Cinta Orang Biasa

Cinta Orang Biasa
56. Tawaran pulang bareng


__ADS_3

satu- persatu karyawan mulai pulang, tak terkecuali teman satu devisi Syaqina juga sudah pulang Tertinggal Jody yang paling belakangan pulang karena tadi ia mampir dulu ke toilet


" loh.. Syaqina belum pulang kamu "


"Bang Jody ! kok masih tertinggal?"


"iya tadi aku mampir ke toilet dulu..hehee"


"kamu belum pulang ? ato nunggu jemputan?"


" emmm iya ini nunggu Taxsol bang"


" sebenernya gue pingin ngajakin bareng kasian elo pasti capek banget pingin secepatnya istirahat, tapi arah kita berlawanan"


"nggak apa kok bang bentar lagi juga datang kok Taxol nya"


" beneran ?"


"iya bang "


"kalau begitu duluan ya Sya, hati - hati dijalan"


"iya bang Jody juga hati - hati dijalan "


beberapa menit sejak Jody meninggalkan Syaqina di halte depan kantor, namun Taxi online tahun iya order dari beberapa waktu yang lalu belum juga sampai , dan rupanya baterai handphone Syaqina kehabisan daya dan mati


" yah.. pakai acara low bat lagi , kalau.gini gimana bisa hubungi Taxol nya"


ditengah kekalutanya tiba - tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan Syaqina tak lama kaca jendela mobil pun terbuka dan klakson berbunyi


"Syaqina.. belum pulang ?"


"loh.. Riyan ?!, Iya ini masih nunggu taxi"


"kamu nggak di jemput?"


Syaqina hanya menggelengkan kepalanya


"ya udah kita bareng saja, kan kita satu komplek "


Syaqina masih terdiam dan berpikir sejenak


"udah, nanti aku jelasin ke suami kamu kalau kamu khawatir, udah makin sore nih ntar kamu kemaleman, pamali orang bunting nggak boleh diluar rumah kalauagrib"


"ya.. ya udah deh aku ikut bareng kamu "


Riyan pun tersenyum lebar ajakannya terima oleh Syaqina , kemudian Syaqina pun membuka pintu mobil dan segera mendaratkan pantatnya dengan cantik di jog mobil Riyan.


Riyan melajukan mobilnya menembus kepadatan jalanan yang lumayan rame terlebih saat jam pulang kerja begini, keadaan di dalam mobil lumayan hening, ada rasa kurang nyaman kini menggelayuti pikiran Syaqina, bagaimana tidak saat ini iya berada di dalam mobil bersama seorang laki -laki yang bukan muhrimnya bahkan saat ini iya sedang mengandung, meskipun kenyataanya saat ini ia tidak dalam keadaan baik - baik saja dengan pernikahannya.


" Sya... kamu kenapa kok gelisah gitu aku perhatikan dari tadi ?"


" nggak ada apa - apa kok Yan , cuma capek saja "

__ADS_1


"yakin ,, cuma capek?"


"iya, apalagi jumat sampai minggu malam aku harus kuliah"


" terus kanapa kamu masih harus kerja kalau udah tahu seperti itu keadaanya, kamu kan bisa ajukan cuti kuliah atau kamu bisa berhenti kerja secara orang hamil itu nggak boleh stress, nggak boleh kecapekan juga, terus kalau seperti ini kapan kamu istirahat nya "


Syaqina hanya terdiam dan sesekali membuang pandangannya keluar kaca mobil, menatap pemandangan diluar yang penuh dengan hiruk pikuknya jalanan sore ini.


"Sya...Syaqina.. kamu ok kan ?"


Riyan pun akhirnya mengambil inisiatif membuyarkan lamunan Syaqina dengan membunyikan klakson mobilnya


Thiiiiiinnnnn


"astagfirullah ada apa Yan ?"


" he..he.. kamu ternyata beneran ngelamun , pantas saja di panggil nggak nyautin malah bengong saja "


" eh.. maaf Yan , tadi nggak denger"


"ya nggak denger situ asyik ngelamun "


"ngelamunin apa sih ?"


