku mandi"


"kamu bisa sendiri Kan ke kamar mandi?"


"tenang saja.. aku udah baik-baik saja"


jawabnya sembari melangkah ke kamar mandi


10 menit kemudian Shaka menyudahi mandinya, kemudian keluar mengenakan handuk yang terlilit di tubuh bagian tengahnya, dadanya terekspose begitu saja. Syaqina reflek menjerit sambil menutup matanya


"astaga..kebiasaan banget sih keluar kamar mandi dengan keadaan tak beres seperti itu"


"kan baju gantinya tidak kamu taruh di dalam sekalian tadi, lagi pula kamu udah sering kok liat aku kayak gini, dan nanti juga bakal sering liat yang lebih dari ini"


jawabnya dengan nada menggoda


"hemm.. terserahlah, aku juga mau mandi keburu magrib "

__ADS_1


balas nya dengan wajah yang semu merah jambu. sementara Shaka tertawa penuh kemenangan.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Malam sudah menunjukkan waktu pada angka 21.00 setelah selesai makan malam Shaka dan Syaqina menuju kamar dan berbincang di balkon kamar, disana ada sepasang kursi santai sementara Syaqina lebih memilih berdiri pada pagar pembatas dengan menyaksikan pemandangan kelap kelip lampu kota. Langit memang sedikit mendung sepertinya akan turun hujan malam ini, angin pun berhembus lebih kencang.


"aku sudah mengambil keputusan "


Syaqina membuka percakapan


"oh, ya.. terus bagaimana ?"


"aku.. aku akan mencoba berdamai dan menerima takdir ini, dan aku akan berusaha menerima pernikahan kita ini "


"aku seneng denger nya, setidaknya kita sama-sama menjalani ini, dan aku akan berusaha untuk mencintaimu, karena aku tahu itu tak akan sulit untukku"


"heh..seyakin itu?"


"iya..jujur saja setelah mengenalmu selama 2 minggu ini ada banyak hal yang bisa membuatku mengagumimu"


"gombal kamu, oh iya kamu kan pernah menjadi playboy pasti mudah menaklukkan hati perempuan"


"hey.. aku belum layak di sebut playboy karena aku nyaris yak pernah menggoda wanita, mereka yang datang sendirinya padaku"


"iya..dan kamu dengan suka rela selalu menerimanya "


"tidak juga " elak Shaka


"kamu sendiri, bagaimana urusan mu dengan malaikat pelindungmu itu ?"


"are you sure?"


"ya, i want tray"


"ok.. kita sama sama mencobanya"


Shaka berucap dengan penuh semangat


"anginnya semakin kencang sepertinya hujan sebentar lagi akan turun, ini nggak baik untuk kondisi kesehatan mu yang masih masa pemulihan"


sepertinya Syaqina menghindari pembicaraan yang menyangkut dengan seseorang yang disebut sebagai malaikat pelindungnya itu.


"ok..baiklah kita masuk, mungkin kita bisa melanjutkan pembicaraan kita tentang hal lain di dalam kamar, bukankah itu lebih romantis"


Shaka berucap seakan menggodanya


"awas loh.. berani macam-macam"


"aku nggak butuh banyak macam kok cukup satu macam saja"


ucapnya kembali sambil menaikan kedua alisnya. keduanya pun berpindah meninggalkan balkon dan mengunci pintunya kembali.

__ADS_1


Syaqina mengambil duduk di sofa kamar di ikuti oleh Shaka


"oh iya kok semenjak tinggal disini aku nggak pernah lihat kamu pegang handphone, kenapa?"


"emmh.. iya handphone ku rusak beberapa hari lalu jatuh di lantai"


"ok.. akan aku belikan yang baru untukmu "


"tidak perlu.. aku rasa saat ini aku belum membutuhkanya"


tanpa mendengar penolakan Shaka langsung menghubungi asistennya.


"halo.."


"÷÷÷"


"belikan handphone keluaran terbaru besok kamu antar kerumah"


"÷÷÷÷"


"seorang Shaka Ibrani Darmawan Mahantara tidak pernah menerima penolakan."


ucapnya sedikit sombong, membuat Syaqina memilih mengalah


"kalau kamu sudah ngantuk bisa tidur duluan aku masih harus selesaikan pekerjaan kantorku dulu"


ucapnya sambil terus menatap layar monitor komputer lipatnya.


