Cinta Orang Biasa

Cinta Orang Biasa
15. kita mulai dengan bersahabat


__ADS_3

Shaka sudah duduk di meja makan Syaqina melayaninya dengan mengambilkan nasi, lauk dan juga sayur ada ayam kecap kesukaan Shaka, capjay, dan udang masak saus itu semua masakan kesukaan Shaka, tak perlu ditanya dari mana Syaqina tahu semua itu tentu saja dari Mama mertuanya yang beberapa hari lalu menceritakan semua tentang kebiasaan Shaka mulai dari yang dia suka sampai yang dia tak suka, karena Mama Vina menaruh harapan besar pada pernikahan ini.


"udah segini cukup, tapi aku tadi belum meminta upahku soal mengambilkan baju gantimu tadi.. jadi sebagai upahnya kamu harus menyuapiku kali ini"


"apa ? kamu gila ya masak iya udah setua ini makan masih minta disuapi "


"memangnya kenapa? ,,jadi kamu nggak mau nih?, sepertinya kamu lupa kalau kamu tadi mengatakan kalau mulai sekarang kamu adalah pelayan pribadiku "


"Hehhh..ya baiklah "


Syaqina memutar kedua bola matanya dengan raut muka cemberut, sekaligus tak berdaya untuk melakukan penolakan. kemudian iya menyendokan nasi dan mengasongkan ke arah mulut Shaka, Shaka pun membuka mulutnya dan mulai mengunyah makanannya


"ternyata..kamu bisa juga memasak, padahal aku nggak sembarangan lo bisa langsung cocok sama masakan orang lain selain bibi dan masakan Mama"


"oh, ya, bagus dhonk setidaknya aku tak perlu terlalu ribet mengurusmu"


"hemmm aku nggak pernah rewel kok kalau yang mengurusi istriku sendiri"


ada rasa yang berbeda ketika Shaka menyebutkan kata istriku rasanya sangat berbeda tapi entah apa itu


"kenapa kamu nggak makan? kamu juga butuh asupan nutrisi biar ada tenaga untuk melayaniku"


"kamu ini !! maksudmu melayani apa? jangan macam macam atau aku bakal kabur dari sini"


" loh memang apa yang aku katakan? menyuapiku seperti ini juga melayani kan? mempersiapkan air dan semua keperluanku juga melayani disebutnya"


Syaqina tertunduk malu wajah putihnya seketika merona seperti tomat,


"kamu juga harus makan, sini gantian aku yang menyuapimu kalau tanganmu terlalu sibuk menyuapiku"


diambilnya sendok kemudian disendokan pada piring yang berisi makanan yang sama denganya kemudian disuapkan ke mulut Syaqina, keduanya bergantian saling menyuapi hingga selesai.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Shaka masih berkutat dengan pekerjaannya matanya masih terus menatap layar laptop di meja kerjanya, Syaqina yang merasa jenuh dan bosan melihat siaran televisi dan memainkan handphone nya iya pun beranjak dari sofa menuju dapur dan menyeduhkan kopi untuk Shaka.


"ini kopi mu"


"hem taruh saja disitu?"


"masih lama ya ?"

__ADS_1


"sebentar lagi, kamu dah ngantuk?"


"Iya, kalau begitu aku permisi ke kamar ya"


"hemmm"


Syaqina pun beranjak dari duduknya kemudian berdiri menuju kamarnya. setelah sampai di kamar ia pun masuk ke kamar mandi membersihkan diri dan berganti piama kemudian bersiap untuk tidur, tak berapa Lama tubuhnya dibenamkan di sofa dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.


Shaka telah menyelesaikan pekerjaannya kemudian merapikan kembali meja kerjanya dan segera masuk kedalam kamar, di dapatinya Syaqina telah tidur dengan pulasnya di sofa, perlahan Shaka pun mendekatinya dan berjongkok di depan wajah Syaqina di tatapnya dengan intens terlihat jelas wajah polos tanpa make up namun aura kecantikannya tetap terpancar. disentuhnya perlahan pipi halus kemerahan itu ada sesuatu yang berdesir di hatinya, tak tega melihatnya tidur di sofa Shaka pun mengangkat tubuh ramping itu untuk dipindah kan ke atas kasur nya dengan perlahan.


"kamu memang manis, bahkan tidur saja kamu terlihat sangat menggemaskan, jangan salahkan aku kalau sampai aku khilaf"


diusapnya rambutnya dengan kasar, ada sesuatu yang aneh dalam dirinya sebuah hasrat nalurinya tiba2 bangkit susah payah Shaka meredam hasrat itu ia pun pergi ke kamar mandi mendinginkan tubuhnya agar hasrat itu dapat di netralisir tiga puluh menit ia berendam dalam bathub akhirnya suasana dapat terkendali. Shaka pun kembali ke dalam kamarnya dengan handuk terlilit sebatas pinggang belum sempat lagi iya berganti pakaian tiba2 terdengar suara petir menggelegar, di bulan-bulan seperti ini memang sedang dalam musim penghujan dan hujan turun sering tanpa prediksi.


