
"Kamu harus menikah denganku, mau atau tidak mau, keputusan ada di tanganku Alea. " Batin Andika.
###
"Menyerah?.. " Batin Alea.
Alea menggelengkan kepalanya dengan cukup keras.
"Tidak, itu tidak akan pernah terjadi!. " Pekik Alea.
Bukan Alea namanya jika hanya bisa pasrah ketika melihat dan merasakan ketidak adilan di sekelilingnya, apalagi ini di alami oleh dirinya sendiri.
"Kalau kamu tidak ingin menyerah dan tetap akan melanjutkan perjodohan ini, aku juga tidak akan menyerah untuk membuatmu mau membatalkan perjodohan ini!. " Tegas Alea, berbicara kepada dirinya sendiri.
Alea mengendarai mobilnya dengan cukup santai, setelah tadi dirinya hampir meledak-ledak di hadapan Andika, kini Alea sudah bisa mengatur emosinya.
Entah mengapa, jika sudah berhadapan dengan Andika, emosi buruk Alea terus saja menguasai pikiran perempuan itu.
###
Beberapa hari kemudian, Alea yang di sibukkan dengan aktivitas mengajarnya.
Di tambah Alea saat ini sedang fokus membuat soal untuk para mahasiswanya yang satu bulan lagi akan mengikuti ujian akhir semester.
Walaupun begitu, Alea sama sekali tidak akan pernah lupa dengan tujuan utamanya saat ini. Yaitu membuat Andika mau membatalkan perjodohan di antara mereka.
Untuk melancarkan tujuan utamanya itu, kini Alea sudah mempunyai rencana baru dengan mengikuti aktivitas Andika. Kali ini bukan ke tempat Gym namun di lapangan badminton.
Ternyata, selain berolahraga di gym Andika juga masuk ke dalam club olahraga badminton.
__ADS_1
Seperti sebelumnya, satu hari sebelum pergi ke lapangan badminton tersebut Alea sudah mendaftarkan namanya di club yang sama persis dengan Andika.
Disinilah Alea sekarang, di ruangan ganti khusus perempuan.
Alea sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga.
"Sepertinya selain gila kerja, Laki-laki itu juga sangat gila olahraga. " Pekik Alea, mengingat aktivitas Andika hanya seputar bekerja dan berolahraga.
"Hufffhhhh." Alea menghembuskan nafasnya dengan kasar saat dirinya memasuki lapangan olahraga tersebut.
Lapangan nampak tidak terlalu ramai, karena tempat tersebut memang khusus untuk orang-orang kalangan atas, biaya masuknya saja setara dengan gaji Alea selama satu bulan.
Alea bahkan merelakan waktu berkumpul bersama teman-temannya, demi bisa membujuk Andika untuk membatalkan perjodohan mereka.
"Ayo Alea, semangat kamu pasti bisa!. " Batin Alea, menyemangati dirinya sendiri, saat melihat di lapangan sebelah Andika yang sudah bercucuran keringat tengah asyik bermain badminton.
Alea memegang dengan erat raket di tangannya, lalu dengan percaya diri masuk ke dalam lapangan.
Dua lawan dua, begitulah yang terjadi saat ini. Alea akan bermain badminton dengan anggota club yang baru saja di kenalnya.
Bulu tangkis yang di pukul memantul kesana kemari, Alea yang sama sekali tidak mengerti harus melakukan apa dengan percaya diri mengayunkan raketnya.
Pluk
Settt
Ayunan raket nya melesat, bulu tangkis itu entah bagaimana justru menggores keningnya.
"Ah aw. " Pekik Alea merasakan perih.
__ADS_1
Alea merasakan darah segar yang mengalir di atas matanya.
Semua orang langsung panik dan mengerumuni Alea.
"Hei kamu nggak apa-apakan?. " Tanya seseorang.
"Ya ampun keningnya berdarah. " Timpal yang lain.
"Hei cepat ambil kotak p3k. " Seru suara-suara itu, Alea yang merasakan perih sekaligus malu langsung menunduk dan menutupi wajahnya.
"Aduh kenapa bisa gini sih. " Batin Alea.
Permainan badminton itupun langsung bubar, begitupun dengan permainan Andika di lapangan sebelah.
Alea yang merintih karena merasa perih sekaligus malu itu ingin segera meninggalkan lapangan, namun ia sama sekali tidak bisa bergerak dari tempatnya saat ini karena di kerumuni oleh orang-orang yang sedang berada di lapangan tersebut.
"Hei minggir, jangan di kerumuni seperti itu. " Ujar suara seorang laki-laki yang langsung menerobos kerumunan orang-orang itu.
Laki-laki itu langsung menarik tangan Alea dan membawanya keluar dari lapangan.
Alea yang merasa malu hanya bisa pasrah dan terus menunduk saat laki-laki itu menuntunnya untuk duduk di salah satu bangku.
"Sekarang kamu nggak usah malu lagi. " Ujar laki-laki itu.
Alea tersentak.
"Suara laki-laki itu?. " Batin Alea sembari mengangkat kepalanya.
Benar saja, Laki-laki itu Andika.
__ADS_1
"Kamu ngikutin aku lagi sampai kesini?. " Tanya laki-laki itu dengan tatapan mengintimidasi.
Bersambung...