
Meskipun telah diupayakan berbagai cara untuk Syaqina kembali sadar dari koma panjangnya karena kini sudah hari ke 14 namun ia belum juga terbangun dari tidur panjangnya. setiap hari pula Shaka tak pernah sekalipun meninggalkan istrinya kecuali hanya untuk makan ke cafetaria ataupun ke restaurant sekitar Rumah sakit.
Penampilan Shaka pun kini tampak berantakan rambutnya yang mulai memanjang bahkan wajahnya mulai berjambang bulu - bulu di janggut dan kumisnya pun mulai tumbuh tak beraturan, wajahnya tampak kusut tak ada lagi wajah segar berkarisma itu semua lenyap bersama kebahagiaanya karena keadaan sang istri yang belum juga mengalami perkembangan.
" sayang... Ini hari kesepuluh kamu kok masih betah banget tidur, kamu tahu nggak bahkan anak kita belum di beri nama dan belum di Aqiqah, padahal anak kita udah tumbuh sehat badanya juga sudah bertambah besar, nangisnya juga kenceng banget. Kamu nggak pungin ya gendong baby boy kita, terus kasih dia ASI kayak waktu kamu lahirin Aqueena dulu. Cepet bangun jangan lama - lama kita semua mbutuhkan kamu sayang, aku mohon bangun sayang "
Shaka terus saja mengajak Syaqina berbicara meski tak mendapatkan Respon , bahkan ia tetap mengajaknya berbincang dan menceritakan hal apapun tentang anak - anak dan juga dirinya. Shaka seakan berputys harapan meski seluruh keluarga dan sahabat terus memberikan suportnya.
" kenapa kamu jadi jahat seperti ini mbiarkan suami kamu dan anak - anak kamu tersiksa merindukan kamu , kenapa ??"
" baik kalau kamu tak mau bangun aku anggap kamu tak lagi menginginkan aku dan anak - anakmu lagi, kalau kamu memang nggak mau pedulikan kami aku pun akan melakukan hal yang sama , aku nggak akan lagi peduli dengan keadaan kamu. Dan aku akan membawa anak - anak pergi jauh sangat jauh darimu dan kamu jangan pernah menyesali itu "
Shaka nyaris seperti kehilangan akal ia mengguncang tubuh ringkih istrinya dengan sepasang matanya yang basah dengan air mata. Tubuh yang terbaring itu memang tak bereaksi namun saat Shaka berusaha menangkup wajah pucat itu terlihat jelas mata terpejam itu melelehkan bulir bening. Yaa.. Sepertinya Syaqina bisa mendengarkan semua yang Shaka katakan meski tak juga membuka mata.
" Bahkan kamu menangis sayang tapi kenapa kamu nggak juga bangun? bahkan aku sudah kehabisan kata untuk menjawab pertanyaan putri kita yang terus merengek menayakan kapan Bunda sembuh ? Aku juga lelah menunggumu yang hanya diam begini "
Pintu ruangan pun terbuka terlihat Mama masuk sambil mengendong bayi mungil diikuti oleh Papa , Mahesa dan juga Tiara
__ADS_1
" Shaka... Nak sabar.. Istiqfar sayang... Kamu harus tenang jangan seperti ini sayang "
Mama Vina pun menepuk bahu putranya yang kini tampak rapuh dan sangat frustasi dengan masalah keluarga yang tak ada habisnya
" Shaka.. Kendalikan dirimu, Papa tahu kamu lelah nak tapi kamu tetap harus sabar kami semua mengharapakan istri kamu cepat pulih nak bahkan Papa sangat sedih jika harus melihat dan mendengar tangisan anak - anak kamu apalagi bayi kalian. Tapi sampai saat ini kita tak boleh putus Doa nak Papa yakin semua akan baik - baik saja "
Kini Papa Andi tampak merengkuh tubuh anak lelakinya dan membawa dalam pelukanya
"Pa.. Salah Shaka apa kenapa Allah masih saja menguji keluarga Shaka Pa, dulu kami harus kehilangan bayi dalam kandungan Syaqina dan sampai Syaqina di beri kepercayaan lagi kenapa justru sekarang Syaqina jadi begini Pah. Apa memang Shaka nggak pantas merasakan bahagia ?"
" bukan seperti itu nak. Percayalah Allah nggak akan menguji hambanya diluar batas kemampuan umatnya, ujian dan cobaan itu agar kamu bisa menjadi manusia yang lebih baik sabar nak "
" Tenang Kha... Kamu jangan rapuh seperti ini saat ini Syaqina sangat membutuhkan suport kamu kalau kamu rapuh begini gimana kamu bisa menguatkan istri kamu. Ada baiknya kamu pulang istirahat sudah 10 hari kamu nungguin Syaqina disini kami tahu kamu lelah kamu butuh istirahat biar Aku dan Tiara yang akan menjaga Syaqina tolong percaya pada kami kalau kami bisa menjaga istri kamu dengan baik. Kali ini dengarkan kakak kamu ini Kha "
" kakak kamu benar sayang kamu pulang ya istirahat dirumah biar kakak kamu berdua yang menjaga disini nak "
Mama Vina pun turut membujuk putra bungsunya
__ADS_1
" tapi aku nggak mau meninggalkan Syaqina Ma.. "
" Mama tahu sayang tapi kamu juga harus tetap sehat demi istri kamu dan juga anak - anak kamu nak, kali ini menurut dengan Mama , Papa, dan juga kakak kamu nak "
Sesaat ruangan itu tampak hening yang terdengar hanya suara alat monitor yang terhubung dengan tubuh Syaqina , Semua seakan memahami keadaan ini
" Ma... Boleh aku gendong bayi kami ? Aku ingin memberinya nama Ma karena ini udah terlalu lama kasian kalau harys menunggu Bundanya siuman "
Mama Vina pun mengangguk dan meletakkan cucu malangnya kepangkuan Shaka Bayi gembul itu tampak tertidur pulas
" sayang.. Kamu lihat ini bayi kita bahkan dia belum memiliki nama padahal usianya sudah 10 hari, kamu nggak kasian dengan anak kita bahkan hak dia masih kita gadai sayang kita belum meng aqiqoh kan dia , cepet bangun sayang , oh .. Ia aku izin ya aku kasih nama anak kita walaupun aku tak tahu kamu akan setuju atau tidak dsngan nama yang aku berikan ini, setidaknya saat kamu siuman nanti kamu bisa memperbaiki ataupun mengganti namanya . Bagaimana jika aku kasih nama anak kita Satria Radja Darmawan Mahantara "
Semua yang berada dalam ruangan itu turut menangis terharu mendengarkan apa yang Shaka katakan
" Pa.. Ma.. Aku juga mau Besok adakan Aqiqoh untuk putraku dan juga pengukuhan namanya "
" tentu nak kami akan persiapakan semuanya , sekarang kamu pulang bareng Papa Mama dan Satria kakak kamu dan istrinya akan menjaga Syaqina disini "
__ADS_1
Shaka pun mengangguk menyetujui permintaan kedua orang tua dan kakaknya untuk istirahat dirumah.
Mereka berempat pun meninggalkan rumah sakit dan menyisakan Mahesha dan Tiara yang kini menggantikan Shaka menjaga saudara iparnya yang kini masih terbaring lemah.