Cinta Setelah Perjodohan

Cinta Setelah Perjodohan
Bagian 70 : Lebih Cocok?


__ADS_3

"Orang tua kita sudah bekerja sama cukup lama, mana mungkin aku tidak percaya dengan kapasitasmu. " Puji Andika yang sontak membuat Aluna tersipu-sipu.


###


"Aku pikir kamu akan banyak mengoreksi hasil presentasi ku tadi, tidak ku sangka kamu akan langsung setuju dengan ide ku yang sangat biasa ini, terimakasih Andika semoga kerja sama kita berlangsung lama dan pembangunan mallmu lancar. " Balas Aluna memperlihatkan senyuman terbaiknya.


Sebagian orang yang menghadiri rapat sudah lebih dulu keluar dari ruangan itu. Yang tersisa kini hanya Andika dan Aluna.


"Pertemuan kita hari ini sudah selesai sampai disini saja, mari saya antarkan kamu sampai ke pintu keluar. " Ujar Andika kemudian, setelah merasa ruangan itu sudah sepi.


Aluna nampak kecewa, namun perempuan itu segera bangkit lalu membuat alasan agar bisa lebih lama melihat wajah Andika yang tampan.


"Oke, tapi sebelum aku balik ke kantor bagaimana kalau kita makan siang bareng dulu yah, aku traktir. " Tawar Aluna.


Andika nampak berpikir sejenak, lalu kemudian mengangguk.


"Gimana? mau yah?. " Pinta Aluna.


"Ya sudah, ayo kita makan siang. " Ujar Andika.


Mereka berduapun kembali berjalan beriringan meninggalkan ruangan rapat, di depan pintu sudah menunggu sekertaris mereka masing-masing.


"Ayo Alex kita makan siang diluar hari ini. " Ajak Andika kepada sekertarisnya, begitu pula dengan Aluna.


Akhirnya, mereka berempat berakhir di restoran yang berada di gedung yang sama dengan kantor Andika. Bedanya kantor Andika berada di lantai 11, sementara restoran tersebut berada di lantai 1.

__ADS_1


Makan siang itupun berakhir dengan lancar dan menyenangkan. Nampak jelas dari raut wajah Aluna yang berseri-seri.


"Hati-hati di jalan." Pesan Andika, sesaat setelah mengantarkan Aluna masuk ke dalam mobilnya.


"Iya, terima kasih untuk traktiran makan siangnya, aku sampai hampir lupa waktu, padahal tadi aku yang menawarkan traktiran, lain kali kamu tidak boleh menolak, aku yang akan mentraktrimu makan, oke . " Ujar Aluna.


Andika mengangguk sembari tersenyum ramah.


"Iya boleh. " Balas Andika.


"Dah, Andika. "


Aluna melambaikan tangannya seiring dengan melajunya mobil yang membawa perempuan itu kembali ke kantornya sendiri.


"Hmm, lumayan. " Balas Andika, cuek.


Alex sontak tersadar dari kekagumannya kepada Aluna.


"Eh maaf Pak, saya lancang. " Ujar Alex meminta maaf.


Andika kembali melangkah masuk ke gedung kantornya di ikuti Alex.


"Tidak apa-apa, bukankah sudah kukatakan kepadamu untuk bicara santai saja kepada ku?. " Timpal Andika yang memang pada dasarnya adalah seorang laki-laki yang tidak gila hormat.


Hal itulah yang sepertinya membuat Alex mulai terbiasa dan nyaman menjadi sekertaris Andika, karena bosnya itu tidak memiliki banyak aturan. Asalkan Alex bertanggung jawab mengerjakan pekerjaannya sebaik mungkin.

__ADS_1


"Hmm ngomong-ngomong, kalau boleh jujur sepertinya Bu Aluna lebih cocok jadi pasangan hidup Pak Andika daripada sekedar jadi rekan bisnis. " Tutur Alex. Mereka berdua kini sudah berada di dalam lift menuju ke lantai 11.


"Hmm, Benarkah?. " Ujar Andika, mengernyitkan wajahnya. Mencoba memahami apa yang Alex katakan barusan.


Alex spontan mengangguk.


Ting


Pintu lift terbuka, keduanya pun keluar dan berjalan menuju ke ruangan kerja Andika.


"Kenapa kamu bisa berpikir kalau saya akan cocok berpasangan dengan Aluna?. " Tanya Andika kemudian, sedikit merasa penasaran kenapa sekertarisnya mengatakan hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.


"Eh maaf Pak kalau saya lancang, tapi menurut penglihatan saya pak Andika sama Bu Aluna kayak punya kontak batin gitu, lebih mudah akrab dan kalau ngobrol sepertinya nyambung, apalagi pak Andika sama Bu Aluna sama-sama menekuni bidang bisnis, wah cocok sekali, yang satu tampan dan cerdik yang satu cantik dan pintar. " Jelas Alex panjang lebar dan nampak bersemangat.


"Jadi, menurut kamu saya harus menceraikan istri saya lalu menjalin hubungan dengan Aluna?. " Andika bertanya balik.


Alex yang tadinya begitu bersemangat menjelaskan isi kepalanya sontak panik. Ia sampai lupa jika bosnya itu ternyata sudah menikah.


"Eh maaf Pak, eh bos eh maksud saya maaf Pak Andika, saya tidak bermaksud berkata seperti itu, aduh bodoh sekali saya sampai lupa kalau bapak udah nikah. " Alex gelapan, antara panik, takut dan degdegkan Andika akan memarahinya karna berbicara terlalu berlebihan.


Andika terkekeh pelan, berhenti tepat di depan ruang kerjanya.


"Kamu ada benarnya, tapi takdir berkata lain, jodoh saya ternyata bukan Aluna tapi istri saya sekarang. " Tutur Andika, sembari tersenyum hangat memikirkan istrinya, Alea.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2