Cinta Setelah Perjodohan

Cinta Setelah Perjodohan
Bagian 120 : Fuck You


__ADS_3

Hari ini keduanya akan menggunakan mobil yang sama untuk pergi bekerja, di karenakan mobil Alea masih berada di bengkel setelah beberapa kali mogok.


###


Setelah berada di dalam mobil keduanya kembali berdebat di karenakan posisi duduk Alea yang lebih memilih duduk di belakang, sementara Andika duduk di kursi kemudi.


"Alea, duduk di depan. " Perintah Andika.


Alea menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nggak mau, aku mau disini aja, lebih luas. " Balas Alea.


"Alea, aku bukan supir kamu, cepat duduk di depan. "


"Bodo amat Andika, aku mau duduk disini, terserah aku dong mau duduk dimana aja, lagian sekali-kali ngerangkap sebagai supir istri sendirikan nggak apa-aoa. " Balas Alea dengan santainya.


Andika merengut kesal.


"Kalau kamu nggak mau duduk di depan, turun aja dari mobilku, kalau kamu mau menumpang di mobil orang lain kamu harus mematuhi aturan dari si pemilik mobil Alea!. " Perintah Andika dengan nada suara mengancam.


"Issshhh dasar laki-laki jahat!. " Dengan kesal Akea kemudian berpindah dari tempat duduk penumpang, ke tempat duduk di samping Andika.


"Nih, nih puasssss. " Sentak Alea menghemoasian tubuhnya dengan kasar ke kursi mobil.


Andika tersenyum penuh kemenangan, karena ancamannya berhasil membuat perempuan itu mengalah.


"Nah gitu dong, jadi istri tuh yang nurut, biar di sayang suami. " Ujar Andika, mengejek.


Akea memutar bola matanya dengan malas.

__ADS_1


"Issshhh najis, mau mutmntah aku dengarnya!. " Seru Alea, ketus.


"Hahahaaha... " Tawa Andika semakin membuat Alea kesal.


"Dasar gila."


Andika menyalakan mesin mobilnya untuk mengantarkan Alea terlebih dahulu ke tempatnya mengajar, akan tetapi bukannya fokus menyetir di dalam perjalanan itu Andika lebih banyak menghabiskan waktunya mengobrol dengan seseorang melalui ponselnya.


Bahkan telepon tersebut sengaja di samping ke speaker yang ada di dalam mobil, sehingga suara seseorang yang berbicara dengan Andika bisa terdengar dengan jelas.


"Sialan perempuan itu!. " Umpat Alea pelan, menyadari Andika sedang berbicara dengan Aluna.


Mereka sedang membahas urusan bisnis, namun tetap saja hal itu membuat perasaan Alea memanas.


Dengan kesal Alea memutar musik yang cukup kencang untuk membuat obrolan Andika dan Aluna terganggu. Alea sengaja membuat volumenya mengalahkan suara Aluna.


"Halo.. Halo suara klau nggak kedengaran Andika. "


"Rasain." Batin AleaAlea, tersenyum puas.


"Alea, kecilin volumenya... " Tegur Andika, meletakkan ponselnya yang masih terhubung dengan Aluna.


"Aku bosan dan pengen dengerin musik Andika, kenapa sih aku di mata kamu selalu aja salah." Balas Alea sengit.


"Kamu kan bisa ngecilin volumenya Alea, kamu nggak liat aku lagi telponan dan lagi bahas urusan bisnis?. " Cecar Andika, kesal.


"Yah mana aku tau kamu lagi bahas apaan, lagian keselamatan aku juga penting tau, kamu mau mobil ini oleng gara-gara kami lebih fokus ngobrol dan bukannya fokus nyetir." Balas Alea dengan santainya.


Andika menepikan mobilnya di pinggir jalan dan mulai mengomel.

__ADS_1


"Bedain ngobrol biasa dan orang yang lagi berbicara masalah bisnis. " Sentak Andika.


"Emang mesti pas nyetir mobil? Kenapa nggak nunggu pas sampai di kantor aja?. "


"Alea ini itu penting dan... "


Belum sempat Andika menghabiskan kata-katanya Alea sudah tirin dari mobil.


"Bodo amat Andika, **** you!. " Andika mengacungkan jari tengahnya lalu dengan cepat menyetop sebuah taxi.


"Arghhh ALEA TUNGGU! Ya Tuhan perempuan itu benar-benar!. "Andika mencoba menahan Alea dengan berteriak akan tetapi percuma saja, suaranya bagaikan angin lalu.


Alea sudah masuk ke dalam taxi yang akan membawanya ke kampus tempat perempuan itu mengajar.


" Ada apa Andika? Halo... Halo... " Suara Aluna di ujung telepon mengalihkan perhatian Andika.


"Ah tidak apa-apa, aku harus fokus menyetir dulu Aluna, nanti kita bahas di rapat saja. " Balas Andika memutuskan sambungan telepon dan kembali melajukan mobilnya.


###


"Aluna.. Aluna... Alunaaaaa terus ngeselin banget. " Pekik Alea, melemparkan tasnya secara sembarangan.


Alea baru saja sampai di ruangan kerjanya, beruntung ruangan tersebut sangat sepi sehingga tidak ada orang lain yang melihatnya.


"Urusan bisnis? Urusan bisnis apanya! Jelas-jelas mereka saling menanyakan kabar. " Gerutu Alea.


"Huufffhhhh sabar-sabar, tarik nafas dalam-dalam hembuskan secara perlahan huffffhhhhhhh. "


Jam sudah menunjukkan pukul 8 kurang 5 menit, Alea segera meraih kembali tasnya dan keluar dari ruang kerjanya tesebut untuk masuk ke dalam kelas yang akan di ajarnya hari ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2