
Syaqina mulai memasuki rumah besar dan mewah namun tampak sunyi dusana hanya ada dua orang ART serta satu security yang berjaga di depan, sementara Shaka dan Syaqina mengikuti langkah Bik Mun yang mengantarkan mereka ke kamar Bu Susan.
" ini kamarnya nyonya Den , silahkan masuk bapak dan ibu ada didalam "
seru Bik Mun ketika sampai di depan pintu sebuah kamar yang dinyatakan sebagai kamar utama pemilik rumah ini
" baik, terimakasih ya Bik sudah diantarkan "
ucap Shaka sementara Syaqina masih tampak kaku dan tak banyak kata kecuali hanya tersenyum tipis
TOK.. TOK... TOKK
Shaka pun mengetuk daun pintu yang tertutu rapat itu, perlahan gagang pintupun berderit dan terbuka
" ahkk... ini dia yang ditunggu akhirnya datang juga, Ayok... ayok masuk Ibumu sudah menunggu didalam "
seru Pak Setyawan sambil menyalami keduanya
Syaqina semakin mengeratkan genggaman tangannya pada suaminya karena bagaimanapun juga ini kali pertemuan dengan Bu Susan dengan perasaan sebagai anak dan Ibunya.
" Assalamualaikum... "
" Waalaikumsalam.. "
pak Setyawan menjawab salam kedua tamunya sementara Bu Susan tampak terbaring lemah serta menjawab salam hanya dengan gesture bibirnya tanpa bersuara
" gimana keadaan Ibu Susan Om ?"
tanya Shaka sambil menjabat tangan sang mertua sambungnya
" ya seperti yang kalian lihat,, sore ini kami akan terbang ke Singapura untuk pengobatan tapi semua kembalai pada diri sendiri kalau tak ada semangat dan kemampuan untuk melawan sakit dan bertekad sembuh semua akan percuma kan "
ucap Pak Setyawan seolah juga berpupus harapan karena Bu Susan sendiri yang selama ini merasa enggan untuk diajak berobat. terlebih setelah mendengar vonis dokter yang menanganinya selama ini, jika sel kanker dalam tubuh Bu Susan telah menyebar ke beberapa organ lainnya. Namun pak Setyawan tetap mengupayakan kesembuhan sang istri meski selalu mendapayt penolakan.
Bu Susan merasa apa yang dialaminya saat ini adalah buah dari kejahatanya dimasa lalu sehingga ia memilih pasrah saja.
__ADS_1
" Ibu... tidakkah Ibu ingin sembuh ingin sehaat fan hidup lebih lama dengan anak dan juga cucu- cucu Ibu"
itulah kata pertama yang terucap dari bibir Syaqina meski dengar bibir bergetar dan mata berkaca - kaca.
" Bu... aku memang telah kehilangan banyak waktu untuk bersama Ibu tapi tidakkah Ibu ingin memiliki banyak waktu dengan cucu Ibu? sebentar lagi Chamila juga akan melahirkan, dan aku... aku juga akan menambahkan cucu untuk Ibu lagi. tidak kah Ibu merasa senang dengan semua itu ?"
" Sayang... kamu..?"
Shaka merasa sangat terkejut dengan ucapan sang istri jika ia akan menambahkan cucu lagi berarti sekarang ini ia sedang mengandung lagi, setelah kejadian beberapa tahjn lalu yang berakibat pada vonis dokter jika ia akan sulit memiliki bayi lagi.
" maaf Mas aku belum memberimu kabar bahagia ini "
" Alhamdhulillah... terimakasih Ya Allah untuk anugerah luar biasa ini Queen akan memiliki adik, dan aku akan menjadi Ayah lagi , terimakasih Sayang "
tanpa buang waktu Shaka pun langsung memeluk dan menghadiahi beberpa ciuman di wajah sang istri tanpa mengingat situasi dan tempat mereka saat ini.
