
Syaqina membuka gagang kunci kamar Kos nya kemudian menuju ke kamarnya meletakkan tas tangan pada tempatnya dan segera mengambil baju ganti dan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Shaka tampak mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan ini hatinya terasa perih dan teriris ternyata begini sederhananya selama ini istri dan calon anaknya tinggal, membayangkan hal itu air matanya pun berurai begitu saja.
" lagi - lagi aku hanya bisa menyakitimu sayang , mulai sekarang aku akan menebus semua penderitaan itu dengan kebahagiaan dengan tetap disisimu menjagamu dan juga anak kita "
gumamnya lirih sambil mendudukkan dirinya di lantai ruang tamu yang hanya ada karpet bulu ukuran sedang. Dengan kepala tersadar pada dinding bercat cream itu
Syaqina pun keluar dari kamar mandi dengan piyama lengan panjangnya, kemudian mendekat ke arah cermin di ujung kamar mengambil sisir dan mengoleskan lotion ke tubuhnya. kemudian keluar kamar dan mendapati Shaka yang baru saja membukakan pintu pada seseorang dan kini sudah menenteng paper bag berisi baju gantinya.
" kalau mau mandi kamar mandinya didalam tapi maaf cuma sempit"
serunya pada Shaka dengan mode datar dan dingin
" nggak masalah terimakasih "
ia pun berjalan ketempat yang Syaqina tunjukkan, sepasang matanya kembali menyapu kamar yang hanya berukuran 4x4 itu yang masih disekat untuk kamar mandi
tak ada ranjang ataupun meja rias di dalam kamar itu, selain kasur busa berukuran queen dan satu buah rak dari kayu, serta lemari plastik susun 4 dengan ukuran sedang, tanpa ada Ac yang ada hanyalah kipas angin yang tergantung menempel di tembok kamar tersebut
Setelah selesai membersihkan dirinya Shaka pun keluar dari dalam kamar mandi dan mendapati Syaqina tengah membuat secangkir Teh dan dibawanya ke ruang tamu
"Maaf disini cuma ada teh anget minumnyanya mas"
" kamu nggak perlu repot, nanti kalau aku butuh aku akan buat sendiri, lagipula ini udah larut malam kamu harus istirahat, kamu pasti lelah seharian ini, kasian si baby, aku nggak mau kalian kenapa - kenapa "
" tenang saja dia anak yang kuat kok"
__ADS_1
" aku tahu itu"
" oh iya kalau kamu mau tidur itu ada kasur lipat di dalam kamar bisa kamu bentang di sini mas "
" apa aku nggak boleh tidur dikamar denganmu ?"
" maaf mas kasur nya sempit nanti kamu nggak nyaman"
" apapun jika denganmu pasti nyaman"
" nggak usah terlalu memaksakan diri mas"
" aku nggak memaksa, aku yang harus belajar menjalani kehidupan yang udah kamu jalani selama ini "
tenggorokan Syaqina seakan tercekat mendengar ucapan Shaka, bagaimanapun untuk saat ini Syaqina ingin melihat sampai dimana ketulusan Shaka dalam berjuang mendapatkan maafnya.
" ya terserah kamu saja mas "
Syaqina hanya terdiam dan berlalu ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah setelah melewati serangkaian acara di resort tadi sore hingga malam ini
" loh.. kok mas ikut masuk sih?"
" kan aku udah bilang mau tidur dikamar saja aku pingin dekat dengan si baby, aku kan Daddy nya, dan kita masih suami istri jadi wajar dhonk kalau kita tidur bersama dalam satu kamar"
Syaqina hanya berdecak dan memutar matanya membulat , kemudian menyerahkan sebuah bantal dan segera berbaring membelakangi Shaka. meski jantungnya berdetak tak beraturan begini, namun Syaqina tetap berusaha tenang dan rileks hingga akhirnya sepasang netra lelahnya pun terlelap. Entah mengapa malam ini sangat berbeda dari malam -malam sebelumnya, malam ini terasa tenang, damai dan begitu nyenyak. mungkinkah efek dari keberadaan Shaka di sampingnya. Si baby pun tampak anteng di dalam perut biasanya kalau mau tidur dy pasti asyik menendang sana nendang sini, tapi malam ini anteng banget mungkin dia merasakan kehadiran sang ayah disamping Mommy nya.