"atau kamu bisa menonton televisi"


Shaka menawarkan pilihan lain untuk menghindari rasa bosan yang mungkin saja Syaqina rasakan. Syaqina pun menurut tangan ya meraih remote dan menghidupkan televisi dengan volume yang sangat kecil


jarum jam telah menunjuk pada angka 23.00 Syaqina masih asyik menonton siaran yang membahas tentang kata-kata motivasi sepertinya dia sangat fokus menyimaknya hingga.. terdengar suara petir menggelegar cahayanya berkilatan Syaqina seperti biasa terkejut berteriak ketakutan. Shaka pun segera meletakkan laptop nya setelah lebih dulu men shutdown nya dan meletakkannya di meja begitu juga dengan televisi pun ia matikan. diraihnya tubuh Syaqina yang mengigil ketakutan menyembunyikan dirinya pada ujung sofa


"Syaqina..kamu tenang.. tidak akan ada apa-apa, aku disini, lawan rasa takutmu, itu hanya hujan dan juga petir, kamu harus berani mengalahkan ketakutanmu"


"aku takut Shaka.. dialah yang sudah membawa orang-orang yang aku sayangi Shaka "


DEGGGG


kembali Shaka teringat pada peristiwa beberapa minggu lalu, rasa bersalahnya kembali menggelayuti pikirannya. dipeluknya erat tubuh ramping Syaqina kemudian dibawanya keatas ranjang dengan masih memeluknya. ada rasa nyaman disana, ada rasa damai meski jantungnya bergejolak berdetak lebih kencang. hujan masih belum juga reda Shaka terus memeluk Syaqina tangan ya merapikan rambut yang menutupi wajah pucat pasi Syaqina Shaka tak hentinya mengecup pucuk kepala dan juga kening Syaqina. perlahan Syaqina mendongak kepalanya tatapnya saling beradu, kini wajah keduanya sangat dekat bahkan dapat dirasakan hembusan nafas masing-masing.


keduanya semakin terbawa suasana petir memang telah mereda namun tidak dengan hujannya.


Perlahan namun pasti Shaka mendekatkan bibirnya pada bibir Syakina menge***nya perlahan meski Syaqina tak meresponnya, namun Shaka kembali mengulangnya hingga pada akhirnya Syaqina merespon dan membalasnya, c**man itu semakin lama semakin hangat hingga Syaqina memberi celah untuk Shaka menjelajah lebih dalam saling bertukar saliva, hingga keduanya merasa telah hampir kehabisan oksigen baru keduanya saling melepaskan kemudian mengulanginya kembali mereka begitu menikmatinya sampai eluhan lirih lolos dari bibir Syaqina yang sudah berusaha iya tahan sehingga membuat Shaka semakin bersemangat, dan ci**** itu kini beralih pada area leher menyusuri leher jenjang Syaqina tangan Shaka pun mulai nakal berselancar pada tempat yang memicu membangkitkan hasrat yang sulit diartikan Shaka pun merasakan tubuhnya semakin sulit mengendalikan hasratnya. aktivitas mereka semakin memanas dan tak terkontrol lagi


"sya...bolehkah..?"


Syaqina yang juga telah dikuasai hasratnya hanya mampu menganggukan kepalanya, melihat persetujuan dari pemiliknya Shaka pun tak membuang waktu, mulai dilepasnya pakaian yang membungkus tubuh ramping namun terlihat sexy sangat menggemaskan dan menggoda Shaka, hujan masih merintik mengiringi sepasang suami istri yang tengah hanyut dalam kenikmatan hakiki meski terselip rintihan dari Syaqina karena ini pertama baginya dan juga seorang Shaka hingga terdengar eluhan panjang dari keduanya pertanda pergulatan telah dimenangkan oleh keduanya. dengan tenaga yang tersisa Shaka meraih selimut untuk menutupi tubuh mereka kemudian menarik tubuh Syaqina yang sudah terkulai tak berdaya dalam pelukannya dan menyematkan sebuah kecupan di kening Syaqina.


🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


HAYOOOOO...PADA IKUT TERBAWA SUASANA YA...PARA READERS


please..🤲mohon like,comment dan juga vote seiklasnya🙏🏻🙏🏻


__ADS_2