" nggak ada kok Yan"


"Ok.. kalau kamu nggak mau cerita nggak masalah mungkin next time kamu mau cerita, aku siap kok menjadi pendengar yang baik "


"Terimakasih ya Yan "


" ya.. untuk tumpanganya"


" nggak masalah kok aku seneng bisa bantu temen, apalagi kamu "


"bisa saja kamu Yan "


Riyan nyengir terlihat menampilkan barisan gigi yang rapi, wajahnya yang manis khas wajah orang Indonesia, dulu semasa SMA Riyan termasuk dalam jajaran cowok most wanted dengan postur tubuh atletis, tingkat kecerdasan diatas rata-rata dan jago basket. jika ditelisik lebih dalam dulu Riyan sempat menyukai Syaqina namun karena Syaqina menganut paham anti pacaran maka niatan untuk bisa memacari itu pun Aus begitu saja, meski pada saat itu Riyan terus mencoba mendekati dan membangun hubungan pertemanan yang baik hingga pada akhirnya saat kenaikan kelas XII Riyan harus pindah sekolah mengikuti ayahnya yang pindah Dinas karena ayah Riyan merupakan seorang perwira polisi.


" Yan.. itu di depan berhenti ya aku turun disitu"


Syaqina menunjuk rumah bercat Silver berlantai 2 namun terlihat berbeda dari bangunan perumahan pada umumnya karena bangunan tersebut terlihat terdiri dari beberapa petak dengan pintu masing - masing seperti deretan rumah kos, dan memang benar kan Syaqina tinggal di kos kosan.


"kamu yakin turun disitu ?"


"iyalah, emang kenapa ?"


"tapi kan itu rumah kosan Sya "


"atau kamu sengaja turun disitu biar nggak ketahuan suami kamu kalau kamu pulang bareng aku ?, aku bisa jelasin kok sekalian kan aku mau kenalan sama suami kamu"


" kamu ini apa - apaan sih Yan, aku tuh emang tinggal di Kosan itu "


"apa ?? nggak kamu pasti bercanda, mana mungkin seorang yang udah bersuami, kamu kerja kantoran dan kamu juga anak kuliahan masak iya tinggal di Kosan "

__ADS_1


Riyan masih tak percaya bukan apa - apa maksud Riyan dia merasa tidak rela dan semakin penasaran dengan lelaki yang sudah menjadi suaminya apa segitu susahnya bahkan untuk mengontrakkan satu unit rumah saja tidak sanggup dan hanya memberikan fasilitas tinggal di rumah Kos meskipun jika dilihat dari luar sudah termasuk Kosan yang lumayan bagus, tapi ini akan lebih cocok untuk anak sekolah, Mahasiswa, ataupun orang yang masih lajang.


" kamu kenapa sih Sya bikin aku semakin penasaran, setahu ku kamu gadis yang cukup pintar untuk melakukan segala sesuatunya kamu punya prestasi akademis yang bagus bahkan selalu menjadi juara kelas, tapi kenapa kamu begitu payah dalam memilih pasangan, jika seperti itu keadaanya kenapa dulu aku nggak nekad saja ngejar kamu, udah pasti aku bisa berikan kehidupan yang lebih layak, meski tak semewah kehidupan kaum sultan tapi setidaknya kamu tidak perlu seperti ini, bahkan disaat kamu sedang hamil kamu masih harus bekerja dan kuliah, bahkan suami laknatmu itu tidak bisa menjemputmu"


Riyan tampak terdiam dan asyik dengan lamunannya, hingga membuat Syaqina memberanikan diri menepuk lengannya untuk menyadarkannya


"yan.. yan.. Riyan "


"eh.. iya maaf .. maaf Sya "


"kamu ngelamun ?"


"eh..iya, eh tidak ..tidak Aku tidak melamun"


"tidak melamun, tapi cuma bengong"


"maaf gimana Sya kamu tanya apa ?"


"Aku turun ya Yan, makasih untuk tumpanganya "


"kok turun?"


"ya jadi ? kan aku udah sampai masak iya mau ikut kamu lagi, gimana sih "


"Hehee.. udah sampai ya "


" kamu nih banyakan ngelamun makanya jadi ambyarr gitu otaknya, udah ya aku turun kamu juga pulang bentar lagi magrib"


Syaqina pun turun dari dalam mobil Riyan yang sudah ditemukan sejak beberapa menit yang lalu


" assalamualaikum, makasih ya Yan maaf udah metepotkanmu "


" waalaikumsalam tenang saja nggak repot kok kan searah juga "


Syaqina pun melangkah menjauh dari mobil dan membuka gerbang besi berwarna hitam yang tidak terkunci itu, sementara Riyan masih diam pandangan matanya tak lepas mengikuti langkah Syaqina sampai menghilang di salah satu unit yang berjajar itu


" kamu kenapa sih Sya bikin aku semakin penasaran gini dengan kondisi ka.u saat ini, aku harus mengetahui kebenaranya"


Riyan pun menghidupkan kembali mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan menuju rumahnya yang tinggal beberapa blok lagi.