Melihat Syaqina yang tengah terlelap dengan nyenyaknya Shaka pun tersenyum bahagia tanganya dengan reflek mengelus perut buncit yang tampak sedang ada pergerakan dari dalam sana
__ADS_1
" nak.. sayang maafin Daddy ya, selama ini nggak ada saat kamu dan Mama butuh Daddy disamping kalian Daddy malah nggak ada untuk kalian"
diusapnya lembut penuh kasih perut buncit itu dan dikecupnya perlahan takut jika akan membangunkan sang empu tubuh itu. Hingga Shaka pun ikut terlelap dengan posisi saling berhadapan dan tangan Shaka memegangi perut buncit Syaqina. dan tanpa disadari Syaqina pun juga tengah memegang tangan kekar namun sarat dengan kasih sayang itu.
Matahari pagi masih sembunyi di balik awan dan mendung tipis, udara terasa sangat dingin pantas saja rupanya diluar sana sedang turun hujan gerimis , semakin menambah Syahdu suasana pagi ini, Shaka dan Syaqina masih terlelap dalam.buaian mimpi masing -masing sampai pada akhirnya Syaqina tampak mengerjapkan sepasang matanya menyesuaikan cahaya kamarnya yang temaram karena hanya menyisakan lampu tidur saja.
Syaqina merasakan ada yang menindih perutnya dan ia baru ingat kalau semalam Shaka meminta untuk tidur berdua dengannya, dengan penuh hati - hati ia mengangkat tangan kekar Shaka dan menepikannya dari perutnya.
" selamat pagi sayangnya Mommy, gimana malam ini kamu boboknya anteng ya nak ?"
Syaqina memang rutin mengajak si baby untuk berkomunikasi meski belum bisa menjadi lawan bicara namun si baby akan merespon ketika diajak berbicara dengan memberikan gerakan atau pun tendangan, namun itu sudah sangat membuat Syaqina merasa bahagia.
" sekarang kita bangun yuk, kita bikin sarapan pagi dan setelah itu kita ke pasar ya sayang, karena persediaan makanan kita udah habis hari ini kan hari minggu jadi kita bisa belanja ke pasar untuk beli sayuran dan buah yang segar "
ucapnya masih dengan mengusap perutnya yang sudah tampak membesar itu.
kemudian Syaqina beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi setelah 15 menit Syaqina pun keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar.
kakinya kemudian berjalan ke arah dapur setelah membuat teh hangat ia pun segera memainkan peralatan memasak untuk membuat sarapan meski hanya nasi goreng dengan telur ceplok mata sapi, setelah selesai kemudian dia taruh diatas kedua piring, dan di letakkanya di atas meja kecil dari plastik .
Shaka pun ternyata sudah bangun dan sudah selesai mandi dan kini keluar dari kamar dan disambut dengan segelas teh hangat buatan istri yang sempat menghilang dari baru ketemu beberapa jam yang lalu.
" itu mas Teh nya, dan sarapannya ini maaf ya cuma ada ini "
Shaka tersenyum mengembang sempurna menerima sepiring nasi goreng dari tangan Syaqina
__ADS_1
" ini sudah lebih dari cukup, asalkan sama -sama kamu ini lebih dari cukup "
merekapun makan bersama- sama meski hanya duduk diatas kursi plastik dan juga meja dari plastik namun nikmatnya seperti tengah duduk di restoran mewah. karena semua sesungguhnya kenyamanan itu yang paling penting meski makanannya sederhana, tempatnya sederhana jika bersama dengan orang yang tepat semua akan terasa mewah.