Cinta Setelah Perjodohan

Cinta Setelah Perjodohan
Bagian 143 : Selamat Tinggal


__ADS_3

Alea tidak menggubris, perempuan itu menghapus air matanya dan terus melangkah menuruni anak tangga.


###


Beruntung Andika dengan sigap mengapai tubuh Alea yang hampir saja terjatuh pada saat menuruni anak tangga terakhir.


"Hati-hati. " Pekik Andika.


Hatinya ikut terluka melihat Alea yang berjalan seperti seseorang yang tidak memiliki jiwa.


Andika membantu Alea berjalan keluar dari rumah, lalu buru-buru laki-laki itu mengambil mobilnya dari dalam garasi.


Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Pandangan Alea nampak kosong menatap keluar jendela mobil.


Andika menjadi khawatir melihat perubahan istrinya itu, ia justru berharap Alea menangis histeris sejadi-jadinya dari pada harus diam mematung seperti sekarang ini.


Hujan diluar semakin lebat, diiringi suara petir yang bergemuruh.


Andika melakukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar mereka bisa segera sampai di kediaman Wicaksono.


15 menit berkendara, mobil Andika sudah sampai di pelataran kediaman mertuanya. Ia buru-buru turun dari mobil lalu membantu memakaikan jaket pada Alea karena cuaca sangat dingin.


"Ayo turun. " Ujar Andika.

__ADS_1


Mereka berdua memasuki rumah tersebut, keluarga Alea sudah ramai berkumpul diiringi suara tangis yang memenuhi ruangan menyambut kedatangan Andika dan Alea.


###


Pagi harinya.


Kediaman Putra Wicaksono nampak di datangi banyak orang yang turut berbela sungkawa atas meninggalnya laki-laki yang sangat pekerja keras di masa mudanya itu.


Pak Putra sangat di cintai oleh rekan-rekan bisnisnya, bahkan seluruh staf dan dosen yang bekerja padanya di Universitas hari itu di liburkan untuk datang melayat dan mengiringi kepergian Pak Putra ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Kepergian Pak Putra Wicaksono meninggalkan luka yang teramat dalam bagi orang-orang yang mengenalnya, terutama untuk keluarga, istri dan anak-anaknya.


Bu Dewi nampak begitu histeris di samping jasad suaminya, ia bahkan terus menciumi laki-laki yang sudah mendampingi hidupnya selama puluhan tahun itu, sementara Aulia yang berada disisi bu Dewi juga terus meraung-raung meminta kepada Tuhan agar papa mereka di kembalikan.


Hal yang paling menyakitkan bagi keluarga itu adalah pak Putra terlihat seperti orang yang sedang tertidur, bibirnya tersenyum dan wajahnya terlihat sangat damai. Keluarga itu merasa sangat sakit bukan karena kepala keluarga mereka meninggal dalam keadaan damai. Akan tetapi karena dia meninggalkan keluarganya di saat semua anaknya sudah mulai tenang dengan kehidupannya masing-masing.


Di antara suara riuh dan tangisan itu terlihat Alea menatap lurus ke jasad pak Putra, ia bahkan tidak berbicara satu katapun sejak sampai di rumah itu. Pandangannya masih kosong dan tetap terlihat tegar saat menerima ucapan belasungkawa dari orang-orang yang datang.


Beberapa tamu yang datang bahkan ada yang berbisik-bisik mencemooh Alea dengan mengatakan jika dirinya bukanlah anak yang berbakti dan tidak memiliki perasaan karena tidak menangis seperti keluarganya yang lain.


Adika yang duduk di samping Alea dan selalu setia berada di samping istrinya itu berusaha untuk tidak menanggapi cemoohan orang-orang itu dan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga Alea disisinya.


"Alea... " Panggil Andika pelan.

__ADS_1


Alea yang sedang melamun itu sontak tersadsr dan melihat ke arah Andika.


"Hmm?. "


"Kamu nggak capek? Kita istirahat dulu yuk? Kamu belum makan loh dari semalam. " Ujar Andika.


Alea menggeleng.


"Aku nggak lapar, kalau kamu lapar pergi aja. " Balas perempuan itu, nada suaranys terdengar sangat dingin.


Benerapa orang berpakaian rapih tidak lama kemudian masuk.


"Kami akan memandikan pak putra. " Ujar salah satu di antara mereka.


Mendengar hal itu buru-buru Alea mendekati jasad papanya, membuka kain kasa yang menutupi wajah pak Putra lalu perlahan menempelkan bibirnya pada kening laki-laki itu.


"Selamat tinggal pa, Alea harap jika suatu hari nanti Alea kembali terlahir ke dunia ini, Alea mau jadi anak papa lagi di saat itu Alea akan jadi anak yang penurut dan nggak bakalan ngebantah apapun yang papa ucapkan. " Batin Alea, bibirnya terasa kaku hanya untuk mengucapkan kalimat selamat tinggal akan tetapi ia tahu bagaimanapun bentuk penyampaiannya, papanya di alam sana akan tahu jika Alea sangat menyanginya.


Setelah melakukan hal tersebut Alea kemudian beranjak dan segera berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Beruntung pandangan Andika tidak pernah lepas dari istrinya itu, saat melihat Alea pergi, Andika buru-buru beranjak dari tempat duduknya untuk mengikuti Alea.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2