Syaqina yang tengah tertidur pulas seketika bangun dan menjerit histeris, traumanya akan petir dan hujan memang benar-benar sudah diatas batas kewajaran bahkan sudah sangat menganggu psikologinya, terlebih setelah sepeninggal Ayahnya keadaannya semakin parah.


"tenang sya ada aku disini kamu nggak perlu takut "


Shaka memeluk erat Syaqina yang tampak ketakutan, Syaqina terus menangis tubuhnya gemetaran keringat dinginpun mengucur nyaris membasahi tubuhnya. Beruntung hujan kali ini tidak terlalu lama Shaka masih memeluknya dengan terus menenangkan Syaqina


"bagaimana jika terjadi seperti ini dan kamu sedang jauh dariku Syaqina, kamu selalu membuatku khawatir, aku janji mulai malam ini aku akan selalu menjagamu?"


Petir sudah berhenti namun hujan masih merintik Syaqina sudah mulai tenang perlahan kesadarannya mulai kembali ia pun segera menarik diri dari pelukan Shaka


"maaf.. aku nggak ada maksud lain, aku hanya ingin menenangkanmu , kebetulan tadi baru selesai mandi, belum sempat ganti baju kamu malah udah teriak ketakutan gitu"


"oh,..maaf kalau begitu"


Syaqina menyembunyikan wajah merah jambunya ke balik selimut, sementara Shaka sedang berada di ruang ganti memakai baju.


"apa kamu sudah tidak apa-apa ?"


tanya Shaka yang melihat Syaqina kembali menutupi tubuhnya dengan selimut seperti kepompong.


"Iya nggak aku baik-baik saja"


jawabnya dari balik selimut


"apa kamu akan terus seperti kepompong, atau kamu mau mati lemas kehabisan oksigen dengan bergulung di selimut itu "


Shaka sepertinya tahu maksud dari Syaqina melakukan itu, bahkan dia juga tidur masih menggunakan jilbab, pasti dia hanya ingin memastikan dirinya aman untuk malam ini. melihat itu Shaka jadi berniat mengerjainya

__ADS_1


"hemm..hemm.. Kenapa malam ini panas sekali, padahal Ac udah maksimal temperaturnya, seperti nya harus membuka baju nih"


"aduh..mati deh gue kalau sampai Shaka telanjang dada seperti tadi bisa-bisa mataku khilaf nih"


Syaqina menggerutu dalam hati, dan benar adanya Shaka pun melepas baju kaos nya dan menjatuhkan tubuhnya yang setengah polos itu tepat disamping Syaqina bahkan nyaris menindih tubuhnya yang terbungkus selimut tebal, sontak Syaqina menjerit


"auww.. kamu tuh berat, bisa-bisa aku jadi rempeyek kalau kamu timpa kayak gini"


Syaqina bersungut yang kini sudah keluar dari lilitan selimutnya.


"sorry.. sengaja "


Shaka menjawab sambil menaik turunkan alisnya


"dasar gesrek"


"biarpun gesrek tapi lumayan nyaman kan buat dipeluk pas ada hujan petir"


jawab Shaka dengan nada menggoda


"apaan sih ge er banget jadi orang"


"sya..sini deh deketan sama aku"


Shaka menarik lengan Syaqina untuk lebih mendekat pada dirinya yang tengah terlentang di kasur, setelah tadi Syaqina sempat menjauh dari posisinya. tak sabar menunggu lama Shaka pun menarik dirinya mendekat ke tubuh Syaqina


"kamu nggak usah tegang seperti itu, tenang kamu nggak bakalan hamil cuma dengan tidur satu ranjang begini"


Syaqina terdiam berusaha menguasai jantungnya yang berdetak diatas normal, sementara Shaka membenarkan posisinya memiringkan tubuhnya dengan mengancam sebelah Tangan ya untuk menopang kepalanya


"kamu tenang aja Sya..Aku nggak akan melakukannya tanpa seizin kamu kecuali..."


kata-katanya tertahan


"kecuali, apa ?"


"kecuali khilaf..."


jawab Shaka menyeringai membuat jantung Syaqina lebih kencang lagi berdegup


"gue serius sebisa mungkin aku bakal menahanya sampai kita sama-sama siap, sekarang tidak ada salahnya kita mencoba saling mengenal karakter kita masing-masing, mungkin kita bisa saling terbuka, bertukar kisah kita sebelum kita bertemu, kita mulai awal kehidupan pernikahan kita ini dengan bersahabat dulu"

__ADS_1


Terimakasih yang sudah membaca cerita ku semoga suka dengan ceritanya🤲 mohon maaf jika banyak Typo atau pun alur cerita yang sesuai. AUTHOR mohon dukungannya untuk like dan comentnya🙏🏻🙏🏻😍


__ADS_2