Bu Susan yang sedari tadi hanya fiam pun akhirnya ikut bereaksi senyumnya mengembang diwajah pucat dan semakin tirus itu,
" selamat ya Nak.. kalian akan mendapat kepercayaan lagi, dijaga baik - baik ya "
" terimakasih om, semoga ini akan membawa berkah untuk kita semua"
" ka.. kamu tak ingin memeluk I..Ibu nak "
suara lemah Bu Susan seketika mengheningkan suasana, tanpa jawaban Syaqinapun menghambur dalam pelukan sang Ibu yang meski kini lemah tak berdaya namun terasa begitu hangat
" maafkan Syaqina Bu... baru sekarang datang menemui Ibu ?"
" Nak.... terimakasih kamu masih peduli dengan ku yang sebenarnya tak pantas kamu sebut sebagai Ibumu. kemaren - kemaren sudah sangat egois berharap untuk bisa kamu maafkan dan kamu menerima Ibu, tapi... sekarang Ibu sadar nak Ibu tidaklah cukup pantas bahkan untuk sekedar mendapat pengakuanmu sekalipun "
Bu Susan terus berucap dengan suara lemah sepasang manik matanya terus menatap wajah putrinya nyaris tak berkedip
" sudah.. ya Ibu jangan berpikiran macam- macam, yang terpenting saat ini Ibu harus fokus dengan kesehatan Ibu dan bersemangat menjalani pengobatan, ingat Ibu harus menemani cucu - cucu Ibu itu adalah impian semua nenek di dunia ini Bu "
" kamu memang putrinya Damiri sama persisi sifat dan karaktermu kamu warisi darinya, memiliki hati yang tulus serta jiwa yang murni nak, terimakasih "
__ADS_1
" Ibu harus istirahat sekarang, supaya nanti saat berangkat Ibu akan nyaman dan baik - baik saja "
" baiklah nak... ibu yang harus menurut denganmu sekarang "
" itu harus.. karena anakmu ini masih ingin merasakan pelukan dan juga suapan Ibu yang semasa kecilku hampir tak kudapatkan dari Ibu "
"maafkan Ibu nak .. "
" sudahlah ,, aku tak lagi ingin dengar kata itu Bu karena aku sudah memaafkan Ibu, dan kita sama - sama melewati cerita baru kita Bu "
semua yang berada dalam ruangan itu pun ikut terharu menyaksikan adegan nyata tersebut, bahkan Pak Setyawan pun ikut menyeka kedua matanya yang mengembun. Bagaimapun juga lelaki paruh baya itu ikut berperan dalam semua kejadian terburuk dimasalalu itu
Perlahan Bu Susan pun mulai memejam dan mengistirahatkan tubuhnya yang semakin lemah, namun seolah sekarang memiliki kekuatan baru untuk melawan sakit itu.
Shaka pun mendekati sang istri yang masih setian duduk di ranjang menemani sang ibu sambil terus mengusap tangan yang kian kurus itu.
" Sayang... kamu juga istirahat, ingat kamu sedang hamil sekarang jadi kamu harus memperhatikan kondisi calon baby kita juga "
" iya Mas.. aku nggak apa - apa aku juga nggak capek"
" sayang ini perintah , istirahatlah "
" Shaka benar nak kamu harus istirahat berbaringlah di sofabad itu kalau kamu tak mau istirahat di kamar lain "
Pak setyawan pun ikut meyakinkan Syaqina, karena dia tak ingin kejadian buruk terjadi pada menantu sambungnya
" baiklah aku akan istirahat disana , supaya saat ibu bangun tidak mencariku "
Shaka pun dengan siaga langsung menempatkan diri di sofa yang ditunjuk dan telah siap menjadi bantal dan memangku kepa istri tercintanya.
" baiklah.. Saya mengecek persiapan untuk keberangkatan nanti, kalian santai saja ini juga rumah kalian nak jangan sungkan jika butuh sesuatu panggil mbok Mun saja ya "
" iya Om, silahkan "
Shaka menjawab sebelum akhirnya tubuh tegap lelaki paruh baya itu menghilang di balik pintu yang tertutup
__ADS_1