
"Hai Aluna, aku baik kamu sendiri gimana?. " Balas Andika.
###
Aluna nampak terkekeh pelanggan, specchles menyadari Andika masih mengingatnya.
"Kamu masih ingat aku?. " Tanya perempuan itu.
Andika seketika mengangguk antusias.
"Tentu saja, aku masih sangat ingat sama kamu, pas aku liat nama kamu di dokumen itu aku langsung tau kalau yang bakalan aku temuin kali ini pasti kamu, dan benar saja. " Ujar Andika.
"Wuah, aku pikir kamu bakalan lupain aku, kita udah lama banget loh nngak ketemu. " Jelas Aluna.
"Iya, Kira-kira 5 tahun. " Jawab Andika.
Aluna nampak takjub.
"Kamu juga masih ingat berapa tahun kita nggak ketemu?. " Aluna nampak antusias.
Andika mengangguk dengan pasti. Aluna adalah anak perempuan dari rekan bisnis lama ayahnya, orang tua Aluna memiliki bisnis bahan bangunan dimana-mana dan Aluna baru saja menyelesaikan studi S2nya pada jurusan Arsitektur satu tahun yang lalu.
Andika masih ingat betul, saat pertama kali mereka bertemu. Kedua orang tua mereka memiliki kerja sama dalam pembangunan salah satu lapangan golf terbesar di Indonesia.
Lalu, kali ini mereka kembali di pertemukan sebagai rekan bisnis.
__ADS_1
"Aku nggak nyangka dulu orang tua kita yang menjalin kerja sama dan sekarang kitalah yang akan meneruskannya. " Ujar Aluna.
Andika tersenyum mendengarnya, pertemuan yang harusnya selesai dalam dua jam itu kini menjadi berjam-jam. Karena keduanya keasyikan mengobrol.
Bukan hanya membicarakan masalah bisnis, keduanya juga membicarakan masalah keluarga masing-masing di masa lalu.
Di sisi lain di waktu yang sama, Alea yang sejak beberapa jam yang lalu tidak tahan duduk terus menerus di kursinya merasa sangat lelah, sudah 5 kali ia mengelilingi gedung tersebut untuk mengurangi rasa bosannya.
"Dasar laki-laki jahat, aduh lapar lagi. " Keluh Alea, merasakan perutnya mengeluarkan bunyi.
Alea mengambil uang 20 dollar dari dalam kantongnya tadi, lalu memperhatikan sekitarnya.
"Tentu saja tidak akan ada penjual makanan disini." Ujar Alea, Menyadari gedung besar itu bukanlah Mall ataupun toko kue yang menjual berbagai jenis makanan.
Gedung itu hanya untuk orang-orang yang mengadakan rapat ataupun pertemuan dan tentunya makanan akan di siapkan oleh pihak gedung.
"Dasar brengsek, tega sekali laki-laki itu membuatku menggelandang seperti ini. " Pekik Alea.
"Percuma punya 20 dollar, jika tidak ada penjual makanan di dekat sini! Tetap saja aku akan mati kelaparan. " Omel Alea.
Beberapa pasang mata memperhatikan Alea yang sedari tadi asyik berbicara sendiri, Alea yang menyadari dirinya di perhatikan langsung beranjak. Kali ini perempuan itu berjalan ke arah bagian depan gedung.
Alea melihat ada bangku panjang disana, karena merasa lelah. Alea memutuskan untuk berisimtrahat di bantu itu saja, dari pada harus kembali ke dalam lobi.
"Dasar pelit, tau begini aku tidak akan mau ikut datang kesini. " Oceh Alea, kembali mengomeli Andika yang tentunya tidak akan bisa mendengarkan omelan perempuan itu karena jarak mereka saat ini jm sangat jauh.
__ADS_1
Krekkk krekkk
Bunyi perut Alea.
"Hiksss, lapar banget lagi. " Keluh Alea sembari memegangi perutnya yang keroncongan.
Alea kemudian mengatur nafasnya berharap, dengan begitu rasa laparnya akan sedikit berkurang.
"Tarik nafas dalam-dalam..... "
"Excuesme miss.... " Suara seseorang menghentikan aktifitas Alea.
"Huuuuuufhhhh." Alea menghembuskan nafasnya pelan.
"Iya ada apa? Eh, yes sir?. " Lanjutnya gelagapan, sampai lupa jika saat ini dirinya sedang berada di luar negeri.
Seorang laki-laki berwajah tampan dan senyum yang indah, menghampiri Alea.
"Laki-laki itu?..... " Ujarnya pelan, mengingat-ingat dimana dirinya pernah melihat laki-laki tersebut.
"Hai, kamu sendirian?. " Sapa laki-laki tampan itu.
"Eh Hai, hah? Kamu bisa bahasa Indonesia?. " Alea tercengang, tidak menyangkan akan bertemu orang Indonesia di tempat seperti itu.
Laki-laki itu tersenyum, lalu mengangguk.
__ADS_1
"Maaf sedari tadi aku memperhatikanmu dan mendengar ocehanmu, jadi aku pikir kamu sepertinya butuh bantuan?. " Ujar laki-laki itu, sopan dan ramah.
Bersambung...