Cinta Orang Biasa

Cinta Orang Biasa
16. Hampir saja


__ADS_3

Matahari pagi masih malu-malu menampakkan senyumnya, tampak bersembunyi di balik awan berselimut kabut tipis. Syaqina yang sedari selesai sholat subuh tadi langsung berperang di dapur menyiapkan sarapan pagi untuk tuan muda yang yang kini menjadi suaminya. pagi ini Syaqina memasak nasi goreng seafood. kali ini Syaqina mempersiapkan segala sesuatunya sendiri bahkan tadi ia belanja bahan masakan sendiri ke supermarket 24 jam yang berada tak jauh dari ujung jalan sebelum memasuki komplek perumahan elite tersebut.


setelah selesai dan menyiapkannya di meja makan Syaqina pun naik ke kamar untuk mandi . mengingat libur semester masih 1 minggu lagi Syaqina pun hanya akan dirumah saja, karena semenjak pindah kerumah orangtua Shaka ia pun sudah mengambil cuti potong gaji dari tempat kerjanya.


"jadi dia belum bangun juga,.. dasar pemalas"


gerutunya setelah mendapati Shaka yang masih terlelap dengan dengkuran lembutnya.


Syaqina pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan berencana membangunkan Shaka setelah ia selesai mandi, 15 menit dirasa cukup untuk membersihkan dirinya Syaqina pun menyudahi ritualnya dan setelah menyambar handuk dia baru teringat jika dia lupa membawa baju gantinya, bahkan handuk kimono pun juga tak ada di dalam kamar mandi, seketika Syaqina panik


"mampus nih.. gimana coba caranya mau keluar dari sini kalau cuma ada handuk ini, waduhhh ceroboh banget sih aku, bisa lupa nggak bawa baju ganti padahal kemaren juga seperti itu, kalau sampai Shaka tahu bisa-bisa ini niatanku untuk sengaja menggodanya"


Syaqina terus merutuki kecerobohanya, ini pasti kebiasaan Syaqina dirumah karena di dalam kamar hanya ada dia sendiri, tapi disini kan dia satu kamar dengan Shaka yang meskipun mereka sudah sah secara agama dan hukum sebagai pasangan halal namun ini pernikahan bukan yang semestinya.


"tapi kan Shaka masih tidur kalau q keluar sebentar mengambil baju gantiku pasti akan aman-aman saja. secara dia kalau tidur kan seperti orang mati"


Syaqina pun memberanikan diri keluar hanya dengan handuk yang menutup dada dan setengah pahanya karena hanya itu yang tersisa, sepertinya Syaqina lupa bahwa semua handuk dan kimono yang ada di kamar mandi baru saja tadi di bawa bi Marni ke ruang laundry untuk di cuci dan yang bersih masih di letakkan di ruang walk in closed. Dengan mengendap-endap Syaqina keluar dari kamar mandi seperti maling. baru dua langkah keluar dari pintu kamar mandi Syaqina yang berjalan dengan menunduk tiba -tiba menabrak sesuatu namun bukan tembok


BUGGGG


"aaaaaaa"


tubuh kekar itu tanpa disangka tengah berdiri hendak masuk ke kamar mandi dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, karena rasa kantuk yang masih mendominasi kesadarannya. Shaka yang belum begitu menyadari keberadaan Syaqina yang sedang tidak beres, namun nasib sial sepertinya sedang berpihak padanya. kaki Syaqina yang belum kering sepenuhnya tiba-tiba menggelincirkan kaki Syaqina hingga terpeleset dan nyaris tubuh ramping itu membentur lantai kalau tidak tangan Shaka dengan sigap menahan tubuh Syaqina yang sudah condong dengan kemiringan sekian derajat.


"auuw "


tubuh ramping itu kini jatuh pada pelukan Shaka keduanya hanya saling memandang dengan penuh keterkejutan, jantung mereka masing-masing berdegup lebih kencang mirip sebuah genderang perang, keduanya diam membisu dalam kebekuan, handuk yang hanya mampu menutupi sebagian tubuh Syaqina pun telah bergeser menurun hingga terlihat sebagian benda kenyal mirip sebuah sequysi sontak membuat Shaka menelan keras salivanya. sungguh pemandangan yang sangat tidak sehat untuk seorang Shaka tubuh putih mulus itu tersaji begitu menggoda di depan mata Shaka, ada gelombang magnet yang kini menjalari tubuh normalnya, membuat darahnya ikut memanas beruntun dengan sebuah hasrat yang timbul seketika, menyadari keadaan dirinya Syaqina pun berusaha segera bangkit dari pelukan Shaka. jangan ditanya lagi soal perasaan Syaqina mukanya tak lagi merah jambu tapi merah biru bercampur pucat karena sangat malu, Syaqina pun sudah pasrah dengan rasa malu yang tak bisa ia selamatkan lagi. apalagi saat Shaka menatap dengan pandangan yang tak seperti biasa, Syaqina hanya mampu memejam untuk menutupi rasa malunya.


CUPP


Shaka mendaratkan kecupan singkat di bibir pucat Syaqina kemudian membantu Syaqina berdiri dengan baik, dan segera masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengucap sepatah katapun, karena Shaka pun tahu bahwa Syaqina sudah lebih dari kata malu atas kejadian ini.


sementara Syaqina langsung berlari menuju lemari bajunya mengambil baju seadanya dan segera masuk ke ruang ganti.