# Riyan POV


Hari ini aku kembali aktiv bekerja seperti biasa setelah beberapa bulan terakhir aku fokus menyelesaikan studyku dan sekarang saatnya fokus membantu mengurus perusahaan yang sebenarnya masih milik kerabat dari ibuku lebih tepatnya ibuku dan pemilik perusahaan induk masih sepupu orang tua ibuku lebih tepatnya nenek ibuku dan dan nenek tante Vina adalah kakak adik. sebenernya aku tidak begitu tertarik dengan dunia bisnis karena bagiku dunia bisnis adalah dunia yang kejam dimana banyak permainan kotor dan licik demi untuk mempertahankan eksistensinya, namun aku juga tidak bisa memilih ketika Ayah menginginkannya mengikuti jejaknya menjadi abdi negara maka aku lebih memilih tawaran tante Vina yang saat itu bermaksud merekrutku menjadi bagian dari perusahaan yang dibangun oleh suaminya yaitu om Andi mengingat keluarga itu memiliki kerajaan bisnis yang tersebar di berbagai aliyah di Negeri ini bahkan di luar negeri. mau tidak mau aku terpaksa menerima tawaran ini karena akau tidak mau mengikuti permintaan Ayah.


Aku keluar dari ruangan dan hendak menuju lift namun tanpa sengaja ada seorang perempuan yang tampak jalan dengan terburu -buru hingga tanpa menyadari aku yang juga berjalan dari arah berlawanan hingga akhirnya kami bertabrakan dan iya nyaris terjatuh kalau saja tidak dengan sigap aku menangkap tubuhnya, dan betapa terkejutnya aku saat melihat wajah itu ternyata iya gadis yang dulu aku sukai semasa SMA dan aku pernah mengungkapkan perasaan sukaku padanya tapi karena iya menganut prinsip tidak mau berpacaran maka aku pun terpaksa mengurungkan niat memacarinya dan sampai akhirnya kami berpisah sekitar empat tahun. dan hari ini kami dipertemukan lagi namun keadaannya sudah jauh berbeda, gadis itu memang semakin cantik mempesona, wajahnya yang teduh berlindung di balik jilbab yang telah ia pakai semenjak pertama mengenalnya dulu, tapi yang lebih berbeda yaitu tubuhnya secara fisik sangat berbeda perutnya tampak membuncit meski tertutup baju longgar namun tetap terlihat olehku, dan fixs dia sudah bersuami dan kini sedang mengandung. tapi hal itu tak menyurutkan rasa rinduku untuk kembali bertemu meski sekarang hanya sebagai teman dan rasa rindu itu adalah kerinduan antara teman lama saja. akupun mengajaknya makan siang bersama di cafe depan kantor kami dari situlah sedikit demi sedikit rasa penasaranku mulai mendapat jawaban, dan pertemuan kami berlanjut saat jam pulang kerja kulihat dia masih berdiri di halte depan perusahaan ia sedang menunggu suaminya menjemputnya, rupanya aku salah ia sedang menunggu Taxsol dan parahnya handphone miliknya habis baterai dan Taxsol pun tak kunjung datang akhirnya aku menawarkan tumpangan untuk pulang bareng karena kebetulan kami tinggal di kompleks perumahan yang sama. dan lagi - lagi aku tercengang setelah tahu Syaqina tinggal di sebuah kos -kosan dan ini seperti ada gejolak jiwaku yang masih menyimpan sedikit rasa menjadi meronta - ronta kenapa perempuan sespesial Syaqina justru menikah hanya dengan seorang yang tak bertanggung jawab yang hanya mampu memberikan tempat tinggal di Kosan bahkan membiarkan dirinya yang masih harus bekerja dengan perut yang sudah membuncit bahkan membiarkannya pulang sendiri tanpa menjemputnya. seketika hatiku panas tak terima mengapa Syaqina mendapat perlakuan yang seperti itu. namun Syaqina tetap seperti yang dulu pribadi yang tertutup dan sulit berbagi cerita denganku, bahkan saat aku mempertanyakan perihal suaminya dia lebih banyak menghindari pembicaraan itu. aku semakin tertantang jiwa kepoku meronta ingin secepatnya mendapatkan jawaban dari kenyataan tentang kehidupan Syaqina dan suaminya saat ini.


Terimakasih untuk yang sudah setia mengikuti cerita ku, terimakasih tak terhingga juga untuk yang sudah mendukung semoga kita bisa saling menebar manfaat dan kebaikan.


jangan lupa


LIKE ❤


komentar

__ADS_1


dan Vote nya..🙏🏻🙏🏻


__ADS_2