Cinta Orang Biasa

Cinta Orang Biasa
19. antara sedih dan menyesal


__ADS_3

Suara adzan pertanda subuh sudah datang mengusik Syaqina yang tengah tertidur saling berpelukan sepasang netranya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya lampu yang hanya temaram. Syaqina berniat bergerak turun dari atas ranjang namun Shaka masih melingkarkan kedua tangannya diatas perutnya hingga menyadarkannya pada keadaan yang tak biasanya. Syaqina baru menyadari bahwa dirinya kini dalam keadaan polos hanya berbalut selimut.


"hah... jadi..semalam kami..?"


Syaqina yang menyadari dirinya tak lagi utuh pertahanannya telah runtuh akibat hujan semalam, tanpa iya sadari bulir-bulir air matanya mengalir begitu saja entah apa yang ia rasakan saat ini mungkinkah itu penyesalan, mengingat itu terjadi begitu saja disaat keduanya belum ada rasa cinta. Syaqina semakin terisak hingga membangunkan Shaka yang tadi masih terlelap.


"kamu menangis ?"


Syaqina masih terus terisak tanpa memperdulikan pertanyaan Shaka, badan ya beringsut menuruni ranjang dan berlari menuju kamar mandi dengan lilitan selimut, meski ada rasa perih dan ngilu di areanya ia tak dipedulikannya. Sementara Shaka tampak begitu merasa bersalah namun hanya bisa pasrah. lebih dari 30 menit Syaqina berada di dalam kamar mandi namun tak juga keluar.


🌸di dalam kamar mandi 🌸


"bodoh banget sih kamu Syaqina bodoh... dengan mudahnya kamu melepaskan mahkota itu, disaat kamu saja belum mengenal sepenuhnya, disaat kamu belum menjadi pemilik hatinya."


Syaqina terus merutuki kesalahannya sambil terus mengguyur seluruh tubuhnya di bawah shower. Sebenarnya ia tahu jika apa yang mereka lakukan itu bukanlah dosa dan kesalahan tetapi ia hanya tidak rela saja melepaskan apa selama ini ia jaga begitu saja saat belum ada rasa cinta diantara keduanya. meskipun cepat atau lambat hal itu tetap akan mereka lakukan ini semua hanya masalah waktu. setelah hampir 1 jam Syaqina melakukan aktivitas mandinya ia pun keluar dari kamar mandi setelah terlebih dulu menganti bajunya di walk in closed meskipun badanya terlihat segar namun terlihat pucat apalagi bibirnya, tak ada lagi bibir pink yang ranum itu yang tersisa hanya pucat kebiruan mungkin karena terlalu lama berada di dalam guyuran air shower.


Shaka yang melihat Syaqina dengan keadaan yang begitu menyedihkan tak kuasa menahan rasa bersalahnya, iya terus saja menyesali perbuatannya tadi malam, dia benar-benar tidak bisa menahannya, padahal selama ini ia selalu di kelilingi oleh wanita -wanita sexy berbaju minim dengan tingkah menggoda, namun ia sama sekali tidak tertarik dan selalu bisa meredamnya, bahkan untuk ber**** bi*** saja dia tidak pernah lebih dari sekedar mengecup saja. Namun sangat berbeda dengan Syaqina dia perempuan yang lugu berpakaian selalu tertutup dan sopan, meski beberapa malam yang lalu mereka pernah tidur dalam pelukannya, namun tidak ada kejadian lain selain hanya memeluknya yang saat hujan petir Syaqina tengah ketakutan. Entah mengapa malam tadu saat mereka berdua sama-sama tidak bisa menahan gejolak itu bahkan sama-sama menginginkannya.


perlahan Shaka mendekati Syaqina yang tampak tak bergairah bahkan cenderung murung, ada perasaan canggung dan takut untuk menyentuhnya, meyakinkannya jika yang terjadi bukanlah kesalahan karena mereka telah Sah sebagai suami istri.


"maafkan aku "


kata itu lolos begitu saja sambil memeluknya dari belakang


"tidak apa-apa itu adalah hakmu, ini hanya masalah waktu, sekarang ataupun nanti kamu berhak untuk itu. aku tahu itu sudah menjadi kewajibanku untuk melayanimu".


jawabnya dengan datar, dengan berdiri mematung meski masih dalam pelukan Shaka meski iya tak menolak juga tak merespon pelukan itu, saja air matanya tak dapat ia cegah untuk turun.