"Aku memang ceroboh, gimana nanti aku harus menghadapi Shaka,..Ya Allah bagaimana aku menyembunyikan muka ku"


pertanyaan itu selalu muncul meneror pikirannya Syaqina beberapa menit ini.


Semantara Shaka pun tak kalah bingungnya didalam kamar mandi dia tampak terganggu dengan pemandangan yang baru saja dia nikmati,


"kenapa aku tadi nggak bisa kendalikan hasratku untuk mencium bibirmu sih Sya.. setelah ini kamu mungkin akan marah padaku "


Shaka terus merutuki kebodohannya, sambil terus membersihkan dirinya. kali ini Shaka membutuhkan waktu lebih lama untuk bersiap, mungkin karena insiden tadi yang membuatnya ingin berlama-lama di dalam kamar mandi.

__ADS_1


sementara Syaqina sudah menunggu di meja makan lebih dari lima belas menit namun Shaka belum juga turun.


"lama banget sih apa dia mandi lulur dulu, kayak cewek saja"


gerutunya sendiri merasa tak sabar menunggu Shaka, namun kalau dia sarapan duluan alangkah tidak sopannya meninggalkan suaminya makan terlebih dulu.


tak lama seseorang yang sangat iya tunggu pun muncul sudah dengan setelan kantornya lengkap dengan jas yang tampak pas menempel di tubuh atletisnya.


"lama banget sih"


sapa Syaqina yang sudah mulai dongkol


"maaf.. masih harus menyelesaikan berkas penting untuk meeting nanti"


jawab Shaka sekenanya, tanpa berani menatap ke arah Syaqina, sepertinya sepasang pengantin baru itu masih sangat malu-malu terlebih setelah kejadian tadi pagi.


"mau sarapan sekarang?"


tanya Syaqina lagi, Shaka hanya menjawab dengan Anggukan kepala. Syaqina pun segera meraih piring dan mengambilkan nasi goreng seafood dan telur mata sapi, menyiapkan air lemon hangat karena itu menu wajib Shaka setiap hari. kemudia Syaqina mengambil nasi untuk dirinya juga keduanya pun sarapan bersama, baru beberapa detik Shaka menyudahi sarapannya tiba-tiba iya merasakan sesuatu yang tidak beres pada tubuhnya, kepalanya terasa pusing, perutnya sakit dan sekujur badan Ya terasa panas, bahkan untuk berdiri Shaka sudah sangat payah, Syaqina yang memperhatikan perubahan pada diri Shaka langsung mendekat


"kamu kenapa?"


"kepala gue pusing, perut sakit badan terasa panas, apa kamu memasak seafood?"


"memang itu nasi goreng seafood "


"tuan muda kenapa Non?"


tanya salah satu ART


"nggak tahu bi tadi habis sarapan katanya pusing badanya panas dan dia langsung roboh"


Syaqina menjelaskan


"pasti tuan muda makan seafood!"


tebak salah satu ART senior


"jadi..Shaka alergi seafood?!"


sela Syaqina ditengah kepanikanya


"tolong gimana ini bi, kita bawa kerumah sakit atau panggil dokter"

__ADS_1


"nona tenang pak Udin sudah menelpon dokter keluarga kok non"


"sekarang biar diangkat ke kamar saja sama pak Udin dan pak Hary non, tenang saja dulu tuan muda juga beberapa kali mengalami seperti ini kalau makan seafood "


jelas bi Marni panjang lebar tentang keadaan tuan muda nya.


Syaqina merasa takut dan bersalah karena dia telah memasak seafood tanpa bertanya terlebih dulu apa ia ada alergi dengan makanan tersebut.


tak berapa Lama dokter keluarga yang dihubungi datang dan segera memeriksa keadaan Shaka, setelah selesai dokter Prita memberikan sejumlah obat dan menjelaskan pada Syaqina aturan minumnya.


"maaf dokter, saya benar-benar tidak tahu kalau ternyata Shaka ada alergi"


ucap Syaqina dengan perasaan bersalah


"sepertinya anda orang baru di lingkungan keluarga ini, karena setahu saya semua anggota keluarga dan pekerja dirumah ini sudah mengetahui keadaan Shaka yang alergi seafood "


"Iya.. maaf dokter saya memang baru,"


"dia istriku dokter"


suara serak Shaka tiba-tiba saat tersadar dari pingsannya


"hah.. udah sadar?"


teriak Syaqina sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"jadi kamu sudah menikah Shaka?"


"Iya beberapa hari lalu "


"selamat ya,.."


"thanks ya dok"


"kamu udah nggak apa-apa?"


Syaqina menyela diantara pembicaraan Shaka dan dokter Prita


"tenang saja nona saya sudah menyuntikkan obat antibiotik nanti tinggal minum obat yang tadi dia akan segera pulih setidaknya dua hari lagi udah pulih"


"gitu ya dok, terimakasih ya dok"


"Iya, sama-sama itu sudah menjadi tugas saya nona..."

__ADS_1


"saya Syaqina..panggil Syaqina saja tidak usah pakai nona"


dokter cantik berusia 35 tahun itu pun tersenyum kemudian berpamitan setelah tugas nya selesai.


__ADS_2