
"orang miskin...."
"Tak punya ibu..."
suara ejekan itu hampir setiap hari menjadi nyanyian pengiring untuk gadis kecil itu, namun iya tak pernah membalas ataupun menjawab perbuatan teman-teman sekolahnya itu. bagaimana mungkin ia bisa membalas sedangkan di sekolah ini dia tak punya teman sama sekali, meski kenyataannya gadis kecil tersebut termasuk anak yang sangat pandai terbukti ia selalu mendapat juara dan peringkat kedua di kelasnya.
"heeheee.... orang miskin kok sekolahnya disini?"
"Iya kamu juga tidak mempunyai ibu"
"kamu sekolah naik motor butut tidak seperti kami naik mobil mewah "
suara ejekan itu terus menggaung di telinganya
hingga salah satu dari mereka ada yang mendorongnya hingga tersungkur di lantai, kemudian segerombolan anak nakal tersebut menertawainya
"stop... kalian tidak boleh seperti itu, kasian dia juga teman kalian, kalau kalian terus saja mengganggunya aku akan asupan kalian pada guru disini dan juga kepala sekolah"
seorang kakak kelas yang sudah beberapa kali membantunya ketika mengalami hal yang sama seperti hari ini.
"sekarang kalian bubar "
segerombolan anak nakal itu pun berlalu meninggalkan gadis kecil tersebut, wajar jika mereka kabur mengingat anak yang membela gadis itu adalah kakak kelasnya. anank-anak dengan usia sekitar 8 atau 9 tahun itu pun berlari kocar kacir ke dalam kelasnya.
"sudah jangan menangis lagi ya..ini aku ada coklat buatmu, panggil saja aku kakak Mahem"
ucapnya dengan senyuman manis sambil menyodorkan coklat dari tangan ya.
"terimakasih kakak Mahes sudah selalu membantu Sya "
__ADS_1
jawabnya dengan suara ciri khas anak kecil.
flash back off#
"Sejak hari itu sampai Syaqina lulus SMP dan Esha berpindah ke Ausi bersama oma dan opa disana Esha masih sering mengirim kabar Mah namun semenjak beberapa tahun terakhir kami hilang kontak dan akhirnya hari ini kami bertemu disini dirumah ini namun dia sudah menjadi menantu keluarga ini "
Esha pun menundukkan wajahnya, seperti ada beban perasaan yang sebenarnya tidak terlalu sulit untuk diartikan oleh orang lain khususnya mama Vina.
"apa mungkin semua ini jawaban dari sikap Esha terhadap perempuan, jangan - jangan Esha....Oh,.. tidak.. tidak.. jika itu benar maka ini akan menjadi hal yang sangat sulit untuk mereka bertiga "
mama Vina berbicara dalam hatinya sendiri
"sayang.. mama harap kamu tidak salah paham dengan adekmu Shaka ada alasan yang kuat sehingga mereka harus menikah, "
"benar Esha sekarang adekmu akan belajar arti sebuah tanggung jawab dari kesalahan yang telah di perbuat, papa yakin kamu bisa berjiwa berjiwa besar untuk menerima kenyataan ini nak"
papa Andi kemudian menepuk bahu kekar anak lelakinya itu dan berlalu menaiki anak tangga menuju ruang kerjanya. Sementara Shaka menunduk mama Vina segera meraih kepala anaknya dan memeluknya penuh kasih sayang.
"sayang sekarang kamu istirahat di kamar kamu ya, pasti kamu capek"
Esha pun menjawab dengan Anggukan.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Syaqina di kamar
"Ya Allah kenapa baru sekarang engkau mempertemukan kami lagi setelah aku sudah menjadi seperti ini, dan ternyata dia kakak lelaki yang sudah menikahiku, sekarang aku harus bagaimana? "
Syaqina menangisi takdir hidupnya yang begitu rumit, masalahnya selalu hadir tanpa permisi terlebih dulu.
__ADS_1
Syaqina POV#
"aku memang sangat merindukannya dan selama bertahun tahun aku menyimpan semua itu dengan rapi bahkan perasaan itu telah mampu menjadikannku seorang yang kuat,meski tidak ada kata cinta yang dia ucapkan dari bibirnya namun entah mengapa dia selalu membuatku merasa memilikinya meski aku sendiri tak tahu keberadaannya dimana selama ini, dan hanya datang kepadaku setiap kali aku sedang ada masalah dan menjadi malaikat penolongku. meskipun saat kemaren masalah yang sangat berat itu datang ketika aku kehilangan Ayah dan semuanya Shaka yang menjadi malaikat tak bersayap itu, namun bagiku kak Mahes adalah hero dalam hidupku ".
Syaqina kembali teringat akan hubungannya dengan Shaka bahkan meski belum ada rasa cinta diantara mereka namun tanpa sengaja Syaqina telah menyerahkan dirinya seutuhnya kepada Shaka meskipun belum dengan hatinya, kamu hal itu yang mungkin akan membuatnya terus terikat pada Shaka. mengingat semua itu bulir-bulir air matanya terus merembes mengaliri pipi mulusnya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Di kamar Esha
"sya.. kenapa justru ujungnya seperti ini bertahun - tahun perasaan ini aku jaga untukmu, dan kali ini aku sudah berniat untuk menemukanmu dan mengungkapkan semuanya padamu bahwa aku sangat mencintaimu, tapi kenapa keadaanya begini menyedihkan aku memang menemukanmu bahkan kamu sendiri yang mendekat padaku namun kini kamu sudah menjadi milik adekku ?? aghhhhhhh "
Mahesa tampak frustasi dia menjambak rambutnya sendiri dan beberapa kali memukul dadanya sendiri.
" heehhh kamu jangan menyalahkan orang lain kamu yang selama ini sudah bodoh, kamu terlalu angkuh untuk memperjuangkan cintamu, coba kamu berani mengungkapkan perasaanmu pasti gadis itu akan tetap menunggu mu meski dalam waktu yang sangat lama, tapi kenyataannya kamu memang bodoh kamu terlalu lemah untuk seorang lelaki"
Mahesa terus menertawai dirinya sendiri dia benar-benar tampak hancur kali ini, dibukanya laci yang berada di kamarnya kemudian dia mengeluarkan kotak kecil berwarna merah sudah bisa ditebak itu adalah kotak cincin.
"bagaimana kamu bisa seyakin itu jika kamu sendiri belum pernah mengakui perasaanmu yang sesungguhnya. bahkan untuk sekedar menjelaskan keberadaanmu selama beberapa tahun ini saja kamu nggak berani"
"tunggu... tadi mama dan papa mengatakan kalau pernikahan mereka terjadi untuk mempertanggung jawabkan kesalahan Shaka, apa sebenarnya yang sudah dia lakukan pada Syaqina?? apa Shaka menyakitinya dengan berbuat tak baik padanya?, atau... agghhh "
Mahesa semakin frustasi memikirkan semua ini, sebelum akhirnya iya memutuskan untuk masuk dalam kamar mandi dan memikirkan sambil berendam dalam bathub mungkin dengan aromaterapy akan membantunya merasa lebih rileks.
β€β€
Termakasih ya... readers yang baik hati yang telah membaca cerita ini,
mohon like
__ADS_1
komentar
dan vote nyaππ»ππ»ππ»