"melihatmu seperti ini membuatku merasa bersalah, dan aku merasa sudah sangat egois"


"Ini bukan salahmu, aku juga salah tak bisa mengendalikanya, aku tidak apa-apa, bukankah sekarang atau nanti jika kita tidak bisa mempertahankan pernikahan ini statusku akan tetap sama yaitu ja***"


Shaka membalikkan badan Syaqina hingga keduanya saling berhadapa menatap manik coklat Syaqina dalam-dalam

__ADS_1


"apa kamu menyesal sudah melakukannya denganku?"


Syaqina menggelengkan kepalanya pelan


"aku tidak menyesalinya, hanya saja aku merasa.."


kalimatnya terpotong begitu saja tak dapat ia teruskan, Shaka sangat tahu perasaan Syaqina saat ini, ditenggelamkannya wajah itu dalam pelukan yang begitu erat, ada rasa tenang disana.


"kamu tidak perlu khawatir kita akan memulainya dengan belajar mencintai satu sama lain, dan mengenai pernikahan kita, kita juga yang berhak melanjutkan atau berhenti saja


" apa kamu yakin ?"


"kita akan mencobanya bersama- sama"


"Terimakasih, aku sudah banyak merepotkanmu"


drama mellow pagi ini pun terselesaikan dengan damai. Shaka pun telah bersiap menuju kantornya setelah 2 hari iya hanya memantau pekerjaannya dari rumah saja karena insiden seafood kemaren.


🌸🌸🌸🌸🌸


setelah satu minggu papa Andi dan Mama Vina pun pulang dari Surabaya, setelah menempuh perjalan dengan pesawat komersil selama 1 jam merekapun sampai di Bandara kota asal, disana sudah ada supir keluarga Darmawan Mahantara yang telah stand bay untuk menjemput tuan dan nyonya besar.


"pah.. gimana ya kabarnya anak bungsu dan menantu kita? apa mereka sudah bisa dekat ya, atau mungkin mereka sudah saling jatuh cinta?"


"mama nih, apapun itu kita tidak boleh terlalu mencampuri urusan rumah tangga anak kita Mah, mereka sudah dewasa mereka tahu yang terbaik untuk hubungan mereka"


"iya mama tahu itu, tapi masalahnya hubungan mereka ini tidak seperti pada umumnya Pah, mama takut suatu saat semua rahasia Shaka akan ketahuan oleh Syaqina pasti itu akan menjadi masalah besar pah"


mama Vina sejujurnya sangat mengkhawatirkan jalan keputusan yang telah diambil oleh putra bungsunya mengawali sebuah hubungan dengan menutupi kebohongan.


"Mah.. berpikir yang positif saja papa yakin mereka bisa menghadapinya, kalaupun nanti terjadi papa yakin menantu kita bisa menerimanya karena menurut papa dia perempuan yang baik, dan penurut"


"semoga saja begitu pah, jujur mama sudah sangat cocok dengan menantu kita mama yakin dia perempuan yang tepat untuk si bungsu"

__ADS_1


mereka masih terus membahas soal Syaqina dan Shaka selama perjalanan dari bandara menuju Rumah kediaman mereka.


tak berapa Lama obrolan mereka terhenti karena handphone mama Vina berbunyi pertanda ada panggilan masuk, dan benar saj tertulis nama kontak abang Esha


"assalamualaikum..mamah ku yang cantik


"waalaikumsalam salam.. sayangnya mama yang Ganteng "


"tumben jam segini menghubungi mama, apa tidak sayang waktunya "


"mama kok gitu sih "


"kan buatmu tak ada yang lebih penting selain pekerjaan sayang"


"mama.. oh iya mama apa kabar?"


"baik sayang"


"jadi Mama saja nih yang ditanyakan, papa tidak " (tiba-tiba Papa mengeluarkan suaranya di sebelah telinga mama)


"iya deh.. papa juga apa kabar ? ****gealous**** sah nih orang tua "


"kita semua baik kok sayang ini masih di perjalanan kami baru pulang dari Surabaya"


"syukurlah kalau begitu"


"Esha sayang.. apa kamu tidak rindu dengan kami semua ?udah satu tahun loh kamu belum pulang nak,..bahkan tahun lalu kamu hanya pulang selama 2 hari saja"


"Esha rindu kok mah tapi pekerjaan disini belum bisa Esha tinggalkan."


"sayang.. kamu kan punya asisten punya orang-orang kepercayaan apa iya tak bisa sebentar saja kamu tinggal untuk menemui orangtuamu ini"


"iya tapi maaf mah belum bisa untuk waktu dekat ini"

__ADS_1


sambungan telphon terputus begitu saja, mungkin masalah jaringan.


Mood mama Vina tiba-tiba berubah menjadi sedikit mellow setelah mendapat telpon dari anak lelakinya yang berada di Australia.


__ADS_2